Senin, 31 Oktober 2011

Sumpah Pemuda dan Globalisasi

Baru saja beberapa  hari yang lalu kita memperingati Hari Sumpah Pemuda.  Masih ingat apa bunyi Sumpah Pemuda? Tahukah apa latar belakang historis atau semangat dibaliknya?

Ingatan saya tentang Sumpah Pemuda hanya sebatas pada pelajaran sejarah Indonesia di Sekolah Dasar, saat disuruh maju ke depan kelas dan mengucapkan isi Sumpah Pemuda. Semakin tinggi jenjang pendidikan Sumpah Pemuda semakin jarang disinggung dan  kemudian terlupakan. Kalau setiap tahun di tanggal 28 Oktober kita memperingati  Hari Sumpah Pemuda, apa sih yang kita peringati? Apakah kita masih punya kenangan emosional atau sentimental dengan momen Sumpah Pemuda ? 

Untuk memahami arti penting Hari Sumpah Pemuda kita perlu flashback ke masa 83 tahun yang lalu tepatnya tahun 1928. Pada tahun ini yang namanya Negara, Bangsa dan Bahasa Indonesia belum lahir yang ada baru gerakan-gerakan kaum muda yang mempunyai cita-cita membentuk suatu Negara merdeka yang akan diberi nama Indonesia. Semangat atau cita-cita inilah yang diikrarkan bersama oleh organisasi pemuda dari berbagai suku di Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 . Bunyi ikrar atau sumpah para pemuda itu adalah (Sumpah Pemuda versi orisinal) :

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah
Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesi
a

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan. Karena itu momentum 28 Oktober seharusnya diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia.  Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis. Kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945 (Wikipedia)

Momen Hari Sumpah Pemuda tahun ini bagi saya merupakan saat yang pas untuk merenungkan perjalanan bangsa dan Negara Indonesia. Apakah impian dan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh para pahlawan pendiri bangsa ini sudah mulai nampak terwujud? Apakah menjadi satu dalam komunitas Negara Indonesia masih menjadi cita-cita yang sama kuatnya dengan tekad para pemuda yang mempelopori Sumpah Pemuda?

Saat terucap bertumpah darah yang satu,  tanah Indonesia, timbul pertanyaan : masihkah kita memiliki ikatan emosional yang mendalam dengan tanah tumpah darah yang disebut Indonesia? Masihkan segenap suku dan etnis yang tersebar dari Sabang sampai Merauke mempunyai rasa cinta pada Indonesia dan bertekad kuat untuk mempertahankan ikatan tanah air Indonesia? Masih pantaskah kita teriak keras marah-marah pada Malaysia saat batas geografis wilayah kita dilanggar padahal di dalam negeri sendiri marak gerakan-gerakan yang ingin lepas dari NKRI? Tidakkah ini membuktikan bahwa rasa cinta tanah air itu semakin luntur?

Saat terucap berbangsa yang satu , bangsa Indonesia, timbul pertanyaan : masihkah ada kebanggaan saat kita disebut sebagai orang dan bangsa Indonesia? Apakah penyebutan identitas kebangsaan Indonesia mampu memperkuat rasa cinta bangsa? Tidakkah berbagai persoalan yang membelit Indonesia mulai dari menguatnya sentimen dan konflik sektarian, kemiskinan, korupsi dan ricuh politik yang tak habis-habisnya dapat menurunkan rasa cinta bangsa ke titik nadir? 

Saat terucap menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, timbul pertanyaan : apakah berbahasa Indonesia mampu menimbulkan rasa bangga dan cinta pada Indonesia? Kalau dulu saat Sumpah Pemuda diikrarkan oleh sekelompok pemuda Indonesiapada  tahun 1928,  Bahasa Indonesia menjadi sarana nation building, menjadi bagian dari simbol-simbol yang bisa dijadikan media untuk menumbuhkan semangat persatuan bangsa…suatu semangat yang tengah membakar gelora jiwa anak muda yang ingin lepas dari belenggu penjajahan dan merindukan memiliki Negara sendiri yang merdeka…ingin punya bendera sendiri…ingin punya lagu kebangsaan…ingin punya bahasa yang bisa menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan di antara berbagai suku dan etnis yang baru saja bersepakat menyatukan diri dalam satu Negara yang disebut Indonesia. Tapi kini , ketika eforia kemerdekaan sudah terasa “jadul” dan semangat sumpah pemuda  hanya didengar dan diceritakan sayup-sayup atau dikenang sebatas seremonial , salahkah kalau Bahasa Indonesia menjadi sekedar terucap di bibir sebagai alat komunikasi , tidak ada kaitan secara emosional dengan nasionalisme.  

Kini setelah 80 tahun lebih momen itu berlalu, generasi demi generasi muda lahir dan tumbuh berkembang, apakah Sumpah Pemuda dikenang dengan gejolak emosi yang sama? 

Bagi kaum muda yang dibesarkan di era berkelimpahan materi masihkah bisa mereka menghayati sakitnya perjuangan meraih kemerdekaan? Bagi mereka tanah air, bangsa dan bahasa sudah taken for granted ,  identitas keindonesiaan itu sudah terberi , sudah diwariskan oleh para pendiri bangsa.  Mereka mungkin bertanya : memang masih penting ya bicara Sumpah Pemuda? Masihkah relevan  bicara semangat cinta nusa , tanah air , bangsa dan bahasa di era global ini?
 
Globalisasi adalah segala hal yang bersifat lintas bangsa, transnasional, internasional. Globalisasi adalah lintas batas wilayah geografis nation. Globalisasi adalah cosmopolitan. Globalisasi itu kampung seluas bola dunia atau global village, bukan seluas desa, kota atau Negara. 

Tehnologi komunikasi dan digital telah menghubungkan manusia lintas batas nation dalam satu klik di depan komputer. Berbagai peristiwa di pelosok dunia dilihat dan diperbincangkan banyak orang di berbagai belahan dunia melalui TV dan HP. Berbagai peluang dan kesempatan pengembangan diri diakses melalui internet. Untuk berinteraksi dan ngobrol orang cukup duduk di depan komputer dan mengklik mouse. Alat komunikasi sekarang ini sebagian besar tidak dilakukan lewat mulut manusia ,tapi banyak lewat gerakan tangan di atas tuts-tuts komputer. Lewat internet orang diintegrasikan dalam satu interaksi global.

Globalisasi dan tehnologi komunikasi  telah mengaburkan batas-batas Negara, bangsa dan bahasa. 

Kaum muda era ini adalah produk dari budaya atau gaya hidup global. Tidak ada ciri yang membedakan kaum muda dalam hal gaya hidup menyangkut selera entertainment (musik,film, sastra, game,dsb), makanan  dan cara berpakaian atau fashion. Bagi kaum muda , identitas Negara dan bangsa tidak lagi penting. Idola atau role model kaum muda bukan lagi para pahlawan pendiri bangsa apalagi politisi dan birokrat saat ini. Memang ada politisi atau pejabat Negara yang patut dijadikan idola kaum muda? (Wuuiih. No Way !). 

Jangan salahkan anak muda kalau mereka mencari idolanya pada musisi atau bintang film. Jangan salahkan mereka kalau mereka begitu mudah mengeluarkan uang ratusan ribu hingga jutaan untuk sekedar berjingkrak-jingkrak menonton konser artis idolanya. Paling tidak dengan meniru kemampuan vocal dan bermain musik idolanya, mereka  bisa tumbuh menjadi musisi dan penyanyi yang handal dan tak kalah kualitasnya dengan musisi luar negeri. Kaum muda Indonesia telah mampu membuktikan itu semua dengan meraih kemenangan di ajang kompetisi vocal , paduan suara atau musik. Kalau mengidolakan politisi, apanya dari mereka yang bisa dicontoh?

Di bidang  penguasaan ilmu pengetahuan, kaum muda Indonesia terbukti sering menggondol berbagai kompetisi ilmiah. Tak terhitung berapa banyak siswa dan ilmuwan muda Indonesia yang berprestasi membanggakan di negeri orang. Mereka memang tidak mesti membawa nama bangsa dan Negara Indonesia, tapi ini bukan karena mereka tidak cinta negaranya namun lebih karena Negara dan bangsa ini tidak mampu menjadi lahan yang subur bagi pengembangan potensi intelektual mereka secara maksimal. Jangan salahkan mereka kalau akhirnya mereka memilih meninggalkan negeri ini dan berkarya dan mengabdikan karyanya bagi negara yang mampu menampung keahliannya. 

Di era global, peluang untuk maju terbuka bagi semua sumber daya manusia lintas bangsa. Tidak lagi jamannya, orang menolak tawaran untuk maju di negara lain dan lebih memilih menguburkan potensinya dengan tetap berdiam di negeri sendiri demi rasa nasionalisme. Justru mereka yang menghasilkan  karya yang luar biasa di kancah internasional dan tetap membawa identitas keindonesiaannya menunjukkan kecintaannya pada Indonesia dengan menunjukkan bahwa sumber daya manusia Indonesia tidak kalah dengan negara maju lainnya.

Dalam hal bahasa, di era global penguasaan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional menjadi suatu keharusan. Orang yang cas cis cus berbahasa Inggris tidak berarti dia tidak cinta bahasa Indonesia. Yang penting tahu kapan dan di event apa bahasa Inggris itu digunakan. Cinta bahasa Indonesia ditunjukkan dengan menguasai Bahasa Indonesia dengan baik dan ini tidak berarti terus menolak penggunaan bahasa lain. Untuk menguasai dunia, orang Indonesia harus menguasai media komunikasi internasional. Dengan tampil di forum dan event-event internasional bergengsi dengan penguasaan bahasa Inggris yang baik akan meningkatkan image positif Indonesia di mata masyarakat internasional.

Kalau orang sudah sdemikian menyatu  dalam satu identitas kampung seluas bumi, terus bagaimana  keterikatannya dengan tanah air, negara, dan bangsa?  Tidakkah globalisasi telah menggeruskan nilai-nilai Sumpah Pemuda?

Saya kira tidak perlu demikian. Nilai-nilai Sumpah Pemuda hanya perlu di direvitalisasi agar bisa tetap aktual dengan konteks tantangan era global. Kita tidak perlu terjebak dalam nostalgia nasionalisme model era perjuangan kemerdekaan yang melihat cinta bangsa pada keterikatan emosional pada tanah air , pada batas geografis suatu wilayah Negara. Orang yang cinta tanah air secara sempit diartikan sebagai orang  yang sepanjang hidupnya tinggal dan berkarya sampai mati disitu. 

Cinta tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia adalah cinta yang bisa dimanifestasikan dimana pun manusia Indonesia tinggal. Di pelosok bagian mana pun orang Indonesia berdiam dia tidak akan melupakan sumpahnya untuk berkarya yang terbaik demi kejayaan tanah airnya, membawa nama harum bangsanya, dan tidak melupakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dengan tetap berusaha menguasainya dengan baik dan meneruskannya pada anak cucunya. Inilah Sumpah Pemuda di Era global. 

Akhirnya, kepada seluruh Pemuda Indonesia saya ucapkan Selamat Datang di Kampung Global dan tetaplah  membawa gelora Sumpah Pemuda dimanapun kamu berada ! 

Untuk menguatkan rasa cinta kita pada Indonesia mari kita klik MERAH PUTIH  ini

Gambar: baguspemudaindonesia.blogdetik.com  dan love-indonesia-full.blogspot.com         

Minggu, 23 Oktober 2011

Assasination dan Siklus Kekerasan


Beberapa hari ini saya harus siap memalingkan muka saat melihat berita TV .  Gambar visual yang mata saya tidak ingin lihat adalah pembunuhan – atau tepatnya asasinasi (assassination) - pemimpin Libya Moammar Khadafi  yang ditayangkan  secara vulgar oleh  banyak TV di berbagai negara termasuk Indonesia .  Saya tidak tahu apa yang ada di hati rakyat Libya sehingga mereka begitu bencinya pada presidennya sampai tega membuat antrian panjang di sebuah mall hanya ingin melihat dan mengabadikan jasadnya yang dipertontonkan  dalam kondisi yang mengenaskan.  Terlepas dari semua kisah tentang kekejaman Khadafi pada musuh atau rakyat yang mengkritisinya, namun tetap saja miris dan sedih melihat cara  dia dibunuh dan jenasahnya dinistakan begitu rupa.  

Assasination atau pembunuhan terhadap figure publik  khususnya penguasa politik , bukan  lah hal baru. Di dalam catatan sejarah peradaban masyarakat dimana pun di dalamnya pasti ditemukan kisah pembunuhan yang mewarnai perebutan kekuasaan.  Berapa banyak terjadi assasinasi dalam sejarah perebutan kuasa raja-raja Jawa? Kita semua pasti pernah mendengar tentang keris Empu Gandring yang telah mencabut nyawa beberapa  Raja  di Jawa .  Di Amerika Serikat ada kisah assasinasi Abraham Lincoln dan  John F.Kennedy  atau penembakan Ronald Reagan. Di Perancis ada eksekusi sadis Raja Louis XVI dan permaisurinya Marie Antoinette melalui  pisau guillotine. Pada saat runtuhnya komunisme, ada peristiwa pembunuhan Presiden Rumania – Nicolae Ceausescu yang dieksekusi oleh rakyatnya sendiri.  Di Pakistan , mantan PM Zulfikar Ali Bhuto dibunuh di tiang gantungan. 

Ada banyak motif dibalik pembunuhan seorang penguasa politik , bisa itu karena  persaingan untuk merebut tampuk kekuasaan atau karena kebencian. Kalau kita baca dari catatan sejarah dapat ditemui adanya latar belakang pemicu yang sama dibalik eksekusi penguasa politik oleh rakyatnya  yakni  penguasa yang lalim dan haus kekuasaan, berkuasa dalam waktu lama dan bersikeras  tetap mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara yang kejam,  serakah yang ditandai oleh korupsi yang tinggi memperkaya diri sendiri dan keluarga atau orang-orang dekatnya, di sisi lain rakyat hidup dalam penderitaan karena  kemiskinan dan ketakutan.  Pemimpin semacam ini pada akhir tampuk kekuasaan dieksekusi oleh rakyatnya sendiri, contohnya antara lain Louis XVI dan  Nicolae Ceausescu.  

Di Timur Tengah kisah asasinasi penguasa politik mempunyai sejarah yang panjang. Sejarah paling tua bisa dibaca di Kitab Perjanjian Lama yang merupakan  kitab suci agama Yahudi dan juga menjadi salah satu bagian dari kitab suci agama Kristen. Disitu diceritakan tentang  kisah Raja Saul yang  bertekad mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai macam cara dan menolak menyerahkannya kepada Daud yang lebih diterima rakyat dan Tuhan sebagai Raja Israel.  Kisah ini diakhiri dengan terbunuhnya Raja Saul.  Di era modern ini   sebelum Khadafi telah terjadi eksekusi Saddam Husein di tiang gantungan. Keduanya adalah figur penguasa yang otoriter dan represif.  Mereka berdua nampaknya bukan pemimpin yang mampu merebut hati rakyatnya, bukan pemimpin yang dicintai rakyatnya  terbukti kematian mereka disambut dengan euphoria (banyak gambar di internet melukiskan kegembiraan ini) bahkan mereka tega mengabadikan kematian pemimpinnya dalam kondisi yang tidak manusia,   nampaknya tidak ada sedikitpun rasa hormat pada mantan presiden mereka.  Mengapa  rakyat Libya begitu membeci Khadafy dan menginginkan kematiannya?  Abdulatid, seorang pilot, memberi jawaban ini :

Apa yang akan dia katakan terhadap para ibu yang anak-anaknya telah dia bunuh dan juga kepada para perempuan korban pemerkosaan? Jika diberikan kesempatan menghadiri pengadilan, dia akan bisa hidup mewah di Swiss dan kemungkinan dia akan diberi hukuman 10 tahun pertama. Jadi dia lebih baik tiada” (Kompas, 23 Oktober 2011)

Apa pun alasan yang menjadi argumentasi dilakukannya  pembunuhan Khadafy, tetap saja saya tidak bisa menerima itu sebagai pembenaran untuk mencabut nyawa manusia . Kalau pun untuk mengakhiri kekuasaan Khadafy hanya dengan satu cara – membunuhnya, tidakkah ada cara lain yang lebih bermartabat?  Yang lebih keterlaluan lagi , setelah berhasil dibunuh kenapa harus ditambah lagi dengan perlakuan yang  benar-benar  tidak beradab.  Bagaimana pun Khadafy adalah manusia ciptaanNya yang jenazahnya  sudah selpantasnya diperlakukan selayaknya manusia, binatang yang mati diperlakukan sebagai tontonan saja saya tidak tega apalagi ini manusia.  Dan lebih parahnya lagi, media seperti ikut andil dalam menyebarkankan tontonan barbar ini.  Saya jadi bertanya : apakah media tidak tahu dengan mempertontonan  adegan kekerasan ini berarti memperpanjang siklus kekerasan? Tidakkah ini menanamkan kebencian dan dendam di hati keluarga dan pendukung Khadafy?  Sungguh  eksekusi Khadafy bukan merupakan cara yang baik untuk memulai tatanan politik baru. 

Melihat proses peralihan kekuasaan di Libya dan tragisnya kematian Khadafy, saya menjadi bersyukur  bahwa  bangsa Indonesia masih memperlakukan mantan Presiden Soeharto dengan sangat baik dan terlepas dari segala kesalahan selama pemerintahannya , beliau meninggal dalam kondisi terhormat.  Peristiwa pembunuhan Khadafy  hendaknya bisa menjadi hikmah  bagi kita semua, kebencian jangan menjadikan kita gelap mata dan merubah kita dari makhluk yang bermartabat menjadi berperilaku tak ubahnya binatang buas. Ataukah memang politik itu bak candu yang mampu membutakan mata hati dan nurani manusia hingga yang bersimaharaja di hati hanya hasrat tuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Kalau politik dimaknai semacam ini, assassination akan selalu berulang dan kekerasan tidak akan pernah bisa diputuskan dari  siklus peradaban manusia. Haruskah saya berkesimpulan bahwa kekerasan adalah kutukan bagi manusia ?

Gambar : Kaalchakra.blogspot.com

Senin, 17 Oktober 2011

Arti Sahabat

"Friendship opens many doors, each with a different view. But none could be more beautiful, than the one that leads to you." ~Anonymous

"Constant use will not wear ragged the fabric of friendship." ~Dorothy Parker


Manusia adalah makhluk yang diciptakan tidak untuk hidup sendiri , manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial , manusia akan selalu butuh bergaul   dengan  manusia lainnya.  Orang butuh menjadi bagian dari kelompok atau jaringan pertemanan dimana dia bisa diakui peran dan kapabilitasnya. Jaringan pertemanan menjadi media bagi manusia untuk berkomunikasi, berbagi rasa dan pengalaman hidup. Mempunyai kelompok pertemanan membuat orang merasa diterima dan memiliki komunitas yang dapat diakui sebagai identitas dirinya  sehingga orang tidak merasa diasingkan atau teralinasi.

Hubungan pertemanan  yang bersifat lebih akrab atau intim disebut persahabatan. Persahabatan adalah hubungan antar manusia yang didasarkan pada saling perhatian terhadap kesejahteraan satu sama lainkarena itu persahabatan  bersifat lebih terbatas dan ditandai oleh adanya rasa simpati dan empati yang tinggi. Ada banyak motivasi yang mendorong orang menjalin persahabatan. Aristoteles membedakan tiga motivasi yang melandasi hubungan persahabatan yakni atas dasar kesenangan, utilitas atau kemanfaatan, dan kebaikan atau kebajikan (virtue dan goodness). Orang pada umumnya menjalin persahabatan karena keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan atau kegembiraan, bisa karena keinginan memperoleh manfaat atau keuntungan atau karena sang sahabat memiliki karakter yang baik,  bijak atau saleh sehingga persahabatan dipandang dapat mendatangkan pengaruh yang baik bagi hidup seseorang (Stanford Encyclopedia of Philosophy). Karena itulah , lingkungan pertemanan menjadi  bagian yang membentuk karakter manusia. Apa dan siapa seseorang ditentukan oleh jalinan pertemanan yang dibangunnya.  

Apa pun motivasinya yang jelas yang namanya persahabatan ditandai oleh  adanya perhatian atau concern pada   si sahabat dan bukan pada diri sendiri. Pertanyaannya: di jaman  sekarang ini apakah ada  seseorang yang memberi perhatian tulus pada kepentingan si sahabat ? Tidakkah perhatian itu diberikan dengan motif   untuk mendapatkan kesenangan atau keuntungan dari persahabatan itu? Apakah ada seseorang yang menjalin persahabatan demi untuk mencurahkan rasa kasih itu sendiri? Kalau benar ada seorang yang demikian maka orang itu berarti luar biasa kaya,  bukan secara materi tapi berlimpah ruah timbunan kasih sayangnya sehingga dengan gratis dia bagi-bagi kekayaannya itu pada orang yang membutuhkan tanpa ada keinginan untuk mendapatkan imbalan. Tapi apa ada manusia semacam ini? Kalau pun ada tentunya sangat langka, maka berbahagialah kalau kita bisa mendapatkan sahabat semacam ini yang mau mencurahkan perhatian dengan tulus tanpa pamrih. 

Seorang sahabat yang benar-benar  sejiwa atau soulmate tahu benar karakter kita dan mau menerima apa adanya segala kelebihan dan terutama kekurangan kita. Relasi persahabatan ditandai oleh keterbukaan, dengannya kita tidak sungkan membicarakan rahasia yang memalukan ataupun segala kelemahan kita. Dengan sahabat, orang percaya sepenuhnya bahwa dia tidak akan dikhianati. Seorang sahabat tidak akan menusuk dari belakang, tidak akan memandang sahabatnya sebagai pesaing melainkan mitra atau partner yang berjalan beriringan sejajar.....kata bijak Albert Camus dengan pas menyebut hubungan persahabatan : Don't walk behind me I may not lead. Don't walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my friends.

Dengan sahabat,  orang bisa berbagi tawa dan canda. Kehidupan nampak menjemukan dan suram bila dijalani dengan serius. Ada saatnya orang ingin bertindak spontan, tertawa lepas dan bebas. Sahabat adalah teman yang bersedia bersama-sama melakukan hal-hal yang sedikit “gila”. Riset medis menyatakan otak manusia memang diprogram untuk menerima rangsangan atau kejutan-kejutan yang menggembirakan (sumber DISINI). Persahabatan adalah tempat persemaian segala bentuk aktivitas yang menyenangkan. Memiliki sahabat, orang mempunyai teman yang bersedia diajak main game, mendengarkan musik , lihat film atau konser , bergosip atau sekedar jalan-jalan bersama. Karena itulah,  benar kalau ada riset yang menemukan bahwa mereka yang memiliki sahabat cenderung lebih bahagia, lebih sehat dan hidup lebih lama dibanding orang yang tertutup dan penyendiri. Peribahasa Swedia menyatakan  , "Friendship doubles our joy and divides our griefs." 

Menemukan sahabat sejati merupakan kebahagiaan yang tak ternilai. Orang yang punya teman sejiwa dia tak lagi merasa sendirian, seberat apapun kesulitan dan penderitaan yang dihadapi dia akan merasa punya tempat untuk lari untuk menumpahkan segala gundah gulana. Sahabat ibarat katup pembuka yang meluapkan segala bentuk tekanan jiwa. Seorang yang mempunyai sahabat tidak akan mudah terkena stress dan depressi. 

Sahabat sejati akan selalu siap di samping kita setiap saat,  menopang saat kita terjatuh, ikut berbahagia saat sukses dan memberi penghiburan saat gagal dan terpuruk. Sahabat sebagai pendamping yang setia dilukiskan dalam  lirik lagu STAND BY ME dan INI VIDEO -nya dan ini KARTUN -nya.

Sahabat sebagai teman dalam suka dan duka juga ditulis dalam lirik lagu THAT'S  WHAT FRIENDS ARE FOR yang dibawakan Dionne Warwick atau ini versi KARTUN yang lucu. Sahabat akan menjadi orang pertama yang datang saat kita membutuhkan dukungan , itu kata lirik lagu YOU'VE GOT A FRIEND atau YOU NEEDED ME  atau lagunya Jason Mraz SONG FOR A FRIEND.

Sahabat ibarat jembatan kokoh yang membantu kita bisa menyeberangi arus persoalan gelombang kehidupan yang kejam, sebagaimana diungkapkan dalam lirik lagu BRIDGE OVER TROUBLE WATER.

Sahabat tidak ingin mendapatkan imbalan apa pun selain ingin dikenang di hati sahabatnya -"To live in the hearts of those we love is never to die." Saat-saat kebersamaan adalah momen yang berharga yang tak tergantikan. Segala kebaikan dan ketulusan akan selalu dikenang dan akan tinggal selamanya di hati  seperti bunyi lirik lagu REMEMBER ME THIS WAY.

Persahabatan dengan segala perbedaan dan dinamikanya ditulis Nidji dalam ARTI SAHABAT. Kehadiran sahabat memang dapat membuat hidup menjadi penuh warna. Persahabatan bagai KEPOMPONG yang bisa merubah ulat menjadi kupu-kupu yang indah. 

Kesimpulannya, memiliki sahabat yang penuh kasih sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa maupun fisik. Jadi, gaya hidup yang sehat itu tidak hanya mencakup pola makan yang baik, tidak merokok dan minum alcohol atau olah raga teratur, namun juga dengan cara memiliki jaringan persahabatan yang tulus dan saling mendukung (entertainmates.com). Sahabat adalah obat jiwa, karena kegembiraan dan perasaan dicintai akan dapat mengusir emosi dan stress yang lebih jauh dapat mendukung   tubuh mampu membangun kekebalan hingga segala penyakit enggan mendekat.

Karena itu bersyukurlah kalau Tuhan mengirimkan malaikat tak bersayap yang disebut sahabat untuk menemani perjalanan hidup kita.....When you ask God for a gift, be thankful if He sends, not diamonds, pearls or riches, but the love of a real true friend  (unknown) 

Gambar : a cricket serenade - shopholesinyour.socks.com

Minggu, 16 Oktober 2011

Tentang Hilangnya Privasi

Inside myself is a place where I live all alone, and that's where I renew my springs that never dry up.  ~Pearl Buck

Nowhere can man find a quieter or more untroubled retreat than in his own soul.  ~Marcus Aurelius

Privasi atau kondisi yang bebas dari pengamatan dan gangguan orang lain merupakan salah satu keadaan yang dijamin dalam perlindungan Hak Asasi Manusia. Privasi adalah kemampuan seorang individu atau kelompok untuk mengasingkan diri mereka atau melindungi informasi tentang diri mereka agar tidak dikonsumsi public. Privasi kadang-kadang terkait dengan anonimitas, keinginan untuk tak dikenal di ranah publik. Privasi biasanya menyangkut sesuatu yang bersifat sangat pribadi atau hal yang sensitif.  Sedangkan privasi fisik dapat didefinisikan sebagai mencegah penyusupan ke dalam ruang fisik seseorang atau kesendirian atau mencegah akses tidak sah ke rumah seseorang.  (Wikipedia).

Privasi terkesan sangat individualis karena erat berkaitan dengan hak-hak pribadi individu yang tidak boleh diganggu orang lain sehingga privasi dianggap konsep yang sangat Barat. Meskipun makna atau hal-hal apa saja yang masuk dalam privasi bisa berbeda-beda di tiap-tiap budaya, namun ada hal-hal substansial yang universal misalnya menyangkut privasi fisik. Setiap orang ingin dirinya secara fisik terlindungi dari gangguan  orang-orang yang tidak dikenal, ingin agar wilayah tempat tinggal pribadinya tidak dimasuki sembarang orang, ingin aktivitas pribadinya tidak diganggu orang yang tidak dikenal.

Di masyarakat tradisional  dimana atas nama kebersamaan orang merasa berhak dan wajib tahu apa dan bagaimana orang lain , bukan sekedar karena keusilan atau ingin tahu urusan orang lain namun lebih karena keperdulian dan ketertiban sosial,  privasi akan dilihat sebagai bentuk perilaku sombong. Orang yang menutup keingintahuan tetangga akan apa yang berlangsung di dalam rumahnya, siapa orang yang datang ke rumahnya, siapa kekasihnya, dan membatasi akses tetangga untuk dolan ke rumahnya akan dipandang aneh, asosial sehingga dikucilkan dari interaksi sosial warga. Menuntut privasi di komunitas pedesaan yang bertahun-tahun hidup dalam interaksi yang guyup, yang orang-orangnya lahir, tumbuh dewasa sampai tua disitu sehingga mengenal dengan jelas satu sama lain , wajar kalau dianggap aneh.

Berbeda halnya dengan masyarakat urban atau pinggiran kota, seperti saya yang tinggal di perumahan yang terbuka bebas untuk dimasuki siapa pun,  privasi itu menjadi sangat penting. Orang-orang tidak diundang yang biasa mengganggu sangat banyak mulai dari pengamen dan pengemis yang di hari-hari tertentu jumlahnya bisa sampai 10 orang per hari. Yang bikin jengkel bukan jumlah uang yang diminta, tapi bolak-balik ngasih receh itu yang bikin senewen, yah terpaksa cari aman tutup pintu. Pengganggu lainnya adalah sales yang sekarang ini kurang ajarnya minta ampun, nawarkan produk secara memaksa. Apakah memang mereka ini dilatih teknik pemasaran yang coersive dan manipulatif semacam itu oleh trainernya. Yang bikin emosi pintu sudah ditutup rapat , mereka berani mengetuk pintu atau pencet bel. Penganggu lainnya lagi adalah para penjual makanan yang sekarang ini pada keliling naik sepeda motor mulai dari jual yakult, susu segar, sayuran, lauk pauk dll. Sekali saya beli barang jualan mereka terus dicatat sebagai pelanggan alias harus siap setiap saat ditawari dan kalau pintu tertutup siap membukakan pintu karena mereka tak segan untuk mengetuk pintu atau kalau pagar tertutup mereka siap dengan mulutnya teriak kencang-kencang memanggil nama yang punya rumah : “ Bu Polan….Bu Polan…ya***tnya bu”. “ Bu Joko….Bu Joko.susu segarnya bu” . Yang bikin panas hati , terkadang mereka ini datang tak tahu waktu seperti saat jam tidur siang. Huh…benar-benar bikin suueebel ! Kalau sudah begini kadang pengin pindah di perumahan model cluster yang dipagari dan ada satpamnya itu. Tapi kalau tinggal di kompleks semacam itu ,  kalau sore  bisa ngrumpi dan ketawi-ketiwi bareng ibu-ibu seperti yang selama ini kadang aku lakukan nggak ya?   Apa bisa kalau  pas kehabisan bumbu dapur langsung minta ke tetangga? Kalau tiap orang tersekat-sekat dan sibuk di cangkang (rumah)nya masing-masing terus tidak bisa sekedar duduk-duduk ngobrol dan ketawa bareng-bareng , bisa-bisa saya disitu jadi cepat linglung. Selain itu, apa ya  mereka yang tinggal di rumah dengan pengamanan canggih : ada satpam, CCTV, pagar tembok seperti benteng terus dijamin keamanan dan privasinya?

Saya jamin jawabnya pasti tidak. Karena ancaman terhadap privasi saat ini tidak hanya secara fisik yang nyata dan riil tapi juga bisa lewat dunia maya lewat tehnologi komunikasi. Rumah yang kayak benteng mungkin susah diakses sales atau pedagang keliling atau pengamen dan pengemis, namun jelas tidak bagi sales yang menawarkan produknya lewat telepon, sms, atau internet. Berita yang hangat di media massa tentang penipuan dan penyedotan pulsa lewat telepon dan HP membuktikan betapa privasi di abad digital, abad internet menjadi  sesuatu yang susah didapatkan. Ancaman terhadap privasi di era internet tidak sekedar menyangkut privasi fisik tapi juga terhadap  kerahasiaan informasi atau data pribadi.  Sekarang ini data pribadi apa yang tidak bisa dicari lewat internet. Setiap orang pasti memiliki paling tidak satu kartu identitas, kalau informasi tentang identitas itu disimpan dan dipublikasikan lewat internet jelas siapa saja akan bisa memanfaatkan data pribadi itu untuk tujuan apa saja. Terlebih lagi saat ini banyak  orang yang demam facebook, coba kita lihat apa yang ditampilkan disitu – mereka tidak  segan-segan menampilkan identitas pribadi dan  koleksi fotonya.

Masyarakat Barat dikenal sangat memandang tinggi perlunya perlindungan privasi. Mereka sadar betul akan hak-hak menyangkut perlindungan privasinya karena itu mereka juga menyadari kewajiban untuk menghargai privasi orang lain. Penghargaan pada privasi orang lain inilah yang nampaknya belum menjadi etika perilaku kita. Secara teknologi kita tidak ketinggalan dengan masyarakat maju, tapi aplikasi tehnologi ini tidak diikuti dengan perubahan mind set atau cara berpikir dan perilaku. Akibatnya, tehnologi apa pun yang diaplikasikan  tidak akan dapat lepas dari warna kultur Indonesia. Orang Indonesia yang senang bergaul, bersosialisasi, dan ngobrol dengan adanya facebook, twitter, dll - dalam bahasa Jawa -  seperti  “tumbu oleh tutup” atau panci ketemu tutupnya alias pas dan klop banget. Segala macam tetek bengek dicurhatkan di dunia maya. Mereka tidak menyadari ada wilayah privasi yang tidak patut untuk dipublikasikan. Tidak adanya pemahaman akan apa itu privasi nampak nyata dari apa yang dicurhatkan orang di facebook atau blog. 

Di sisi lain kesadaran akan penghargaan pada privasi orang lain juga kurang. Akibatnya, mereka tak ubahnya orang yang usil melanggar privasi orang seenaknya dengan memanfaatkan tehnologi. Seperti waktunya jam istirahat siang  nelpon rumah orang  untuk nawarkan dagangan atau meraup keuntungan dengan melakukan penipuan lewat HP. Kejadian lucu yang baru saja aku alami pas siang-siang telepon rumah berdering pas diangkat ada suara laki-laki yang mengaku dulu tetanggaku yang sekarang katanya  tinggal di Papua Barat, tapi dari nada suaranya aku nggak yakin kalau tidak kenal orang ini. Pertama-tama penelepon ini tanya kabar keluargaku setelah basi basi sebentar akhirnya dia cerita kalau sekarang dia sudah sukses sudah lulus S2 dan kerja di Dinas Kesehatan, tapi di usia 30an dia itu bingung karena masih jomblo dan dia minta tolong saya untuk mencarikan jodoh. Dia tanya apa saya punya saudara, keponakan atau kenalan yang masih usia 30an yang bisa dijadikan istri. Aku nerima telpon itu sambil nahan ketawa. Ada-ada saja  opo tumon (bahasa Indonesianya apa ya?) kenal aja nggak eh jauh-jauh dari Papua ada orang yang curhat bingung masih jomblo dan pengin cepat punya istri. Memangnya saya buka biro jodoh?. Aya-aya wae. Kejadian ini  menimbulkan pertanyaan di benak saya : darimana orang itu tahu nama, alamat dan nomor telepon saya? Jawabnya darimana lagi kalau bukan dari internet. Saya tidak punya facebook yang bisa untuk melacak data pribadi, demikian juga blog saya tidak secara detail menampilkan identitas saya. Satu-satunya web yang  biasa menampilkan data pribadi secara  detail adalah kantor atau tempat kerja. Jadi dapat dipastikan dari situlah orang bisa tahu apa dan siapa seseorang. Menampilkan profil sumber daya manusia untuk kepentingan pencitraan lembaga saat ini sudah menjadi hal yang lazim dan  sepanjang data profil itu dimanfaatkan untuk tujuan positif  nggak jadi masalah , yang ditakutkan kalau dari data itu ada orang yang berniat tidak baik atau paling tidak timbul niat usil contohnya menelepon sekedar untuk curhat minta tolong dicarikan istri. 

Berbagai problem yang muncul terkait persoalan privasi di era internet membuktikan kebenaran teori Karl Marx yang menyatakan bahwa infrastruktur berkembang lebih cepat ketimbang suprastrukturnya. Tehnologi berkembang lebih cepat tanpa diiringi perkembangan cara pikir, nilai dan perilaku yang kompatibel dengan kemajuan tehnologi tersebut. Melihat begitu kompleksnya dampak sosial dari interaksi manusia lewat tehnolgi internet hal yang mendesak untuk dipikirkan bersama adalah menetapkan aturan atau hukum yang dapat menekan peluang kejahatan virtual dan juga membangun nilai dan kelembagaan yang bisa menopang bentuk interaksi manusia di dunia maya.

Dari ulasan ngalor ngidul tentang privasi ini, akhirnya saya menyimpulkan di abad virtual  tempat atau wilayah pribadi yang tidak akan terjamah oleh gangguan apa pun adalah  ketenangan di batin atau jiwa manusia sebagaimana bunyi kata-kata bijak yang saya kutip di awal tulisan ini....inside myself  is a place where I live all alone. Dengan membangun privasi di jiwa, membangun batin yang bersih, kita tidak akan pernah merasa terganggu ataupun takut dengan ancaman apa pun. Pikiran dan hati yang bersih adalah pengusir yang ampuh bagi gangguan jiwa, sehingga kita tidak akan terintimidasi oleh bentuk kontrol apa pun . Kontemplasi dan meditasi akan mencegah kita menjadi sebagaimana  tergambar dalam VIDEOKLIP  INI.


Selasa, 04 Oktober 2011

Tentang Rasa Aman

For safety is not a gadget but a state of mind.  ~Eleanor Everet  
                                                                                                  (quotegarden.com)

Akhir-akhir ini saya sering menjumpai polisi yang merazia pengendara mobil dan sepeda motor maupun para penumpang transportasi umum. Tidak seperti biasanya , razia kali ini yang diperiksa bukan sekedar kartu identitas tapi polisi juga menggeledah isi tas pengendara atau penumpang terus pak polisinya yang tugas  bawa senjata lengkap. Wuih …bikin serem saja. Hal-hal seperti ini yang membuat hidup menjadi tidak nyaman.
Selama ini saya terbiasa dengan irama hidup yang slow . alon-alon asal kelakon dan adem ayem khas Solo. Tiba-tiba saja ketenangan itu terganggu. Rutinitas hidup yang relatif aman tanpa banyak gejolak berarti sudah dinikmati bertahun-tahun masyarakat Kota Solo dan sekitarnya paska kerusuhan Mei 1998.  Nampaknya peristiwa bom bunuh diri Minggu, 25 September 2011 lalu berimbas juga pada stabilitas kenyamanan dan rasa aman warga.
Ternyata benar ‘sesuatu’ yang sudah dianggap sudah ada dengan sendirinya,  begitu itu terganggu atau hilang baru dirasakan betapa  ‘sesuatu’ itu sungguh berarti. Sesuatu yang sudah dianggap taken for granted  namun saat ini menjadi sangat mahal adalah keamanan.  Karena gangguan atau ancaman terhadap rasa aman tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di wilayah konflik atau perang tapi juga mengancam mereka yang berdiam di daerah yang tidak sedang berperang– seperti kejadian bom bunuh diri di Solo. Biasanya orang yang terbiasa tinggal di wilayah dengan kondisi keamanan yang stabil begitu diguncang dengan teror akan mengalami shock dan trauma, karena fenomena kekerasan bukan merupakan hal yang biasa dilihat dan dialami. Tentang bagaimana rasanya kehilangan rasa aman bisa dibaca DISINI
Apapun motivasi di balik  kekerasan dan teror - entah itu ideologi, identitas,  politik atau apa saja -  yang jelas  tindakan itu telah mengganggu rasa nyaman dan aman masyarakat. Khusus untuk Kota Solo, saya berharap semoga saja ini hanya sementara dan keadaan cepat pulih seperti biasanya. Dan saya yakin gejolak ini tidak sampai menular ke masyarakat di bawah atau istilahnya akar rumput. Sekalipun beban hidup semakin menghimpit, kehidupan sosial masyarakat tetap  berjalan seperti biasanya, mereka   tetap rukun dan happy-happy menjalani hidupnya.  
Sebagai bagian dari rakyat biasa, saya juga bersikap enjoy-enjoy saja menjalani hidup ini. Saya tidak mau hidup yang sudah berat ini ditambah lagi dengan membayangkan hal-hal yang bisa membuat orang jadi parno alias paranoid. Bersikap dan bertindak hati-hati tetap perlu, tapi saya tidak mau situasi dan kondisi pengamanan oleh aparat Negara itu mengganggu kenikmatan dan kebahagiaan saya menjalani rutinitas kegiatan sehari-hari. 


Tentang rasa aman, pada akhirnya semua itu kembali pada bagaimana manusia mampu mengontrol pikirannya…for safety is not a gadget is a state of mind. State of mind atau kondisi pikiran disini yang dimaksud adalah  cara berpikir yang positif. Namun Budha mengatakan berpikir positif perlu diikuti dengan perasaan dan tindakan yang positif ( Positive thought is not enough. There have to be positive feelings and positive actions). Jadi dalam hal mengatasi kecemasan atau hilangnya rasa aman cara paling efektif adalah dengan berpikiran positif atau optimis bahwa semua itu akan segera berlalu. Pikiran positif semacam ini akan menumbuhkan perasaan yang positif sehingga rasa takut dan cemas akan terusir dan pada akhirnya ini semua akan mendorong orang untuk bertindak positif pula. Untuk bisa berpikir positif, berperasaan positif dan bertindak positif orang harus bisa  mengosongkan pikirannya dari segala bentuk dendam dan rasa sakit hati. Benar kalau dikatakan cara memutus siklus kekerasan adalah dengan memutus rantai kekerasan itu yakni membunuh pikiran yang bisa menumbuhkan perasaan dendam dan keinginan menuntut pembalasan. Jadi kata kuncinya adalah memaafkan.  Ajaran agung tentang pentingnya memaafkan juga ditemukan pada kata bijak Mahatma Gandhi yang mengatakan "Mata ganti mata akan membuat seluruh dunia menjadi buta" atau perintah Yesus untuk memaafkan dan mengasihi musuh. Kalau orang sudah bisa mengosongkan pikirannya dari rasa dendam, maka yang diam di hati hanya rasa aman dan lepas dari kekhawatiran. Inilah yang dimaksud rasa aman yang sejati itu ada di keadaan pikiran manusia, bukan di perangkat atau sistem keamanan.  Tidak mudah memang. untuk melakukannya. Tapi harus dicoba jika manusia ingin bebas dari kecemasan dan ketakutan. Jadi...be happy,enjoy life, no matter how hard it may seem! When life gives you a thousand reasons to cry, show the world that...You have million reasons to smile (kata-kata ini saya dapat di internet tapi lupa sumbernya dari mana).
Untuk  melupakan segala carut marut kehidupan bangsa,  saya mau menikmati lagu barunya Jason Mraz “ The World as I See It” yang bercerita soal optimisme anak muda yang berkhayal tentang keluarga yang dicita-citakannya dan memandang dunia masih sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali. Hidup didampingi dan dikelilingi dengan orang-orang saling mengasihi akan membuat dunia ini menjadi indah. Saya ingin melihat Kota Solo dan dinamika kehidupan warganya sebagaimana Jason Mraz berdendang dalam lagunya ini :
The world as I see it, is a remarkable place
A beautiful house in a forest, of stars in outer space
From a bird eye view, I can see it has a well-rounded personality
From a bird eye view, I can see we are family
Ini lagu “THE WORLD AS  I  SEE  IT ”.   Semoga lagu ini bisa menyuntikkan semangat untuk melihat dunia sekeliling kita dengan penuh rasa optimis. Yah, apapun yang terjadi …. life must go on and  God be with us.