Senin, 30 Mei 2011

Tentang Agama

Faith is like love :  it cannot be forced." (Arthur Schopenhauer) 

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut (Wikipedia).
Agama kadang disamakan dengan iman (faith). Berbeda dengan keyakinan atau iman yang bersifat pribadi, agama memiliki aspek publik. Jika iman merupakan keyakinan individu atau personal akan keberadaan dan kuasa Tuhan, maka agama merupakan sistem keyakinan yang terlembaga. Agama memiliki struktur kelembagaan, hirarki kekuasaan, tata ritual dan aturan yang harus ditaati oleh pengikutnya.
Agama sebagai suatu lembaga menjadi sangat dekat dengan kekuasaan. Pemegang otoritas agama mempunyai kontrol atas tafsir ajaran dan perilaku pengikutnya. Sebagaimana lembaga kuasa lainnya, agama bisa menjadi lembaga omnipotent yang lebih mengutamakan kebesaran kekuasaan lembaga sehingga melupakan dimensi pengembangan kualitas  iman personal.
Tulisan berikut ini dengan indah dan kritis menggambarkan tentang makna iman dan agama. Pertama, Kahlil Gibran  menyatakan iman dan agama tidak bisa lepas dari perilaku. Ritual agama tidak dibatasi oleh rumah ibadah. Perbuatan nyata dalam hidup sehari-hari itulah ibadah dan agama yang senyatanya (Your daily life is your temple and your religion). Kedua, Mustofa Bisri mengkritisi perilaku beragama orang yang merasa paling dekat dan paling tahu kehendak Tuhan. Tentang orang semacam ini Bisri menyatakan bahwa sesungguhnya mereka hanya sekedar memuaskan egonya, bukan mencari cintaNya. Tulisan ketiga dan keempat adalah  satire yang ditulis oleh Anthony de Mello. Mello menganalogikan persaingan antar agama untuk meraih umat sebanyak-banyaknya tak ubahnya dengan para pedagang yang jualan di pasar malam. Tulisan "Jesus Menonton Pertandingan Sepakbola" menggambarkan persaingan antar aliran dalam agama yang saling mengklaim sebagai paling benar . Yesus ternyata tidak memihak salah satu pun : 'Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya.' 'Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat.'
Religion
Oleh : Kahlil Gibran

And an old priest said, "Speak to us of Religion."
And he said:
Have I spoken this day of aught else?
Is not religion all deeds and all reflection,
And that which is neither deed nor reflection, but a wonder and a surprise ever springing in the soul, even while the hands hew the stone or tend the loom?
Who can separate his faith from his actions, or his belief from his occupations?
Who can spread his hours before him, saying, "This for God and this for myself; This for my soul, and this other for my body?"
All your hours are wings that beat through space from self to self.
He who wears his morality but as his best garment were better naked.
The wind and the sun will tear no holes in his skin.
And he who defines his conduct by ethics imprisons his song-bird in a cage.
The freest song comes not through bars and wires.
And he to whom worshipping is a window, to open but also to shut, has not yet visited the house of his soul whose windows are from dawn to dawn.
Your daily life is your temple and your religion.
Whenever you enter into it take with you your all.
Take the plough and the forge and the mallet and the lute,
The things you have fashioned in necessity or for delight.
For in revery you cannot rise above your achievements nor fall lower than your failures.
And take with you all men:
For in adoration you cannot fly higher than their hopes nor humble yourself lower than their despair.
And if you would know God be not therefore a solver of riddles.
Rather look about you and you shall see Him playing with your children.
And look into space; you shall see Him walking in the cloud, outstretching His arms in the lightning and descending in rain.
You shall see Him smiling in flowers, then rising and waving His hands in trees.
CINTAMU
Oleh: A. Mustofa Bisri
bukankah aku sudah mengatakan kepadamu kemarilah
rengkuh aku dengan sepenuh jiwamu
datanglah aku kan berlari menyambutmu
tapi kau terus sibuk dengan dirimu
kalaupun datang kau hanya menciumi pintu rumahku
tanpa meski sekedar melongokku
kau hanya membayangkan dan menggambarkan diriku
lalu kau rayu aku dari kejauhan
kau merayu dan memujaku
bukan untuk mendapatkan cintaku
tapi sekedar memuaskan egomu
kau memarahi mereka yang berusaha mendekatiku
seolah-olah aku sudah menjadi kekasihmu
apakah karena kau cemburu buta
atau takut mereka lebih tulus mencintaiku?
pulanglah ke dirimu
aku tak kemana-mana

Sumber : http://puisisurga.wordpress.com/mustofa-bisri/cintamu/

Pasar Malam Agama
Oleh : Anthony de Mello
Aku dan temanku pergi ke 'Pasar Malam Agama'. Bukan pasar dagang namun pasar agama. Tapi persaingannya tak kalah sengit, propagandanya pun sama hebatnya.

Di kios Yahudi:
"Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihan-Nya. Ya... bangsa Yahudi. Tak ada bangsa lain yang terpilih seperti bangsa Yahudi."

Di kios Islam:
"Allah itu Maha Penyayang dan Muhammad ialah nabinya. Keselamatan hanya bisa diperoleh dengan mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu".

Di kios Kristen:
"Tuhan adalah Cinta dan bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan. Silahkan mengikuti gereja kudus jika tidak ingin mengambil resiko masuk neraka".

Di pintu keluar aku bertanya pada temanku, "Apakah pendapatmu tentang Tuhan?"

Jawabnya, "Rupanya Ia penipu, fanatik dan bengis."

Sampai di rumah aku bertanya pada Tuhan, "Bagaimana Engkau bisa tahan dengan hal seperti ini Tuhan? Apakah Engkau tidak tahu, bahwa selama ini mereka memberi julukan jelek kepada Mu?"

Lalu Tuhan berkata, "Bukan Aku yang mengadakan 'Pasar Malam Agama' itu. Aku bahkan terlalu malu untuk mengunjunginya."


JESUS MENONTON PERTANDINGAN SEPAKBOLA
Oleh : Anthony de mello

Jesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajakNya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya: 'Saudara berteriak untuk pihak yang mana?'

'Saya?' jawab Jesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. 'Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini.'

Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Jesus: 'Ateis!'

Sewaktu pulang, Jesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. 'Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan,' kata kami. 'Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain.'

Jesus mengangguk setuju. 'Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya,' katanya. 'Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat.'
'Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu,' kata salah seorang di antara kami dengan was-was. 'Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu.' 'Ya --dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama,' kata Jesus sambil tersenyum kecewa.
Merenung soal agama paling pas kalau sambil mendengarkan lagu ini :

Gambar : A guiding light - shopholesinyourshocks com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar