Tampilkan postingan dengan label refleksi kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2014

Kado Valentine untuk Dosen, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Besok tanggal 14 Februari  adalah  Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang,  hari  ketika anak muda mengekpresikan rasa sayangnya kepada orang yang mereka kasihi  dengan memberikan hadiah mawar merah, coklat dan boneka warna pink. Saya tidak lagi muda tapi di momen penuh Kasih Sayang ini saya secara khusus ingin memberi kado bagi rekan-rekan dosen yang belakangan ini banyak mendapatkan kado “Kasih Sayang” yang super….super special dari pemerintah.
Kado special pertama, kebijakan kenaikan pangkat ke golongan IV atau jabatan Lektor Kepala yang mensyaratkan ijazah S3. Bagi dosen yang belum S3 jangan berharap bisa naik pangkat ke golongan IV. Jadi kalau guru TK, SD, SMP, dan SMA bisa sampai ke IVa cukup dengan ijazah S1,  dosen yang berijazah S2 harus cukup puas sampai golongan maksimal IIId.  Namanya kebijakan artinya keputusan ini telah diambil pemerintah dengan pertimbangan yang sangat bijaksana. Pemerintah ingin dosen-dosen itu tidak hanya puas di jenjang pendidikan S2. Dengan adanya kebijakan ini maka semua dosen nantinya adalah lulusan S3 yang dijamin berkualitas dan kompeten.
Kado special kedua, dosen diwajibkan melaporkan pelaksanaan fungsi  tri darma perguruan tinggi (mengajar, meneliti dan pengabdian masyarakat) melalui Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen  atau SIPKD  (sayangnya website SIPKD Dikti error-error melulu). SIPKD mewajibkan dosen wajib mengisi semua kolom kinerja  tri darma, tidak boleh ada yang kosong. Ketentuan wajib mengunggah kinerja tri darma per semester merupakan bukti kasih sayang pemerintah pada dosen.  Pemerintah ingin memotivasi dosen agar mengurus kenaikan pangkatnya sehingga semua dosen bisa mencapai jenjang karier dosen tertinggi dan menikmati tunjangan professor yang sudah disediakan pemerintah.
Kado special ketiga, melalui Penpres  No.88 Th. 2013 pemerintah menetapkan pemberian tunjangan kinerja atau remunerasi bagi PNS di lingkungan Kemendikbud dengan pengecualian bagi dosen. Kebijakan ini diputuskan karena pemerintah ingin dosen tidak serakah, sudah mendapat sertifikasi dosen masak mau ditambah lagi dengan tunjangan remunerasi. Bagi pemerintah,  dosen adalah tugas yang sangat mulia,.. tugas pengabdian jadi tidak layak kalau dinilai secara materi. Kalau dosen mendapat limpahan tunjangan serdos plus remunerasi, pemerintah khawatir dosen tidak fokus pada pengembangan kompetensi mengajar dan meneliti tapi malahan berubah gaya hidup bak selebritis yang glamor,  hedonis, dan materialistis (maaf alasan ini tidak berlaku untuk dosen yang belum dapat sertifikasi).
Kado special keempat, meskipun dosen tidak mendapatkan remunerasi tapi mulai Januari 2014 ini diberlakukan ketentuan sebagaimana PNS yang dapat remunerasi. Tunjangan jabatan untuk pengelola jurusan dan program studi dan  honor-honor mengajar di luar S1 reguler (D3, S1 nonreg, S2 dan S3) tidak (belum?) diberikan. Karena kebijakan ini, hari-hari belakangan ini saya merasakan ada semacam suasana “bad mood” di kalangan dosen.  Untuk rekan dosen , janganlah melihat ini sebagai perlakuan diskriminatif terhadap dosen. Mungkin Pemerintah bermaksud baik kok yaitu tidak ingin dosen menjadi capek karena dibebani tugas mengajar yang berlebihan. Idealnya dosen mengajar sesuai ketentuan SIPKD yang sekitar 9 SKS per semester. Tidak adanya tunjangan jabatan dan tambahan honor-honor mengajar  diharapkan tidak  mematahkan semangat dosen untuk mengajar dan mengelola program. Ingat ya bagi pemerintah tugas dosen itu adalah kerja sosial… suatu tugas yang sangat mulia.  
Menjelang hari Kasih Sayang besok, saya ingin rekan-rekan dosen tidak gundah atau galau.  Semakin beratnya tuntutan kinerja dosen di satu sisi tapi tidak dimbangi dengan reward atau penghargaan yang seimbang atau memadai kita terima dengan lapang dada. Jangan sampai persoalan ini berimbas pada mahasiswa. Dosen itu bak artis, harus tampil maksimal di depan mahasiswa.  Apapun problema  yang kita hadapi tidak selayaknya mempengaruhi peran yang harus kita jalankan. Kalau ada rekan dosen yang mulai berwacana untuk protes, lakukan protes itu secara intelektual dan elegant. Jangan demo di jalanan apalagi dibumbui dengan adegan teatrikal, malu  ah. Juga jangan mogok ngajar lho, nanti orang jadi nggak bisa membedakan antara profesi dosen dengan buruh.
Kalau dosen bisa menerima semua “hadiah” yang telah saya sebutkan di atas dengan sabar dan ikhlas, maka dosen layak menggantikan predikat guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.  Sekalipun kita tidak dapatkan imbalan secara materi, namun pabila kita menjalankan tugas kita penuh passion kita akan dapatkan hadiah yang sangat indah yang tak ternilai secara materi yaitu : rasa cinta dan hormat dari anak didik dan juga masyarakat.

Sebagai kado Valentine  saya hadiahkan lagu cinta untuk guru “ To Sir With Love”. Lagu jadul tahun 1967 ini merupakan soundtrack film dengan judul sama, versi original dinyanyikan oleh Lulu 


dan versi modern ala  Glee :


Jumat, 17 Agustus 2012

Tentang Memaafkan : Coretan Menyambut Hari Lebaran


Besok  -tanggal 19 Agustus 2012 - kita merayakan Hari Lebaran atau Idul Fitri. Lebaran di Indonesia tidak sekedar perayaan keagamaan yang dijalankan oleh pemeluk agama Islam, tapi telah menjadi ritual budaya yang dilakoni oleh semua lapisan masyarakat.  Di hari ini, kata “maaf” menjadi kata yang akan sering diucapkan atau lengkapnya “maaf lahir dan batin”, yang maknanya kurang lebih permintaan maaf yang tidak sekedar lip service, tapi benar-benar permohonan maaf yang tulus yang keluar dari lubuk hati.  

Mumpung ini momen lebaran yuk kita mengulas seputar maaf memaafkan. Saya tidak akan menyorotinya dari perspektif religi karena tidak mempunyai kapasitas untuk itu. Saya akan memaknai arti dan manfaat memaafkan dari sisi yang umum. Dari ngobok-obok internet akhirnya saya temukan banyak artikel yang mengulas tentang makna penting memaafkan dan melupakan kesalahan.

Tom Valeo dengan sangat menarik mengulas manfaat memaafkan dari sisi kesehatan jiwa dan fisik. Memaafkan atau mengampuni merupakan suatu bentuk ungkapan cinta –suatu hadiah yang diberikan secara cuma-cuma bagi siapa saja yang telah menyakiti kita. Hasil penelitian membuktikan bahwa mengampuni membawa manfaat yang sangat besar bagi orang yang memberikan hadiah (maaf) itu. Jika seseorang dapat memaafkan dan melupakan kesalahan, ia akan menikmati tekanan darah, sistem kekebalan tubuh yang kuat, dan penurunan hormon stres yang beredar dalam darah. Sakit punggung, masalah perut, dan sakit kepala bisa hilang, karena  mengampuni dapat mengurangi kemarahan, kepahitan, dendam, depresi, dan emosi negatif lain yang biasa muncul  apabila seseorang sulit untuk memaafkan.

Meskipun memaafkan bisa mendatangkan manfaat yang luar biasa, tapi tetap saja tidak mudah untuk dipraktekkan. Terus gimana caranya supaya bisa mengampuni kesalahan ?

Menurut Frederic Luskin, PhD, direktur  the Stanford University Forgiveness Project (dalam Valeo) memaafkan atau mengampuni itu , seperti halnya mencintai, tidak bisa dipaksakan. Luskin menyatakan untuk mampu mengampuni pertama-tama orang harus mengembangkan budaya terima kasih atau bersyukur , yakni  upaya aktif untuk mengakui apa yang baik dalam hidup Anda dengan senantiasa memfokuskan pada hal-hal positif. Kemampuan berpikir positif  bisa diperoleh melalui manajemen stress atau kontrol emosi yang bisa dibantu lewat cara meditasi dan relaksasi. Orang yang mampu bersyukur akan memandang hal-hal negatif dengan kacamata positif. Kejadian yang menyakitkan hati dan kondisi yang menjengkelkan akan selalu dicari hikmahnya.  Orang yang mampu bersyukur adalah orang yang senantiasa melihat masa depan dengan penuh harapan dan tidak suka mengeluh atau pun menyimpan kesalahan.

Kedua, memaafkan lahir dan batin. Everett L. Worthington Jr., PhD, profesor psikologi  dari  Virginia Commonwealth University mengemukakan dua jenis pengampunan yaitu pengampunan decisional dan pengampunan emosional (dalam Vale0).  Pengampunan decisional adalah tindakan melepaskan pikiran-pikiran marah terhadap orang-orang  yang telah membuat sakit hati. Adapun pengampunan emosional adalah level pengampunan yang lebih tinggi di mana emosi negatif seperti kemarahan, kepahitan, permusuhan, kebencian, kemarahan, dan ketakutan digantikan dengan cinta, kasih sayang, simpati, dan empati.  Jadi pengampuan desisional itu bisa disebut maaf hanya di bibir saja atau secara lahirnya saja karena kesalahannya belum bisa dihapus dari hati dan ingatan. Sedang pengampunan emosional adalah pengampunan dari dalam hati atau maaf lahir dan batin yakni memaafkan secara lisan dan juga melupakan segala kesalahan dan sakit hati dan menguburnya sebagai masa lalu yang harus dilupakan. Dengan memaafkan lahir batin seseorang bisa membangun hubungan baru yang tulus.

Menurut Worthington ada 5 langkah pengampunan emosional yang disingkat dengan REACH.  Pertama, Recall atau mengingat atau bahasa Jawanya ngonceki semua rasa  sakit hati secara obyektif, tanpa menyalahkan dan melihat diri sendiri sebagai korban. Kemudian Emphatize,  berempati dengan mencoba membayangkan sudut pandang orang yang bersalah pada kita. Altruistic, memaafkan lahir dan batin akan mudah dilakukan dengan cara membayangkan dan merasakan bagaimana rasanya saat kesalahan kita diampuni. Commit,  dalam berkomitmen untuk memberi maaf  seringkali kita merasa tidak siap atau belum ikhlas untuk memaafkan kesalahan, namun apabila telah berketetapan (commit) untuk memaafkan maka kita harus benar-benar Hold on atau sepenuh hati  memaafkan kesalahan itu lahir dan batin, jangan diingat atau diungkit-ungkit lagi kesalahan itu.

Demikian coretan singkat tentang makna memaafkan. Semoga bermanfaat. Akhirnya, selamat menyambut Lebaran. Mari kita saling maaf dan memaafkan secara lahir dan batin.


Sebagai pelengkap mari kita renungi kata-kata bijak yang saya kutip dari  inspirationalspark. com berikut ini  :

"Let us forgive each other - only then will we live in peace." ~ Leo Tolstoy

"To err is human, to forgive, divine." ~ Alexander Pope

"A heart filled with anger has no room for love."~ Unknown

"Forgive all who have offended you, not for them, but for yourself." ~ Harriet Nelson

"To forgive is the highest, most beautiful form of love. In return, you will receive untold peace and happiness." ~ Robert Muller



Referensi :
Tom Valeo. Forgive and Forget <http://www.webmd.com/mental-health/features/forgive-forget>

Gambar : 123rf.com dan kartu lebaran dari 1.bp.blogspot.com

Kamis, 22 Maret 2012

All is Well : Resep Hidup Bahagia ala Ajahn Brahm

Ketika Anda menemukan kecukupan hati dalam kekinian, Anda akan menyadari bahwa Anda “sudah sampai” – Ajahn Brahm (prakata dalam Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3)

Hari ini – Kamis 22 Maret 2012 –  saya mengikuti talk show Ajahn Brahm  di Solo Paragon Hotel. Lawatan  Ajahn Brahm ke Kota Solo merupakan bagian dari acara Ajahn Brahm Tour d’Indonesia 2012. Yah , akhirnya saya bisa melihat langsung dan mendengarkan  biksu bijak ini menuturkan anekdot-anekdot lucu sarat makna kehidupan.

Siapa Ajahn Brahm ? Saya mengenal Ajahn Brahm melalui buku karyanya yang sangat inspirasional Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya seri 1 dan 2 ( seri 3 terbit Maret 2012 dan saya baru saja membelinya  di acara talk show ini). Ini riwayat hidup yang bisa dibaca dibaca di buku Si Cacing : Ajahn Brahm lahir di London 1951 dan meraih gelar Sarjana Fisika Teori di Cambridge University. Pada usia 23 tahun ia menjadi petapa di hutan Thailand dan sejak 1983 pindah ke Perth. Ia mendapat medali John Curtin dari Curtin University Australia atas pelayanannya mengunjungi penjara, rumah sakit, dan rumah duka. Ia berkeliling dunia untuk berbagi kasih dan kebahagiaan dalam ceramah dan retret. Saat ini Ajahn Brahm adalah Biksu Kepala Wihara Bodhinyana di Serpentine dan Direktur Spiritual Budhist Society of Western Australia. 

Setelah melihat langsung Ajahn Brahm saya menyimpulkan bahwa beliau menggambarkan sosok yang tidak jauh dari figur yang selama ini saya lihat di buku Si Cacing: wajah penuh senyum gambaran dari orang yang humoris, dengan tampilan kepala plontos dan baju sederhana seorang biksu. Cerita atau anekdot yang dituturkan sebenarnya merupakan pengulangan dari yang kita baca di buku Si Cacing, namun memang menjadi berbeda saat apa yang selama ini kita baca di buku dituturkan secara langsung oleh penulisnya. Cerita itu menjadi lebih hidup dan yang jelas saya bisa melihat mimik lucu, intonasi, gaya tutur , senyum dan ketawa geli Ajahn Brahm. Dari sosok Ajahn Brahm ini saya bisa mendapatkan contoh orang yang telah bisa mengosongkan diri dari pernak pernik, keruwetan dan kompleksitas kehidupan. Orang yang sepertinya telah bisa melepaskan diri dari  sandera hasrat duniawi sehingga bisa melihat kehidupan dari sisi yang menyenangkan, ringan, lucu dan bahagia. Ya , maklum aja , seorang biksu gitu lho!

Contohnya saat beliau cerita tentang hidupnya yang banyak dihabiskan keliling dunia sehingga hampir semua waktunya dilalui di pesawat terbang. Ketika ditanyakan apa dia tidak takut kalau-kalau suatu saat pesawatnya meledak, dengan enteng Ajahn Brahm menjawab kalau benar saya mati dengan cara itu  What a wonderful way to die ! Ada tiga alasan mengapa beliau menjawab demikian : pertama, mati di pesawat yang meledak adalah cara yang paling cepat (versi pemeluk agama Budha) karena langsung bisa dikremasi. Kedua , tidak direpotkan dengan   proses pemakaman  yang mahal dan yang jelas  tidak perlu beli kapling tempat pemakaman (di pemakaman mewah San Diego Hills Bogor harga per kaplingnya bisa puluhan hingga ratusan juta),  ketiga, mati di atas langit di ketinggian ribuan kilometer berarti mati di  tempat yang sudah semakin dekat dengan surga. Artinya ya bener cara mati yang efisien dan efektif – paling cepat dan hemat lagi. 

Masih banyak lagi cerita lucu sarat pesan  bijaksana yang disampaikan Ajahn Brahm,  namun intisari atau makna pesan yang ingin disampaikan adalah All is well. Apapun yang terjadi dan yang kita hadapi dalam hidup ini kita maknai dari sisinya yang baik dan positif, bahkan peristiwa yang menyakitkan sekali pun. Kalau kita sakit, misalnya, maknai saja sisi positifnya yakni kita bisa istirahat, bisa tidur sepuas mungkin, ditengok kerabat dan teman, dan jadi tahu ternyata banyak orang yang menyayangi kita.   Pesan ini sebenarnya tidak jauh maknanya dengan filsafat “untung” orang Jawa. Sudah tersandung, masih untung tidak luka. Kalau luka, masih untung masih bisa  jalan. Kalau patah tulang, masih untung bisa disambungkan. Pokoknya untung terus. Peristiwa pahit sekali pun, dicari untungnya atau sisi positifnya. All is well. Segala sesuatu itu baik adanya.

Jadi, memang benar sekali kalau sampul depan buku ini menyatakan “ cerita dalam buku Si Cacing ini menginspirasi kita untuk menjadi lebih peka, mawas, tidak serius-serius amat dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan dan kematian. Adanya masalah adalah tak masalah, jika kita bisa menyikapi hidup dengan penuh ketulusan, penerimaan, dan kewelasan”. 

Sebagai penutup mari kita baca cerita pembuka dalam buku Si Cacing 3 berikut ini :

Perangkap Tikus
Suatu ketika ada seekor tikus yang hidup di rumah seorang petani. Ia adalah seekor tikus kecil yang bahagia, sebab ia mendapat cukup banyak makanan. Sungguh bagus punya tikus di rumah, karena itu artinya kita tidak memerlukan penyedot debu. Biar si tikus yang memunguti remah-remah kecil dan mungil…,tapi itu kalau kita bisa melatih si tikus untuk mengambil remah di tempat yang benar. Ha ha ha.
 
Masalahnya, petani pemilik rumah tak pernah menyukai tikus itu. Suatu hari, ketika si tikus mengintip melalui retakan di tembok, ia melihat petani itu tengah membuka sebuah bungkusan. Saat ia melihat benda dalam bungkusan itu, ia ketakutan. Petani itu ternyata membeli sebuah perangkap tikus !

Begitu gegernya tikus itu sampai-sampai ia langsung menemui sahabatnya, Si Ayam, dan berseru, “Pak Tani beli perangkap tikus! Ini mengerikan! Ini bencana!”
Namun Si Ayam malah berkata,”Bukan masalahku. Tak ada hubungannya denganku, itu urusanmu, Tikus! Pergi sana!”

Tikus itu tidak mendapat simpati dari ayam, jadi ia pergi menemui sahabatnya yang lain, Tuan Babi. “Tuan Babi, Tuan Babi! Pak Tani beli perangkap tikus. Ini berita mengerikan, aku tidak tahu apa aku bisa tidur nyenyak malam ini! Aku dalam bahaya!”

Tuan Babi berkata ,”Gak ada urusannya denganku. Urusanmu! Perangkap tikus gak bisa menangkap babi. Kamu lagi sial saja, sana pergi!”

Tikus itu begitu kecewa dengan Tuan Babi, maka ia menemui sahabatnya yang lain , Nyonya Sapi.

“Nyonya Sapi! Tolonglah aku! Pak Tani sudah beli perangkap tikus! Aku begitu paranoid sekarang! Kamu tahu kan tikus biasanya lari kesana kemari dan tidak tahu lari menginjak apa. Aku bisa menginjak perangkap itu dan aku akan terbunuh…!”  

Nyonya Sapi berkata,”Wah, wah…Itu pasti karma dari kehidupan lampaumu…Tapi sayangnya, tidak ada hubungannya denganku.”

Tikus itu tidak mendapatkan simpati dari satu pun sahabatnya. Dengan muram, ia pulang ke liangnya. Malam itu, seekor ular menyusup ke rumah petani itu dan ekornya terkena perangkap tikus itu.

Ketika istri petani datang untuk memeriksa apakah perangkap itu sudah menangkap tikus, ular itu mematuk istri petani itu. Akibatnya, istri petani itu menderita sakit berat. Karena beratnya sakit sang istri, petani itu berpikir , “Apa ya yang bagus untuk orang sakit?  Aah … sup ayam!”

Maka petani itu mengambil ayam, memotong kepalanya, membuluinya, dan merebusnya menjadi sup untuk istrinya. Si ayam kehilangan nyawanya.

Istri petani tak kunjung sembuh. Sanak saudara berdatangan untuk memastikan apakah istri petani itu baik-baik saja. Karena banyak tamu berkunjung, petani tidak tahu harus menyediakan makanan dari mana buat mereka. Jadi ia menangkap si babi, menjagalnya, lalu menyajikan sosis dan ham untuk tamu-tamunya. Si babi pun kehilangan nyawanya.

Sekali pun telah melakukan segala upaya, istri petani malang itu meninggal jua. Karena ia meninggal – Anda tahu betapa mahalnya upacara pemakaman, maka petani harus memotong sapi dan menjual dagingnya untuk membayar biaya upacara. Jadi pada akhirnya, si ayam mati, si babi kehilangan nyawa, dan si sapi dijagal…. Semua ini karena perangkap tikus.

Jadi, itu bukan hanya masalah si tikus, tapi masalah semuanya.

Kita sering berpikir, “Ini tidak akan mempengaruhiku, tak ada urusannya denganku. Ini masalah orang lain.” Tapi kisah ini memberitahu kita :”Bukan! Ini bisa jadi masalahku juga.”
Itulah sebabnya mengapa kita harus saling menolong satu sama lain, walau kita tidak tahu bagaimana hal itu berakibat pada kita. Jika ada masalah dalam hidup Anda, mohon jangan berpikir bahwa ini masalah Anda, atau masalah dia. Alih-alih, pikirkan itu sebagai masalah kita, sebab kita semua berada di dalamnya bersama-sama, dan bagian yang indah dalam proses ini adalah berbagi dengan orang lain.

Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama. Jika upaya kita berhasil dan mencapai akhir yang baik, luar biasa. Tapi meskipun tidak berhasil, hal yang penting adalah : kita bekerja bersama-sama. Pokok masalahnya bukanlah dalam menyelesaikan semua masalah kita, namun ada pada kenyataan bahwa kita tidak bekerja sama. Di situlah masalahnya.

Jika kita belajar untuk saling bekerja sama, kita akan memiliki kehidupan spiritual yang menakjubkan ini, dan kita tidak akan merasa begitu kesepian. Lalu, kita pun makin dekat dengan realitas bahwa kita semua ada dalam perahu ini bersama-sama.

Selasa, 07 Februari 2012

Menyelami kedalaman cinta Erich Fromm

Immature love says: 'I love you because I need you.'  Mature love says 'I need you because I love you.'  (Erich Fromm).

In love the paradox occurs that two beings become one and yet remain two. (Erich Fromm)

Love is the only sane and satisfactory answer to the problem of human existence. (Erich Fromm)


Bulan Februari menjadi bulan cinta, karena di bulan ini ada Hari Valentine yang identik sebagai harinya anak muda. Gelora cinta yang mengharubiru memang pas kalau disematkan di hati anak muda : hati  yang masih mencari siapa pasangannya, hati yang masih merdeka untuk memilih siapa yang akan dijatuhi cinta. Tapi apakah cinta itu dimaknai sebatas cinta asmara? ataukah cinta itu lebih dari sekedar ketertarikan fisik semata? 
 
Di bulan cinta ini paling pas kalau ngomong soal cinta.   Apa itu cinta dan bagaimana kita seharusnya memaknai  dan  mengekspresikannya?

Arti Cinta
Apa itu cinta? Mungkin banyak orang akan menjawab mengapa susah-susah merumuskan apa itu cinta. Cinta itu suatu yang perasaan menyenangkan yang dialami oleh semua orang. Cinta itu rasa suka atau sayang pada seseorang yang membuat hati jadi berbahagia. Pokoknya cinta itu untuk dirasakan dan diresapi keindahannya. Cinta itu sesuatu yang bersifat alami jadi tidak perlu didefinisikan atau dimaknai secara filosofis. Cinta itu butuh aksi, bukan teori.  

Benarkah demikian? 

Cinta memang begitu riil, hadir nyata dalam kehidupan semua anak manusia. Cinta sesuatu yang taken for granted…ada tanpa kita sadari kehadirannya. Karena sudah dianggap taken for granted, sudah demikian adanya , manusia cenderung menjadi lupa akan makna dan arti penting cinta. 

Pembahasan tentang arti cinta secara logis dimulai dengan pertanyaan tentang hakekat cinta. Pencarian tentang makna atau hakekat cinta secara filosofis sudah dilakukan sejak jaman Romawi kuno (www.iep.utm.edu/love/).  Beragam teori telah dirumuskan.  Pandangan umum tentang hakekat cinta merumuskan bahwa cinta itu  bersifat emosional sehingga tidak bisa dijelaskan dengan logika rasional. Ada lagi yang mengartikan cinta sebagai murni fenomena fisik yaitu suatu dorongan nafsu kebinatangan atau genetik yang mendikte perilaku manusia. Ada pula yang memaknai cinta sebagai suatu perasaan yang sangat spiritual sehingga membuat kita serasa menyentuh dimensi keilahian. Plato, misalnya,  merumuskan konsep cinta lebih sebagai suatu yang luhur dan mulia bukan sekedar nafsu hewani yang didorong oleh hasrat birahi, cinta dilihat dari visi teologis yang melampaui daya tarik sensual. Pemaknaan cinta semacam ini yang kemudian melahirkan istilah cinta Platonis (Platonic love). 


Rumusan ideal dari cinta  memang tidak sekedar cinta asmara atau cinta erotis . Secara umum  cinta diartikan sebagai sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut (Wikipedia).

Untuk mempermudah memahami makna cinta , maka cinta kemudian dibedakan menjadi : eros, agape dan philia. Eros adalah cinta asmara atau cinta  yang didalamnya ada unsur hasrat seksual.  Dorongan seksual atau hasrat birahi manusia secara naluri tak beda jauh dengan hasrat seksual pada binatang. Sedangkan agape adalah cinta kasih Tuhan pada manusia atau sebaliknya cinta manusia pada Tuhannya , bisa juga cinta pada kemanusiaan. Adapun  philia adalah rasa cinta atau sayang pada teman atau sahabat, pada orangtua, saudara dan keluarga (http://www.iep.utm.edu/love/)

Dalam bahasan Inggris kata “love” dipakai untuk menyatakan ketiga bentuk cinta : eros, agape, dan philia. Penggunaan istilah “cinta” dalam bahasa Indonesia lebih cenderung untuk menyebut jenis cinta eros atau cinta asmara, sedangkan untuk mengungkapkan  rasa cinta pada Tuhan , keluarga dan sahabat biasa menggunakan  kata kasih atau sayang. 

Oke , setelah kita tahu cinta itu ada cinta pada Tuhan (agape) dan sesama manusia baik itu cinta asmara (eros) maupun cinta pada orang tua , teman dan kemanusiaan (philia), terus  pertanyaan selanjutnya adalah apa makna atau hakekat cinta  dan  bagaimanakah seharusnya kita mengekspresikan rasa cinta itu?
 
Karena saya bukan filsuf maka untuk menjawab pertanyaan ini saya pinjam pemikirannya ahli psikologi sosial , psikoanalis, sosiolog dan filsuf yang humanistis - ERICH FROMM yang menjelaskan dengan indah sekali tentang makna cinta dan seni mencintai dalam tulisannya The Art of Loving”. Pendapat Fromm yang saya jadikan sumber tulisan ini sebagian besar saya kutip dari resensi Armand F. Baker DISINI .

Kedalaman cinta Erich Fromm

Fromm memberi pernyataan yang mengejutkan, mencintai itu sesuatu yang harus kita pelajari. Ia tidak datang dengan sendirinya, bukan kita lakukan secara naluriah.  Mencintai adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktekkan secara aktif. Agar cinta itu tumbuh, seseorang harus aktif bertindak, harus menunjukkan cintanya (However, in order for love to exist, someone must act; someone must do the loving).

Menyangkut soal cinta selama ini kita memposisikan diri sebagai obyek, artinya pikiran kita terfokus pada bagaimana agar dicintai. Berbagai cara ditempuh untuk membuat diri dicintai orang. Dan kemudian apa yang dilakukan untuk mendapatkan cinta?  Yang perempuan ingin tampil cantik dan menarik dan yang laki-laki ingin tampil gagah dan keren. Pokoknya manusia ingin tampil semenarik dan semenonjol mungkin agar perhatian, kekaguman dan cinta terpusat kepadanya. Pikiran dan usaha terpusat pada bagaimana agar dicintai, sehingga lupa bahwa untuk dicintai,  harus mencintai terlebih dulu. Hanya orang yang egois yang ingin dirinya dikagumi dan dicintai, tapi tidak ada keinginan untuk mengagumi dan mencintai  orang lain. 

Fromm mengatakan cinta itu tidak pasif, tapi harus aktif. Jika kita berharap untuk menerima cinta (dicintai), maka kita terlebih dulu harus siap untuk memberi cinta (mencintai). Cinta bukan jalan satu arah ( nah, ini artinya cinta itu tidak hanya pasif ditunggu kehadirannya. Untuk mendapatkan cinta, orang harus memberi cinta terlebih dahulu) .  Dengan kata lain, inti cinta adalah memberi, bukan menerima.  Memberi artinya memberikan apa yang dimiliki untuk kebahagiaan orang yang cicintai. Makna ini yang sering disalahartikan sebagai cinta itu suatu pengorbanan. Menurut Fromm  ini tidak benar karena dua alasan :  

Pertama,  cinta tidak terbatas pada pemberian dalam arti materi. Aspek yang paling penting dari memberi adalah bahwa kita memberikan diri kita, hidup kita, sukacita dan dukacita kita, minat dan pengetahuan kita, pemahaman dan perhatian kita. Kedua, memberikan diri untuk cinta bukan berarti mengorbankan kemerdekaan kita sebagai individu. Saat seseorang memberi untuk cinta, yang hilang dari dirinya hanyalah keegoisan.  Mencintai adalah tindakan memberi  yang justru memperkaya si pemberi (secara batin) karena dapat menumbuhkan rasa sebagai individu yang  bebas dan aktif , yang memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada orang lain. Cinta adalah aktif, cinta itu memberi, dan cinta menghasilkan kesatuan yang memperkuat individualitas kita yang sebenarnya.
 
Intinya, menurut penafsiran saya, dalam cinta itu tidak ada yang dikorbankan. Karena hakekat cinta adalah memberikan apa yang kita punya demi kebahagiaan orang yang dicinta. Demi kebahagiaan orang yang dicinta semata, tanpa pamrih. Kalau kita memberi semata-mata karena ingin memberi dan kalau dengan apa yang kita berikan itu, si penerima menjadi bahagia, itu sudah cukup bagi kita. Kalau seperti itu apa ada yang kita korbankan? Berkorban konotasinya ada sesuatu yang harus kita relakan untuk diberikan atau ada yang hilang dari diri kita, entah itu materi atau nonmateri. Selama kita mencintai semata-mata karena cinta, maka itulah cinta sejati atau cinta tanpa syarat – unconditional love.

Selain mengulas tentang  hakekat cinta, Fromm juga membahas elemen lain dari cinta yakni peduli, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan. Peduli artinya menaruh perhatian secara aktif terhadap hidup dan kesejahteraan orang yang dicintai. Tanggung jawab adalah upaya untuk merespon kebutuhan orang lain, rasa keterbukaan kepada orang yang kita cintai. Menghormati berarti bahwa kita menghormati orang lain sebagai individu, kita menerima dia sebagai dia apa adanya dan tidak mencoba untuk mengubahnya menjadi sebuah objek untuk kebutuhan kita sendiri. Pengetahuan berarti kita harus mencoba untuk mengenal orang lain, baik secara rasional maupun intuitif atau emosional.
 
Unsur terakhir dari cinta adalah keyakinan atau kepercayaan. Untuk bisa memberikan cinta kita harus percaya sepenuhnya pada orang yang kita cintai. Mencintai artinya membuka diri kita, dan menjadi terbuka berarti menjadi peka atau rapuh. Orang kadang ragu untuk melakukan hal ini karena di masa lalu telah terluka atau kecewa karena cinta. Namun tanpa keterbukaan, yang dilandasi atas kepercayaan, tidak akan ada cinta. Dengan begitu, cinta adalah tindakan yang dilandasi atas rasa percaya. Dan siapa pun yang kepercayaannya (pada orang yang dicintai) hanya sedikit berarti juga memiliki cinta yang sedikit. 

Setelah tahu bahwa hakekat cinta itu adalah bla..bla..bla… dan elemen cinta itu adalah a….b….c….d...Pertanyaan selanjutnya adalah : bagaimana  caranya mencintai itu? ( cara mencintai saya batasi pada sesama manusia (eros dan philia) , adapun tentang cinta pada Tuhan (agape) tidak saya bahas karena takut tulisannya jadi puaaanjang buanget).

Tentang cinta pada sesama, Fromm berpendapat selama kita tidak bisa mencintai semua orang, maka kita tidak bisa mencintai seorang pun. Inti cinta sejati didasarkan pada sikap, cara berpikir atau perasaan, yang diarahkan untuk seluruh dunia dan segala isinya.
(Iya benar sekali. Kalau orang mencintai sesamanya dengan pilih-pilih atau selektif …Ooh  yang akan aku beri cinta itu mereka yang seide atau sealiran pemikiran dengan aku, yang mendukung aku, yang bisa mendatangkan manfaat atau bisa aku manfaatkan untuk kepentinganku.. orang mencintai dengan bersyarat semacam ini apakah dapat disebut orang yang mencintai?). 

Karena itu,  mengutip ajaran Yesus , Fromm mengatakan “ kita jangan hanya mencintai orang-orang yang cinta sama kita, tapi juga harus mencintai musuh kita”. Mencintai musuh (menurut penafsiran Armand F. Baker) tidak berarti kita menerima atau setuju dengan perbuatannya, tapi kita harus bisa memisahkan manusia dari perbuatannya (jadi yang dibenci atau tidak bisa ditoleransi adalah perbuatannya, bukan orangnya. Jadi mengasihi musuh dalam arti memaafkan orangnya dan tidak menaruh dendam dengan melampiaskan balasan yang setimpal. Contoh nyata dari cinta musuh mungkin bisa dilihat pada diri Nelson Mandela yang memaafkan rezim penguasa kulit putih yang menindas kulit hitam.  Tentu saja tidak mudah untuk bisa bertindak seperti Mandela, tapi bukankah cinta itu sendiri bukan suatu tindakan yang mudah dipraktekkan. Butuh usaha keras untuk bisa benar-benar mencintai.  Lebih mudah membenci atau tidak peduli,  karena tidak dibutuhkan usaha keras untuk bisa membenci seseorang. Karena itulah, Fromm menyimpulkan bahwa hanya orang yang kapasitas kepribadiannya telah berkembang matang yang memiliki kapasitas untuk mencintai sesamanya dengan kerendahan hati yang sejati, mencintai secara total tanpa pamrih. Orang semacam ini yang mampu memaknai arti cinta yang sejati). 

Jadi resep untuk mencintai sesama adalah cintailah semua orang jangan hanya mereka-mereka yang suka sama kamu, yang mengagumimu, yang suka memujimu. Cintailah juga mereka yang memusuhimu, yang iri sama kamu, yang benci sama kamu. Kalau kita bisa mencintai semua orang, bahkan juga musuh kita maka kita akan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan dan sakit hati. 

Tentang cinta pada diri sendiri, Fromm menyatakan, cinta pada diri sendiri disini sepertinya kontradiktif dengan makna cinta yang memberi, inklusif atau terbuka bagi semua orang. Cinta pada diri sendiri (self-love) harus dibedakan dengan mengutamakan kepentingan sendiri (selfishness) atau egois. Mencintai diri sendiri berarti peduli tentang diri sendiri, mengambil tanggung jawab untuk diri sendiri, menghormati diri sendiri, dan mengetahui diri sendiri (misalnya bersikap realistis dan jujur ​​tentang kekuatan dan kelemahannya). Egois tidak ada hubungannya sama sekali dengan cinta. Orang yang hanya cinta dirinya sendiri tidak kenal apa itu cinta. Orang egois jelas merugikan dirinya sendiri, sebab dengan mengutamakan kepentingan sendiri pintu hatinya menjadi tertutup bagi cinta dari sesamanya. Orang yang hidup untuk dirinya sendiri adalah orang yang kesepian. Orang yang mengasihi dirinya tidak akan mau menderita seperti ini. Karena itulah Fromm mengatakan seorang yang mengasihi semua orang juga mengasihi dirinya sendiri.  Inilah makna dari  mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. 

Kesimpulannya, untuk bisa mencintai sesama kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu yakni menghargai diri sendiri, tidak merendahkan diri sendiri, menjaga martabat diri sendiri, tahu kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Orang mencintai dirinya adalah orang yang menerima dirinya apa adanya, sehingga dia juga mudah menerima dan mencintai sesamanya sebagaimana apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. 

Selanjutnya tentang cinta asmara, menurut Fromm cinta asmara atau cinta erotis atau cinta fisik sering disalahartikan. Jika seseorang tertarik dengan orang lain karena daya tarik fisik, belum tentu itu bisa disebut cinta. Jika relasi itu hanya bersifat badaniah (fisikal) maka tidak akan bisa memuaskan kebutuhan dasar akan kebersamaan, karena daya tarik fisik tidak akan kekal. Sebaliknya, apabila cinta yang fisikal itu disertai dengan perilaku penuh cinta –berlandaskan kasih sayang kemanusiaan - maka itu akan tumbuh menjadi cinta yang dewasa yang matang. Cinta atas dasar kebutuhan kebersamaan , untuk mengarungi hidup dalam suka dan duka akan bersifat lebih langgeng.  Kata bijak yang saya kutip di awal tulisan ini menyimpulkan pendapat Fromm tentang cinta asmara : Cinta yang tidak dewasa mengatakan : “Aku cinta kamu karena aku membutuhkanmu”. Cinta yang dewasa berkata : “Aku butuh kamu karena aku mencintaimu” ( Immature love says: 'I love you because I need you.'  Mature love says 'I need you because I love you.').

Jadi  cinta asmara meskipun ada unsur ketertarikan fisik atau nafsu seksual semestinya jalinan itu “beyond physical” , lebih dari sekedar kebutuhan atau daya tarik fisik semata. Cinta asmara akan langgeng apabila dibangun di atas fondasi kebutuhan akan cinta dan kebersamaan : kebutuhan adanya pasangan jiwa tempat mencurahkan rasa sayang, teman berbagi rasa dalam mengarungi dinamika pasang surut kehidupan. Cinta asmara yang fisikal semata tidak akan langgeng, karena tubuh manusia itu tetap akan terpisah, hanya jiwa yang bisa menyatu.   Dua manusia yang menyatu dalam satu cinta menjadi two bodies and one soul” atau Fromm menyebutnya (ada di kutipan kata bijak di awal tulisan ini) “two beings become one and yet remain two” (dua makhluk menjadi satu namun tetap dua).  Inilah yang disebut Fromm sebagai mature love, cinta yang matang.  Cinta asmara yang matang itu apabila kita membutuhkan pasangan kita karena kita mencintainya, kita menghormati dan menghargai tubuh dan jiwa pasangan kita. Sedangkan cinta asmara yang belum matang adalah apabila kita mencintai pasangan kita karena kita membutuhkannya. Artinya selama kita masih membutuhkannya,  rasa cinta itu akan tetap ada, tapi jika tidak lagi membutuhkannya (mungkin karena sudah ada yang lain yang bisa memuaskan kebutuhan itu) maka cinta itu akan mudah berpindah ke lain hati.

Kesimpulannya,  cinta asmara akan langgeng  apabila  kita mencintai pasangan kita apa adanya. Mencintai apa adanya artinya kita membutuhkan keberadaannya di sisi kita semata-mata karena cinta, bukan karena membutuhkan apa-apa yang bisa diberikannya untuk membuat diri kita bahagia.  I need you because I love you.

Inti dari "The Art of Loving" -nya Fromm adalah mencintai itu adalah memberi, bukan menuntut. Yang menarik untuk kita renungkan adalah kesimpulan Fromm tentang posisi cinta di dunia kita sekarang ini. Menurut Fromm kondisi dunia saat ini bukan merupakan tempat yang subur bagi kehadiran cinta. Prinsip-prinsip dasar yang melandasi keberadaan masyarakat saat ini tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip cinta . Dalam masyarakat modern, sistem perdagangan bebas yang berbasis kompetisi menuntut orang agar selalu di posisi terdepan. Dorongan atau nafsu untuk unggul memicu hasrat manusia untuk memandang sesama sebagai pesaing yang harus dikalahkan  bahkan kalau perlu dikorbankan demi ambisinya menuju nomor satu. Manusia saat ini cenderung semakin egois  dan pengutamaan pada materialism membuat manusia menomorduakan atau bisa jadi melupakan sama sekali nilai-nilai cinta kasih, nilai-nilai spiritual.  Fromm tidak mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mencintai di dunia saat ini,  tapi dia merasa bahwa untuk bisa mencintai sesama itu sangatlah sulit, dan bahwa cepat atau lambat beberapa perubahan radikal harus dilakukan agar cinta masih bisa bertahan dan tetap bersemayam di hati manusia. 

Setelah menyelami kedalaman pemikiran Fromm tentang cinta, apakah kita tetap berpendapat bahwa cinta itu sangat sederhana dan mudah untuk diterapkan? Cinta itu tidak usah direnungkan maknanya secara filosofis karena yang penting itu prakteknya? Memangnya kita selama ini sudah bisa mempraktekkan prinsip-prinsip cinta ? Kalau jawabnya belum mari bersama-sama kita sebarkan benih-benih cinta di sekeliling kita, dan tentunya kita tidak perlu menunggu Hari Valentine untuk bisa menebar benih cinta. Karena cinta butuh aksi, tidak sekedar seremoni dan selebrasi. 

Lirik lagu WHEN GOD MADE YOU  berikut ini dengan cantik sekali melukiskan betapa indahnya cinta sehingga  sangat pas untuk didengarkan di Hari Valentine. 


dan ini versi lainnya :





Jumat, 30 Desember 2011

Renungan Akhir Tahun : Tentang Waktu , Perjalanan Hidup Manusia dan Selebrasi

“He has made everything beautiful in its time. Also he has put eternity in their hearts, except that no one can find out the work that God does from beginning to end.”  
        - Ecclesiastes 3:11 


Desember adalah bulan terakhir dalam rentang waktu satu tahun. Akhir bulan Desember  adalah saat yang pas untuk merenungkan tentang makna waktu dalam perjalanan hidup seorang manusia. 

Perjalanan hidup manusia adalah persinggahan dari suatu waktu atau momen ke suatu waktu atau momen lainnya. Waktu selalu berganti. Waktu selalu bergerak, tidak tinggal tetap.  Suka- duka, gagal- sukses, sehat- sakit, cinta- benci, konflik- rekonsiliasi, perang- damai  adalah dinamika  perjalanan hidup manusia.

Tahun hanyalah durasi waktu. Waktu satu tahun terbagi dalam bulan. Bulan terbagi dalam minggu dan minggu ke dalam  hari. Satu hari adalah durasi waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berputar pada porosnya. Satu tahun adalah durasi waktu bagi Bumi untuk berotasi mengelilingi matahari. 

Jika dipahami sebagai fenomena alam sesungguhnya memperingati pergantian tahun sama saja dengan memperingati Bumi yang telah berhasil berotasi mengelilingi matahari dengan selamat tidak ada gangguan sekecil apa pun – (amit-amit jangan sampai terjadi deh,  kalau terjadi gangguan sekecil apa pun itu sudah dapat dikatakan  kiamat)

Kalau tahun hanyalah masalah durasi waktu yang merupakan suksesi dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan ke tahun, mengapa pergantian durasi waktu satu tahun menuju tahun berikutnya menjadi begitu penting bagi manusia sehingga perlu dirayakan sedemikian hebohnya?  

Bagi manusia perubahan durasi waktu ke durasi waktu bukanlah sekedar hitungan pergantian dari hari ke bulan, bulan ke tahun. Waktu satu tahun dalam hitungan usia hidup manusia adalah jangka waktu yang cukup lama.  Pergantian tahun berarti bertambah satu tahun usia perjalanan hidup manusia di bumi dimana selama itu banyak peristiwa yang terjadi dan mewarnai perjalanan hidupnya. Manusia adalah makhluk selebrasi– segala sesuatu yang dianggap penting dan menentukan jalan hidupnya akan dijadikan momen peringatan yang dikenang dalam bentuk ritual perayaan. 

Sejarah perayaan Tahun Baru pada dasarnya berasal dari berbagai cara kuno yang digunakan masyarakat untuk menyambut musim panen baru.  Asal-usul adat istiadat yang terkait dengan perayaan Tahun Baru, mengambil akar dalam cara-cara masyarakat kuno memaknai Tahun Baru yang diamati tidak jauh dari kegiatan pertanian. Untuk orang Indian Creek, misalnya, pematangan jagung pada bulan Juli atau Agustus menandai berakhirnya satu tahun dan awal datangnya tahun yang baru (theholidayspot.com/).

Suku Indian asli,  Iroquois, memulai tahun baru pada bulan Januari, Februari atau Maret dengan melakukan upacara pengusiran roh jahat. Untuk mengusir roh-roh jahat yang berbondong-bondong datang pada  bulan-bulan pergantian tahun, mereka  membuat membuat bunyi-bunyian yang memekakkan telinga seperti meniup terompet dan memukul drum. Cara ini nampaknya menjadi ide yang melandasi mengapa di tengah malam pergantian tahun kita mendengar suara hiruk-pikuk yang memekakkan telinga seperti sirene, klakson mobil, peluit kapal, terompet, lonceng gereja, drum, panci - dan apa saja yang dibunyikan bareng-bareng saat puncak pergantian tahun.  (theholidayspot.com/) 

Sejak tahun 1900an mulai berkembang kebiasaan menghabiskan malam akhir tahun dengan berkumpul bareng-bareng di satu tempat (umumnya di hotel, tempat wisata atau turun ke jalan). Atribut dan pernak-pernik pesta seperti membunyikan terompet atau bunyi-bunyian lainnya, pesta kembang api dan begadang semalam suntuk menghabiskan sisa hari di akhir tahun  menjadi penanda perayaan penutup tahun sekaligus menyambut tahun yang baru. (wikipedia.org/). Budaya yang semula hanya dipraktekkan di Negara-negara Amerika dan Eropa , di abad globalisasi dan tehnologi komunikasi saat ini telah menyebar dan diadopsi sebagai budaya masyarakat global.  Pesta perayaan akhir tahun untuk menyambut pergantian kalender Masehi menjadi ritual tahunan yang rutin dijalani oleh manusia di hampir semua Negara di dunia, khususnya mereka yang tinggal di wilayah perkotaan. 

Para warga kaya di kota-kota besar yang terintegrasi dalam budaya atau gaya hidup global  akan merayakan malam tahun baru dengan berpesta pora menghabiskan anggaran jutaan hingga milyaran. Hura-hura pesta akhir tahun ,khususnya yang dirayakan di hotel-hotel dan resort-resort mewah di seluruh kota besar dan destinasi wisata di dunia merupakan bagian dari gaya hidup hedonistis manusia kaya yang memang telah cukup bahkan berlimpah secara finansial, sehingga mengeluarkan uang puluhan atau ratusan juta hingga milyaran untuk membiayai gaya hidup yang konsumtif merupakan hal yang enteng. Selebrasi akhir tahun adalah saatnya membahagiakan diri, saatnya bersenang-senang menikmati hidup , melepaskan diri dari kejenuhan dan kepenatan fisik dan psikis akibat tekanan pekerjaan  selama satu tahun bekerja. 

Jika dulu biasanya orang menyambut tahun baru dengan tirakatan, perenungan,  dzikir, atau dengan melakukan puasa. Sekarang ini orang yang memilih cara bersunyi sepi dalam meditasi dan kontemplasi tidak lah banyak. Sebagian besar kita memilih larut dalam suasana selebrasi penuh kegembiraan. Setiap orang bebas untuk memilih cara apapun untuk memaknai pergantian tahun. Ada yang sudah jenuh dengan kebisingan hiruk pikuk dan carut marut kehidupan yang semakin materialistis-konsumtif dan merindukan suasana yang tenang, sunyi sepi untuk mendapatkan  kembali ketenangan dan kepuasan batin melalui jalan meditasi dan refleksi. Ada yang sudah lelah dengan tuntutan dunia kerja yang semakin keras dan sangat kompetitif, dan membutuhkan suasana bebas, lepas, dan penuh keceriaan.  Kelompok terbesar adalah mereka yang merayakan tahun baru karena terseret eforia massa yakni hasrat berkumpul dan bergembira bersama memperingati suatu yang sungguh abstrak  -pergantian satu durasi waktu : satu tahun.  Ada lagi kelompok yang tak tahu atau tak mau tahu atau tak perduli dengan waktu. Manusia yang tidak sadar waktu adalah mereka yang menjalani hidupnya mengalir apa adanya, jauh dari jamahan tehnologi dan gaya hidup modern.  Tantangan dan problem kehidupan hanya seputar diri, keluarga dan komunitasnya. Mereka bahkan mungkin tidak mengenal apa itu detik, menit, jam, minggu, bulan dan tahun. Tidak ada jam dan kalender di dinding rumahnya. Apa itu tahun baru dengan segala eforianya, tidak pernah terlintas di benak mereka. 

Setiap manusia mempunyai beban persoalan sendiri-sendiri yang butuh pelepasan sesuai dengan cara yang diinginkannya . Cara apapun yang dipilih tentunya itu yang dianggap paling memuaskan dan paling bisa memberi kebahagiaan batin. Setelah sepanjang tahun menjalani kehidupan yang keras dan kejam, manusia butuh keseimbangan. Selebrasi tahun baru – dengan cara apapun – adalah media untuk mencapai keseimbangan. 

Menurut saya, yang paling bahagia adalah manusia yang tidak mengenal jangka waktu dan dibelenggu oleh waktu dan tenggat waktu. Setiap saat, setiap momen, setiap hari adalah hari-hari baru dengan semangat baru. Hidup adalah persinggahan sementara manusia ke bumi. Bagaimana kita mau mengisi kunjungan itu tergantung pada diri kita masing-masing. Waktu adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Kita tidak bisa memperpanjang waktu yang diberikan pada kita, tetapi kita dapat menggunakannya dengan bijaksana atau sebaliknya mengisinya dengan hal-hal yang sia-sia. Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita.

Apa pun cara yang dipilih untuk menghabiskan akhir tahun 2011 saya berharap semoga itu bisa mendatangkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup bagi anda semua. Akhirnya saya ucapkan : Selamat Tahun Baru 2012 ! God Bless Us !

Untuk  menyambut Tahun Baru 2012, lagu Enya "ONLY TIME " saya rasa cocok untuk menemani perenungan soal waktu dan perjalanan hidup manusia.


Gambar : ridgepointeseniorliving. com