Rabu, 29 Juni 2011

Good Listener

“To listen well, is as powerful a means of influence as to talk well, and is as essential to all true conversation” -  Chinese Proverbs (thinkexist.com)

   argument - Jan Steen (amandaomiatel17.files.wordpress.com)
Menyimak perilaku para selebritas politik di media massa khususnya TV  kelihatan sekali mereka – pejabat eksekutif, politisi , akademisi dan  aktivis – sebagian besar merupakan tipe orang yang pandai dan senang bicara. Semua ingin mengemukakan pendapat dan kritikan, ingin memamerkan ilmu atau kepakarannya. Semua berlomba-lomba ingin didengarkan, akibatnya  acara talk show atau bahkan sidang DPR menjadi berisik , berdebat tanpa ujung  , memotong pembicaraan semaunya sendiri, bahkan tak jarang yang terlontar argumentasi  ad hominem dengan menyerang pribadi lawan debat bukan pemikirannya.
Nampaknya tipe orang yang senang didengarkan namun enggan mendengarkan  dengan mudah kita temukan di komunitas mana pun, mulai di lingkup rukun tetangga , di perkumpulan arisan, kegiatan sosial sampai kegiatan keagamaan. Apakah memang orang Indonesia itu kebanyakan adalah orang yang senang bicara di depan forum dan didengarkan serta menjadi pusat perhatian banyak orang?
Semua orang pada dasarnya ingin diakui eksistensinya. Semua orang ingin dianggap penting. Ingin perhatian banyak orang terpusat pada dirinya. Pernah menemui tipe orang yang kalau bicara pokok pembicaraan selalu terpusat pada hal-hal seputar dirinya sendiri?  Perbincangan apa pun dengan siapa pun,  pembahasan selalu dibelokkan kearah dirinya : apa yang telah saya lakukan, prestasi mengagumkan yang berhasil saya raih, jaringan yang berhasil saya bangun dengan orang-orang penting , dan lain-lain, dan sebagainya, dan seterusnya. Pokoknya kalau saya bicara ya tentang saya, jangan sampai tentang orang lain apalagi tentang prestasi mereka.
Saya yakin tipe narsistik semacam ini dengan mudah ditemukan  di berbagai lembaga di Indonesia. Orang narsistik yang bangga berlebihan dengan dirinya sendiri biasanya memang orang-orang yang hebat di bidangnya. Namun orang ini kebanyakan tidak disukai lingkungannya. Pernah menemukan ada seseorang yang sangat cerdas , kompeten, pekerja keras, tapi ada sesuatu dalam pribadinya yang membuat orang tidak nyaman apabila di dekatnya ? Ada sesuatu dalam pribadinya yang membuat segala prestasinya tidak diapresiasi rekan kerjanya. "Sesuatu" ini bukan sekedar menyangkut integritas atau pun karakter, tapi lebih berkaitan dengan kemampuan berempati dan kesediaan mendengarkan problem orang lain. 

Pasti mudah menemukan orang semacam ini, orang yang cerdas dan kompeten tapi mengapa sepertinya sulit diterima sebagai pemimpin . Saya yakin banyak yang tersenyum dan mulai tengak-tengok  dan berbisik  itu si Polan, si Unyil, Si Upin atau si ini , si itu.
Yah , untuk menapaki puncak karier , ternyata prestasi saja tidak cukup. Terlebih lagi kalau untuk menduduki posisi pimpinan itu tergantung pada suara atau pilihan publik. Dalam hal ini, “kesuksesan” melibatkan lebih dari kapabilitas, bakat maupun kemampuan. Personality, kepribadian atau karakter dan kemampuan memikat hati rekan sekerja atau istilahnya kemampuan membangun aliansi terkadang lebih menentukan.  
Orang memilih pemimpin bukan semata-mata melihat kualitas kepakarannya atau kapabilitas manajerialnya, tapi sejauh mana si pemimpin itu memahami dan mendengarkan suara dan aspirasi rakyat dan mampu berempati dengan problem yang dihadapi rakyat. Pemimpin yang narsistik hanya akan disibukkan oleh agenda pencitraan. Selalu ingin didengar tapi enggan mendengarkan.
Karena itu, kalau kita ingin menjadi pemimpin yang dicintai mulai sekarang belajar mendengarkan orang lain.  “Menjadi pendengar yang baik dan sabar tidak hanya membantu dalam memecahkan banyak masalah di tempat kerja maupun di rumah, namun juga membantu memahami dunia melalui kaca mata orang lain, sehingga membuka pemahaman dan kemampuan untuk berempati dengan persoalan orang lain” (wikihow.com).
Ini tip-tip untuk menjadi pendengar yang baik atau “good listener” yang saya kutip dari WIKIHOW:
Tempatkan dirimu di posisi orang lain (Place yourself in the other person's shoes)
Seorang pendengar yang baik  bisa melihat suatu problem dari perspektif orang lain dan secara aktif mencoba memahaminya dari sudut pandang mereka. Jangan sekali-kali merasa lebih pandai dan meremehkan orang lain.
Ciptakan jarak fisik dan mental yang kondusif (Create a conducive physical and mental space).
Buang semua pembatas, hambatan dan gangguan.  Berikan seluruh perhatianmu.  Tenangkan pikiran.  Konsentrasi  dan membuka diri pada apa pun yang akan dibicarakan.
Berhenti bicara dan mencoba diam (Stop talking and try to be silent).
Kesampingkan semua urusanmu, dan berikan waktumu untuk mendengarkan suara dan persoalan orang lain.
Jangan menginterupsi pembicaraan (Do not interrupt with what you feel or think about the topic being discussed).
Dengarkan dulu  lawan bicara menceritakan seluruh  persoalannya , baru memberi opini. Jangan menginterupsi.
Gunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan perhatian (Use body language to express your interest).
Pendengar yang baik menggunakan seluruh bahasa tubuh dan muka :
o    Ekspresi wajah: menunjukkan perhatian dan memandang langsung ke mata pembicara terus menerus. Tunjukkan keramahan dan keterbukaan
o     Pahami yang tersirat:  Selami apa yang tidak diucapkan dan lihat ekspresi wajah dan tubuh pembicara untuk mendapatkan semua informasi.  
Penuh Perhatian (Be attentive):
o    Gunakan wajah, suara dan tubuh untuk menunjukkan bahwa kamu tertarik dengan apa yang dibicarakan  lawan bicara.  
o    Mendengarkan dengan sikap menerima.  
o    Ajukan pertanyaan untuk menunjukkan bahwa kita mendengarkan  
o    Gunakan ide dan emosi untuk mencoba berkomunikasi dengan pembicara.  
o    Uji pemahamanmu
Gunakan kata-kata pembangkit semangat (Use encouraging words to show you are listening):
o    Mmm,hmm
o    Saya memahami
o    Benar
o    Oh, ya
Gunakan tindakan nonverbal (Use nonverbal actions to show you pay attention to what is being said):
o    Postur tubuh yang rileks
o    Menganggukkan kepala
o    Ekspresi wajah
o    Ekspresi tubuh yang rileks
Gunakan kata-kata untuk berbicara lebih jauh (Use encouraging words that will invite them to continue):
o    Ceritakan lagi padaku
o    Mari kita bicarakan hal itu
Hal-hal yang harus dihindari (Things to avoid):
o    Jangan interupsi
o    Jangan menginterogasi
o    Jangan mengalihkan pokok pembicaraan
Hindari frasa ini (Avoid phrases like):
o    Kamu yakin?
o    Sudah seburuk itukah
o    Santai saja. Besok kamu akan lebih baik
o    Jangan menghakimi
Saran saya tip-tip di atas jangan sekedar dibaca, tapi  praktekkan. Siapa tahu di masa datang anda akan menjadi pimpinan yang berhasil meraih dukungan suara dan hati rekan kerja atau pimpinan yang dicintai rakyatnya. Semoga.
Gambar: uyach.wordpress.com

  

Jumat, 24 Juni 2011

Tentang Bahasa Politik


Ours is the age of substitutes: Instead of language we have jargon; instead of principles, slogans; and instead of genuine ideas, bright suggestions.

(Eric Bentley - developingteachers.com)

Mari merenung soal bahasa. Ya , bahasa atau bunyi-bunyi yang mempunyai makna yang keluar dari mulut manusia.  
Bahasa adalah alat komunikasi  berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.  Semua makhluk sosial , mulai  semut, ikan paus dan monyet  berkomunikasi satu sama lain, namun hanya manusia yang mampu  menciptakan bahasa yang tidak hanya berupa bunyi atau sinyal-sinyal.  Manusia adalah makhluk sosial yang pandai menciptakan alat atau media (tool-using animals) dan alat  yang paling hebat yang dikembangkan manusia adalah bahasa : lisan maupun tulisan (Gorys Keraff ,1997 dan Patrick Lockerby http://www.science20.com/chatter_box/ blog/ what_language).
Melalui bahasa manusia bisa bekerja sama dan berinteraksi dengan sesamanya. Bahasa juga bisa menjadi simbol identitas diri seseorang. Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi utama sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi. Namun di tangan manusia, bahasa bukan sekedar alat untuk berkomunikasi tapi dapat pula dimanipulasi sedemikian rupa   untuk memaksimalkan kepentingannya.


Lihatlah bagaimana para pejabat Negara dan politisi pandai berpidato dan menghipnotis pendengarnya dengan janji-janji dan retorika. Yang keluar dari mulut mereka adalah susunan kata-kata yang membentuk kalimat indah, dengan intonasi dan nada suara yang membius sehingga pendengarnya mau bertindak sesuai dengan isi pesan yang disampaikan. Politisi menyadari betul kekuatan bahasa dalam mempengaruhi pikiran manusia. Manusia memang makhluk yang ahli memanipulasi apapun, termasuk memanfaatkan  bahasa untuk alat politik atau alat kontrol sosial.
Dalam politik, fungsi bahasa diredusir sebatas sebagai alat untuk mengekspresikan kekuasaan.   Bahasa politik adalah bahasa sebagai alat persuasi sehingga sarat dengan eufemisme, jargon dan retorika. Penggunaan gaya bahasa eufemisme dimaksudkan untuk membuat segala sesuatu menjadi tampak berkesan positif , berkesan lebih baik ketimbang realitas senyatanya. Eufemisme dan retorika adalah cara membungkus  agar tindakan dan kebijakan penguasa kelihatan beradab namun cara ini  membuat  bahasa menjadi tersesat  jauh dari makna sebenarnya. Bahasa yang digunakan untuk kepentingan kekuasaan akan  mengalami distorsi makna yang luar biasa.
Ini contoh eufemisme ala Orde Baru :
-    Realitasnya penangkapan, penculikan, pembunuhan terhadap mahasiswa, namun istilah yang dipakai pemerintah adalah mengamankan, menertibkan, atau menjaga stabilitas nasional.
-    Istilah penataan kelembagaan seperti dalam kasus tata niaga cengkeh atau jeruk. Realitasnya justru malah semrawut, eksploitatif, serta memporak -porandakan sistem pasar cengkeh/jeruk  yang sebelumnya relatif stabil.
-    Istilah normalisasi kampus mestinya membuat kehidupan akademik bergerak ke arah yang lebih baik. Justru sebaliknya kebebasan mahasiswa
menjadi semakin terkungkung, wacana ilmiah merosot, sikap kritis luluh, kemampuan berorganisasi berkurang
Namun eufemisme atau penghalusan bahasa ternyata hanya berlaku untuk tindakan dan kebijakan penguasa. Sedang untuk masyarakat yang ingin mengkritisi kebijakan penguasa digunakan bahasa sarkasme. Seringkali orang atau masyarakat yang ingin mengkoreksi tindakan sewenang-wenang penguasa, mereka malah dicap subversif atau makar (Moch. Jalal).


Dalam politik, bahasa menjadi tak bermakna karena  tidak keluar dari hati. Pesan perdamaian tidak akan sampai jika si pemberi pesan menunjukkan perilaku yang mengobarkan peperangan. Ini contohnya :
“One way to fight evil is to fight it with kindness and love and compassion” (George W. Bush)
Bahasa sebagai alat politik adalah kata-kata yang keluar dari mulut orang yang suka berjanji tanpa ada komitmen untuk menepatinya . Bahasa sekedar pemanis bibir. Mau tahu contohnya lihat saja saat musim kampanye akan banyak sekali berhamburan kata-kata yang manis di bibir saja  atau contoh yang satu ini :


“Kita mengharapkan hukum dan keadilan ditegakkan, serta korupsi, kolusi dan nepotisme terus diberantas Di masa depan nanti, pakta integritas akan menjadi best practices di semua lini pembangunan. Pemerintahan Indonesia masa depan, Insya Allah, akan makin bersih dari semua wujud tindak pidana KKN”  
(Pidato Presiden SBY menyambut hari kemerdekaan di Rapat Paripurna DPR, Senayan, Jakarta, Jumat 14 Agustus 2009 - Vivanews.com).
Bahasa sebagai alat kuasa  juga bisa keluar dalam bentuk kata-kata nasehat bijak yang dikotbahkan oleh orang yang justru melanggar apa yang dikotbahkannya.  Contohnya coba dicari sendiri pada tokoh-tokoh terkenal yang sering tampil di TV atau tokoh-tokoh tidak terkenal di sekitar kita. Ada tidak orang yang pandai berkotbah, tapi perilakunya tidak sejalan dengan yang dikotbahkannya. Pantun Jawa untuk orang seperti ini adalah “Wit gedang woh pakel. Ngomong gampang, nglakoni angel “ (Pohon gedang (pisang), berbuah pakel (jenis mangga). Omong gampang, menjalani susah). Semakin banyak tipe  orang yang hanya pandai berkotbah tapi tidak mengimplementasikan kotbahnya membuat bahasa mengalami inflasi. Istilah atau konsep-konsep religius apabila menjadi bahasa politik akan mengalami kemerosotan makna dan menjadi sekedar jargon atau slogan.


Bahasa sebagai alat politik bisa menjadi tidak bernilai karena jatuh menjadi sarana untuk mengumpat, mencaci-maki dan menelanjangi kejelekan orang lain. Bahasa menjadi alat untuk mengobarkan konflik, kebencian, dan pembunuhan karakter  lawan politik. Lihatlah propaganda atau perang wacana  para politisi dari partai politik yang berseberangan. Contohnya mudah ditemukan di TV One atau Metro TV.
Kalau demikian, adakah bahasa yang membuat orang  tidak sekedar mengerti maknanya tapi pesannya juga sampai , tidak hanya ke telinga tapi juga ke hati pendengarnya ?
Ada. Menurut Project Pop adalah bahasa musik. Jika dengan bahasa politik kita sibuk berkelahi, lantas apakah yang bisa menyatukan kita? Jawabnya adalah dengan musik dangdut.  Dangdut is the music of my country. Di dalam masyarakat dimana bahasa telah kehilangan maknanya, musik menjadi media komunikasi yang  bisa berbicara lebih keras dibanding susunan kata-kata lisan yang keluar dari mulut manusia.  
Music speaks louder than words” – musik berbicara lebih keras dibanding kata-kata, demikian judul lagu jadul dari Peter, Paul & Mary.
Music speaks louder than words
It's the only thing that the whole world listens to.
Music speaks louder than words,
When you sing, people understand.

Sometimes the love that you feel inside
Gets lost between your heart and your mind
And the words don't really say the things you wanted them to.
But then you feel in someone's song
What you'd been trying to say all along
And somehow with the magic of music the message comes through
Karena itu daripada pusing memikirkan politik, lebih enak mendengarkan lagu Project P ini
Gambar : filipspagnoli.wordpress.com




Minggu, 19 Juni 2011

Tentang Nostalgia : Those Good Old Days

The world is full of people whose notion of a satisfactory future is, in fact, a return to the idealized past.  ~Robertson Davies, A Voice from the Attic

   desktopnexus.com

Dari piknik ke youtube saya menemukan video  yang menampilkan gambar-gambar pemandangan khas Indonesia dengan diiringi lagu Fool (If You Think It’s Over) yang dibawakan penyanyi Inggris, Chris Rea.  Tidak tahu mengapa  perpaduan antara pemandangan alam Indonesia   dengan lagu Chris Rea ini terasa pas banget dan enak didengarkan. Melihat  video ini saya menjadi melankolis.  Ingat masa-masa indah saat muda. Ingat kondisi Indonesia masa lalu.  Ini videonya.

Setiap manusia yang beranjak ke usia senja , dia akan mulai senang mengingat kenangan masa lalu , masa-masa ketika  usia masih  muda.  Masa ketika  problem terberat yang dihadapi adalah seputar pacaran , putus cinta dan patah hati.  Lagu "Fool" sendiri memang bicara tentang anak muda. “Fool if you think  it's over”    merupakan ucapan yang biasa dilontarkan orang dewasa pada anak muda yang patah hati diputuskan kekasihnya.  Bodoh jika kamu mengira semuanya seakan kiamat. Itu juga yang akan saya ucapkan pada anak saya kalau mengalami hal yang sama. Saya bisa ngomong seperti itu  karena masa usia 17 tahun  sudah lama sekali saya tinggalkan.  Cara memandang suatu persoalan ternyata berubah seiring dengan  kematangan usia.
Saya tidak akan panjang lebar membahas tentang makna lirik lagu Christ Rea , tentang  putus cinta dan patah hati. Yang lebih menarik perhatian  adalah gambar-gambar pemandangan khas Indonesia dan ingatan saya yang melayang ke masa lalu.
Rasanya sudah lama saya tidak melihat wajah Indonesia yang seperti di video ini : alam yang segar , hijau, tenang,  dan damai. Mata saya selama ini dijejali dengan gambaran tentang Indonesia sebagaimana terpampang di media massa :   wajah modernitas kota dengan segala macam gaya hidup penghuninya  yang digambarkan oleh majalah, TV dan sinetron atau  hiruk pikuk  persoalan politik yang ditampilkan berita dan  talk show di TV. Capek mata dan hati menonton  semua itu. Melihat video ini jadi rindu dengan wajah Indonesia saat masih lugu , ibaratnya masih sweet seventeen. Indonesia masa lalu.  Yah masa lalu memang selalu terasa indah untuk dikenang ……terlebih lagi kalau masa sekarang dirasakan penuh persoalan. 
Nostalgia  identik dengan angkatan tua. Dulu saya sering bosan kalau almarhum ayah mulai cerita tentang masa mudanya , tentang jaman Belanda, tentang Soekarno dan sebagainya. Kalau sudah bicara tentang masa lalu bisa panjaaaang dan susah untuk dihentikan. Jaman dulu lebih inilah, lebih itulah. Pokoknya jaman dulu selalu lebih baik dari sekarang.  Kini, ketika usia saya merangkak pelan menuju kategori ‘jadul’  saya mulai bisa merasakan dan memahami mengapa orang tua biasanya suka cerita tentang  those good old days  … hari-hari yang lebih indah dan menyenangkan saat  masih muda.
Saya mulai seperti ayah saya. Sepertinya jaman saat saya masih muda  lebih menyenangkan dibanding sekarang ini. Mengenang masa muda, memori  saya  langsung ingat gambaran penampilan teman-teman SMA dan kuliah di era tahun 1980an. Saya ingat teman kuliah saya ada yang ke kampus  memakai  baju mini sedikit diatas lutut  dibelah tengah lagi.  Ada lagi yang pakai model rok langsung celana  dengan tinggi sedikit di atas lutut. Saya tidak membayangkan ada  mahasiswa saya  saat ini yang berani tampil segila itu.
Kondisi ekonomi dan politik Indonesia tahun 1980an memang lebih stabil  dan  tidak banyak gejolak.  Aktivitas politik mahasiswa tidak seleluasa saat ini, karena memang dibatasi dan dikontrol ketat pemerintah. Tidak heran kalau saat itu konsentrasi  mahasiswa lebih difokuskan ke perkuliahan , kesenian, pencinta alam dan kegiatan-kegiatan lain yang apolitis.  Pengelompokan mahasiswa berdasarkan ideologi  juga tidak seterbuka sekarang ini. Apa dan bagaimana identitas ideologis mahasiswa menjadi tidak kelihatan dan tidak penting . Hanya mahasiswa tertentu yang concern ke aktivitas politik, mayoritas mahasiswa adalah tipe fokus belajar dan happy-happy.
Pendapat ini murni pendapat orang yang sedang bernostalgia yang tentunya sangat subyektif sekali. Karena kacamata yang digunakan adalah pengalaman pribadi saya yang bisa saja peristiwa yang sama dipahami berbeda  oleh orang lain dengan pengalaman yang berbeda.  Tiap jaman menggoreskan  catatan sejarahnya sendiri-sendiri. Mahasiswa tahun 1960-an mempunyai romantisisme yang berbeda dengan mahasiswa tahun 1980-an. Anak muda era 1990-an mempunyai kisah nostalgia yang berbeda dengan anak muda tahun 2000-an.
Namun, apa pun alasannya kondisi sosial ekonomi politik Indonesia saat ini memang membuat orang cenderung merindukan those good old days.  Orang yang mulai  bosan dan lelah dengan penguasa politik yang ribut terus  akhirnya merindukan kembali jaman Pak Harto, menginginkan stabilitas politik dan ekonomi sebagaimana  jaman Orde Baru. Inilah yang disebut nostalgia.  "The term of "feeling nostalgic" is more commonly used to describe pleasurable emotions associated with and/or a longing to go back to a particular period of time" (Wikipedia). 

Pertanyaannya adalah cukup puaskah kita menjawab tantangan problema bangsa saat ini dengan bernostalgia tentang  jaman yang ideal di masa lalu. Apakah tatanan ideal di masa lalu bisa  menjawab tantangan persoalan masa kini?
Apakah  zaman Pak Harto sudah menjadi romantisisme , menjadi bagian those good old days sehingga yang terkenang yang baik-baik saja dan kita dengan cepatnya melupakan sisi kelam sejarah Orde Baru?   
Ternyata tatanan politik ideal di masa lalu dirindukan untuk memecahkan  persoalan ekonomi politik saat ini lebih karena sistem politik ideal di masa lalu adalah bagian dari nostalgia. Kenangan yang dirindukan untuk kembali.  Persoalan apakah sistem ideal di masa lalu bisa atau tidak , cocok atau tidak untuk menjawab tantangan jaman sekarang ini adalah soal lain lagi. Yang penting dengan bernostagia orang dapat  mengobati rasa rindunya akan segala hal yang indah dan menyenangkan di masa lalu sehingga dapat melupakan situasi tidak menyenangkan di saat ini. 

Tapi hati-hati jangan sampai terbius dengan masa lalu. Bisa jadi gambaran ideal itu hanya tipuan atau khayalan indah orang yang sedang sakit rindu. Nostalgia is a seductive liar , nostalgia adalah kebohongan yang menggairahkan demikian kata George Wildman Ball

Mari kita lupakan sejenak semua persoalan yang berat-berat. Kita bernostalgia jaman SMA dengan menyimak lagu “I Remember” dari Mocca , band dari Kota Bandung.

Sabtu, 11 Juni 2011

Tentang Identitas : True Colors

True Colors" adalah sebuah lagu yang ditulis oleh  Billy Steinberg  dan Tom Kelly. Lagu ini merupakan lagu pertama dalam album kedua penyanyi  Cyndi Lauper.  Selain Lauper lagu ini juga dipopulerkan oleh Phil Collins pada tahun 1998.
Show one’s true colors”  bermakna memperlihatkan karakter seseorang yang asli atau natural. Menunjukkan warna aslinya sama dengan menunjukkan pribadi atau menampakkan karakter yang sesungguhnya.
Lirik lagu “True Colors” memberi semangat agar orang berani menjadi dirinya sendiri, berani menunjukkan siapa dia yang sebenarnya. Menjadi diri sendiri bukan citra diri yang diinginkan orang lain.   
Tidak semua orang berani membuka diri , menunjukkan pada dunia inilah aku dengan segala ke”aku”anku. I am what I am. Ada sebagian orang yang takut menjadi dirinya sendiri. Karena dunia telah membuat label-label bernama identitas dan hanya manusia dengan label atau identitas yang disepakati mayoritas yang akan diakui eksistensinya. Sebaliknya, mereka yang diberi label “tidak umum” atau “aneh” atau “menyimpang” dari identitas mayoritas harus menyangkal diri, menyembunyikan dan menutupi identitasnya.
Menjadi bagian dari minoritas harus siap setiap saat menerima pandangan penuh kecurigaan, penolakan, dan diberi label dan stigma negatif.  Stigmatisasi dan diskriminasi adalah satu paket yang harus diterima kelompok minoritas. Pelabelan  dan identitas melekat di dalamnya proses penanaman karakter, sifat dan ciri-ciri  dari kelompok yang diberi label. Akibatnya, kelompok yang mempunyai keyakinan yang berbeda dari keyakinan dan tata nilai yang diyakini banyak orang akan selalu distigmatisasi dengan segala atribut negatif. Sedangkan kelompok yang dianggap berperilaku aneh dan menyimpang dari nilai tatanan social akan dianggap “tidak normal”.
Apa pun yang dilakukan kaum minoritas  akan selalu direspon  negatif  karena pelabelan atau stereotype tentang kaum minoritas yang telah  tertanam dalam otak selama bertahun-tahun telah berubah menjadi cara pemahaman akan golongan "lain" atau "liyan" yang penuh prasangka yang membatu. Karena itu perjuangan minoritas untuk meraih sukses dan bisa diterima oleh masyarakat adalah perjuangan yang panjang dan melelahkan. Sebab sekali pun telah berhasil memberikan yang terbaik belum tentu apa yang dilakukan akan diapresiasi sepantasnya. Kalau pun berprestasi akan diterima dengan sebelah mata bahkan cenderung diabaikan, namun apabila yang dilakukan hal sebaliknya kegagalan dan ketidakberhasilan maka harus siap menerima segala caci maki, cemoohan dan umpatan yang paling menyakitkan. Menjadi minoritas ibaratnya harus selalu hidup dalam tekanan, selalu berada di zona tidak nyaman. Sebaliknya, menjadi mayoritas akan selalu berada dalam zona yang aman dan nyaman.
Seseorang terkadang tidak bisa memilih label atau identitas sesuai dengan keinginannya. Minoritas karena ras, suku  dan agama adalah identitas yang terberi dan diturunkan orang tua.  Bila seseorang karena takdir Tuhan masuk ke dalam label kelompok minoritas , haruskah ini menjadi akhir dunia ? Apakah menjadi kelompok yang terdiskriminasi berarti tertutup masa depannya, tertutup kesempatan untuk berprestasi?
Benarkah demikian ?
Apakah selama ini kelompok minoritas di Indonesia atau di belahan dunia mana pun tidak menunjukkan prestasinya?
Blessing in disguise. Selalu ada berkah dibalik bencana. Segala peristiwa pasti ada hikmahnya. Ada ungkapan “Kalau suatu pintu ditutup, Tuhan akan membukakan pintu yang lainnya”.  Selalu hidup dalam zona bahaya dan ketidaknyamanan membuat orang yang terdiskriminasi mempunyai semangat juang sekeras baja. Pantang menyerah. Tidak heran sekalipun jumlahnya sedikit,  kelompok minoritas  justru menunjukkan keberhasilan dan prestasi yang mengagumkan.
Dipandang rendah identitas dirinya justru membuat orang selalu ingin menunjukkan eksistensinya dan semakin bangga dengan identitasnya. Hidup dalam tekanan dan selalu ditolak serta dicurigai menjadikan orang lari dan mencari pertolongan pada yang memberi hidup. Orang menjadi kontemplatif dan semakin religius. Semakin bisa menerima hidup apa adanya. Percaya Tuhan tidak akan membiarkan manusia berjuang sendirian. Tangan Tuhan bekerja tanpa bisa dipahami manusia. Gusti ora sare. Tuhan tidak tidur. Bukankah di hadapan Sang Pemberi Kehidupan , manusia itu bebas dari segala label dan identitas,  yang membedakan hanyalah amal dan perbuatannya.
Jadi berani menunjukkan warna aslimu ? “Show your true colors”?
Siapa takut ! ! !

Gambar :eclecticemily.com

  
                       
                       Sumber : http://www.youtube.com/watch?v=3edNfsluILg&NR=1

Senin, 06 Juni 2011

Tentang Iman dan Harapan


“When You Believe”,  Masih Ada Harapan  untuk Indonesia

When You Believe” merupakan soundtrack film kartun “Prince of Egypt” yang menceritakan kisah Nabi Musa dalam memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Lagu ini dikarang oleh Stephen Schwartz pada tahun 1998 dan dipopulerkan oleh Mariah Carey dan Whitney Houston (Wikipedia).
Lirik lagu “When You Believe” merupakan kata-kata semangat bagi bangsa Israel pada saat mereka didera  penderitaan hidup akibat perbudakan. Di saat Bangsa Israel dilanda rasa putus asa dan tidak lagi percaya penyertaan Tuhan , lirik lagu ini mengingatkan untuk tetap percaya pada Tuhan , percaya pada mujizatNya.  Percayalah dan  biarkan  tanganNya bekerja.
There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
It's hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe
Iman dan mujizat Tuhan adalah dua hal yang melekat satu sama lain. Mujizat adalah kejadian yang ajaib yang tidak dapat dipahami  akal manusia sehingga diyakini sebagai campur tangan  Tuhan . Mukjizat biasanya diyakini oleh orang yang mempunyai iman yang kuat akan Kuasa Tuhan.
Di jaman yang mengagungkan rasionalitas dan materialisme , sepertinya iman dan mujizat tidak lagi ada di ingatan manusia. Hidup manusia disibukkan dengan  pergulatan untuk menuju sukses yang ukurannya sangat duniawi : kaya, menduduki jabatan tinggi, dan  dihargai masyarakat.  Orang berpacu  untuk menuju ke puncak pencapaian hidup itu dengan segala daya dan upaya, bahkan bila perlu dengan cara yang bertentangan dengan nilai etika dan agama sekali pun. Akibatnya, manusia dan bangsa lupa hubungannya dengan Tuhan. Untuk mewujudkan ambisinya manusia tega merebut kesempatan dan hak hidup manusia lainnya. Homo homini lupus. Manusia saling memangsa sesamanya. Bangsa saling menindas dan menaklukkan bangsa yang lain demi keagungan bangsanya sendiri.
Ini nampaknya yang mungkin dirasakan bangsa Indonesia saat ini . Sesak hati melihat korupsi, kejahatan, ketidakjujuran, dan permainan politik yang tidak etis yang kasat mata dipertontonkan para pejabat Negara kepada rakyatnya. Rasanya sungguh miris  hidup di tengah  situasi semacam ini.  Dari waktu ke waktu,  dari jaman ke jaman , orde pemerintahan terus berganti-ganti sepertinya kita kok terjebak pada lubang yang sama, berputar-putar di tempat yang sama. Kita tidak menuju kemana-mana. Capai sekali rasanya. Akankah kita menuju tanah perjanjian itu ? Mampukah bangsa Indonesia mewujudkan cita-cita yang diimpikan oleh para pendiri bangsa ini ? Mengapa sekarang justru tidak ada lagi kebersamaan, kita sibuk memikirkan kepentingan diri, kelompok, dan golongan sendiri. Kita saling bersaing, bermusuhan, curiga dan iri dengan keberhasilan sesama anak bangsa.

Mau menuju kemana Negara Indonesia? Masihkah bangsa ini mempunyai harapan? Haruskah kita putus asa didera berbagai macam persoalan carut marut kehidupan bangsa?
Mungkin saat ini kita tengah merasakah hal yang sama dirasakan oleh bangsa Israel di Tanah Mesir. Kita ingin keluar dari penderitaan dan ketertinggalan.  Tapi para pemimpin sibuk dengan nafsu dan ambisi meraih puncak kekuasaan. Kita seperti ditinggalkan. Apakah kita harus menunggu seorang Musa yang bisa memimpin bangsa ini keluar dari carut marut persoalan bangsa?. Apakah selamanya kita akan menunggu Satria Piningit atau messiah yang dijanjikan akan membawa ketentraman dan kemakmuran?  Apakah kita cukup puas dengan janji-janji dan segala mitos itu dan menunggu mukjijat Tuhan bekerja ?
Saya kira Tuhan bukan lah seorang tukang sulap. MukjijatNya bekerja dalam semangat dan kerja keras setiap anak bangsa yang berupaya melakukan perubahan sekecil apa pun. Kata bijak Bunda Teresa  menyatakan : “Jangan tunggu pimpinan, lakukan sendiri seorang demi seorang”. Kalau para pimpinan bangsa tidak lagi bisa diharapkan sebagai motor dan motivator pembangunan dan perubahan bangsa, apakah kita tetap terus menggantungkan nasib anak bangsa dan generasi mendatang pada pemimpin. Mukjijat Tuhan tidak akan berkarya saat kita duduk diam dan bermeditasi saja. Mukjijat itu akan menjadi nyata kalau tiap-tiap manusia melakukan tanggungjawab dan tugasnya sebaik-baiknya dan memberikan hal terbaik yang bisa dipersembahkan pada bangsa melalui apa yang bisa dia lakukan. Kalau tiap-tiap orang bekerja dan memberikan yang terbaik di bidangnya masing-masing, saya kira bangsa ini tidak harus menunggu Satria Piningit untuk bisa terlepas dari belenggu keterpurukan dan menuju zaman keemasan yang dijanjikan.
Yang kita butuhkan hanya percaya dan tetap  menjaga harapan. Jangan biarkan api pengharapan itu padam.  Hanya dengan bersama dan bersatu padu kita bisa mewujudkan impian.  Dan mukjijat itu pun nyatalah.
When you believe
Somehow you will
You will when you believe
Berikut lirik lagu “When You Believe” selengkapnya :
Many nights we pray
With no proof anyone could hear
And our hearts a hopeful song
We barely understood
Now we are not afraid
Although we know there's much to fear
We were moving mountains long
Before we know we could
There can be miracles
When you believe
Though hope is frail
It's hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve
When you believe
Somehow you will
You will when you believe


In this time of fear
When prayer so often proves in vain
Hope seems like the summer birds
Too swiftly flown away
And now I am standing here
My heart's so full I can't explain
Seeking faith and speaking words
I never thought I'd say


There can be miracles
When you believe (When you believe)
Though hope is frail
It's hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve (You can achieve)
When you believe
Somehow you will
You will when you believe


They don't always happen when you ask
And it's easy to give in to your fear
But when you're blinded by your pain
Can't see your way safe through the rain
Thought of a still resilient voice
Says love is very near


There can be miracles (miracles)
When you believe (When you believe)
Though hope is frail
It's hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve (You can achieve)
When you believe
Somehow you will
You will when you believe
You will when you believe
You will when you believe
Just believe
You will when you believe

Dan ini duet Whitney Houston dan Mariah Carey

Kamis, 02 Juni 2011

Tentang Trafficking in Women:


Mengapa Perempuan Yang Disalahkan ?



Perdagangan perempuan mempunyai arti yang jelas yakni manusia berjenis kelamin perempuan yang diperdagangkan layaknya komoditas ekonomi. Untuk apalagi kalau tidak demi uang . Perdagangan perempuan (trafficking in women) adalah masalah yang serius dan komplek. Di Indonesia masalah perdagangan orang, terutama perempuan dan anak, sejak krisis ekonomi dan politik tahun 1999 menunjukkan intensitas tinggi. Diperkirakan, 100.000 anak dan perempuan diperdagangkan setiap tahun. Prostitusi anak semakin meningkat, dan sepertiga dari pekerja seks berusia di bawah 18 tahun (http://www.unicef.org/)
Perdagangan anak dan perempuan untuk prostitusi memang ladang bisnis yang menggiurkan. International Labour Organization (ILO) menyatakan praktik perdagangan manusia memiliki daya tarik tersendiri, karena ternyata menjanjikan keuntungan cukup fantastis yakni mencapai 32 milyar dolar AS atau sekitar Rp.288 trilyun lebih (http://yanrehsos.depsos.go.id/).
Menurut hasil penelitian PBB akhir tahun 1994 (dalam Roni Nitibaskara,2001) tentang dunia lampu merah di kawasan Asia Pasifik, di Indonesia tercatat 65.582 pekerja seks. Namun diperkirakan , mereka yang menjadikannya sebagai kerja sambilan bisa mencapai 500.000. Hasil dari industri seks diperkirakan mencapai 1,27 milyar dollar AS sampai 3,6 milyar dollar AS atau 4 persen -11 persen APBN Indonesia tahun 1995.
Dario Agnote dalam tulisannya Sex Trade, Key Part of South East Asian Economies , Kyodo News tahun 1998 (dalam Sudirman HN,2001) memberi gambaran serupa  yakni luas dan kuatnya jaringan sindikat perdagangan perempuan dan prostitusi di Indonesia dapat dilihat dari besarnya uang yang dihasilkannya, yang mencapai 1,2 hingga 3,3 milyar dollar AS per tahun atau mencapai 0,8 hingga 2,4 persen dari GDP kita. Di Jakarta saja , uang yang dihasilkan dari industri ini mencapai 191 juta dollar AS per tahun.
Perdagangan perempuan  merupakan masalah serius yang penanganannya membutuhkan kebijakan yang komprehensif. Untuk memerangi perdagangan perempuan untuk prostitusi akhir-akhir ini beberapa daerah di Indonesia menerapkan peraturan daerah (perda) tentang pelacuran. Di Tangerang diberlakukan Perda Nomor 8 Tahun 2005 tentang Pelarangan Pelacuran . Di Bekasi juga diberlakukan perda antipelacuran dan Depok sedang merancang peraturan serupa (Kompas,17-4-2006)
Perda anti pelacuran idealnya ditujukan untuk melindungi hak-hak asasi perempuan dan mencegah perempuan sebagai korban eksploitasi seksual, namun pada tataran implementasi ternyata banyak menimbulkan masalah dan mengundang pro dan kontra karena sebagian besar perda tersebut menjadikan perempuan sebagai sasaran penertiban. Perda No 8/2005 tentang Pelarangan Pelacuran yang diterapkan di Kota Tangerang ,misalnya, banyak dikeluhkan oleh sejumlah perempuan,  terutama mereka yang terkena razia. Sebagian dari yang diadili ternyata bukan pelacur.
Mengapa perempuan selalu menjadi pihak yang dianggap paling bertanggungjawab atas terjadinya praktek pelacuran ?
Mengapa kebijakan publik yang dimaksudkan untuk  mengatasi masalah bisnis seks,  di Indonesia jatuhnya menjadi peraturan-peraturan yang berusaha menertibkan (tubuh) perempuan?
Cara pandang atau mindset seperti apa yang ada di pikiran para policy makers yang melahirkan perda-perda tentang prostitusi?
It’s all in the mind. Semua itu akarnya ada di cara berpikir manusia. Kebijakan publik atau perda adalah produk cara pandang para policy maker-nya dalam memahami suatu masalah publik yang hendak dipecahkan. Dasar dikeluarkannya suatu kebijakan publik adalah untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Namun kebijakan publik menurut Lasswell dan Kaplan (Islamy, 1994) merupakan program pencapaian tujuan , nilai-nilai dan praktek yang terarah. Dengan demikian ada konteks nilai atau norma yang mau diraih atau dipertahankan dalam  suatu kebijakan. Nilai atau norma yang ideal akan ditentukan oleh pemegang otoritas nilai pada suatu negara atau masyarakat yang tentu saja tidak lepas dari konteks budaya setempat. Dalam hal ini pemegang otoritas nilai masyarakat Indonesia yang kental dengan budaya patriarkis adalah para laki-laki yang mempunyai otoritas di bidang sosial, budaya, agama,  ekonomi, dan politik .
Demikian pula dengan peraturan daerah (perda) pengatur prostitusi , tidak terlepas dari kepentingan sosial politik dari penguasa politik dan aktor-aktor berpengaruh di daerah setempat. Kepentingan dan kerangka pengalaman akan mempengaruhi persepsi pembuat kebijakan tentang pelacuran. Apabila pelacuran dipahami sebagai problem sosial yang komplek dan multidimensi, maka pemahamannya tentang kebijakan tidak akan bersifat represif atau menekankan sisi hukum dan moralitas semata, tapi juga dimensi sosial, budaya, ekonomi dan kemanusiaan seperti keadilan gender dan perhargaan hak asasi manusia. Sebaliknya, kalau pemahamannya tentang pelacuran hanya dari kepentingan hukum dan moralitas, maka akan mendukung model  pendekatan legalistis dan moralistis
Motivasi pemerintah daerah untuk membuat perda prostitusi dipengaruhi oleh harapan atau keinginan yang ingin diraih pemerintah daerah (dalam hal ini Kepala Daerah dan DPRD) dan nilai atau value yang diyakininya. Nilai (value) policy maker akan dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman atau sosialisasi nilai yang telah tertanam. Harapan atau tujuan ditetapkannya perda prostitusi adalah demi kepentingan dan ketertiban masyarakat. Jika nilai yang diyakini policy maker bersumber dari nilai moral agama maka formulasi dan implementasi perda prostitusi akan menggunaan perspektif moral yang rigid dan cenderung melihat (perempuan) pelacur sebagai sumber godaan (dosa). Apabila , nilai yang diyakini policy maker berperspektif  holistik yang melihat prostitusi sebagai akibat dari problem sosial, ekonomi, dan politik maka perumusan dan implementasi perda prostitusi cenderung akan lebih mempertimbangkan perspektif keadilan gender dan Hak Azasi Manusia.
Mari sama-sama kita simak  bunyi beberapa pasal dalam perda pengatur prostitusi yang cenderung bias perempuan :
Setiap orang yang sikap atau perilakunya mencurigakan, sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur dilarang berada di jalan-jalan umum, di lapangan-lapangan, di rumah penginapan, losmen, hotel, asrama, rumah penduduk/kontrakan, warung-warung kopi, tempat hiburan, gedung tempat tontonan, di sudut-sudut jalan atau di lorong-lorong jalan atau tempat-tempat lain di Daerah  (Perda Kota Tangerang N0.8 Th.2005 tentang Pelarangan Pelacuran Bab II Larangan Pasal 4).
Barang siapa yang tingkah  lakunya menimbulkan persangkaan bahwa ia itu seorang pelacur, dilarang tinggal dimuka umum (Perda Kabupaten Probolinggo No.  5 Th.2005 tentang Pemberantasan Pelacuran pasal 2)
Setiap orang dilarang berpakaian yang tidak sesuai dan atau bertentangan dengan norma-norma agama dan budaya di tempat-tempat umum (Perda Kota Batam No. 6 Th.2002 Bab III yang mengatur Tertib Susila).
Setiap orang yang sikap atau perilakunya menunjukkan indikasi yang kuat sehingga patut diduga orang tersebut sebagai pelacur, dilarang berada di jalan-jalan umum, di lapangan-lapangan, di rumah penginapan, losmen, hotel, asrama, rumah penduduk/kontrakan, warung-warung kopi, tempat hiburan, gedung/tempat tontonan, di sudut-sudut jalan atau di lorong-lorong jalan atau tempat-tempat lain di Daerah (Perda Kabupaten Kendal No 10 Th. 2008  Bab III Pelarangan).
Bunyi pasal-pasal di atas adalah contoh nyata pemahaman pelacuran dari perspektif moral. Dalam konsepsi moral, perempuan tidak dipahami sebagai korban tapi dipandang sebagai sumber penyimpangan dan dosa. Perempuan, terutama tubuhnya,  adalah sumber godaan, sumber dosa, dan malapetaka. Karena itu timbul pemahaman untuk mengendalikan moralitas masyarakat harus dimulai dengan mengendalikan tubuh perempuan. Perempuan yang sebenarnya seringkali lebih sebagai korban karena eksploitasi tubuhnya, justru dianggap sebagai sumber masalah. Setiap tindak kekerasan dan eksploitasi seksual lebih disebabkan karena si perempuan yang mempertontonkan atau memanfaatkan bagian-bagian tubuhnya.
Kebijakan tentang prostitusi menjadi contoh kebijakan yang sangat bias gender dan menstigmatisasi tubuh perempuan sebagai  sumber penyakit masyarakat sehingga menjadikan perempuan sebagai pihak yang pertama kali harus ditertibkan. Padahal problem trafficking jaringannya laksana mafia mengingat begitu besarnya keuntungan finansial di dalamnya. Mengapa dalam implementasinya perda-perda itu jarang membongkar jaringan yang menggerakkan bisnis kotor ini? Mengapa kok perempuan yang hanya budak yang dikejar-kejar?
Ternyata selamanya tubuh perempuan tidak akan pernah dilihat hanya sebagai organ biologis. Karena keindahannya, tubuh dan wajah perempuan menjadi komoditas penting dalam industri seks, hiburan , termasuk media yang mengeksploitasi seksualitas perempuan atau yang umum disebut sebagai pornografi. Daya tarik seksual bisa menjadi sumber kekuasaan yang mengontrol perilaku banyak orang. Karena itu tubuh perempuan tidak sekedar raga tapi medan perebutan sumber kekuasaan sosial, ekonomi dan politik.
Kalau para pembuat kebijakan publik saja mempunyai cara pandang yang tidak adil pada perempuan terus siapa lagi yang mau melindungi perempuan ? masih adakah cara untuk melepaskan perempuan dari jerat trafficking?
Cara paling mudah dan efektif adalah jangan melepaskan perempuan untuk berjuang sendiri. Jangan biarkan mereka pergi jauh meninggalkan orang tua, keluarga, dan kerabat untuk berjudi dengan nasib demi iming-iming imbalan materi. Jangan korbankan perempuan atas nama kesulitan ekonomi atau alasan apapun.
Berikut ini videoklip lagu  yang sangat cocok untuk mendukung coretan tentang trafficking ini.
Don’t Let Me Go – The Click Five
I can see your shadow laying in the moonlight
I can feel your heartbeat playing on my right side
Every night I long for this, makin' up what I miss
I can hear you breathing letting out a sad sigh

You try so hard to hide your scars
Always on your guard

Don't, don't let me go
Don't make me hold on when you're not
Don't, don't turn away
What can I say so you won't
No don't, don't let me go...
[

Lyrics from: http:/yricsmode.com/lyrics/t/the_click_five/dont_let_me_go.html
I can see the skyline fading in the distance
Tears are comin' down
I'm trying just to make sense
I don't listen to the radio just the engine and the road
I wonder if my words are makin' any difference

I dream and then it seems to end
But always comes again

I'm comin' down
To where you're standing
I need you now or you'll be watchin'
Me hit the ground
With crash landing...

Don't let me go...
Don't let me go...

Link : http://www.youtube.com/watch?v=_08BBIGkwA8


Gambar : apoetshope.wordpress.com

Rabu, 01 Juni 2011

Tentang Spiritualitas

AMMONIA AVENUE
-abstract-desktopnexus.com

Ammonia Avenue merupakan judul lagu dari band rock  Inggris The Alan Parsons Project yang dirilis pada tahun 1984.
Tentang makna lirik lagu ini ada yang menafsirkan lagu ini berkisah tentang konflik antara ilmu pengetahuan vs agama dalam kehidupan sehari-hari.  Jika ilmu pengetahuan mempertanyakan segala sesuatu dan berusaha mencari jawabnya dengan menggunakan rasio atau akal, agama atau iman sebaliknya  menerima tanpa mempertanyakan atau “taken for granted”. Menggunakan rasio atau akal untuk mempertanyakan kebenaran agama bisa dianggap suatu yang berbahaya atau “dosa”. 
Lirik lagu ini menurut saya menggambarkan pengembaraan orang untuk mengenal Penguasa Alam Raya yang disebut agama dengan berbagai sebutan : Allah, Yahweh, Tuhan, Sang Hyang Widi, dsb.
Ada orang yang berusaha menyelami keajaiban alam raya dan penciptaNya melalui jalan rasionalitas ilmu yang mengandalkan akal manusia. Ada yang berusaha menyelamiNya melalui teks-teks yang tertulis dalam kitab suci agama-agama. Jalan agama adalah kebenaran final , satu-satunya jalan menuju kepadaNya bagi tiap-tiap umat suatu agama. Tidak ada diskursus dan wacana jalan lain untuk menuju ke tempatNya. Sebaliknya, jalan ilmu pengetahuan adalah memecahkan misteri kebesaranNya dengan mengandalkan akal atau rasio. Lewat jalan ilmu , memang banyak misteri penciptaan dan alam raya yang telah berhasil disibakkan manusia. Kelemahannya, intelektual atau ilmuwan akan cenderung memandang tinggi rasionalitas dan menganggap jalan agama hanyalah dongeng atau mitos. Sehingga ilmuwan seringkali memandang rendah atau sinis dengan cara pandang agamawan, dan lagu ini menunjukkan kesalahan cara pandang kaum intelektual ini.
Berikut ini penafsiran bebas menurut versi saya tentang makna lirik di balik lagu “Amonia Avenue”:
Tanpa mengenal Tuhan manusia bagai orang yang tersesat  , berdiri dalam kegelapan , menunggu terbitnya cahya mentari.
Dan siapa kita ini – orang yang merasa intelektual dan rasional - sehingga merasa berhak menghakimi keyakinan orang yang khusuk di jalanNya.
Kita ini sama-sama mencari jalan menuju “Amonia Avenue”
Jika kita minta bukti dan kita menyangsikan jawabannya.
Kita akan menjadi semakin ragu.
Karena mata kita buta akan kebenaran dan tanda-tandaNya
Hanya orang yang bijaksana dan tercerahkan yang memahamiNya

Untuk apa kita berlelah-lelah mencariNya
Jika kita tidak mendengar iramaNya, tidak melihat kehadiranNya
Sungguh sia-sia orang yang senantiasa mencari dan mencariNya
Karena sesungguhnya Dia tidak lah jauh
Dia hadir dan keagunganNya tergambar dalam diri manusia dan segala ciptaanNya.  
Inilah lirik lengkap lagu “Amonia Avenue”
Is there no sign of light as we stand in the darkness?
Watching the sun arise
Is there no sign of life as we gaze at the waters?
Into the strangers eyes

And who are we to criticize or scorn the things that they do?
For we shall seek and we shall find Ammonia Avenue

If we call for the proof
 and we question the answers
Only the doubt will grow
Are we blind to the truth or a sign to believe in?
Only the wise will know

And word by word they handed down the light that shines today
And those who came at first to scoff, remained behind to pray
Yes those who came at first to scoff, remained behind to pray

When you can't hear the rhyme and you can't see the reason
Why should the hope remain?
For a man will be tired and his soul will grow weary
Living his life in vain

And who are we to justify the right in all we do?
Until we seek until we find Ammonia Avenue

Through all the doubt somehow they knew
And stone by stone they built it high
Until the sun broke through
A ray of hope, a shining light Ammonia Avenue

Coretanku di 1 Juni 2011