Kamis, 13 Februari 2014

Kado Valentine untuk Dosen, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Besok tanggal 14 Februari  adalah  Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang,  hari  ketika anak muda mengekpresikan rasa sayangnya kepada orang yang mereka kasihi  dengan memberikan hadiah mawar merah, coklat dan boneka warna pink. Saya tidak lagi muda tapi di momen penuh Kasih Sayang ini saya secara khusus ingin memberi kado bagi rekan-rekan dosen yang belakangan ini banyak mendapatkan kado “Kasih Sayang” yang super….super special dari pemerintah.
Kado special pertama, kebijakan kenaikan pangkat ke golongan IV atau jabatan Lektor Kepala yang mensyaratkan ijazah S3. Bagi dosen yang belum S3 jangan berharap bisa naik pangkat ke golongan IV. Jadi kalau guru TK, SD, SMP, dan SMA bisa sampai ke IVa cukup dengan ijazah S1,  dosen yang berijazah S2 harus cukup puas sampai golongan maksimal IIId.  Namanya kebijakan artinya keputusan ini telah diambil pemerintah dengan pertimbangan yang sangat bijaksana. Pemerintah ingin dosen-dosen itu tidak hanya puas di jenjang pendidikan S2. Dengan adanya kebijakan ini maka semua dosen nantinya adalah lulusan S3 yang dijamin berkualitas dan kompeten.
Kado special kedua, dosen diwajibkan melaporkan pelaksanaan fungsi  tri darma perguruan tinggi (mengajar, meneliti dan pengabdian masyarakat) melalui Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen  atau SIPKD  (sayangnya website SIPKD Dikti error-error melulu). SIPKD mewajibkan dosen wajib mengisi semua kolom kinerja  tri darma, tidak boleh ada yang kosong. Ketentuan wajib mengunggah kinerja tri darma per semester merupakan bukti kasih sayang pemerintah pada dosen.  Pemerintah ingin memotivasi dosen agar mengurus kenaikan pangkatnya sehingga semua dosen bisa mencapai jenjang karier dosen tertinggi dan menikmati tunjangan professor yang sudah disediakan pemerintah.
Kado special ketiga, melalui Penpres  No.88 Th. 2013 pemerintah menetapkan pemberian tunjangan kinerja atau remunerasi bagi PNS di lingkungan Kemendikbud dengan pengecualian bagi dosen. Kebijakan ini diputuskan karena pemerintah ingin dosen tidak serakah, sudah mendapat sertifikasi dosen masak mau ditambah lagi dengan tunjangan remunerasi. Bagi pemerintah,  dosen adalah tugas yang sangat mulia,.. tugas pengabdian jadi tidak layak kalau dinilai secara materi. Kalau dosen mendapat limpahan tunjangan serdos plus remunerasi, pemerintah khawatir dosen tidak fokus pada pengembangan kompetensi mengajar dan meneliti tapi malahan berubah gaya hidup bak selebritis yang glamor,  hedonis, dan materialistis (maaf alasan ini tidak berlaku untuk dosen yang belum dapat sertifikasi).
Kado special keempat, meskipun dosen tidak mendapatkan remunerasi tapi mulai Januari 2014 ini diberlakukan ketentuan sebagaimana PNS yang dapat remunerasi. Tunjangan jabatan untuk pengelola jurusan dan program studi dan  honor-honor mengajar di luar S1 reguler (D3, S1 nonreg, S2 dan S3) tidak (belum?) diberikan. Karena kebijakan ini, hari-hari belakangan ini saya merasakan ada semacam suasana “bad mood” di kalangan dosen.  Untuk rekan dosen , janganlah melihat ini sebagai perlakuan diskriminatif terhadap dosen. Mungkin Pemerintah bermaksud baik kok yaitu tidak ingin dosen menjadi capek karena dibebani tugas mengajar yang berlebihan. Idealnya dosen mengajar sesuai ketentuan SIPKD yang sekitar 9 SKS per semester. Tidak adanya tunjangan jabatan dan tambahan honor-honor mengajar  diharapkan tidak  mematahkan semangat dosen untuk mengajar dan mengelola program. Ingat ya bagi pemerintah tugas dosen itu adalah kerja sosial… suatu tugas yang sangat mulia.  
Menjelang hari Kasih Sayang besok, saya ingin rekan-rekan dosen tidak gundah atau galau.  Semakin beratnya tuntutan kinerja dosen di satu sisi tapi tidak dimbangi dengan reward atau penghargaan yang seimbang atau memadai kita terima dengan lapang dada. Jangan sampai persoalan ini berimbas pada mahasiswa. Dosen itu bak artis, harus tampil maksimal di depan mahasiswa.  Apapun problema  yang kita hadapi tidak selayaknya mempengaruhi peran yang harus kita jalankan. Kalau ada rekan dosen yang mulai berwacana untuk protes, lakukan protes itu secara intelektual dan elegant. Jangan demo di jalanan apalagi dibumbui dengan adegan teatrikal, malu  ah. Juga jangan mogok ngajar lho, nanti orang jadi nggak bisa membedakan antara profesi dosen dengan buruh.
Kalau dosen bisa menerima semua “hadiah” yang telah saya sebutkan di atas dengan sabar dan ikhlas, maka dosen layak menggantikan predikat guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.  Sekalipun kita tidak dapatkan imbalan secara materi, namun pabila kita menjalankan tugas kita penuh passion kita akan dapatkan hadiah yang sangat indah yang tak ternilai secara materi yaitu : rasa cinta dan hormat dari anak didik dan juga masyarakat.

Sebagai kado Valentine  saya hadiahkan lagu cinta untuk guru “ To Sir With Love”. Lagu jadul tahun 1967 ini merupakan soundtrack film dengan judul sama, versi original dinyanyikan oleh Lulu 


dan versi modern ala  Glee :


Sabtu, 25 Januari 2014

Perayaan Imlek dan Realitas Pluralitas Budaya Kota Solo

Sudah sejak tahun 2003 peringatan tahun baru Cina atau dikenal sebagai Imlek dinyatakan sebagai hari libur nasional dan bebas dirayakan di Indonesia. Di Kota Solo sendiri suasana Imlek kental terlihat di seputaran Pasar Gede. Dari tahun ke tahun semenjak Imlek bebas dirayakan, di kawasan ini selalu semarak dengan hiasan lampion merah meriah yang gemerlapan di waktu malam. Dan Tahun 2014 ini, suasana Imlek Solo semakin terasa dengan hadirnya event baru Solo Imlek Festival (SIF) yang dipusatkan di Benteng Vastenburg di Depan Gedung BI di Jalan Jendral Sudirman. Di sepanjang jalan tempat SIF diselenggarakan dipasang 12 boneka lucu yang merepresentasikan shio-shio yang ada di kalender Cina.

     Foto : Koleksi pribadi

Sabtu malam atau malam Minggu kemarin kebetulan cuaca cukup cerah maka saya sempatkan berkeliling seputar Pasar Gede untuk melihat bagaimana suasana Imlek pada malam hari. Begitu mendekati kawasan Gladak jalanan macet, sepeda motor, mobil dan manusia berjubel jadi satu. Di sebelah selatan perempatan Gladak perayaan Sekaten baru saja usai, di Timur ada Galabo dan di sebelah utara Galabo ada Benteng Vastenburg dengan SIF-nya. Tambah lagi banyak orang -  anak-anak, ABG dan orang tua - pada narsis berfoto ria di depan boneka lampion shio yang berjejer di depan lokasi SIF. Malas bedesak-desakan di jalan, akhirnya saya batalkan niat untuk masuk ke lokasi SIF. Tapi dari pengamatan suasana sekitar pusat perayaan Imlek, saya bisa melihat keceriaan banyak orang. Remaja pada bergerombol dan duduk di pagar jembatan di depan Pasar Gede dan mengambil gambar dengan pasang pose penuh tawa di bawah juntaian ratusan lampion dan kerlip-kerlip lampu warna-warni. Senang rasanya melihat kegembiraan di suasana malam di seputaran Pasar Gede.

Foto: Koleksi pribadi
Foto :solopos.com
Melihat meriahnya perayaan Imlek di Kota Solo tahun ini membuat saya jadi ingin tahu mengapa ya dulu pada jaman Pak Harto kok Perayaan Imlek sampai dilarang? Apa alasannya?  Terus mengapa kok Imlek bisa dirayakan sebegitu meriah di Kota Solo? 

Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi dan tahun Jawa, Imlek punya sejarah tersendiri, sejarah yang panjang dan penuh kontroversi. Perayaan Imlek dari sisi budaya telah menjadi bagian ekspresi kultural yang meng-global karena dirayakan di seluruh bagian dunia dimana banyak tinggal komunitas Tionghoa. Tapi di Indonesia, Imlek bukan sekedar identitas budaya tapi juga sarat dengan muatan politis. Bau kepentingan politik ini bisa ditelusuri dari sejarah Imlek di Indonesia, utamanya di jaman Presiden Soeharto atau era Orde Baru.

Foto: Koleksi pribadi
Selama Orde Baru, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Presiden Soeharto melalui  Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, melarang atau membatasi segala hal yang berbau Tionghoa. Dalam instruksi tersebut ditetapkan bahwa seluruh Upacara Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup. Instruksi Presiden ini bertujuan mengeliminasi secara sistematis dan bertahap atas identitas diri orang-orang Tionghoa terhadap Kebudayaan Tionghoa termasuk Kepercayaan, Agama dan Adat Istiadatnya. Dengan dikeluarkannya Inpres tersebut, seluruh Perayaan Tradisi dan Keagamaan Etnis Tionghoa termasuk Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, Pehcun dan sebagainya dilarang dirayakan secara terbuka. Demikian juga tarian Barongsai dan Liong dilarang dipertunjukkan.
Larangan Imlek ini dihapus oleh Presiden Abdurrahman Wahid dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003 (wikipedia.org/)

Foto : Koleksi pribadi
Mengapa Orde Baru sebegitu takutnya dengan segala sesuatu yang berbau Cina? Ini alasannya : “….pemerintahan Soeharto dengan dengan tegas menganggap keturunan Cina dan kebiasaan serta kebudayaan Cina, termasuk agama, kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa sebagai "masalah" yang merongrong negara dan harus diselesaikan secara tuntas”. Alasan ini tertulis dalam buku "Pedoman Penyelesaian Masalah Cina" jilid 1 sampai 3 yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Masalah Cina (BKMC) yang berada di bawah BAKIN (Wikipedia)

Mengapa ekspresi budaya bisa menjadi ancaman bagi suatu Negara? Budaya bagaimanapun adalah ekspresi dari nilai-nilai yang diyakini oleh suatu komunitas atau masyarakat. Budaya tidak sekedar ritual, seremoni dan simbol-simbol yang dinampakkan dari bukti fisik. Ada nilai, norma dan keyakinan di balik budaya yang material. Pertanyaannya lagi, apa yang ditakutkan dari nilai-nilai budaya Cina?   Zaman Soekarno dan Soeharto, komunisme menjadi paham atau ideology yang menjadi momok dan sekaligus bisa dijadikan “hantu politik” bagi rezim yang berkuasa. Ketakutan pada infiltrasi komunisme melalui budaya Cina sedikit bisa dipahami.
Tapi untuk saat ini, alasan budaya Tionghoa bisa mengancam Negara sepertinya kok nampak “jadul” ya. Negara Cina (RRC) sendiri sudah sangat kapitalis. Ideologi komunisme sudah jarang dibicarakan. Orang-orang Cina Indonesia sendiri sudah banyak yang pakai nama Indonesia dan sebagian besar sudah tidak bisa bahasa Mandarin. Terus karena Konghucu menjadi agama terlarang di Indonesia, mayoritas orang Cina banyak yang eksodus ke agama Kristen dan Katholik. Banyak diantara mereka yang tidak menjalani ritual Konghucu. Mereka merayakan Imlek sebagai ekspresi identitas budaya saja tanpa banyak dilatari keyakinan agama. Imlek jatuh sekedar selebrasi atau perayaan kultural tak beda jauh dengan Sekaten atau Tahun Baru Masehi. Sebagai selebrasi kultural, Imlek di Solo sudah tidak murni lagi bau Cina-nya buktinya ada Gerebeg Sudiro sebagai modifikasi atau kawin campur budaya Cina dan Jawa. Di Gerebeg Sudiro apem yang biasa menghiasi tumpeng  atau gunungan diganti dengan kue keranjang. Disini orang tidak lagi berpikir apakah ini merusak nilai filosofi dari tumpeng atau tidak, yang ada adalah bukti bahwa budaya Jawa sangat fleksibel dan terbuka menerima unsur-unsur budaya dari luar. Justru akulturasi budaya semacam ini yang memperkaya budaya Jawa. Budaya Jawa sangat menghargai nilai pluralitas. Budaya Jawa bukan budaya yang memegang kuat-kuat identitasnya dan menutup sama sekali pengaruh dari budaya luar. Karena karakter budaya semacam ini, maka perayaan Imlek mudah diterima oleh orang Solo. Kebiasaan merayakan nilai-nilai Jawa dalam berbagai ritual dan seremoni menjadikan orang Solo gampang menerima dan suka sekali dengan bentuk-bentuk ungkapan budaya yang serupa dengan budaya mereka.
Foto : Koleksi pribadi

Saat ini, perayaan Imlek kembali diterima sebagai bagian dari kekayaan pluralitas budaya Indonesia. Masyarakat Solo kembali bisa menyaksikan tarian Barongsai bebas ditarikan di seputar Pasar Gede. Orang dari berbagai latar belakang etnis, budaya dan agama tumpah ruah jadi satu ikut larut dalam selebrasi tanpa tahu atau bahkan tidak perduli alias tidak mau tahu apa nilai dan keyakinan dibalik Imlek, yang ada dibenak mereka hanya ikut bergembira dalam pesta budaya sekaligus sarana refreshing lepas dari rutinitas dan beban hidup sehari-hari. 
Foto:solopos.com 
Keterbukaan menerima realitas budaya yang plural adalah ciri dari Budaya Wong Solo. Event perayaan Imlek mempunyai fungsi ganda. Pertama,  sebagai sarana untuk memperkaya khazanah budaya dan  sekaligus membuktikan “Solo sebagai Kota Budaya” bukan sekedar slogan tanpa makna dan realita. Kedua, fungsi yang lebih mendasar yaitu untuk membangun soliditas sosial antar etnis. Khusus untuk komunitas Tionghoa di Solo, Imlek semestinya bukan untuk memperkuat ikatan mereka pada  identitas budaya Cina, tapi justru menguatkan eksistensi mereka sebagai etnis Cina yang "Indonesia dan Jawa". Ikatan sosial mereka tidak hanya ke kultur Cina, tapi juga nilai-nilai Budaya Jawa dan pluralitas Indonesia. Komunitas Cina di Solo juga wajib berkontribusi pada pelestarian budaya Jawa dan pembangunan dan kesejahteraan Kota Solo.

Akhirnya saya ucapkan :  Selamat merayakan Tahun Baru Imlek 2014 bagi komunitas Tionghoa. Selamat merayakan pluralitas budaya bagi semua warga Solo. Mari kita jaga identitas Solo sebagai Kota (Multi) Budaya. 

Untuk menambah hangat suasana Imlek bisa didengarkan suara merdu penyanyi legendaris Taiwan Teresa Teng berikut :




Gambar : animasibergerak.net 

Rabu, 08 Januari 2014

Ranjau paku dan soal moralitas sosial

Ada berita di Kompas 6 dan 7 Januari 2013 yang bikin saya geleng-geleng kepala, bener-bener nggak habis pikir  yakni soal ratusan kilogram paku yang ditebar di jalanan besar di ibukota Jakarta. Paku-paku ini sengaja disebar, di dekat lokasi tambal ban untuk menjebak pengendara sepeda motor agar terpaksa menambalkan ban motornya yang kempes. Ranjau paku istilah yang sangat tepat.

Sumber : Kompas, Senin 6 Januari 2013

Fenomena ini sangat menarik dan merangsang munculnya banyak pertanyaan di benak saya. Kalau hanya satu dua tukang tambal ban yang tidak jujur dalam mencari nafkah dan hanya beberapa biji paku yang disebar itu masih sekedar kasus. Tapi kalau paku yang terkumpul sudah ratusan kilo , itu bukan lagi kasus tapi sudah terrr..laa..luu !! Sudah sedemikian egoiskah mereka hingga menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasrat ekonominya ? Mengapa mereka tega berbuat demikian? Bukankah selama ini orang Indonesia dikenal dan mengaku sebagai orang yang sangat religius, suka tolong menolong dan bergotong royong , namun mengapa moralitas sosial dan tanggungjawab publik mereka sangat rendah?

Apa itu moralitas sosial ?

Moralitas sosial berbicara tentang bagaimana kita memperlakukan sesama,  seperti aturan emas atau golden rule yang mengajarkan “hargailah orang lain sebagaimana dirimu ingin dihargai“ atau “Perlakukanlah orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan oleh orang lain”. Golden rule ini  bersifat universal dalam arti semua manusia sepakat bahwa  penipuan, pencurian dan pembunuhan adalah tindakan tak bermoral. Sebaliknya, prinsip-prinsip moral yang mengatur bagaimana orang mengatur diri pribadinya seperti cara beribadah, cara berpakaian, makan, menikah dan berhubungan seksual merupakan wilayah moralitas personal. There’s far less agreement about this kind of morality. It’s highly personal. So we call it “personal morality . (http://www.downsizedc.org/). Jadi, moralitas sosial lebih berkenaan dengan prinsip-prinsip yang mengarahkan bagaimana tindakan kita terhadap manusia lainnya sehingga berdampak langsung terhadap keharmonisan hidup dan kesejahteraan manusia. 

Kembali ke kasus ranjau paku, mengapa para tukang tambal ban rendah sekali moralitas sosialnya sehingga tega mengorbankan orang lain untuk memenuhi kepentingan pribadinya?

Bagong Suyanto, dosen Sosiologi Unair Surabaya (Kompas.com ) berpendapat “…umumnya alasan bertahan hidup menjadi motivasi para pelaku penebaran paku itu. Mereka merupakan irisan dari komunitas urban yang tidak mampu menaikkan mobilitas, sementara persaingan dan biaya hidup di Ibu Kota kian tinggi. persoalan itu pertama-tama belum dapat dilihat sebagai persoalan hukum atau moralitas, tetapi persoalan sosial. Pada satu sisi, mereka dapat didudukkan sebagai tersangka, tetapi pada sisi lain mereka adalah kelompok yang tidak mampu berhadapan dengan situasi sosial perkotaan.

Menurut Bagong Suyanto fenomena ranjau paku lebih dilihat sebagai persoalan desakan sosial ekonomi, bukan sebagai persoalan hukum atau moralitas. Tapi tindakan merugikan dan bahkan membahayakan orang lain tetaplah tidak bisa dibenarkan secara moral,  apapun motivasi yang mendorong tindakan tersebut. Apalagi ranjau paku ini sudah disebar secara terencana dan melibatkan banyak pelaku. Suatu tindakan yang tidak benar apalagi dilakukan oleh banyak orang atau suatu komunitas tanpa ada rasa bersalah, maka pasti ada yang tidak benar di tatanan nilai dan moralitas sosial.

Johan P.Taulani , ketua relawan pengumpul ranjau paku, mengatakan "Sepanjang 3,2 km jalan ini (flyover Roxy Mas hingga jalan Hasyim Asyari), saya itung ada 32 tambal ban. Paling yang jujur cuma 2" (Kompas.com ). Apa artinya ini? Artinya mayoritas para tukang tambal ban berpikiran menyebarkan ranjau paku untuk menjaring korban tidak lagi dianggap tindakan yang jahat. Mereka sudah kebal, sudah imun dari rasa bersalah atau dosa.

Pertanyaan yang menghantui pikiran saya : apakah terkikisnya moralitas sosial ini hanya terjadi di lapisan masyarakat bawah seperti para tukang tambal ban ? Bagaimana dengan moralitas sosial di profesi terhormat lainnya ?

Bagaimanakah moralitas sosial profesi dokter? Berapa banyak dokter yang tega mengorbankan pasien demi tuntutan hasrat atau target-target ekonomi?

Bagaimana dengan aparatur Negara ? Berapa banyak PNS, pejabat pemerintah, polisi, anggota legislatif yang tega mengorbankan masyarakat atau konstituen demi memenuhi hasrat akan jabatan, kuasa, dan kekayaan material?

Bagaimana dengan profesi guru dan dosen ? Berapa banyak guru dan dosen yang tega mengorbankan murid dan mahasiswa  demi ambisi pribadi akan jabatan, pangkat dan kariernya? (Ini bahan untuk introspeksi saya pribadi)

Banyaknya pejabat negara yang terjerat kasus korupsi adalah bukti nyata cara pikir model para penyebar ranjau paku yakni menyalahgunakan kekuasaan dan kekayaan negara untuk memperkaya diri , keluarga dan kroninya dengan mengorbankan dan merebut hak rakyat untuk mendapatkan kesejahteraan sosial. Dan apabila cara pikir dan perilaku yang sama juga diikuti banyak profesi lainnya, maka dapat dikatakan krisis moralitas sosial tengah melanda bangsa Indonesia. 

Kesimpulannya, menipisnya moralitas sosial bisa terjadi di semua lapisan dan klas dalam masyarakat dan bisa didorong oleh banyak motif. Tapi yang pasti semua faktor penyebab itu berujung pada satu muara : Keserakahan.


Selasa, 24 Desember 2013

My Grown Up Christmas List : Doa dan Harapan untuk Indonesia dan Dunia di Tahun 2014

Tak terasa tahun 2013 akan segera berakhir dan satu minggu lagi kita akan memasuki Tahun Baru 2014.  Memasuki Tahun Baru selalu diawali dengan harapan dan doa agar di tahun yang baru kondisi dunia  lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Namun, di  setiap akhir tahun tetap saja ada catatan-catatan buram tentang polah tingkah manusia yang tinggal di dalamnya. Tahun demi tahun silih berganti,  dunia belum juga lepas dari kisah seputar konflik, peperangan, rebutan kekuasaan, kerakusan, keegoisan, penindasan, dan sejenisnya.

Di awal tahun 2013, kita menapaki kehidupan dengan harapan akan dunia yang lebih damai dan sejahtera.  Namun apa yang terjadi ? Peperangan dan perebutan kekuasaan sampai saat ini masih terus terjadi di beberapa negara di Timur Tengah.  Sudah ribuan nyawa manusia melayang akibat rebutan kuasa politik di Mesir dan Suriah. Dunia nyatanya jauh dari damai.   Di Indonesia, publik dipaksa menonton kerakusan para koruptor yang menilap bermilyar-milyar uang negara untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Akibatnya, rakyat Indonesia tidak kunjung sejahtera.

Dunia memang bukan surga karena dihuni manusia, bukan malaikat. Meskipun begitu, dunia juga bukanlah neraka yang semua penghuninya para pendosa. Selalu saja ada manusia-manusia yang baik– dan saya percaya  pada dasarnya manusia adalah baik. Ibarat benih dia akan tumbuh berkembang dan memberikan buah yang baik jika ditanam di tanah atau media yang baik pula.  Menciptakan media (lingkungan dan sistem) bagi tumbuh kembang benih (manusia) yang baik adalah cara menciptakan “surga” di dunia.


Kebetulan akhir tahun berdekatan dengan Natal. Perayaan Natal dan Tahun Baru membawa pesan yang kompatibel : Natal untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus Sang Pembawa Pesan Damai dan Sejahtera bagi dunia, sedang Tahun Baru sebagai gerbang pembuka hari baru dan harapan baru.  Esensi Perayaan Natal dan Tahun Baru adalah panggilan agar manusia ingat kembali dengan misi keberadaannya di dunia yaitu merawat dan memelihara dunia serta memanfaatkan  alam dan segala isinya dengan bijaksana, sehingga menjadikan dunia sebagai tempat tinggal yang nyaman dihuni semua makhluk. Tugas menyediakan media bagi terciptanya “surga” di dunia adalah perintah Tuhan pada manusia.

Di penghujung tahun dan sekaligus menyambut kedatangan Tahun Baru 2014, saya lantunkan doa dan harapan bagi dunia dan negaraku tercinta Indonesia lewat lagu My Grown Up Christmas List.  Lagu pop karya musisi David Foster yang liriknya ditulis oleh Linda Thompson-Jenner ini bicara tentang hadiah Natal yang diinginkan semua manusia dewasa, bukan kado dan pesta-pesta tapi dunia yang damai sebagaimana digambarkan di satu bait lirik berikut :

No more lives torn apart
That wars would never start
And time would heal all hearts
And everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end

Dunia tanpa konflik dan peperangan. Tidak ada nyawa manusia yang terenggut paksa sebagai korban ambisi manusia berebut kuasa. Tak ada lagi sakit hati dan dendam, yang ada hanyalah persahabatan dan cinta kasih yang tak berkesudahan. Inilah  hadiah Natal terindah menurut lagu My Grown Up Christmas List.
  
Akhirnya, saya ucapkan Selamat Natal 2013 khusus bagi teman-teman Kristiani dan selamat menyambut Tahun Baru 2014 untuk  semua sahabat. Meski dunia yang damai sejahtera tak kunjung hadir, janganlah itu menjadikan kita putus harapan. Tetap memelihara keyakinan dan harapan, dan bertindak sekecil apapun yang kita mampu untuk mewujudkan “surga” di sekitar kita. Itu yang bisa kita lakukan.

================

Jika ingin mendengarkan merdu dan indahnya pesan lagu My Grown Up Christmas List bisa diklik versi Kelly Clarkson dan ini yang versi Michael Buble 

Berikut bunyi lirik lengkap lagu My Grown Up Christmas List :

Do you remember me
I sat upon your knee
I wrote to you with childhood fantasies
Well I'm all grown up now
And still need help somehow
I'm not a child but my heart still can dream

So here's my lifelong wish
My grown up Christmas list
Not for myself but for a world in need

No more lives torn apart
That wars would never start
And time would heal all hearts
And everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end, no
This is my grown up Christmas list

As children we believe
The grandest sight to see
Was something lovely wrapped beneath the tree
But Heaven only knows
That packages and bows
Can never heal a heartached human soul

No more lives torn apart
That wars would never start
And time would heal all hearts
And everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end, no
This is my grown up Christmas list

What is this illusion called the innocence of youth
Maybe only in our blind belief can we ever find the truth

No more lives torn apart
That wars would never start
And time would heal all hearts
And everyone would have a friend
And right would always win
And love would never end, no
This is my grown up Christmas list
This is my only lifelong wish
This is my grown up Christmas list



Sabtu, 12 Oktober 2013

COUNT ON ME : Adakah persahabatan seperti di lirik lagu Bruno Mars ini ?

A true friend never gets in your way unless you happen to be going down - Arnold H.Glasgow

Ini hari Sabtu...week end .... dan libur minggu kali ini menjadi long week end karena ditambah lagi bonus dua hari libur Idul Adha. Saat yang tepat  untuk dolan dan happy-happy dengan keluarga. Tapi tidak untukku. Himpitan tugas memaksaku untuk “istirahat” di depan komputer... merampungkan laporan penelitian dan segala macam tuntutan outputnya yang di-deadline harus sudah dikumpulkan tanggal 25 Oktober 2013.

Untuk refreshing, aku harus cukup puas dengan hiburan di seputaran rumah. Nonton TV misalnya. Begitu klik channel TV ..eh.... beritanya nggak ada yang good news  yang bisa buat kepala jadi enteng, bikin hati jadi mak nyes, bibir jadi tersenyum.  Yang ada malah berita yang bikin tambah stress dan pusing. Mulai soal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang marah dikait-kaitkan dengan Bunda Putri (siapa lagi ini ?!) oleh tersangka korupsi impor daging sapi , kasus Ketua MK tertangkap tangan KPK menerima sogokan kasus Pilkada, kasus pembunuhan dengan modus yang semakin aneh-aneh, dan banyak lagi berita yang bikin perut jadi mules, mulut jadi judes.

Udah ah …matikan TV aja. Lebih enak dengerin musik. Dari selancar di internet aku ketemu lagu Count On Me yang dinyanyikan Bruno Mars. Begitu denger musik dan syair lagu ini…stress hilang yang ada perasaan tenang dan teringat kenangan indah dengan orang-orang terdekat …khususnya sahabat. Lirik lagu ini berkisah tentang persahabatan. Tentang orang yang saling menopang, saling mendukung khususnya saat dalam pencobaan, dalam kesulitan dan kesedihan.

If you ever find yourself stuck in the middle of the sea,
I'll sail the world to find you
If you ever find yourself lost in the dark and you can't see,
I'll be the light to guide you

Wow …betapa bahagianya kalau kita punya banyak orang yang siap berkata seperti petikan syair di atas di saat kita dalam masalah. Ya demikian itulah sahabat. Seorang sahabat tidak hanya menerima, tapi juga memberi.  Sahabat tidak hanya butuh dihibur, tapi juga menghibur. Sahabat bukan hanya teman saat suka, tapi lebih lagi teman saat duka.  A friend in need is a friend in deed.

Sahabat tidak akan berkhianat, seperti Brutus mengkhianati Julius Cesar, Yudas mengkhinati Yesus atau Delilah mengkhianati Samson. Betapa banyaknya kita jumpai Brutus dan Yudas di panggung politik . Terlebih lagi di Indonesia yang sebentar lagi  di tahun 2014 akan menghadapi Pemilu. Tunggu saja Brutus dan Yudas-Yudas akan banyak bermunculan. Benar sekali kalau dikatakan sulit menemukan sahabat atau pertemanan yang sejati dan abadi di dunia politik, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Hari ini teman, besok bisa jadi musuh. Hari ini bagian dari koalisi, besok oposisi.   

Aku jadi bertanya-tanya persahabatan macam apa yang terjalin di antara para pejabat dan politisi kita. Bagaimana pertemanan antara Megawati dengan mantan menterinya , SBY,  yang sekarang menjadi Presiden? Bagaimana pertemanan antara SBY dengan mantan wakil presidennya, Yusuf Kalla? Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat,  dengan mantan wagubnya Dede Yusuf? Atau pertemanan antara Gubernur Banten Ratu Atut dengan Wagubnya Rano Karno?

Di lingkup terdekat, di tempat kerja dan di tempat tinggal kita, adakah kita mudah menemukan persahabatan yang sejati? Jangan-jangan selama ini energi dan waktu kita habis terfokus untuk urusan kerja dan kerja, kompetisi dan kompetisi, sehingga lingkungan kerja dan tempat tinggal tidak menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya pertemanan. Kita melihat rekan kerja atau tetangga dari sisi apa yang mereka miliki dan apa yang kita miliki. Bukan apa yang bisa bersama-sama kita miliki dan bersama-sama bisa kita raih dan bersama-sama pula kita nikmati dan kita bagi. Jangan-jangan….kita ….kamu….aku…saling menjadi Brutus dan Yudas bagi yang lain. Kalau benar seperti ini, sulit tercipta surga di lingkungan kita. Semoga saja tidak demikian.

Oh ya…ngomong-ngomong, ini libur panjang kan? Santai saja yuk, daripada mikir politik dan  orang-orang yang pada rebutan kekuasaan yang bikin hati jadi tambah panas, mending kita nyanyi…

You can count on me like one two three
I'll be there
And I know when I need it I can count on you like four three two
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah

Jika ingin tahu lirik lengkapnya, bisa diklik DISINI :





Catatan : Lagu ini aku persembahkan untuk : my hubby yang kemarin tanggal 11 Oktober baru aja ultah. Buat my best friend bu lili,  makasih telah bantu aku menyelesaikan tugas penelitian dll dan  untuk semua rekan kerja mari kita jadikan tempat kerja kita sebagai tempat yang nyaman tidak hanya untuk kerja, tapi juga tempat untuk mendapatkan teman berbagi dalam suka dan duka.


Selamat menikmati liburan dan tak lupa selamat menyambut Idul Adha buat teman-teman muslim semua. 

Gambar : juliefisipuns

Senin, 16 September 2013

Miss World 2013 di Indonesia : Kontes kecantikan dililit kepentingan ideologis dan politik

Ajang kompetisi kecantikan sejagad Miss World 2013 yang berlangsung di Indonesia tengah menjadi isu panas.

Sebelumnya saya tidak begitu tertarik dengan kontes kecantikan ini, karena paling-paling tidak jauh berbeda dengan Miss Universe atau ajang miss-miss lainnya termasuk produk dalam negeri seperti Miss Indonesia, Putra-Putri , Abang-None, Cak-Ning, dll...dll. Intinya,  kecantikan dan ketampanan dilombakan dengan dibumbui dengan kecerdasan dan kepribadian atau istilah kerennya “inner beauty”. Dibungkus dengan alasan apapun kontes-kontes semacam ini tetaplah, substansinya,  lomba kecantikan fisik dan wajah bukan lomba kecerdasan atau intelektualitas. Syarat utama tentu saja tubuh (body) yang proporsional dan wajah yang sedap dilihat, baru kemudian inner beauty.

Saya mulai tertarik mengikuti perkembangan Miss World 2013 saat kontes kecantikan ini menyulut perdebatan sengit antara mereka yang pro dan kontra terhadap penyelenggaraan kontes ini di Indonesia.  Perang wacana tidak hanya di media massa tapi juga merebak ke demo-demo penolakan di beberapa kota di Indonesia.

Ada beberapa point penolakan tapi intinya Miss World ditolak karena ada sesi perempuan pamer kemolekan tubuh dengan pakai bikini.  Tidak disangkal lagi Miss World dan kembarannya Miss Universe ( dan juga American Idol dan X Factor ) adalah produk  industri entertainment  Barat.  Miss World dan Miss Universe menjadi bukti pintarnya pelaku bisnis   memanfaatkan  kecantikan dan keindahan fisik perempuan sebagai pertunjukan yang dapat mendatangkan keuntungan (profit). Di kedua kontes ini perempuan diadu bukan hanya kecantikan parasnya tapi juga proporsi tubuhnya. Darimana bisa tahu tubuh kontestan itu proporsional?  Ya dilihat lekuk liku tubuhnya. Bagaimana caranya? Ya disuruh pakai baju renang model two pieces alias bikini.

Lenggak lenggok pamer tubuh dengan pakai bikini ...  membuat kontes Miss World sangat Barat banget. Menurut pandangan feminis dan gender,  Miss World dituduh terlalu mengeksploitasi tubuh perempuan. Tubuh perempuan dilombakan, dipamerkan, dan dipertontonkan sebagai hiburan atau pertunjukkan yang dipelototi mata jutaan pemirsa TV di berbagai belahan dunia. Dari pespektif nilai agama dan budaya, pamer tubuh ke publik bertentangan dengan ajaran agama dan budaya Indonesia yang menganggap tubuh perempuan sebagai wilayah privat yang saru (memalukan) kalau diekspos ke publik. Tidak heran pabila tiap kali Indonesia mengirim  wakilnya untuk mengikuti kontes kecantikan dunia selalu saja mengundang polemik panas seputar harkat tubuh perempuan. Siapa pun perempuan yang berangkat mewakili Indonesia di kontes kecantikan dunia harus siap di-bully secara verbal oleh massa yang kontra dengan kontes ini.

Pertanyaannya, kenapa kontes kecantikan yang kontroversial ini akhirnya bisa diselenggarakan di Indonesia? Tentunya panitia Miss World telah mempersiapkan acara ini dengan matang, termasuk perijinannya. Tak mungkin kontes bertaraf internasional diadakan tanpa mengantongi ijin pemerintah. Dan tentu saja semua proses perijinan ini butuh persiapan waktu yang lama.

Pertanyaannya lagi, kalau sudah tahu akan banyak penolakan terhadap kontes pamer tubuh perempuan kok akhirnya pemerintah memberikan ijin? Pemerintah jelas tidak akan membiarkan setiap pertunjukkan atau hiburan yang mengundang keramaian dan pengumpulan massa di suatu tempat, apabila tahu acara itu dapat mengundang kerusuhan. Dengan kata lain, pemerintah tidak akan mengeluarkan ijin kalau dirasa pemerintah tidak mampu memberikan jaminan terhadap keamanan acara tersebut.

Kemudian, mengapa akhirnya pemerintah merubah ijin yang telah dikeluarkannya justru pada saat acara itu sudah dipersiapkan dan tidak mungkin dibatalkan lagi ?

Kasus Miss World sama dengan kasus Lady Gaga yang gagal konser tahun lalu. Jika konser Lady Gaga berhasil dibatalkan, maka kalau kasus yang sama terjadi pada Miss World tak terbayangkan bagaimana opini publik internasional terhadap integritas pemerintah Indonesia. Mengingat kontes ini diikuti oleh wakil dari 130-an negara dan acaranya disiarkan ke ratusan negara. Mestinya kalau menolak dengan alasan bertentangan dengan budaya Indonesia, penolakan itu sudah dengan tegas disampaikan pemerintah jauh sebelumnya. Bukan setelah ijin terlanjur dikeluarkan... kemudian menghadapi tekanan sekelompok massa... terus berubah pendirian. Saya yakin  pemerintah jelas tahu ada kelompok  yang akan terlukai keyakinannya oleh terselenggaranya kontes kecantikan semacam ini.  

Terlepas dari sisi negatifnya, harus diakui Miss World sebagai event internasional yang dikenal dan ditonton oleh banyak Negara menawarkan  beberapa sisi positif, utamanya untuk mengenalkan daya tarik wisata dan budaya Indonesia ke dunia. Miss World adalah pintu masuk yang mengintegrasikan Indonesia ke dalam gaya hidup dan budaya global dan sekaligus menjadi bagian dari industri hiburan internasional.  Mengijinkan Indonesia sebagai lokasi Miss World  bisa menjadi promosi pariwisata gratis ke pasar global. Adakah motif ini yang membuat pemerintah mengijinkan Indonesia sebagai Negara penyelenggara kontes Miss World? Entahlah ….tauk…gelap…

Yang membuat saya heran kalau sudah setuju, ijin sudah diberikan, mengapa pada akhirnya pemerintah berubah pendirian  pada saat sudah terlanjur sulit untuk mundur? Dan kalau penolakan Miss World karena ada bikininya, mengapa acara ini tetap ditolak meskipun sesi ini telah ditiadakan? Anehnya lagi, mengapa pemerintah terkesan tunduk patuh pada tekanan sekelompok massa?

Lagi dan lagi, Pemerintah Indonesia plin plan. Pemerintah yang berintegritas yakin bahwa setiap kebijakan dan keputusan yang diambil telah didasarkan pada pertimbangan yang matang berlandaskan pada kepentingan publik, bangsa dan negara.  Kebijakan publik bukan kebijakan yang bisa diubah-ubah semaunya seturut selera dan kepentingan penguasa apalagi karena takut pada tekanan kepentingan sekelompok massa.  Semoga saja pertimbangan pemerintah untuk tetap menyelenggarakan Miss World tapi dengan memindahkan lokasinya ke Bali,  dilandaskan pada pertimbangan keamanan dan kebaikan bersama bangsa Indonesia. Bukan karena takut pada ancaman ormas , tidak juga karena faktor  siapa dibalik panitia penyelenggara Miss World yang kebetulan telah memproklamirkan sebagai calon Wakil Presiden dari partai tertentu.

Kepentingan politik tak dapat dipungkiri telah merambah ke dunia hiburan. Raja TV yang ikut kontes Pemilu 2014 telah nyata-nyata menjadikan acara andalan TV-nya, seperti X Factor dan kini Miss World, sebagai media untuk mejeng dan kampanye politik. Jangan-jangan malahan ada motif kepentingan politik dibalik kontes Miss World 2013 ? Pokoknya jangan sampai Miss World 2013 di Indonesia dijadikan ajang untuk mendongkrak popularitas pemegang lisensi acara tersebut. Kalau benar ada kepentingan politik dibalik kontroversi Miss World 2013, sungguh kasihan bangsa Indonesia ...dipermainkan emosi dan energinya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Miss World 2013 yang telah dimodifikasi untuk disesuaikan dengan kultur Indonesia sesungguhnya merupakan kesempatan emas untuk mempertontonkan kekayaan dan keindahan alam dan budaya Indonesia ke dunia internasional , tapi sayang momen ini menjadi mubasir karena direcoki motivasi politik baik dari panitia penyelenggara maupun rezim penguasa. Huh cuapek deh !!

 Gambar : twitter.com dan Sonny Tumbelaka- Kompas.com