Senin, 10 September 2012

Matah Ati : menonton seni tradisional Jawa di era global


Kemarin malam, 9 September 2012, saya mendapat kesempatan menonton sendratari kolosal  ”Matah Ati " di Pamedan Mangkunegaran. Matah Ati bercerita tentang Rubiyah  seorang gadis Jawa dari Desa Matah yang hidup di pertengahan abad ke-18.  Di era ini banyak terjadi pemberontakan terhadap VOC, salah satunya pemberontakan yang dipimpin oleh kesatria dari Surakarta – Raden Mas Said atau dikenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Rubiyah adalah seorang perajurit perempuan yang selain cantik  juga memiliki keberanian dan penguasaan strategi perang yang tak kalah dengan prajurit pria.  Di tengah suasana perang inilah, kisah cinta Raden Mas Said dan Rubiyah  berkembang dan kemudian menyatu dalam perkawinan yang pada akhirnya melahirkan Dinasti Mangkunegaran (matah-ati.com/about/synopsis). Kisah Rubiyah memberi gambaran lain tentang perempuan Jawa yang selama ini dikenal lemah lembut dan nrimo.  Perempuan Jawa  ternyata juga bisa perkasa dan berani terlibat langsung di medan peperangan, suatu wilayah yang selama ini identik dengan laki-laki. Bicara tentang kesetaraan gender, siapa yang tidak ingat  dengan  Gusti Nurul , putri bangsawan Mangkunegaran yang dikenal karena berani mendobrak tradisi saat itu dengan memakai celana panjang dan naik kuda keliling Solo. Ya bisa dimaklumi ternyata beliau adalah keturunan Rubiyah.

Tentang sendratari Matah Ati sendiri ada beberapa hal yang  menarik untuk diulas. Dari sisi pertunjukan , yang bikin Matah Ati jadi luar biasa adalah keindahan gerak dan kostum tari Jawa yang didukung oleh panggung yang besar dengan penataan dan pencahayaan yang spektakuler. Baru kali ini saya melihat panggung pentas yang tidak konvensional atau datar saja. Panggung yang ditata oleh Jay Subyakto ini ada empat tingkatan, tingkatan paling bawah dekat penonton berbentuk miring, kemudian panggung datar, kemudian panggung miring lagi, dan terakhir menurun (terkesan seperti turun dari bukit). Tidak hanya itu, panggung yang datar dalam adegan tertentu bisa terbuka dan dari situ muncul lah para penari. Pada sisi kiri dan kanan panggung , terdapat pilar-pilar tinggi tempat tata pencahayaan dan sekaligus difungsikan sebagai tempat pintu keluar masuk. Kiri dan kanan panggung ini ditutupi dengan kain hitam. Pada saat saya datang , ketika lampu belum dinyalakan, saya tidak melihat tiang-tiang ini. Yang saya lihat di atas panggung hanya gedung kuno peninggalan Belanda yang menjadi background panggung.

Matah Ati dapat dikatakan Opera van Java yang sesungguhnya. Seni tari, wayang dan musik tradisional Jawa berpadu satu dan diolah menjadi opera yang sedemikian indahnya di tangan sang produser BRAy. Atilah Soeryadjaya yang merupakan putri bangsawan Mangkunegaran. Gerak tarian yang indah dan elegan, tembang yang merdu, serta musik gamelan yang pas dengan setiap gerak dan lakon yang diperankan. Semua keindahan seni ini bisa hadir di atas panggung karena ternyata hampir semua penari adalah sarjana seni dan  orang-orang di belakang layar atau istilahnya Tim Kreatifnya adalah para dosen  institut seni Solo.

Melihat pentas Matah Ati  mata menjadi segar oleh keindahan gerak tari serta kecantikan wajah dan tubuh para penari perempuan , ditambah lagi dengan kostum yang  mewah dengan paduan warni-warni cerah serasi dan berkilau oleh terpaan cahaya. Matah Ati juga menghibur telinga dengan alunan gamelan dan  kemerduan tembang atau gending Jawa, termasuk lagu dolanan jaman saya kecil yang sudah tidak lagi dikenal oleh anak jaman sekarang. Yang tak kalah menarik adalah tampilnya Sahita – kelompok seniman yang terdiri dari empat perempuan sarjana seni ISI Solo yang di pentas selalu tampil sebagai nenek-nenek kocak. Sahita menghadirkan selingan humor dan sekaligus kritik sosial yang segar. Salah satunya  tentang Solo yang dilekatkan dengan terorisme dan kekerasan. Sahita bilang  tindak kekerasan itu harus dilawan ....dengan apa ?  Kekerasan itu harus dilawan dengan ... kesenian. Pada saatnya semua kekerasan itu nanti akan habis dengan sendirinya.  Selain pintar melontarkan celetukan yang spontan dan lucu,  para nenek-nenek heboh ini juga pinter nembang dan menari.  Sendratari Matah Ati  juga menghadirkan kejutan-kejutan yang disisipkan  di setiap adegan seperti adanya kembang api pada awal dan penutupan, serta adegan perang yang disertai dengan kobaran api sungguhan di sekeliling panggung.

Yah, Matah Ati adalah contoh produk seni tradisional di abad digital. Seni tradisi seperti wayang kulit atau wayang orang, ketoprak atau seni tari tidak lagi dipentaskan dengan pakem yang baku. Dengan bantuan tehnologi pencahayaan, media visual dan peralatan canggih lainnya, pentas wayang dan sendra tari bisa dilakukan dengan sarana multimedia sehingga menghadirkan pentas seni tradisi yang terkesan canggih, megah, mewah dan sekaligus modern. Tidak heran kalau pertunjukkan Matah Ati sebagian besar penontonnya justru anak-anak muda.

Penonton menjadi faktor lain yang menarik untuk diamati. Penonton seni tradisi selama ini adalah kaum tua atau masyarakat tradisional di pedesaan. Matah Ati membuat gebrakan dengan mementaskan sendratari tradisi Jawa ini pertama kali di gedung kesenian Esplanade Theatre Singapura Ternyata selama dua hari pertunjukkan karcis ludes habis dan banyak penonton yang kecewa tidak mendapatkan karcis. Uniknya, sebagian besar penonton bukanlah orang Indonesia , apalagi orang Jawa. Pada pertunjukkan kedua di Jakarta hal sama juga terjadi.

Seni tradisi dan anak muda atau kaum menengah di kota-kota besar selama ini tidak kompatibel. Melihat tarian dan gending Jawa enggak elite dan enggak anak muda banget. Matah Ati mematahkan pandangan ini. Apabila digarap dengan sungguh-sungguh ternyata seni tradisi Indonesia bisa tampil semegah opera Broadway sehingga mampu menyedot perhatian tidak hanya orang Indonesia tapi juga mancanegara. Pentas Matah Ati di Solo membuktikan hal ini. Sebagian besar penonton adalah anak muda dan saya kira kebanyakan bukan orang Solo. Dari mendengar percakapan dan penampilan sepertinya kebanyakan orang Jakarta atau bahkan orang Singapura. Memang ada sekitar 200an penonton dari delegasi Federation of Asian Culture Promotion (FCAP) dan banyak juga bule yang nonton. Menunggu pentas Matah Ati dengan duduk-duduk di Ngarsopuro serasa bukan di Solo. Ada cewek bule lagi bercanda dengan anak-anak muda Indonesia akrab sekali. Ada gadis dan ibu-ibu dengan penampilan modis dan wangi. Dan lagi satu hal yang membuat serasa  bukan di Indonesia adalah penonton yang tertib antri. Padahal jumlah penonton ribuan, tapi semua masuk dengan tertib dan tidak ada desak-desakan, apalagi rebutan tempat duduk. Ketertiban ini berlanjut saat pertunjukkan berlangsung. Sejak awal diumumkan untuk mematikan HP dan diperbolehkan mengambil gambar tapi tetap duduk. Ternyata aturan ini ditaati. Ketertiban penonton berlanjut hingga saat keluar dari tempat pertunjukkan.

Inilah pengalaman menonton Matah Ati : kesenian lokal, dengan penonton dan tehnologi serta manajemen level global. Ternyata Solo bisa, saya kira Indonesia juga bisa.

Gambar :
mariaulfa.blogspot.com, facebook.com dan solopos.com

Link : Foto-foto  sendratari Matah Ati

Jumat, 17 Agustus 2012

Tentang Memaafkan : Coretan Menyambut Hari Lebaran


Besok  -tanggal 19 Agustus 2012 - kita merayakan Hari Lebaran atau Idul Fitri. Lebaran di Indonesia tidak sekedar perayaan keagamaan yang dijalankan oleh pemeluk agama Islam, tapi telah menjadi ritual budaya yang dilakoni oleh semua lapisan masyarakat.  Di hari ini, kata “maaf” menjadi kata yang akan sering diucapkan atau lengkapnya “maaf lahir dan batin”, yang maknanya kurang lebih permintaan maaf yang tidak sekedar lip service, tapi benar-benar permohonan maaf yang tulus yang keluar dari lubuk hati.  

Mumpung ini momen lebaran yuk kita mengulas seputar maaf memaafkan. Saya tidak akan menyorotinya dari perspektif religi karena tidak mempunyai kapasitas untuk itu. Saya akan memaknai arti dan manfaat memaafkan dari sisi yang umum. Dari ngobok-obok internet akhirnya saya temukan banyak artikel yang mengulas tentang makna penting memaafkan dan melupakan kesalahan.

Tom Valeo dengan sangat menarik mengulas manfaat memaafkan dari sisi kesehatan jiwa dan fisik. Memaafkan atau mengampuni merupakan suatu bentuk ungkapan cinta –suatu hadiah yang diberikan secara cuma-cuma bagi siapa saja yang telah menyakiti kita. Hasil penelitian membuktikan bahwa mengampuni membawa manfaat yang sangat besar bagi orang yang memberikan hadiah (maaf) itu. Jika seseorang dapat memaafkan dan melupakan kesalahan, ia akan menikmati tekanan darah, sistem kekebalan tubuh yang kuat, dan penurunan hormon stres yang beredar dalam darah. Sakit punggung, masalah perut, dan sakit kepala bisa hilang, karena  mengampuni dapat mengurangi kemarahan, kepahitan, dendam, depresi, dan emosi negatif lain yang biasa muncul  apabila seseorang sulit untuk memaafkan.

Meskipun memaafkan bisa mendatangkan manfaat yang luar biasa, tapi tetap saja tidak mudah untuk dipraktekkan. Terus gimana caranya supaya bisa mengampuni kesalahan ?

Menurut Frederic Luskin, PhD, direktur  the Stanford University Forgiveness Project (dalam Valeo) memaafkan atau mengampuni itu , seperti halnya mencintai, tidak bisa dipaksakan. Luskin menyatakan untuk mampu mengampuni pertama-tama orang harus mengembangkan budaya terima kasih atau bersyukur , yakni  upaya aktif untuk mengakui apa yang baik dalam hidup Anda dengan senantiasa memfokuskan pada hal-hal positif. Kemampuan berpikir positif  bisa diperoleh melalui manajemen stress atau kontrol emosi yang bisa dibantu lewat cara meditasi dan relaksasi. Orang yang mampu bersyukur akan memandang hal-hal negatif dengan kacamata positif. Kejadian yang menyakitkan hati dan kondisi yang menjengkelkan akan selalu dicari hikmahnya.  Orang yang mampu bersyukur adalah orang yang senantiasa melihat masa depan dengan penuh harapan dan tidak suka mengeluh atau pun menyimpan kesalahan.

Kedua, memaafkan lahir dan batin. Everett L. Worthington Jr., PhD, profesor psikologi  dari  Virginia Commonwealth University mengemukakan dua jenis pengampunan yaitu pengampunan decisional dan pengampunan emosional (dalam Vale0).  Pengampunan decisional adalah tindakan melepaskan pikiran-pikiran marah terhadap orang-orang  yang telah membuat sakit hati. Adapun pengampunan emosional adalah level pengampunan yang lebih tinggi di mana emosi negatif seperti kemarahan, kepahitan, permusuhan, kebencian, kemarahan, dan ketakutan digantikan dengan cinta, kasih sayang, simpati, dan empati.  Jadi pengampuan desisional itu bisa disebut maaf hanya di bibir saja atau secara lahirnya saja karena kesalahannya belum bisa dihapus dari hati dan ingatan. Sedang pengampunan emosional adalah pengampunan dari dalam hati atau maaf lahir dan batin yakni memaafkan secara lisan dan juga melupakan segala kesalahan dan sakit hati dan menguburnya sebagai masa lalu yang harus dilupakan. Dengan memaafkan lahir batin seseorang bisa membangun hubungan baru yang tulus.

Menurut Worthington ada 5 langkah pengampunan emosional yang disingkat dengan REACH.  Pertama, Recall atau mengingat atau bahasa Jawanya ngonceki semua rasa  sakit hati secara obyektif, tanpa menyalahkan dan melihat diri sendiri sebagai korban. Kemudian Emphatize,  berempati dengan mencoba membayangkan sudut pandang orang yang bersalah pada kita. Altruistic, memaafkan lahir dan batin akan mudah dilakukan dengan cara membayangkan dan merasakan bagaimana rasanya saat kesalahan kita diampuni. Commit,  dalam berkomitmen untuk memberi maaf  seringkali kita merasa tidak siap atau belum ikhlas untuk memaafkan kesalahan, namun apabila telah berketetapan (commit) untuk memaafkan maka kita harus benar-benar Hold on atau sepenuh hati  memaafkan kesalahan itu lahir dan batin, jangan diingat atau diungkit-ungkit lagi kesalahan itu.

Demikian coretan singkat tentang makna memaafkan. Semoga bermanfaat. Akhirnya, selamat menyambut Lebaran. Mari kita saling maaf dan memaafkan secara lahir dan batin.


Sebagai pelengkap mari kita renungi kata-kata bijak yang saya kutip dari  inspirationalspark. com berikut ini  :

"Let us forgive each other - only then will we live in peace." ~ Leo Tolstoy

"To err is human, to forgive, divine." ~ Alexander Pope

"A heart filled with anger has no room for love."~ Unknown

"Forgive all who have offended you, not for them, but for yourself." ~ Harriet Nelson

"To forgive is the highest, most beautiful form of love. In return, you will receive untold peace and happiness." ~ Robert Muller



Referensi :
Tom Valeo. Forgive and Forget <http://www.webmd.com/mental-health/features/forgive-forget>

Gambar : 123rf.com dan kartu lebaran dari 1.bp.blogspot.com

Kamis, 16 Agustus 2012

Kampanye Politik di Jaman Internet (catatan menyambut ultah NKRI ke 67)


Pilgub DKI Jakarta tahun 2012 memang menarik  untuk diamati. Bukan soal isu SARA yang heboh itu. Tapi model atau cara baru berkampanye yang menjadi semakin kreatif dan inovatif berkat  bantuan tehnologi komunikasi. Di zaman Orba kampanye banyak dilakukan dengan menempel spanduk atau baliho gambar calon yang bertebaran dimana-mana atau yang paling bikin sebel adalah pengerahan massa dan konvoi sepeda motor dengan suara meraung-raung memekakkan telinga. Saat ini model pengerahan massa selain tidak diperbolehkan juga sepertinya terkesan jadul. Di jaman digital, semakin banyak orang yang memilih internet sebagai media kampanye.

Cara kampanye yang unik dan kreatif dilakukan  pendukung Jokowi-Ahok dengan menciptakan game online yang diberi nama SELAMATKAN  JAKARTA Game yang terdiri dari 30 level ini bukan game sekedar game.  Game ini bercerita tentang usaha Jokowi untuk mengentaskan empat permasalahan utama di Jakarta, yakni oknum pejabat yang korup, pengusaha hitam, preman, dan tempat sampah.  Setelah memenangkan setiap level, akan keluar tagline seperti "Jakarta Baru Tanpa Kekerasan". Menurut Kompas.com hingga saat ini sudah 12.000-an orang yang bermain di desktop dan hampir 1.000 yang bermain game ini di Facebook (Kompas.com ). Yang menarik kreator game ini   bukan penduduk Jakarta atau orang Solo, tapi orang Bandung yang mengaku bukan tim kampanye Jokowi-Ahok (merdeka.com ).  

Kampanye kreatif di internet juga bisa dilihat dari visualisasi adaptasi lagu What makes you beautiful dari one direction yang di-upload simpatisan Jokowi. Berbagai model kampanye ini membuktikan bahwa media massa, khususnya internet,  mampu menyebarkan gaung Pilgub DKI bak kompetisi Indonesian Idol yang menarik perhatian publik untuk ikut terlibat secara emosional dalam kontestasi politik ini.

Internet terbukti telah menjadi alternatif baru untuk merebut hati konstituen melalui sharing ide dan gagasan   lewat media sosial seperti facebook dan twitter, dan bahkan lewat media permainan. Perang , intimidasi atau istilahnya “panas-panasan” saling menyerang pribadi antar kandidat yang biasa dilakukan melalui pengerahan massa pendukung di lapangan atau stadion, yang disitu dihadirkan tokoh atau figur publik sebagai juru kampanye dan dimeriahkan dengan orkes dangdut atau artis,  tidak lagi ampuh sebagai magnet untuk menarik atau mempengaruhi pilihan masyarakat. Bagi masyarakat perkotaan yang melek internet, media sosial di dunia maya lebih dipilih sebagai referensi untuk mengenal lebih jauh para kandidat dalam pemilihan politik.  Di kota-kota besar, internet telah memindahkan medan kontestasi politik dari lapangan ke dunia maya. Konsentrasi massa tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Dunia maya adalah lahan kampanye yang bisa menampung jumlah massa yang tanpa batas. Disini setiap individu bisa menjadi juru kampanye bagi kandidat yang didukungnya.

Namun model kampanye via internet  punya keterbatasan karena hanya efektif diaplikasikan di wilayah kota-kota besar seperti Jakarta, bukan di wilayah yang masih sulit terjangkau jaringan internet.  Dan lagi, kampanye via dunia maya lebih pas untuk menjangkau kelompok menengah atas perkotaan dan berpendidikan cukup yang kebanyakan merupakan pemilih rasional. Bagi pemilih tradisional atau yang memilih atas dasar ikatan primordial yang kebanyakan ada di daerah pinggiran dan pedesaan, perang isu lewat internet tidak mereka kenal. Bagi kelompok ini suara patron atau tokoh lebih didengarkan sehingga kampanye dengan isi pesan dan model apa pun ya tidak ngaruh, yang dicoblos ya sesuai dengan arahan tokoh yang dihormatinya.

Bagi basis massa tradisional, kampanye internet secanggih apa pun sulit untuk menggoyahkan pilihan politik yang sudah jadi tradisi turun menurun. Saya tidak akan mengatakan pemilih yang berlandaskan ikatan primordial sebagai tidak berpendidikan dan tidak rasional. Setiap orang punya rasionalitasnya sendiri-sendiri. Setiap orang mempunyai acuan nilai yang dipandang paling baik untuk dirinya. Tidak bisa standard nilai seseorang atau kelompok  dipaksakan untuk diterima sebagai kebenaran bagi banyak orang. Namun, menyangkut pengelolaan urusan publik,  idealnya setiap warga negara  berpegang pada rasionalitas publik atau  prinsip kepentingan dan kesejahteraan publik mengatasi semua kepentingan individu dan kelompok.

Besok, tanggal 17 agustus 2012, usia Indonesia akan genap 67 tahun. Di usia 67 mestinya Indonesia sudah cukup dewasa dan telah memiliki dasar nilai bersama yang kokoh dan  disepakati semua elemen anak bangsa. Pancasila sebagai ideologi negara harusnya sudah tertanam sebagai rule of the game , termasuk dalam berkompetisi politik. Kalau ternyata isu SARA atau  ikatan primordial masih menjadi jualan dalam meraih dukungan suara publik ini artinya nilai-nilai Pancasila belum terinternalisasi dan rasionalitas publik belum bisa diterima sebagai  etika governance oleh segenap elemen bangsa.

Terkait dengan pilgub DKI Jakarta, penduduk Jakarta tentunya sangatlah beragam dan tidak semuanya punya rasionalitas publik yang tinggi. Bagaimana pun basis massa tradisional juga cukup banyak. Jadi siapa nanti yang terpilih jadi Gubernur Jakarta sedikit banyak akan bisa menjadi barometer atau memberikan gambaran profil dan preferensi  pemilih Pemilu 2014. Dan kalau yang menang adalah calon incumbent yang banyak  mengusung isu SARA  ini berarti ikatan primordial masih menjadi dasar kuat dalam membuat  pilihan atau keputusan politik.  Sebaliknya, kalau yang menang bukan calon incumbent berarti keinginan akan perubahan atau perbaikan kondisi sosial ekonomi lebih kuat ketimbang ikatan emosional primordial. Ini artinya basis massa tradisional sudah semakin tinggi rasionalitas publiknya atau juga bisa jadi mereka sudah patah arang dengan tokoh atau lembaga yang menjadi patronnya. Kalau ini yang terjadi berarti model kampanye cerdas dan kreatif yang mengedepankan rasionalitas publik sudah bisa diterima masyarakat. Yah, kita tunggu saja bagaimana akhir cerita drama Pilgub DKI Jakarta ini.

Gambar : reddigitalmedia.com

Kamis, 02 Agustus 2012

Ras , Etnis, dan Agama dalam Kontestasi Politik di Indonesia


Ras, etnis, dan agama menjadi isu yang sensitif untuk dibicarakan di Indonesia. Di era Orde Baru, isu seputar identitas kultural tersebut ditambah dengan antar golongan diberi istilah sebagai isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Keberagaman suku, ras dan agama adalah realitas sekaligus keunikan dan kekayaan Indonesia. Dari  sisi budaya, keberagaman identitas budaya ini termanifestasi dalam seni tradisi, ritual adat budaya dan agama yang dijalani dan dihidupi oleh ratusan etnis yang hidup di Indonesia. Bahkan tak jarang terjadi akulturasi budaya yang melahirkan budaya campuran yang unik khas Indonesia.  

Bila keberagaman identitas dari sisi budaya relatif mudah diterima bahkan diadopsi, tidak demikian halnya dengan keberagam identitas kultural di ranah politik praktis. Ras, etnisitas dan agama jika masuk ke praktek politik ternyata menghasilkan kontroversi, pro-kontra dan perdebatan panas seputar identitas primordial dan isu SARA yang tak ada matinya.  

Saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang identitas kultural di ranah politik setelah mengamati maraknya isu SARA selama proses Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahap pertama dan berkembang semakin panas dan intensif menjelang pemilihan tahap kedua di bulan September nanti.

Identitas Kultural dan Pilgub DKI Jakarta 2012
Ada beberapa hal yang menarik untuk diulas dari Pilgub DKI Jakarta tahun ini . Pertama-tama, tentu saja figur calon gubernur Jokowi yang berpenampilan menyempal dari gambaran umum kandidat kepala daerah yang kebanyakan suka tampil berwibawa, formal , religius, dan menggunakan identitas kultural etnisitas. Kelebihan Jokowi dibanding calon gubernur lainnya ada di caranya mendekati masyarakat yang terkesan merakyat dan natural tidak dibuat-buat. Pilihan  kostum baju kotak-kotak  dengan lengan digulung juga kostum yang aneh dan selama ini belum ada kontestan pilkada yang menggunakan model ini. Baju kotak-kotak dipadu celana jeans jelas bukan kostum yang match dengan pejabat publik di Indonesia.

Hal yang tak kalah menarik lainnya adalah figur calon wakil gubernur pasangan Jokowi , Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang keturunan Tionghoa atau orang Indonesia umum menyebut sebagai orang Cina. Selama ini jarang orang Cina yang cukup punya nyali untuk ikut berkompetisi dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah. Institusi publik , terlebih birokrasi  di Indonesia, sepertinya menjadi tempat yang relatif steril dari etnis Cina. Nggak percaya? Coba tengok-tengok di instansi pemerintah atau lembaga pendidikan negeri , ada berapa PNS, tentara, atau dosen PTN yang beretnis Cina? Langka bukan? Melihat realitas ini, pilihan Jokowi untuk berpasangan dengan Ahok dan keberanian Ahok untuk terjun di kontestasi politik menjadi isu yang menarik untuk diulas lebih jauh. Kesediaan Jokowi untuk dipasangkan dengan wakil gubernur dari kelompok etnis dan agama minoritas dan penolakan pada penggunaan simbol dan identitas ras dan etnis untuk kepentingan politik merupakan tindakan yang berani dan seolah-olah hendak melawan model pemasaran politik yang selama ini menjadi pakem atau mainstream di banyak Pilkada di Indonesia.

Dan memang terbukti munculnya Jokowi-Ahok langsung mengundang munculnya beragam isu SARA seperti perdebatan seputar baju koko dan peci, ayat suci dan ayat konstitusi, orang Betawi dipertentangkan dengan orang daerah (Solo) dan orang Cina, dan soal memilih pemimpin yang harus seiman, dan masih banyak lagi. Isu-isu semacam ini kalau kita simak bukanlah isu baru tapi penyakit musiman yang akan kambuh setiap kali ada pemilihan pimpinan dimana penentuannya dilakukan melalui pilihan rakyat. Jadi lihat saja isu ini akan muncul di setiap voting pilihan pimpinan yang strategis, kalau memilih ketua selevel RT, PKK apalagi tugas sosial yang tidak ada sumber daya yang bisa diperebutkan ya jelas banget tidak akan dibutuhkan bantuan isu SARA.

Isu SARA menjadi jualan yang diobral bebas dan liar melalui sms dan internet selama masa Pilgub DKI Jakarta 2012 tentunya bukan  karena kali ini ada kehadiran Ahok yang orang Cina dan beragama Kristen. Buktinya, pada pemilu Presiden tahun 2004 yang lalu, isu SARA juga menerpa ibu Presiden dan Wakil Presiden yang meskipun beliau berdua itu mempunyai latar belakang agama yang jelas, tapi masih saja diperdebatkan soal kebenaran identitas agama mereka. Kemudian, dulu saat Megawati dianggap sebagai kandidat kuat calon presiden terjadi perdebatan panas seputar gender (boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin) dan gugatan seputar kadar keimanan Megawati. Kesimpulannya,  kalaupun sebenarnya tidak ada isu SARA yang bisa dimainkan ya dicari-cari atau digolek-goleki, pokoknya isu ini memang seksi banget dan gampang digunakan untuk menarik solidaritas dan loyalitas kelompok.

Apa dan Mengapa ada isu SARA di Kontestasi Politik?
Mengamati pemberitaan dan perdebatan di media cetak maupun elektronik seputar Pilgub DKI Jakarta tahun 2012 mengundang banyak pertanyaan liar di benak saya.  Mengapa ras dan etnisitas menjadi isu yang panas dan sensitif? Mengapa dan untuk apa to manusia kok dikelompok-kelompokkan ke dalam berbagai ras dan etnisitas?  Apakah ras dan etnisitas itu sesuatu yang kodrati atau hasil dari konstruksi sosial masyarakat? 

Ada banyak teori yang mencoba menjelaskan ras dan etnisitas dalam hubungannya dengan politik atau negara. Dua pendekatan yang utama adalah primordialisme dan pendekatan konstruktivis . Menurut pendekatan konstruktivis,  ras sesungguhnya lebih merupakan  merupakan konstruksi sosial politik. Negara yang mengkonstruksi atau membentuk kategori rasial. Di beberapa negara, ras digunakan sebagai alat memobilisasi pemilih saat pemilihan umum.

..race is greatly controlled and manipulated as a tool by many state governments. In some states, race is a tool used during election to garner when political parties represent a particular racial group and "play up" the race's differences from members of another race. If this situation of people identifying themselves along racial lines becomes too extreme, ethnonational riots may break out where one racial group feels it is unfairly treated by another. Political parties may hence used the race card to mobilize its voters (http://sc2218.wetpaint.com/).

Ras dan etnisitas menjadi isu yang seksi dalam pemilu. Mengapa demikian? Nampaknya ada keyakinan di benak para kandidat atau tim suksesnya bahwa cara termudah dan paling efektif menarik hati orang untuk memilih seorang kandidat adalah dengan cara membangkitkan ikatan emosional pemilih pada calon. Ikatan emosional mana yang bisa melebihi kecintaan seseorang pada identitas primordialnya : suku, agama, ras, dan golongan atau komunitas? Diantara semua identitas ini, suku-agama-dan ras menjadi identitas yang paling kuat sehingga mudah menyulut emosi. Dalam ras, agama dan etnisitas ada stigmatisasi dan pelabelan yang pada akhirnya akan bermuara pada  kebencian, syak wasangka, kecemburuan sosial, eksklusi dan inklusi.

Mengingat isu ras  dan etnisitas hanya muncul sebagai  jualan selama musim kampanye tidak aneh kalau ditarik kesimpulan bahwa isu SARA itu lebih sebagai komoditas politik. SARA sebagai alat politik tak ubahnya minuman keras oplosan yang bisa memabukkan dan mematikan. Apabila setiap orang Indonesia setuju dengan pandangan bahwa memilih pemimpin itu yang penting pokoknya yang utama harus beridentitas ras dan etnisitas (dan juga agama) yang sama dan soal kapabilitas serta integritas itu urusan belakangan, ya kita jadi tahu  salah satu faktor penghambat mengapa Indonesia sulit untuk maju.

Menurut saya tidak ada yang salah dengan kecintaan pada identitas primordial. Kelestarian nilai-nilai dan praktek budaya serta agama hanya dapat terjaga apabila setiap orang bisa menghargai dan menghidupi nilai dan ritual budaya dan agama yang  dicintainya. Tapi jangan sampai kecintaan kita pada identitas budaya dan agama membuat kita buta sehingga mudah dikendalikan untuk kepentingan yang sesungguhnya belum tentu berkaitan dengan ajaran luhur agama.

Bicara tentang identitas kultural, sesungguhnya etnisitas dan ras hanyalah idiom atau konsep yang hanya bisa dipahami oleh orang dewasa.  Ini membuktikan bahwa etnisitas dan ras dibangun untuk kepentingan orang-orang dewasa. Perbedaan ras, etnis, agama dan gender tidak ada dalam alam pikir anak-anak. Anak-anak bisa dikatakan buta warna kulit, ras, gender dan agama. Ingin tahu buktinya? Coba kita lihat iklan-iklan dari Petronas Malaysia ini.






Untuk lebih memahami tentang makna keberagaman bisa didengar apa kata Paul McCartney dan Stevie Wonder dalam lagunya Ebony and Ivory




Gambar : darren-ng.livejournal.com


Rabu, 18 Juli 2012

Fashion dan Politik : Belajar dari Euforia Politik Pilgub DKI Jakarta


Fashion is a powerful way of expression, one that politicians - dictators as well as popularly elected - has explored in the past, still do today and will be doing tomorrow (http://fashioninpolitics.blogspot.com)

Saat ini masyarakat dan media massa tengah dilanda euforia Jokowi – Walikota Solo yang memenangkan putaran pertama kompetisi politik Pilihan Gubernur DKI Jakarta. Banyak  pendapat dan analisa bermunculan dan mencoba menjelaskan faktor-faktor penyebab kemenangan yang tidak terduga dan sekaligus menjungkirbalikkan prediksi lembaga survei yang sebagian besar meramalkan kemenangan pasangan Fauzi Bowo-Nara.
Saya tidak ingin ikut-ikutan membuat tulisan yang menyoroti seputar kemenangan Jokowi atau mengelu-elukan figur Jokowi secara berlebihan.  Saya lebih tertarik dengan fenomena baju kotak-kotak  dengan dominasi warna merah dan biru tua yang dikenakan sebagai seragam kampanye  pasangan Jokowi-Ahok.

Gara-gara Jokowi baju kotak-kotak saat ini menjadi sangat politis. Bagaimana bisa baju yang fungsi dasarnya sebagai penutup tubuh berubah menjadi simbol kuasa bak magnit yang mempengaruhi perilaku banyak orang? Yah ternyata apa saja bisa dimanipulasi manusia untuk memaksimalkan kepentingannya, terlebih lagi menyangkut kepentingan politik. Bahkan cara berbusana pun bisa menjadi bagian dari pemasaran politik.  Melalui fashion atau cara berbusana, kandidat ingin menyampaikan  pesan ke rakyat pemilih siapa dirinya. Ibaratnya dagangan, fashion bagian dari kemasan atau bungkus yang bisa menjadi daya tarik konsumen.

Ada ideologi tertentu dibalik pakaian yang dikenakan seseorang. Ada identitas dan pesan yang ingin disampaikan seseorang melalui pakaian yang dikenakannya. Pakaian adalah media ampuh untuk membangun citra diri atau self-image – untuk menunjukkan siapa diri  dan  statusnya. Apa kesan yang seketika timbul saat kita melihat  orang  memakai baju atau aksesori yang menjadi simbol agama – seperti jilbab muslimah atau kerudung biarawati, baju koko dan kopiah ? Mereka tentunya orang-orang yang  sangat mencintai dan  taat dengan  agamanya.  Apa kesan yang terbangun di benak kita saat melihat laki-laki memakai jas dan dasi? Mereka pasti bos atau manajer atau orang yang mempunyai jabatan atau posisi penting di kantornya. Nggak mungkinlah sopir becak mengayuh becaknya pakai jas. Bagaimana dengan baju batik ? Itu cocok untuk kondangan atau njagong (datang ke resepsi atau hajatan). Sekali pun sekarang batik sudah mulai disukai anak-anak muda, tapi kesannya yang formal tetap belum hilang.  

Mengapa Jokowi-Ahok tidak memilih  jas dan dasi sebagai kostum kampanyenya? Kalau model ini yang dipilih kok kesannya bossy, formal dan enggak friendly banget. Baju jas dan dasi seperti menciptakan semacam jarak sosial dengan rakyat kecil. Jas dan dasi bukan baju rakyat. Kalau pejabat datang ke rakyatnya memakai jas dan dasi sepertinya mereka sudah membatasi diri dan menunjukkan identitas siapa mereka dan  siapa rakyat yang di bawah. Benar tidaknya pendapat ini bisa dicek dengan membayangkan bagaimana kalau Jokowi blusukan ke pasar-pasar tradisional atau ke kampung-kampung kumuh dengan memakai jas dan dasi.

Mengapa Jokowi-Ahok  tidak memilih baju modelnya Foke-Nara , baju koko dengan kopiah dan sarung kotak-kotak dipundak? Untuk pertanyaan ini Jokowi menjawab demikian :  "Ya bosenlah. Semua yang maju ke pilkada selalu pakai baju koko dan kopiah, biar kelihatan religius." (tribunnews.com)  . Karena jawabannya ini Jokowi dituduh telah melecehkan masyarakat Betawi yang mayoritas beragama Islam. Baju koko dan kopiah ternyata bukan sekedar baju, tapi ada identitas dan nilai tertentu yang melekat disitu. Namun kalau Jokowi memilih tidak memakai baju koko dan kopiah, mungkin itu artinya dia tidak mau menggunakan identitas primordial sebagai alat untuk kepentingan politik.

Terus, apa pesan dan kesan yang diinginkan oleh pasangan Jokowi-Ahok dengan memilih seragam kampanye baju kotak-kotak. Menurut rasa saya, baju motif kotak-kotak berkesan casual dan manly banget. Kalau perempuan pakai baju kotak-kotak biasanya dibuat model hem dipadu dengan jeans atau pas juga dibuat rok mini , jarang kain kotak-kotak dibikin rok terusan. Rok terusan kan kesannya feminin jadi cocoknya kain motif flowery, yang berbunga-bunga dengan warna-warna pastel. Baju kotak-kotak dengan celana jins kesannya cowboy banget alias cocok sekali untuk mereka yang beraktivitas di lapangan, bukan di kantor yang ber-ac. Baju kotak-kotak jauh dari kesan formal. Jarang kan  melihat orang datang ke pesta hajatan dengan baju kotak-kotak.  Ke pesta ya pakai batik atau baju yang blink-blink dengan perhiasan yang berkilauan biar terkesan formal, mewah dan glamor. Pilihan pada baju kotak-kotak bisa diartikan kesiapan atau fokus pada penyelesaian masalah di lapangan dan berinteraksi langsung dengan rakyat tidak melalui komando di gedung kantor mewah ber-ac. Baju kotak-kotak juga terkesan egaliter artinya tidak ada simbol status dan identitas apapun yang bisa dilekatkan disitu.

Baju kotak-kotak Jokowi bagaimana pun telah menjadi bagian dari euforia politik. Terbukti makin banyak orang yang tertarik ingin punya baju kotak-kotak dan tentu saja ini membahagiakan para pedagang di pasar-pasar tekstil.  Minat atau kesukaan pada baju kotak-kotak Jokowi  bisa dibaca sebagai sinyal atau indikasi kepada siapa rakyat menjatuhkan pilihannya.  Ini sesuatu yang menakutkan lawan politik Jokowi.  Bukan baju kotak-kotak itu yang menimbulkan ketakutan, tapi simbol dan identitas dan kuasa politik dibalik baju tersebut. Begitu berkuasanya baju kotak-kotak pasangan Jokowi-Ahok sehingga bisa menjadikan sensi lawan politik. Saking takutnya pada baju kotak-kotak, sekelompok orang sampai mendatangi Panwaslu meminta untuk mentertibkan pemakaian baju kotak-kotak (tempo.co )

Bagaimana pun baju hanyalah bungkus. Yang lebih penting adalah isinya. Tidak ada orang yang membeli produk hanya sekedar untuk mendapatkan bungkusnya, tetap isi yang menjadi minat belinya.  Barang yang bagus akan menjadi semakin menarik kalau dikemas dalam bungkus yang mencitrakan kualitas isinya. Demikian pula jika banyak orang suka dengan baju kotak-kotaknya Jokowi-Ahok, itu bukan karena sekedar tertarik dengan bajunya, tapi terlebih pada simbol kekuatan dan pesan serta figur Jokowi yang dianggap memenuhi harapan publik.  Baju kotak-kotak dalam hal ini telah beralih fungsi sebagai simbol yang bisa menyatukan aspirasi dan harapan  akan perubahan. Dengan memakai baju kotak-kotak, orang bisa mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang melawan atau anti dengan simbol-simbol dan jargon-jargon dominan yang selama ini menjadi identitas penguasa. Tepat sekali pendapat Joshua Miller   (dalam Gordana Vrencoska ) yang menyebutkan baju mempunyai dua fungsi politis  yakni untuk mengekspresikan perlawanan pada simbol-simbol dominan dalam masyarakat dan  untuk menyatukan kelompok-kelompok yang melawan simbol dan ide-ide tersebut. Baju merupakan simbol penting dari identitas kolektif karena itu dapat membangkitkan rasa kebanggaan dan kebersamaan sebagai komunitas.

Kalau baju kotak-kotak Jokowi bisa berkembang sebagai alat yang menyatukan perlawanan pada segala sesuatu yang dianggap sebagai simbol status quo, maka penguasa politik  mana yang tidak cemas dengan gejala ini? 

###########

Untuk melengkapi tulisan ini mari kita simak apa kata Lady Gaga dalam lagunya FASHION dimana salah satu bait  liriknya menyatakan : You are who you wear, it's true !





Artikel terkait : 
Tentang Fashion : Membebaskan atau Menindas Perempuan ?

Gambar : davinanews.com dan fashioninpolitics.blogspot.com

Kamis, 17 Mei 2012

Lady Gaga dan Isu Moralitas


Negeri saya ini bener-bener lucu dan unik. Jika ditanyakan bagaimana rasanya jadi orang Indonesia, jawabannya seperti permen nano-nano  : manis, asem, kecut, semua ada. Kadang ada saatnya merasa bangga dan cinta, tapi akhir-akhir ini kok sepertinya lebih banyak bikin kecut dan cemberut.

Negara ini sepertinya semakin dilekatkan dengan kekerasan, kemunafikan, korupsi, dan pemerintahan yang kacau balau. Konflik antar kelompok masyarakat semakin sering terjadi. Tentang korupsi, Kompas hari Rabu 16 Mei 2012 menulis judul gede “Mental Korupsi Sudah Merata”, disitu diberitakan temuan BPK tentang korupsi birokrasi melalui perjalanan dinas yang mencapai 30-40 persen dari biaya perjalanan dinas Rp 18 trilyun selama setahun (wow...seram!!). Di tengah belitan kasus korupsi, kekerasan dan pengelolaan negara yang amburadul terselip hal-hal ringan dan sepele tapi ditanggapi secara serius dan berkembang menjadi perdebatan panas seputar isu moralitas.  Ada yang ngurus rok mini , video porno artis dan anggota dewan, dan yang lagi hangat saat ini soal Lady Gaga gagal konser.

Berhubung saat ini libur panjang dan saya mau santai menikmati liburan, saya nggak mau capek-capek berpikir serius seputar korupsi, kekerasan atau soal politik lainnya. Problem ini sudah banyak yang ngomong. Saya hanya ingin tahu siapa itu Lady Gaga?  Apa sih hebatnya si Lady Gaga ini kok bisa-bisanya mencuri perhatian sebagian orang-orang penting untuk sekedar  memberi komentar atau berkotbah soal moralitas? Bagaimana performance dan lirik lagunya sehingga dia  dituduh sebagai pembawa ajaran setan dan ditolak oleh banyak ormas keagamaan di Indonesia?

Dari jalan-jalan di internet saya menemukan berita tentang kiprah bermusik Lady Gaga. Menurut Dailymail.co.uk Lady yang satu ini dalam performance-nya memang sengaja menggunakan shock tactics dan melecehkan simbol-simbol agama Kristen demi untuk mendongkrak popularitasnya. Meski dibesarkan dalam keluarga dengan iman Katolik Roma dan saat kecil bersekolah di biara, tapi saat ini –seperti dikatakan Bill Donahue, Pemimpin umat Katolik di New York – dia sepertinya sengaja mengusik umat Katolik dan Kristen pada umumnya, seperti dalam pentas memakai gaun biarawati atau menelan rosario. Yang paling mengundang kemarahan adalah lagunya yang berjudul Judas. Judul ini diambil dari nama Judas Iskariot – murid Yesus yang berkhianat dengan menyerahkan Yesus ke musuhnya. Dalam lirik lagu Judas, ada beberapa lirik yang  bagi umat Kristen akan dikenali sebagai bagian dari kisah dalam Alkitab yang menggambarkan penghormatan Maria Magdalena kepada Yesus. Namun dalam lagu Judas, kisah di Alkitab diplesetkan oleh Lady Gaga menjadi kesetiaan  bukan pada Yesus tapi pada Yudas. Contohnya bisa disimak bait-bait ini :

When he comes to me, I am ready
I'll wash his feet with my hair if he needs
Forgive him when his tongue lies through his brain
Even after three times, he betrays me
..........
I wanna love you,
But something's pulling me away from you
Jesus is my virtue,
And Judas is the demon I cling to
I cling to

Sebenarnya, lirik lagu sebagai karya seni tak beda jauh dengan deretan kata dalam kalimat karya sastra – bersifat sangat multi interpretasi. Akibatnya, belum tentu makna dari si pembuat lirik akan dipahami secara sama oleh pendengar atau pembacanya. Dalam kasus Lady Gaga, lirik lagu yang identik dengan ayat di Alkitab ditambah lagi dengan visualisasi panggung atau  videoklip yang terkesan melecehkan simbol-simbol agama Kristen menjadikan kesan langsung yang tertangkap mata adalah pelecehan agama.

Namun dari kacamata rasa seni yang saya  miliki, terlepas dari keimanan saya, saya bisa saja menafsirkan lagu Judas ini sebagai ungkapan ketidakberdayaan perempuan yang terjerat dalam cinta buta pada laki-laki yang salah. Jika lihat videoklip Judas di youtube, disitu ada gerombolan laki-laki naik Harley Davidson pakai jaket kulit hitam yang di punggungnya tertulis Judas dan si Gaga membonceng dengan pakai kalung salib gede. Ini saya maknai sebagai Si Gaga jatuh cinta pada laki-laki bertipe Judas - dengan tampilan sangar pakai jaket kulit hitam bergambar tengkorak bertuliskan Judas. Si perempuan tahu bahwa laki-laki itu tipe yang tidak setia, tipe pengkhianat dan dia seharusnya memilih setia pada imannya – pada Yesus, tapi cinta yang buta membuatnya nggak bisa lepas dari si Judas. Ini jelas diungkap di kutipan bait yang kedua di atas yang terjemahan bebasnya kurang lebih begini :

Aku ingin mencintaimu,
Tapi ada sesuatu yang menarikku menjauh darimu
Yesus adalah kebajikanku,
Tapi  Yudas adalah setan saya pegang teguh...saya pegang teguh

Bisa juga saya menarik lirik ini untuk makna yang lebih luas dan mendalam, misalnya ini menggambarkan kondisi umat Kristen saat ini yang seharusnya setia berpegang pada ajaran mulia Yesus, tapi justru mengkhianati  perintah Yesus dengan menggadaikan iman demi materi, korupsi atau kekuasaan. Nggak salah kan , kalau saya menafsirkan lirik Judas seperti ini? Jika kita terbiasa membaca karya sastra, kita tidak akan mengartikan kalimat atau bahasa secara harfiah atau  tersurat tapi lebih secara tersirat- atau menggali makna dibalik kata.

Bicara soal tafsir lirik lagu akan menjadi semakin menarik kalau dikaitkan dengan pornografi. Dalam UU No 44 Th. 2008 tentang Pornografi disebutkan tulisan atau syair dikatakan porno kalau mengeksploitasi daya tarik atau bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa (pasal 4). Pasal ini hanya bisa menjerat tulisan yang bermakna harfiah, tapi tidak bisa menjerat tulisan, syair atau lirik yang tersirat. Lagu Cucak Rowo-nya Didik Kempot, misalnya, tidak ada liriknya yang berbau eksploitasi seksual, wong hanya bicara soal gadis yang takut dengan burung , yang dideskripsikan seperti ini :

Manuke manuke cucak rowo,
Cucak rowo dowo buntute
Buntute sing akeh wulune,
Yen digoyang ser-ser aduh enake
(Burungnya, burung cucak rowo...Cucak rowo panjang ekornya...Ekornya banyak bulunya...Kalau digoyang ser ser aduh enaknya)

Hal yang sama juga berlaku untuk lagu Julia Perez (Jupe) Belah Duren yang bicara tentang enaknya makan duren malam-malam dengan kekasih :


Makan duren dimalam hari
Paling enak dengan kekasih
Dibelah bang dibelah
Enak bang silahkan dibelah

Jangan lupa mengunci pintu
Nanti ada orang yang tau
Pelan-pelan dibelah
Enak bang silahkan dibelah

Tidak ada bau pornografi dalam kata per kata di lirik lagu Cucak Rowo dan Belah Duren. Kalau itu berbau atau berkonotasi mesum , itu karena daya interpretasi otak manusia atau cara memaknai pesan dibalik kata-kata.  Lha kalau bicara soal otak atau pikiran manusia, pasal hukum mana yang bisa untuk menjerat liarnya daya imajinasi manusia?  Menurut saya, mimik wajah Jupe saat menyanyikan Belah Duren jauh lebih mesum ketimbang Lady Gaga.  Belum lagi kalau dinilai dari kualitas liriknya.  Lirik lagu Cucak Rowo dan Belah Duren  sungguh dangkal dan tak jelas pesan apa yang mau disampaikan, selain hanya menyeret otak kita untuk berimajinasi jorok, punya Lady Gaga – secara sastra - jauh lebih berkelas. Entah mengapa, kalau mendengar lirik lagu Cucak Rowo dinyanyikan oleh anak-anak , saya jadi sebel dan geregetan. Meskipun lagu itu ceria seperti lagu anak-anak dan tidak ada kata-kata vulgar berbau seksual disitu, tapi kok rasanya jengah atau enggak nyaman banget dengar lagu itu keluar dari mulut anak-anak .

Saya  hanyalah seorang ibu yang berusia menjelang setengah abad, saya merasa tidak pantas menjadi fans Lady Gaga. Penampilan Lady Gaga yang vulgar , cara berbusana yang aneh,  serta videoklip yang terlalu mengumbar tubuh perempuan tidak connect dengan selera musik saya yang jadul. Meskipun demikian, saya mencoba memahami gerak jaman dengan segala dinamikanya. Mengapa anak muda lebih suka mengambil idola atau role model dari ikon dunia hiburan semacam Lady Gaga? Nampaknya anak muda jaman sekarang semakin realistis dan terbuka dalam menanggapi perbedaan. Standard moralitas tidak lagi diukur dari bagaimana seseorang memperlakukan tubuhnya atau identitas seksualnya, tapi lebih ke hal yang substansial seperti kejujuran, integritas, kesetiakawanan, dan kasih sayang. Prinsip mereka adalah  jadilah diri sendiri, siapa pun kamu, apa pun identitasmu. It’s okey,  sepanjang kamu tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti orang lain. Gejolak jiwa muda adalah  pencarian jati diri dan pemberontakan pada tatanan yang dianggap mapan dan penuh kepalsuan.

Menurut saya,  Lady Gaga adalah gambaran ikon musik pop yang merepresentasikan anak muda abad internet : straight to the point, lugas, semua hal bebas diekspresikan dan diungkapkan, bahkan semua rambu tabu ditabrak tanpa rasa takut. Dari sisi penampilan, Lady Gaga terkesan pokoknya tampil eksentrik dan aneh. Pokoknya tidak umum , lihat saja sepatu-sepatunya atau kostum dan aksesoris panggungnya.  Lagu-lagu Lady Gaga mengungkapkan hal apa saja yang bisa mengguncang nilai-nilai sosial yang mapan. Misalnya,  Born This Way menyuarakan keberanian untuk mengungkapkan jati diri  dan menerima serta menghargai identitas kultural apa pun, termasuk identitas seksual yang berbeda atau dianggap menyimpang dari nilai moralitas dan agama. Lady Gaga kebetulan datang ke Indonesia di saat yang bersamaan dengan Irshad Manji – perempuan warga Kanada (mengaku sebagai lesbian) yang juga dituduh mengusik nilai-nilai keagamaan melalui tulisan di buku-buku karyanya.

Terkait dengan isu moralitas dan identitas seksual,  abad ini adalah abad galau dan gamang karena sepertinya moralitas tidak lagi bisa hitam putih, ada banyak wilayah abu-abu. Ajaran agama apa pun dan masyarakat mana pun tidak bisa menerima pelecehan terhadap ajaran atau kesakralan simbol agama, ekspresi tubuh yang bebas, terlebih lagi  perilaku seksual “menyimpang” . Isu-isu tabu ini yang nampaknya coba disuarakan oleh Lady Gaga dan Irshad Manji. Jadi bisa dimaklumi kalau kedatangan kedua perempuan ini menyinggung sensitivitas religius kelompok ormas keagamaan yang harus menjalankan peran penjaga moralitas masyarakat.  Di satu sisi, sebagai orang yang mengaku beragama saya bisa memahami kekhawatiran ormas keagamaan menghadapi gempuran ikon-ikon budaya pop global yang banyak mengabaikan nilai moralitas demi mengeruk keuntungan ekonomis sebanyak-banyaknya.   Namun di sisi lain, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara yang menjunjung tinggi hak dan martabat manusia, kita tidak dibenarkan untuk menggunakan kekerasan atau paksaan untuk menolak segala sesuatu yang dianggap bertentangan dengan nilai agama dan budaya. Pendekatan agama adalah pendekatan persuasif, pendekatan yang bermartabat dan beradab.

Dalam perspektif administrasi negara, persoalan moralitas agama menjadi wilayah otoritas kelembagaan agama yang merupakan institusi sipil. Tidak dibenarkan kalau ormas keagamaan sebagai institusi sipil mendesakkan prinsip dan nilai yang diyakininya  secara paksa dengan melakukan kekerasan ke kelompok sipil lainnya. Jika setiap kelompok masyarakat berdasarkan pemahaman akan prinsip dan nilai yang dianggapnya benar berpandangan dibenarkan bagi mereka untuk melakukan paksaan atau kekerasan pada pihak lain yang dianggapnya bertentangan atau melanggar nilai yang diyakininya, tak terbayangkan betapa kacaunya kehidupan sosial. Untuk itulah dibutuhkan kehadiran  administrasi negara sebagai mediator konflik  yang adil dan berdiri di atas semua golongan. Lembaga Negara  yang beradab mampu menjadi representasi kepentingan publik dan menjamin agar tiap-tiap individu dan kelompok dapat hidup berdampingan secara damai.  Apabila yang terjadi adalah institusi negara justru tunduk ,  memihak atau berkolaborasi  dengan yang kuat untuk  menindas yang lemah, maka inilah tanda dari kegagalan administrasi negara.


Gambar : 
musica.tuttogratis.it dan 123rf.com