Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2016

Media Sosial dan Etika Kantor : Belajar dari kasus Ridwan Kamil

Menarik membaca cuitan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (RK) di twitter yang curhat soal ditolaknya kunjungan Wakil Walikota Bandung  untuk studi banding ke Pemkot Surabaya. Meski menyesalkan perlakuan Pemkot Surabaya tapi RK tidak akan membalas dengan perlakuan yang sama jika Pemkot Surabaya ingin studi banding ke Bandung (SUMBER

Begini screenshot cuitannya :
Sy menyesalkan, Wakil walikota Bdg ditolak studi banding ol pemko Surabaya.Insya Allah dg visi NKRI kami di Bdg akn terima siapapun ut studi

walaupun dibegitukan, kami tetap dgn terbuka menerima tim pemko Surabaya di Des'15 yg studi banding terkait manajemen raskin ke pemkot bdg.

Bagaimana kok sampai muncul  cuitan di atas? Ceritanya Wawali Bandung Oded M. Danial bersama delapan orang dari Dinas Pelayanan Pajak ingin belajar soal kesuksesan pendapatan pajak Pemkot Surabaya. Namun Pemkot Surabaya tidak menyambut baik kunjungan ini. Alasannya , menurut Oded, karena Walikota Surabaya cuma memberi disposisi berbentuk UMP (Untuk Menjadi Perhatian) terhadap surat permintaan  dari Pemkot Bandung,  sehingga semua SKPD tidak ada yang mau menerima kunjungan mereka. (SUMBER

Cuitan RK di twitter mendapat tanggapan beragam, namun sebagian besar menyayangkan kenapa masalah kedinasan itu harus diekspos ke publik. Menurut Kamil ia perlu mengunggah ke media sosial karena kunjungan itu memakai duit rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. 

Ario Bayu Prakoso me-Retweet ridwan kamil
Yatapi kang @ridwankamil, teu perlu di-twit-keun ateuh. Naon manfaat na publik tau?

ridwan kamil me-Retweet Ario Bayu Prakoso
kunjungan dinas itu pake duit rakyat yg harus dipertanggungjawabkan.

ini bukan soal lebay baper dll. ini utk jadi perhatian. krn bukan yg pertama. ini pernyataan wakil walikota bandung.

Menanggapi twitter RK, Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana menyatakan RK seharusnya bisa menyikapinya secara negarawan bukan dengan sikap kekanak-kanakan. Selain itu kata Whisnu, sebagai kepala daerah mestinya  RK cukup menyelesaikan masalah tersebut lewat jalur komunikasi antar birokrasi pemerintah tanpa berkicau di medsos.  "Kan bisa langsung telepon ke Bu Risma atau mempertanyakan langsung kenapa tidak bisa?" imbuhnya. Whisnu yang juga Ketua PDIP Kota Surabaya menegaskan Pemkot Surabaya tidak akan menanggapi serius kicauan Wali Kota Ridwan Kamil dengan mendesak meminta maaf terbuka pada Pemkot Surabaya. "Bagi saya urusan seperti itu tidak ngefek gitu lho. Selama tidak langsung berkepentingan dengan masalah kesejahteraan rakyat Surabaya, ya biarkan saja," pungkas Whisnu Sakti (SUMBER

Dari kasus di atas bisa dilihat bagaimana masalah miskomunikasi internal antar birokrasi begitu dibuka lewat media sosial bisa memicu reaksi yang berlebihan dan menyeret komentar publik bermacam-macam,  yang tentu saja belum tentu benar.  Aplikasi media sosial  di dunia kerja membawa implikasi beragam , bisa positif dan bisa negatif. Negatifnya adalah pelanggaran etika menjadi terbuka lebar.  Riset yang dilakukan Ethics Resource Center  menemukan bahwa selama 2 tahun terakhir 45 % pegawai di US terdeteksi melakukan pelanggaran etika. Penggunaan sosial media diidentifikasi berkontribusi pada gejala ini (SUMBER

Kita saat ini tengah mengalami euforia media sosial. Kita mendapat mainan baru , merasa menjadi bagian masyarakat melek tehnologi informasi. Rasanya belum eksis kalau kita tidak punya Facebook, twitter, WA, Instagram, dan kawan kawan.  Aplikasi media sosial di dunia kerja membantu pertukaran informasi menjadi lebih mudah dan cepat. Tapi kalau media sosial  tidak dikelola dengan  hati-hati akan mengundang banyak kerugian seperti  membuka peluang terjadinya conflict of interest, penyalahgunaan sumberdaya kantor, menurunnya produktivitas kerja dan yang sering terjadi sebagai arena untuk menyebarkan rahasia kantor atau mem-bully rekan kerja.

Dari  kasus twitter RK bisa ditarik pelajaran :
  • tidak semua masalah harus diungkapkan di media sosial. Apalagi masalah kedinasan yang tentu saja punya jalur resmi.
  • Masalah yang menyangkut conflict of interest yang melibatkan pihak tertentu, tidak perlu diekspos di medsos sehingga diketahui dan menjadi bahan perbincangan banyak orang yang tidak berkepentingan.
  • Jangan melempar isu yang belum jelas duduk persoalannya ke medsos. Lebih baik dicari sumber permasalahannya dulu jangan-jangan hanya masalah miskomunikasi. Jangan sampai masalah yang sebenarnya sederhana menjadi rumit dan berbelit-belit gara-gara mendapatkan bumbu berlebihan di medsos.


Mari kita ber-medsos ria, tapi sebagai kontrol ada baiknya kita baca nasihat Gus Mus ini : 


Gambar 1 : www.123rf.com
Gambar 2 : www.santabanta.com

Jumat, 30 Mei 2014

Donna Donna : Tentang kehendak bebas dalam pilihan politik

Satu bulan lagi, tepatnya tanggal 9 Juli 2014, kita akan memilih  Presiden dan Wakil Presiden. Mendekati hari pemilihan, persaingan antar kubu kandidat presiden semakin panas. Segala cara dan strategi dilakukan untuk mengambil hati rakyat agar mau menjatuhkan pilihan pada  salah satu kandidat. 

Dalam kontestasi politik, rakyat sepertinya hanya sebagai pelengkap penderita...dihargai saat suaranya dibutuhkan atau difungsikan sebagai batu loncatan  untuk meraih kekuasaan. Nasib terburuk… siap dijadikan tumbal saat terjadi konflik antar  elite yang berebut kuasa. Berapa nyawa rakyat yang harus dikorbankan saat meruntuhkan Orde Lama? Berapa orang yang dibakar dan berapa perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual saat melengserkan rezim Orde Baru? Di luar negeri, berapa banyak nyawa rakyat yang hilang saat rezim Nazi di Jerman? Saat konflik politik di Mesir dan Suriah? dan masih banyak lagi.

Bicara tentang posisi rakyat dalam kompetisi berebut kuasa jadi ingat lagu Donna Donna yang menjadi soundtrack film Gie (2004) atau Soe Hok Gie,  aktivis mahasiswa di jaman Orde Lama. Lagu Donna Donna aslinya adalah lagu rakyat Yahudi yang dipopulerkan oleh Joan Baez di tahun 1960. Ada yang mengatakan lagu ini lagu yang dinyanyikan orang Yahudi saat dalam perjalanan menuju kamp konsentrasi atau rumah pembantaian Yahudi di Auswitch, Polandia. Lirik lagu ini sendiri bercerita tentang seorang petani dengan anak sapinya saat dalam perjalanan menuju ke rumah jagal. Dengan muka sedih si anak sapi yang mau disembelih melihat burung yang terbang bebas di angkasa. Si petani bilang …udah nggak usah komplain …siapa suruh kamu jadi anak sapi…coba kamu punya sayap, kamu bisa terbang bebas seperti burung di langit. Bait akhir lagu ini menyimpulkan anak sapi mudah untuk dibunuh tanpa tahu apa alasannya. Namun bagi yang memiliki kebebasan akan bisa terbang bebas seperti burung layang-layang di angkasa.

Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom
Like the swallow must learn to fly.

Apa yang bisa dipelajari dari lirik lagu ini ?

Lagu ini bicara tentang posisi rakyat kecil yang mudah dijadikan tumbal kerakusan elite berebut kekuasaan politik.

Mengapa rakyat mudah menjadi korban?


Mengapa rakyat tidak bisa bebas menentukan nasibnya sendiri?

Apa selamanya rakyat hanya selalu sebagai tumbal dalam perjuangan perebutan kekuasaan ? Apa selamanya rakyat hanya tunduk manut pada arahan (agitasi dan indoktrinasi) para elite ?

Jawabnya : Who told you a calf to be ? Siapa suruh kamu jadi anak sapi ?

Kenapa kamu tidak memilih untuk menjadi seperti burung yang terbang bebas di udara?

Sesungguhnya, demokrasi yang genuine memberikan kita hadiah yang tidak dimiliki oleh otokrasi ….yakni kehendak bebas…free will…kedaulatan penuh untuk ikut menentukan pimpinan Negara

Dalam otokrasi , rakyat adalah anak sapi atau domba

Dalam demokrasi rakyat adalah burung yang terbang bebas

Tapi,

Demokrasi bukan pasangan ideal dari kemiskinan dan kebodohan

Karena miskin dan ketidaktahuan, banyak burung yang memilih menjadi domba atau anak sapi

Karena lapar, pilihan politik bukan disetir oleh kehendak bebas tapi kehendak kebutuhan perut…kita memilih mereka yang bisa bayar

Karena ketidaktahuan dan tidak mau tahu, kita tidak mendengarkan suara hati dan lebih mengikuti irama genderang yang ditabuh para elite

Kita punya pilihan untuk bebas memilih sesuai bisikan hati nurani, tapi kita lebih mendengarkan bisikan elite  untuk memilih sesuai kepentingan mereka

Kita punya nalar sehat untuk membuat pilihan bebas,  namun lebih memilih  tunduk pada panduan elite  dengan alasan yang tidak masuk akal sekali pun.

Kita tutup mata atas segala kelemahan dan cacat cela para elite panutan. Apapun pilihan elite itu yang terbaik buat kita.

Siapa suruh kita jadi domba?

Siapa suruh kita jadi tumbal kerakusan para elite berebut kuasa?

Dalam demokrasi ….. bagi yang mampu dan tahu …. memilih untuk menjadi burung atau domba sepenuhnya pilihan ada di tangan kita.

Dan kalau kita bisa jadi burung, kenapa memilih jadi domba.

Jatuhkan pilihan politik sesuai bisikan nurani, bukan apa kata mereka.


Selamat memilih.


=============================

Ini suara merdu Sita menyanyikan DONNA  DONNA :


Dan ini LIRIK LAGUNYA :




Rabu, 21 Mei 2014

Soal Integritas dalam Kontestasi Politik dan Jose Mujica

Tahun 2014 benar-benar jadi tahun politik. Baru saja pemilihan legislatif usai, kini disusul dengan hingar bingar pemilihan presiden. Pemilu adalah hari-hari dimana rakyat Indonesia terpaksa menonton  jungkir balik manuver politik yang dipertontonkan para politisi dan kandidat presiden. Rasanya jengah, muak bin mual melihat kerakusan dan nafsu berebut kuasa yang nampak “mloho” (bahasa Jawa transparan) tanpa ditutupi. Syahwat berkuasa membuat mereka membuang segala rasa malu dan harga diri.

Ada pasangan capres-cawapres yang kompak  beriklan di TV milik pribadi bak main di sinetron kejar tayang…tiap hari muncul dengan acting lebay dan dibuat-buat seolah-olah pro-rakyat kecil. Ada lagi capres dari parpol besar yang karena kepedean, jual mahal waktu didekati mau diajak berkoalisi. Dia merasa pantas jadi nomor satu, tidak  mau jadi nomor dua.  Saat batas waktu pendaftaran  calon  presiden belum juga dapat pasangan, bingunglah dia.  Akhirnya kesana kemari menawarkan diri cari pasangan. Banting harga, jadi nomor dua ya mau. Tapi sudah turun harga pun, tetap tidak ada yang mau. …yah akhirnya terpaksa menjomblo. Dari jual mahal sampai akhirnya ….tidak dapat apa-apa. Terus, ada lagi yang sakit hati dikhianati atau ditolak lamarannya dan akhirnya memindahkan dukungannya ke capres lawan.

Memperhatikan  perilaku para politisi saat pileg dan menjelang pilpres besok 9 Juli, saya sampai pada kesimpulan bahwa motivator utama mereka berpolitik masih sebatas tujuan meraih kekuasaan. Proses, cara dan mekanisme menuju kekuasaan menjadi tidak penting. Akibatnya, integritas menjadi barang langka.  Kata dan tindakan bisa seenaknya di-setting disesuaikan dengan arah kepentingan politik. Omong kosong itu segala macam  jargon ideologi dan platform partai. Ada partai yang melabeli dirinya sebagai partai nasionalis atau partai religius. Pada mulanya kontestasi politik antar parpol sangat rigid, tapi kemudian mencair saat ternyata tidak ada parpol yang menang dominan. Karena harus cari kawan koalisi untuk bisa mengusung capres-cawapres mulailah terjadi transaksi bak jual beli di pasar. Ada pendekatan, terus tawar menawar, bagi-bagi siapa memberi apa, siapa dapat apa. Disini yang namanya ideologi dan platform partai tidak lagi penting. Ada partai yang semula saling ejek, saling kritik dan cari kelemahan pesaing berubah menjadi saling rangkul, saling jilat, dan saling menghamburkan  puja-puji.

Yeah, all is fair in politics ! Tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Demi tujuan dan kepentingan meraih kekuasaan, segala cara apa pun dianggap halal.

Sungguh perilaku politik yang tidak “elegant”. Persaingan menuju kekuasaan tidak dilandasi adu gagasan strategis -visioner yang ditawarkan untuk membenahi kondisi bangsa dan Negara, tapi terjebak pada black campaign menebar isu-isu SARA , ejek-ejekan antar pemandu sorak para capres, sikut menyikut dan saling menelikung.  Yang mereka pertontonkan ke publik hanyalah seni berpolitik dagang sapi atau politicking, bukan civic education

Yang bikin tambah sedih, inkonsistensi perilaku politik juga ditunjukkan kaum intelektual yang terjun ke politik praktis. Saat memasuki masa-masa kampanye pileg, saya memiliki satu dua tokoh dari akademisi yang saya kagumi karena saya anggap mereka memiliki karakter dan integritas bagus.  Saya meletakkan harapan akan eksistensi NKRI di tangan segelintir tokoh yang saya anggap negarawan dan berjiwa besar. Tapi perkembangan persaingan politik paska deklarasi capres dan cawapres membuat saya kecewa. Ternyata negarawan yang berintegritas di Indonesia sudah benar-benar langka. Bagaimana mungkin seorang dengan tingkat pendidikan tertinggi, dengan sejarah kepemimpinan yang bagus ….hanya karena kalah dalam kompetisi politik …bisa berubah menjadi pribadi yang pragmatis….apakah  prinsip, nilai dan etika berpolitik yang mengutamakan kepentingan kelangsungan masa depan bangsa dan negara sudah kalah oleh sakit hati dan kecewa karena kepentingan pribadi :  kalah berebut kuasa dan jabatan. Ada seorang professor yang ikut membidani lengsernya rezim Orde Baru, kini bergabung dalam koalisi pengusung capres yang dulu dengan keras dikritiknya sebagai pelanggar HAM (kontras.org ). Berita terbaru, yang bikin tambah nyesek adalah diangkatnya professor hukum dan anggota Dewan Penasehat Komnas HAM sebagai Ketua Tim Pemenangan capres yang dituduh pelanggar HAM (kompas.com).   Kemana larinya spirit intelektualitas para akademisi ini? Kalau ditanya apa sih motivasi para pakar dan guru besar saat memutuskan terlibat dalam politik praktis , saya bisa menebak jawaban idealnya adalah untuk ikut membenahi sistem dari dalam. Tapi apa hasilnya? ….Boro-boro bisa ndandani (memperbaiki kondisi)…  yang terjadi mereka malah  tersedot ke dalam pusaran sistem yang busuk.

Terus terang saya sedih …mesti saya tidak kenal tokoh ini secara pribadi , tapi rasanya saya seperti orang yang dikhianati oleh orang yang kita percaya …yang kita kagumi karena integritasnya. Yah,  ternyata dia hanya segitu ya…

Kehilangan respek itu sungguh menyesakkan
Karena didalam respek ada kepercayaan
Didalam kepercayaan ada harapan
Dan harapan adalah …..setitik cahaya yang menuntun kita menemukan jalan keluar dari kegelapan
Tidak ada yang lebih menakutkan selain kehilangan dan tidak punya panutan

Saat ini,  siapa sih  tokoh yang masih bisa kita pegang ucapannya? Yang bisa kita teladani tindakannya?
Kenapa ya susah banget cari pemimpin dengan karakter kuat dan berpegang kuat pada prinsip dan idealisme. Konsistensi dalam kata, sikap dan perbuatan dan berpegang pada etika politik adalah bukti integritas  seorang negarawan. Ini yang susah saya dapatkan pada mereka yang terjun ke politik.

Untuk menghibur diri agar tidak larut dalam apatisme,  saya lari ke Om google saya ingin tahu apakah ada pemimpin Negara yang tidak haus kuasa dan harta.  Iseng-iseng saya tulis “presiden termiskin di dunia” dan jawabannya adalah Jose Mujica. Membaca profil Mujica, saya merasa terhibur nggak lagi sedih, ternyata masih ada lho pemimpin negara yang tidak gila jabatan dan tidak doyan duit. Meski bukan orang Indonesia, paling tidak ini membangkitkan kepercayaan dan harapan saya bahwa suatu saat di Indonesia pun  bisa lahir presiden seperti Mujica.

Siapa Jose Mujica?

Jose Alberto Mujica Cordano adalah Presiden Uruguay sejak tahun 2010. Mujica jadi sorotan dunia karena gaya hidupnya yang sederhana. Mujica menyerahkan 90 persen dari gajinya per bulan sebesar Rp 116 juta  untuk beramal kepada warga yang miskin dan membutuhkan. Ia hanya menyisakan Rp 7,7 juta gajinya untuk membiayai hidupnya.  Mujica tinggal di rumah peternakan milik istrinya di pinggiran Montevideo. Rumah peternakan ini bisa dibilang rumah sangat-sangat sederhana. Tidak ada Paspampres yang menjaga ketat rumahnya, yang menjaga hanya  dua orang polisi serta beberapa anjing milik Mujica, salah satunya Manuela yang berkaki tiga. Tidak ada pula  kepala pelayan atau kepala rumah tangga yang melayani dan memasak apa saja seperti layaknya rumah kepala negara. Mujica dan istrinya bekerja sendiri memenuhi kebutuhan mereka. Termasuk menggarap tanah pertanian mereka dengan bercocok tanam bunga krisan untuk dijual. Pada tahun 2010, saat menjadi presiden, harta kekayaan Mujica berjumlah US$ 1.800 atau Rp 17,4 juta, ini nilai dari mobil VW Kodok lawas tahun 1987 miliknya.

Apa komentar Mujica tentang gaya hidupnya ini ?

"Saya mungkin terlihat sebagai manusia tua yang eksentrik. Namun ini adalah pilihan bebas. Saya telah hidup seperti ini di sebagian besar hidup saya. Saya bisa hidup dengan baik dengan apa yang sudah saya punya," kata Mujica seperti dilansir dari BBC.

"Saya dijuluki 'presiden termiskin', tapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin itu adalah mereka yang hanya bekerja untuk memenuhi gaya hidup yang mahal, dan selalu ingin lebih dan lebih. Ini hanyalah masalah kebebasan, jika Anda tak memiliki banyak keinginan, Anda tak perlu bekerja seumur hidup seperti budak untuk memenuhinya. Dan dengan begitu Anda memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri," tutur Mujica.

Wow..Jose Mujica benar-benar presiden yang keren. Dari Mujica saya dapat pelajaran berharga yaitu : “Orang miskin itu adalah orang yang dibelenggu oleh hasrat dan keinginan untuk mendapatkan  (harta, kuasa, jabatan) yang lebih dan selalu ingin lebih”.  Orang-orang ini bukanlah orang merdeka, mereka adalah budak seumur hidup dari nafsu keserakahannya. Berbahagiakah orang-orang seperti ini ? Saya yakin tidak. Lihatlah wajah-wajah mereka yang tidak lagi malu menunjukkan hasrat akan kuasa. Apakah terpancar ketulusan dan kebahagian di raut muka mereka?.  

Artikel terkait :    Tentang Integritas

Gambar :

Rabu, 08 Januari 2014

Ranjau paku dan soal moralitas sosial

Ada berita di Kompas 6 dan 7 Januari 2013 yang bikin saya geleng-geleng kepala, bener-bener nggak habis pikir  yakni soal ratusan kilogram paku yang ditebar di jalanan besar di ibukota Jakarta. Paku-paku ini sengaja disebar, di dekat lokasi tambal ban untuk menjebak pengendara sepeda motor agar terpaksa menambalkan ban motornya yang kempes. Ranjau paku istilah yang sangat tepat.

Sumber : Kompas, Senin 6 Januari 2013

Fenomena ini sangat menarik dan merangsang munculnya banyak pertanyaan di benak saya. Kalau hanya satu dua tukang tambal ban yang tidak jujur dalam mencari nafkah dan hanya beberapa biji paku yang disebar itu masih sekedar kasus. Tapi kalau paku yang terkumpul sudah ratusan kilo , itu bukan lagi kasus tapi sudah terrr..laa..luu !! Sudah sedemikian egoiskah mereka hingga menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasrat ekonominya ? Mengapa mereka tega berbuat demikian? Bukankah selama ini orang Indonesia dikenal dan mengaku sebagai orang yang sangat religius, suka tolong menolong dan bergotong royong , namun mengapa moralitas sosial dan tanggungjawab publik mereka sangat rendah?

Apa itu moralitas sosial ?

Moralitas sosial berbicara tentang bagaimana kita memperlakukan sesama,  seperti aturan emas atau golden rule yang mengajarkan “hargailah orang lain sebagaimana dirimu ingin dihargai“ atau “Perlakukanlah orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan oleh orang lain”. Golden rule ini  bersifat universal dalam arti semua manusia sepakat bahwa  penipuan, pencurian dan pembunuhan adalah tindakan tak bermoral. Sebaliknya, prinsip-prinsip moral yang mengatur bagaimana orang mengatur diri pribadinya seperti cara beribadah, cara berpakaian, makan, menikah dan berhubungan seksual merupakan wilayah moralitas personal. There’s far less agreement about this kind of morality. It’s highly personal. So we call it “personal morality . (http://www.downsizedc.org/). Jadi, moralitas sosial lebih berkenaan dengan prinsip-prinsip yang mengarahkan bagaimana tindakan kita terhadap manusia lainnya sehingga berdampak langsung terhadap keharmonisan hidup dan kesejahteraan manusia. 

Kembali ke kasus ranjau paku, mengapa para tukang tambal ban rendah sekali moralitas sosialnya sehingga tega mengorbankan orang lain untuk memenuhi kepentingan pribadinya?

Bagong Suyanto, dosen Sosiologi Unair Surabaya (Kompas.com ) berpendapat “…umumnya alasan bertahan hidup menjadi motivasi para pelaku penebaran paku itu. Mereka merupakan irisan dari komunitas urban yang tidak mampu menaikkan mobilitas, sementara persaingan dan biaya hidup di Ibu Kota kian tinggi. persoalan itu pertama-tama belum dapat dilihat sebagai persoalan hukum atau moralitas, tetapi persoalan sosial. Pada satu sisi, mereka dapat didudukkan sebagai tersangka, tetapi pada sisi lain mereka adalah kelompok yang tidak mampu berhadapan dengan situasi sosial perkotaan.

Menurut Bagong Suyanto fenomena ranjau paku lebih dilihat sebagai persoalan desakan sosial ekonomi, bukan sebagai persoalan hukum atau moralitas. Tapi tindakan merugikan dan bahkan membahayakan orang lain tetaplah tidak bisa dibenarkan secara moral,  apapun motivasi yang mendorong tindakan tersebut. Apalagi ranjau paku ini sudah disebar secara terencana dan melibatkan banyak pelaku. Suatu tindakan yang tidak benar apalagi dilakukan oleh banyak orang atau suatu komunitas tanpa ada rasa bersalah, maka pasti ada yang tidak benar di tatanan nilai dan moralitas sosial.

Johan P.Taulani , ketua relawan pengumpul ranjau paku, mengatakan "Sepanjang 3,2 km jalan ini (flyover Roxy Mas hingga jalan Hasyim Asyari), saya itung ada 32 tambal ban. Paling yang jujur cuma 2" (Kompas.com ). Apa artinya ini? Artinya mayoritas para tukang tambal ban berpikiran menyebarkan ranjau paku untuk menjaring korban tidak lagi dianggap tindakan yang jahat. Mereka sudah kebal, sudah imun dari rasa bersalah atau dosa.

Pertanyaan yang menghantui pikiran saya : apakah terkikisnya moralitas sosial ini hanya terjadi di lapisan masyarakat bawah seperti para tukang tambal ban ? Bagaimana dengan moralitas sosial di profesi terhormat lainnya ?

Bagaimanakah moralitas sosial profesi dokter? Berapa banyak dokter yang tega mengorbankan pasien demi tuntutan hasrat atau target-target ekonomi?

Bagaimana dengan aparatur Negara ? Berapa banyak PNS, pejabat pemerintah, polisi, anggota legislatif yang tega mengorbankan masyarakat atau konstituen demi memenuhi hasrat akan jabatan, kuasa, dan kekayaan material?

Bagaimana dengan profesi guru dan dosen ? Berapa banyak guru dan dosen yang tega mengorbankan murid dan mahasiswa  demi ambisi pribadi akan jabatan, pangkat dan kariernya? (Ini bahan untuk introspeksi saya pribadi)

Banyaknya pejabat negara yang terjerat kasus korupsi adalah bukti nyata cara pikir model para penyebar ranjau paku yakni menyalahgunakan kekuasaan dan kekayaan negara untuk memperkaya diri , keluarga dan kroninya dengan mengorbankan dan merebut hak rakyat untuk mendapatkan kesejahteraan sosial. Dan apabila cara pikir dan perilaku yang sama juga diikuti banyak profesi lainnya, maka dapat dikatakan krisis moralitas sosial tengah melanda bangsa Indonesia. 

Kesimpulannya, menipisnya moralitas sosial bisa terjadi di semua lapisan dan klas dalam masyarakat dan bisa didorong oleh banyak motif. Tapi yang pasti semua faktor penyebab itu berujung pada satu muara : Keserakahan.


Sabtu, 12 Oktober 2013

COUNT ON ME : Adakah persahabatan seperti di lirik lagu Bruno Mars ini ?

A true friend never gets in your way unless you happen to be going down - Arnold H.Glasgow

Ini hari Sabtu...week end .... dan libur minggu kali ini menjadi long week end karena ditambah lagi bonus dua hari libur Idul Adha. Saat yang tepat  untuk dolan dan happy-happy dengan keluarga. Tapi tidak untukku. Himpitan tugas memaksaku untuk “istirahat” di depan komputer... merampungkan laporan penelitian dan segala macam tuntutan outputnya yang di-deadline harus sudah dikumpulkan tanggal 25 Oktober 2013.

Untuk refreshing, aku harus cukup puas dengan hiburan di seputaran rumah. Nonton TV misalnya. Begitu klik channel TV ..eh.... beritanya nggak ada yang good news  yang bisa buat kepala jadi enteng, bikin hati jadi mak nyes, bibir jadi tersenyum.  Yang ada malah berita yang bikin tambah stress dan pusing. Mulai soal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang marah dikait-kaitkan dengan Bunda Putri (siapa lagi ini ?!) oleh tersangka korupsi impor daging sapi , kasus Ketua MK tertangkap tangan KPK menerima sogokan kasus Pilkada, kasus pembunuhan dengan modus yang semakin aneh-aneh, dan banyak lagi berita yang bikin perut jadi mules, mulut jadi judes.

Udah ah …matikan TV aja. Lebih enak dengerin musik. Dari selancar di internet aku ketemu lagu Count On Me yang dinyanyikan Bruno Mars. Begitu denger musik dan syair lagu ini…stress hilang yang ada perasaan tenang dan teringat kenangan indah dengan orang-orang terdekat …khususnya sahabat. Lirik lagu ini berkisah tentang persahabatan. Tentang orang yang saling menopang, saling mendukung khususnya saat dalam pencobaan, dalam kesulitan dan kesedihan.

If you ever find yourself stuck in the middle of the sea,
I'll sail the world to find you
If you ever find yourself lost in the dark and you can't see,
I'll be the light to guide you

Wow …betapa bahagianya kalau kita punya banyak orang yang siap berkata seperti petikan syair di atas di saat kita dalam masalah. Ya demikian itulah sahabat. Seorang sahabat tidak hanya menerima, tapi juga memberi.  Sahabat tidak hanya butuh dihibur, tapi juga menghibur. Sahabat bukan hanya teman saat suka, tapi lebih lagi teman saat duka.  A friend in need is a friend in deed.

Sahabat tidak akan berkhianat, seperti Brutus mengkhianati Julius Cesar, Yudas mengkhinati Yesus atau Delilah mengkhianati Samson. Betapa banyaknya kita jumpai Brutus dan Yudas di panggung politik . Terlebih lagi di Indonesia yang sebentar lagi  di tahun 2014 akan menghadapi Pemilu. Tunggu saja Brutus dan Yudas-Yudas akan banyak bermunculan. Benar sekali kalau dikatakan sulit menemukan sahabat atau pertemanan yang sejati dan abadi di dunia politik, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Hari ini teman, besok bisa jadi musuh. Hari ini bagian dari koalisi, besok oposisi.   

Aku jadi bertanya-tanya persahabatan macam apa yang terjalin di antara para pejabat dan politisi kita. Bagaimana pertemanan antara Megawati dengan mantan menterinya , SBY,  yang sekarang menjadi Presiden? Bagaimana pertemanan antara SBY dengan mantan wakil presidennya, Yusuf Kalla? Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat,  dengan mantan wagubnya Dede Yusuf? Atau pertemanan antara Gubernur Banten Ratu Atut dengan Wagubnya Rano Karno?

Di lingkup terdekat, di tempat kerja dan di tempat tinggal kita, adakah kita mudah menemukan persahabatan yang sejati? Jangan-jangan selama ini energi dan waktu kita habis terfokus untuk urusan kerja dan kerja, kompetisi dan kompetisi, sehingga lingkungan kerja dan tempat tinggal tidak menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya pertemanan. Kita melihat rekan kerja atau tetangga dari sisi apa yang mereka miliki dan apa yang kita miliki. Bukan apa yang bisa bersama-sama kita miliki dan bersama-sama bisa kita raih dan bersama-sama pula kita nikmati dan kita bagi. Jangan-jangan….kita ….kamu….aku…saling menjadi Brutus dan Yudas bagi yang lain. Kalau benar seperti ini, sulit tercipta surga di lingkungan kita. Semoga saja tidak demikian.

Oh ya…ngomong-ngomong, ini libur panjang kan? Santai saja yuk, daripada mikir politik dan  orang-orang yang pada rebutan kekuasaan yang bikin hati jadi tambah panas, mending kita nyanyi…

You can count on me like one two three
I'll be there
And I know when I need it I can count on you like four three two
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah

Jika ingin tahu lirik lengkapnya, bisa diklik DISINI :





Catatan : Lagu ini aku persembahkan untuk : my hubby yang kemarin tanggal 11 Oktober baru aja ultah. Buat my best friend bu lili,  makasih telah bantu aku menyelesaikan tugas penelitian dll dan  untuk semua rekan kerja mari kita jadikan tempat kerja kita sebagai tempat yang nyaman tidak hanya untuk kerja, tapi juga tempat untuk mendapatkan teman berbagi dalam suka dan duka.


Selamat menikmati liburan dan tak lupa selamat menyambut Idul Adha buat teman-teman muslim semua. 

Gambar : juliefisipuns

Senin, 16 September 2013

Miss World 2013 di Indonesia : Kontes kecantikan dililit kepentingan ideologis dan politik

Ajang kompetisi kecantikan sejagad Miss World 2013 yang berlangsung di Indonesia tengah menjadi isu panas.

Sebelumnya saya tidak begitu tertarik dengan kontes kecantikan ini, karena paling-paling tidak jauh berbeda dengan Miss Universe atau ajang miss-miss lainnya termasuk produk dalam negeri seperti Miss Indonesia, Putra-Putri , Abang-None, Cak-Ning, dll...dll. Intinya,  kecantikan dan ketampanan dilombakan dengan dibumbui dengan kecerdasan dan kepribadian atau istilah kerennya “inner beauty”. Dibungkus dengan alasan apapun kontes-kontes semacam ini tetaplah, substansinya,  lomba kecantikan fisik dan wajah bukan lomba kecerdasan atau intelektualitas. Syarat utama tentu saja tubuh (body) yang proporsional dan wajah yang sedap dilihat, baru kemudian inner beauty.

Saya mulai tertarik mengikuti perkembangan Miss World 2013 saat kontes kecantikan ini menyulut perdebatan sengit antara mereka yang pro dan kontra terhadap penyelenggaraan kontes ini di Indonesia.  Perang wacana tidak hanya di media massa tapi juga merebak ke demo-demo penolakan di beberapa kota di Indonesia.

Ada beberapa point penolakan tapi intinya Miss World ditolak karena ada sesi perempuan pamer kemolekan tubuh dengan pakai bikini.  Tidak disangkal lagi Miss World dan kembarannya Miss Universe ( dan juga American Idol dan X Factor ) adalah produk  industri entertainment  Barat.  Miss World dan Miss Universe menjadi bukti pintarnya pelaku bisnis   memanfaatkan  kecantikan dan keindahan fisik perempuan sebagai pertunjukan yang dapat mendatangkan keuntungan (profit). Di kedua kontes ini perempuan diadu bukan hanya kecantikan parasnya tapi juga proporsi tubuhnya. Darimana bisa tahu tubuh kontestan itu proporsional?  Ya dilihat lekuk liku tubuhnya. Bagaimana caranya? Ya disuruh pakai baju renang model two pieces alias bikini.

Lenggak lenggok pamer tubuh dengan pakai bikini ...  membuat kontes Miss World sangat Barat banget. Menurut pandangan feminis dan gender,  Miss World dituduh terlalu mengeksploitasi tubuh perempuan. Tubuh perempuan dilombakan, dipamerkan, dan dipertontonkan sebagai hiburan atau pertunjukkan yang dipelototi mata jutaan pemirsa TV di berbagai belahan dunia. Dari pespektif nilai agama dan budaya, pamer tubuh ke publik bertentangan dengan ajaran agama dan budaya Indonesia yang menganggap tubuh perempuan sebagai wilayah privat yang saru (memalukan) kalau diekspos ke publik. Tidak heran pabila tiap kali Indonesia mengirim  wakilnya untuk mengikuti kontes kecantikan dunia selalu saja mengundang polemik panas seputar harkat tubuh perempuan. Siapa pun perempuan yang berangkat mewakili Indonesia di kontes kecantikan dunia harus siap di-bully secara verbal oleh massa yang kontra dengan kontes ini.

Pertanyaannya, kenapa kontes kecantikan yang kontroversial ini akhirnya bisa diselenggarakan di Indonesia? Tentunya panitia Miss World telah mempersiapkan acara ini dengan matang, termasuk perijinannya. Tak mungkin kontes bertaraf internasional diadakan tanpa mengantongi ijin pemerintah. Dan tentu saja semua proses perijinan ini butuh persiapan waktu yang lama.

Pertanyaannya lagi, kalau sudah tahu akan banyak penolakan terhadap kontes pamer tubuh perempuan kok akhirnya pemerintah memberikan ijin? Pemerintah jelas tidak akan membiarkan setiap pertunjukkan atau hiburan yang mengundang keramaian dan pengumpulan massa di suatu tempat, apabila tahu acara itu dapat mengundang kerusuhan. Dengan kata lain, pemerintah tidak akan mengeluarkan ijin kalau dirasa pemerintah tidak mampu memberikan jaminan terhadap keamanan acara tersebut.

Kemudian, mengapa akhirnya pemerintah merubah ijin yang telah dikeluarkannya justru pada saat acara itu sudah dipersiapkan dan tidak mungkin dibatalkan lagi ?

Kasus Miss World sama dengan kasus Lady Gaga yang gagal konser tahun lalu. Jika konser Lady Gaga berhasil dibatalkan, maka kalau kasus yang sama terjadi pada Miss World tak terbayangkan bagaimana opini publik internasional terhadap integritas pemerintah Indonesia. Mengingat kontes ini diikuti oleh wakil dari 130-an negara dan acaranya disiarkan ke ratusan negara. Mestinya kalau menolak dengan alasan bertentangan dengan budaya Indonesia, penolakan itu sudah dengan tegas disampaikan pemerintah jauh sebelumnya. Bukan setelah ijin terlanjur dikeluarkan... kemudian menghadapi tekanan sekelompok massa... terus berubah pendirian. Saya yakin  pemerintah jelas tahu ada kelompok  yang akan terlukai keyakinannya oleh terselenggaranya kontes kecantikan semacam ini.  

Terlepas dari sisi negatifnya, harus diakui Miss World sebagai event internasional yang dikenal dan ditonton oleh banyak Negara menawarkan  beberapa sisi positif, utamanya untuk mengenalkan daya tarik wisata dan budaya Indonesia ke dunia. Miss World adalah pintu masuk yang mengintegrasikan Indonesia ke dalam gaya hidup dan budaya global dan sekaligus menjadi bagian dari industri hiburan internasional.  Mengijinkan Indonesia sebagai lokasi Miss World  bisa menjadi promosi pariwisata gratis ke pasar global. Adakah motif ini yang membuat pemerintah mengijinkan Indonesia sebagai Negara penyelenggara kontes Miss World? Entahlah ….tauk…gelap…

Yang membuat saya heran kalau sudah setuju, ijin sudah diberikan, mengapa pada akhirnya pemerintah berubah pendirian  pada saat sudah terlanjur sulit untuk mundur? Dan kalau penolakan Miss World karena ada bikininya, mengapa acara ini tetap ditolak meskipun sesi ini telah ditiadakan? Anehnya lagi, mengapa pemerintah terkesan tunduk patuh pada tekanan sekelompok massa?

Lagi dan lagi, Pemerintah Indonesia plin plan. Pemerintah yang berintegritas yakin bahwa setiap kebijakan dan keputusan yang diambil telah didasarkan pada pertimbangan yang matang berlandaskan pada kepentingan publik, bangsa dan negara.  Kebijakan publik bukan kebijakan yang bisa diubah-ubah semaunya seturut selera dan kepentingan penguasa apalagi karena takut pada tekanan kepentingan sekelompok massa.  Semoga saja pertimbangan pemerintah untuk tetap menyelenggarakan Miss World tapi dengan memindahkan lokasinya ke Bali,  dilandaskan pada pertimbangan keamanan dan kebaikan bersama bangsa Indonesia. Bukan karena takut pada ancaman ormas , tidak juga karena faktor  siapa dibalik panitia penyelenggara Miss World yang kebetulan telah memproklamirkan sebagai calon Wakil Presiden dari partai tertentu.

Kepentingan politik tak dapat dipungkiri telah merambah ke dunia hiburan. Raja TV yang ikut kontes Pemilu 2014 telah nyata-nyata menjadikan acara andalan TV-nya, seperti X Factor dan kini Miss World, sebagai media untuk mejeng dan kampanye politik. Jangan-jangan malahan ada motif kepentingan politik dibalik kontes Miss World 2013 ? Pokoknya jangan sampai Miss World 2013 di Indonesia dijadikan ajang untuk mendongkrak popularitas pemegang lisensi acara tersebut. Kalau benar ada kepentingan politik dibalik kontroversi Miss World 2013, sungguh kasihan bangsa Indonesia ...dipermainkan emosi dan energinya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Miss World 2013 yang telah dimodifikasi untuk disesuaikan dengan kultur Indonesia sesungguhnya merupakan kesempatan emas untuk mempertontonkan kekayaan dan keindahan alam dan budaya Indonesia ke dunia internasional , tapi sayang momen ini menjadi mubasir karena direcoki motivasi politik baik dari panitia penyelenggara maupun rezim penguasa. Huh cuapek deh !!

 Gambar : twitter.com dan Sonny Tumbelaka- Kompas.com