Kamis, 02 Agustus 2012

Ras , Etnis, dan Agama dalam Kontestasi Politik di Indonesia


Ras, etnis, dan agama menjadi isu yang sensitif untuk dibicarakan di Indonesia. Di era Orde Baru, isu seputar identitas kultural tersebut ditambah dengan antar golongan diberi istilah sebagai isu SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Keberagaman suku, ras dan agama adalah realitas sekaligus keunikan dan kekayaan Indonesia. Dari  sisi budaya, keberagaman identitas budaya ini termanifestasi dalam seni tradisi, ritual adat budaya dan agama yang dijalani dan dihidupi oleh ratusan etnis yang hidup di Indonesia. Bahkan tak jarang terjadi akulturasi budaya yang melahirkan budaya campuran yang unik khas Indonesia.  

Bila keberagaman identitas dari sisi budaya relatif mudah diterima bahkan diadopsi, tidak demikian halnya dengan keberagam identitas kultural di ranah politik praktis. Ras, etnisitas dan agama jika masuk ke praktek politik ternyata menghasilkan kontroversi, pro-kontra dan perdebatan panas seputar identitas primordial dan isu SARA yang tak ada matinya.  

Saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang identitas kultural di ranah politik setelah mengamati maraknya isu SARA selama proses Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahap pertama dan berkembang semakin panas dan intensif menjelang pemilihan tahap kedua di bulan September nanti.

Identitas Kultural dan Pilgub DKI Jakarta 2012
Ada beberapa hal yang menarik untuk diulas dari Pilgub DKI Jakarta tahun ini . Pertama-tama, tentu saja figur calon gubernur Jokowi yang berpenampilan menyempal dari gambaran umum kandidat kepala daerah yang kebanyakan suka tampil berwibawa, formal , religius, dan menggunakan identitas kultural etnisitas. Kelebihan Jokowi dibanding calon gubernur lainnya ada di caranya mendekati masyarakat yang terkesan merakyat dan natural tidak dibuat-buat. Pilihan  kostum baju kotak-kotak  dengan lengan digulung juga kostum yang aneh dan selama ini belum ada kontestan pilkada yang menggunakan model ini. Baju kotak-kotak dipadu celana jeans jelas bukan kostum yang match dengan pejabat publik di Indonesia.

Hal yang tak kalah menarik lainnya adalah figur calon wakil gubernur pasangan Jokowi , Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang keturunan Tionghoa atau orang Indonesia umum menyebut sebagai orang Cina. Selama ini jarang orang Cina yang cukup punya nyali untuk ikut berkompetisi dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah. Institusi publik , terlebih birokrasi  di Indonesia, sepertinya menjadi tempat yang relatif steril dari etnis Cina. Nggak percaya? Coba tengok-tengok di instansi pemerintah atau lembaga pendidikan negeri , ada berapa PNS, tentara, atau dosen PTN yang beretnis Cina? Langka bukan? Melihat realitas ini, pilihan Jokowi untuk berpasangan dengan Ahok dan keberanian Ahok untuk terjun di kontestasi politik menjadi isu yang menarik untuk diulas lebih jauh. Kesediaan Jokowi untuk dipasangkan dengan wakil gubernur dari kelompok etnis dan agama minoritas dan penolakan pada penggunaan simbol dan identitas ras dan etnis untuk kepentingan politik merupakan tindakan yang berani dan seolah-olah hendak melawan model pemasaran politik yang selama ini menjadi pakem atau mainstream di banyak Pilkada di Indonesia.

Dan memang terbukti munculnya Jokowi-Ahok langsung mengundang munculnya beragam isu SARA seperti perdebatan seputar baju koko dan peci, ayat suci dan ayat konstitusi, orang Betawi dipertentangkan dengan orang daerah (Solo) dan orang Cina, dan soal memilih pemimpin yang harus seiman, dan masih banyak lagi. Isu-isu semacam ini kalau kita simak bukanlah isu baru tapi penyakit musiman yang akan kambuh setiap kali ada pemilihan pimpinan dimana penentuannya dilakukan melalui pilihan rakyat. Jadi lihat saja isu ini akan muncul di setiap voting pilihan pimpinan yang strategis, kalau memilih ketua selevel RT, PKK apalagi tugas sosial yang tidak ada sumber daya yang bisa diperebutkan ya jelas banget tidak akan dibutuhkan bantuan isu SARA.

Isu SARA menjadi jualan yang diobral bebas dan liar melalui sms dan internet selama masa Pilgub DKI Jakarta 2012 tentunya bukan  karena kali ini ada kehadiran Ahok yang orang Cina dan beragama Kristen. Buktinya, pada pemilu Presiden tahun 2004 yang lalu, isu SARA juga menerpa ibu Presiden dan Wakil Presiden yang meskipun beliau berdua itu mempunyai latar belakang agama yang jelas, tapi masih saja diperdebatkan soal kebenaran identitas agama mereka. Kemudian, dulu saat Megawati dianggap sebagai kandidat kuat calon presiden terjadi perdebatan panas seputar gender (boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin) dan gugatan seputar kadar keimanan Megawati. Kesimpulannya,  kalaupun sebenarnya tidak ada isu SARA yang bisa dimainkan ya dicari-cari atau digolek-goleki, pokoknya isu ini memang seksi banget dan gampang digunakan untuk menarik solidaritas dan loyalitas kelompok.

Apa dan Mengapa ada isu SARA di Kontestasi Politik?
Mengamati pemberitaan dan perdebatan di media cetak maupun elektronik seputar Pilgub DKI Jakarta tahun 2012 mengundang banyak pertanyaan liar di benak saya.  Mengapa ras dan etnisitas menjadi isu yang panas dan sensitif? Mengapa dan untuk apa to manusia kok dikelompok-kelompokkan ke dalam berbagai ras dan etnisitas?  Apakah ras dan etnisitas itu sesuatu yang kodrati atau hasil dari konstruksi sosial masyarakat? 

Ada banyak teori yang mencoba menjelaskan ras dan etnisitas dalam hubungannya dengan politik atau negara. Dua pendekatan yang utama adalah primordialisme dan pendekatan konstruktivis . Menurut pendekatan konstruktivis,  ras sesungguhnya lebih merupakan  merupakan konstruksi sosial politik. Negara yang mengkonstruksi atau membentuk kategori rasial. Di beberapa negara, ras digunakan sebagai alat memobilisasi pemilih saat pemilihan umum.

..race is greatly controlled and manipulated as a tool by many state governments. In some states, race is a tool used during election to garner when political parties represent a particular racial group and "play up" the race's differences from members of another race. If this situation of people identifying themselves along racial lines becomes too extreme, ethnonational riots may break out where one racial group feels it is unfairly treated by another. Political parties may hence used the race card to mobilize its voters (http://sc2218.wetpaint.com/).

Ras dan etnisitas menjadi isu yang seksi dalam pemilu. Mengapa demikian? Nampaknya ada keyakinan di benak para kandidat atau tim suksesnya bahwa cara termudah dan paling efektif menarik hati orang untuk memilih seorang kandidat adalah dengan cara membangkitkan ikatan emosional pemilih pada calon. Ikatan emosional mana yang bisa melebihi kecintaan seseorang pada identitas primordialnya : suku, agama, ras, dan golongan atau komunitas? Diantara semua identitas ini, suku-agama-dan ras menjadi identitas yang paling kuat sehingga mudah menyulut emosi. Dalam ras, agama dan etnisitas ada stigmatisasi dan pelabelan yang pada akhirnya akan bermuara pada  kebencian, syak wasangka, kecemburuan sosial, eksklusi dan inklusi.

Mengingat isu ras  dan etnisitas hanya muncul sebagai  jualan selama musim kampanye tidak aneh kalau ditarik kesimpulan bahwa isu SARA itu lebih sebagai komoditas politik. SARA sebagai alat politik tak ubahnya minuman keras oplosan yang bisa memabukkan dan mematikan. Apabila setiap orang Indonesia setuju dengan pandangan bahwa memilih pemimpin itu yang penting pokoknya yang utama harus beridentitas ras dan etnisitas (dan juga agama) yang sama dan soal kapabilitas serta integritas itu urusan belakangan, ya kita jadi tahu  salah satu faktor penghambat mengapa Indonesia sulit untuk maju.

Menurut saya tidak ada yang salah dengan kecintaan pada identitas primordial. Kelestarian nilai-nilai dan praktek budaya serta agama hanya dapat terjaga apabila setiap orang bisa menghargai dan menghidupi nilai dan ritual budaya dan agama yang  dicintainya. Tapi jangan sampai kecintaan kita pada identitas budaya dan agama membuat kita buta sehingga mudah dikendalikan untuk kepentingan yang sesungguhnya belum tentu berkaitan dengan ajaran luhur agama.

Bicara tentang identitas kultural, sesungguhnya etnisitas dan ras hanyalah idiom atau konsep yang hanya bisa dipahami oleh orang dewasa.  Ini membuktikan bahwa etnisitas dan ras dibangun untuk kepentingan orang-orang dewasa. Perbedaan ras, etnis, agama dan gender tidak ada dalam alam pikir anak-anak. Anak-anak bisa dikatakan buta warna kulit, ras, gender dan agama. Ingin tahu buktinya? Coba kita lihat iklan-iklan dari Petronas Malaysia ini.






Untuk lebih memahami tentang makna keberagaman bisa didengar apa kata Paul McCartney dan Stevie Wonder dalam lagunya Ebony and Ivory




Gambar : darren-ng.livejournal.com


Rabu, 18 Juli 2012

Fashion dan Politik : Belajar dari Euforia Politik Pilgub DKI Jakarta


Fashion is a powerful way of expression, one that politicians - dictators as well as popularly elected - has explored in the past, still do today and will be doing tomorrow (http://fashioninpolitics.blogspot.com)

Saat ini masyarakat dan media massa tengah dilanda euforia Jokowi – Walikota Solo yang memenangkan putaran pertama kompetisi politik Pilihan Gubernur DKI Jakarta. Banyak  pendapat dan analisa bermunculan dan mencoba menjelaskan faktor-faktor penyebab kemenangan yang tidak terduga dan sekaligus menjungkirbalikkan prediksi lembaga survei yang sebagian besar meramalkan kemenangan pasangan Fauzi Bowo-Nara.
Saya tidak ingin ikut-ikutan membuat tulisan yang menyoroti seputar kemenangan Jokowi atau mengelu-elukan figur Jokowi secara berlebihan.  Saya lebih tertarik dengan fenomena baju kotak-kotak  dengan dominasi warna merah dan biru tua yang dikenakan sebagai seragam kampanye  pasangan Jokowi-Ahok.

Gara-gara Jokowi baju kotak-kotak saat ini menjadi sangat politis. Bagaimana bisa baju yang fungsi dasarnya sebagai penutup tubuh berubah menjadi simbol kuasa bak magnit yang mempengaruhi perilaku banyak orang? Yah ternyata apa saja bisa dimanipulasi manusia untuk memaksimalkan kepentingannya, terlebih lagi menyangkut kepentingan politik. Bahkan cara berbusana pun bisa menjadi bagian dari pemasaran politik.  Melalui fashion atau cara berbusana, kandidat ingin menyampaikan  pesan ke rakyat pemilih siapa dirinya. Ibaratnya dagangan, fashion bagian dari kemasan atau bungkus yang bisa menjadi daya tarik konsumen.

Ada ideologi tertentu dibalik pakaian yang dikenakan seseorang. Ada identitas dan pesan yang ingin disampaikan seseorang melalui pakaian yang dikenakannya. Pakaian adalah media ampuh untuk membangun citra diri atau self-image – untuk menunjukkan siapa diri  dan  statusnya. Apa kesan yang seketika timbul saat kita melihat  orang  memakai baju atau aksesori yang menjadi simbol agama – seperti jilbab muslimah atau kerudung biarawati, baju koko dan kopiah ? Mereka tentunya orang-orang yang  sangat mencintai dan  taat dengan  agamanya.  Apa kesan yang terbangun di benak kita saat melihat laki-laki memakai jas dan dasi? Mereka pasti bos atau manajer atau orang yang mempunyai jabatan atau posisi penting di kantornya. Nggak mungkinlah sopir becak mengayuh becaknya pakai jas. Bagaimana dengan baju batik ? Itu cocok untuk kondangan atau njagong (datang ke resepsi atau hajatan). Sekali pun sekarang batik sudah mulai disukai anak-anak muda, tapi kesannya yang formal tetap belum hilang.  

Mengapa Jokowi-Ahok tidak memilih  jas dan dasi sebagai kostum kampanyenya? Kalau model ini yang dipilih kok kesannya bossy, formal dan enggak friendly banget. Baju jas dan dasi seperti menciptakan semacam jarak sosial dengan rakyat kecil. Jas dan dasi bukan baju rakyat. Kalau pejabat datang ke rakyatnya memakai jas dan dasi sepertinya mereka sudah membatasi diri dan menunjukkan identitas siapa mereka dan  siapa rakyat yang di bawah. Benar tidaknya pendapat ini bisa dicek dengan membayangkan bagaimana kalau Jokowi blusukan ke pasar-pasar tradisional atau ke kampung-kampung kumuh dengan memakai jas dan dasi.

Mengapa Jokowi-Ahok  tidak memilih baju modelnya Foke-Nara , baju koko dengan kopiah dan sarung kotak-kotak dipundak? Untuk pertanyaan ini Jokowi menjawab demikian :  "Ya bosenlah. Semua yang maju ke pilkada selalu pakai baju koko dan kopiah, biar kelihatan religius." (tribunnews.com)  . Karena jawabannya ini Jokowi dituduh telah melecehkan masyarakat Betawi yang mayoritas beragama Islam. Baju koko dan kopiah ternyata bukan sekedar baju, tapi ada identitas dan nilai tertentu yang melekat disitu. Namun kalau Jokowi memilih tidak memakai baju koko dan kopiah, mungkin itu artinya dia tidak mau menggunakan identitas primordial sebagai alat untuk kepentingan politik.

Terus, apa pesan dan kesan yang diinginkan oleh pasangan Jokowi-Ahok dengan memilih seragam kampanye baju kotak-kotak. Menurut rasa saya, baju motif kotak-kotak berkesan casual dan manly banget. Kalau perempuan pakai baju kotak-kotak biasanya dibuat model hem dipadu dengan jeans atau pas juga dibuat rok mini , jarang kain kotak-kotak dibikin rok terusan. Rok terusan kan kesannya feminin jadi cocoknya kain motif flowery, yang berbunga-bunga dengan warna-warna pastel. Baju kotak-kotak dengan celana jins kesannya cowboy banget alias cocok sekali untuk mereka yang beraktivitas di lapangan, bukan di kantor yang ber-ac. Baju kotak-kotak jauh dari kesan formal. Jarang kan  melihat orang datang ke pesta hajatan dengan baju kotak-kotak.  Ke pesta ya pakai batik atau baju yang blink-blink dengan perhiasan yang berkilauan biar terkesan formal, mewah dan glamor. Pilihan pada baju kotak-kotak bisa diartikan kesiapan atau fokus pada penyelesaian masalah di lapangan dan berinteraksi langsung dengan rakyat tidak melalui komando di gedung kantor mewah ber-ac. Baju kotak-kotak juga terkesan egaliter artinya tidak ada simbol status dan identitas apapun yang bisa dilekatkan disitu.

Baju kotak-kotak Jokowi bagaimana pun telah menjadi bagian dari euforia politik. Terbukti makin banyak orang yang tertarik ingin punya baju kotak-kotak dan tentu saja ini membahagiakan para pedagang di pasar-pasar tekstil.  Minat atau kesukaan pada baju kotak-kotak Jokowi  bisa dibaca sebagai sinyal atau indikasi kepada siapa rakyat menjatuhkan pilihannya.  Ini sesuatu yang menakutkan lawan politik Jokowi.  Bukan baju kotak-kotak itu yang menimbulkan ketakutan, tapi simbol dan identitas dan kuasa politik dibalik baju tersebut. Begitu berkuasanya baju kotak-kotak pasangan Jokowi-Ahok sehingga bisa menjadikan sensi lawan politik. Saking takutnya pada baju kotak-kotak, sekelompok orang sampai mendatangi Panwaslu meminta untuk mentertibkan pemakaian baju kotak-kotak (tempo.co )

Bagaimana pun baju hanyalah bungkus. Yang lebih penting adalah isinya. Tidak ada orang yang membeli produk hanya sekedar untuk mendapatkan bungkusnya, tetap isi yang menjadi minat belinya.  Barang yang bagus akan menjadi semakin menarik kalau dikemas dalam bungkus yang mencitrakan kualitas isinya. Demikian pula jika banyak orang suka dengan baju kotak-kotaknya Jokowi-Ahok, itu bukan karena sekedar tertarik dengan bajunya, tapi terlebih pada simbol kekuatan dan pesan serta figur Jokowi yang dianggap memenuhi harapan publik.  Baju kotak-kotak dalam hal ini telah beralih fungsi sebagai simbol yang bisa menyatukan aspirasi dan harapan  akan perubahan. Dengan memakai baju kotak-kotak, orang bisa mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang melawan atau anti dengan simbol-simbol dan jargon-jargon dominan yang selama ini menjadi identitas penguasa. Tepat sekali pendapat Joshua Miller   (dalam Gordana Vrencoska ) yang menyebutkan baju mempunyai dua fungsi politis  yakni untuk mengekspresikan perlawanan pada simbol-simbol dominan dalam masyarakat dan  untuk menyatukan kelompok-kelompok yang melawan simbol dan ide-ide tersebut. Baju merupakan simbol penting dari identitas kolektif karena itu dapat membangkitkan rasa kebanggaan dan kebersamaan sebagai komunitas.

Kalau baju kotak-kotak Jokowi bisa berkembang sebagai alat yang menyatukan perlawanan pada segala sesuatu yang dianggap sebagai simbol status quo, maka penguasa politik  mana yang tidak cemas dengan gejala ini? 

###########

Untuk melengkapi tulisan ini mari kita simak apa kata Lady Gaga dalam lagunya FASHION dimana salah satu bait  liriknya menyatakan : You are who you wear, it's true !





Artikel terkait : 
Tentang Fashion : Membebaskan atau Menindas Perempuan ?

Gambar : davinanews.com dan fashioninpolitics.blogspot.com

Kamis, 17 Mei 2012

Lady Gaga dan Isu Moralitas


Negeri saya ini bener-bener lucu dan unik. Jika ditanyakan bagaimana rasanya jadi orang Indonesia, jawabannya seperti permen nano-nano  : manis, asem, kecut, semua ada. Kadang ada saatnya merasa bangga dan cinta, tapi akhir-akhir ini kok sepertinya lebih banyak bikin kecut dan cemberut.

Negara ini sepertinya semakin dilekatkan dengan kekerasan, kemunafikan, korupsi, dan pemerintahan yang kacau balau. Konflik antar kelompok masyarakat semakin sering terjadi. Tentang korupsi, Kompas hari Rabu 16 Mei 2012 menulis judul gede “Mental Korupsi Sudah Merata”, disitu diberitakan temuan BPK tentang korupsi birokrasi melalui perjalanan dinas yang mencapai 30-40 persen dari biaya perjalanan dinas Rp 18 trilyun selama setahun (wow...seram!!). Di tengah belitan kasus korupsi, kekerasan dan pengelolaan negara yang amburadul terselip hal-hal ringan dan sepele tapi ditanggapi secara serius dan berkembang menjadi perdebatan panas seputar isu moralitas.  Ada yang ngurus rok mini , video porno artis dan anggota dewan, dan yang lagi hangat saat ini soal Lady Gaga gagal konser.

Berhubung saat ini libur panjang dan saya mau santai menikmati liburan, saya nggak mau capek-capek berpikir serius seputar korupsi, kekerasan atau soal politik lainnya. Problem ini sudah banyak yang ngomong. Saya hanya ingin tahu siapa itu Lady Gaga?  Apa sih hebatnya si Lady Gaga ini kok bisa-bisanya mencuri perhatian sebagian orang-orang penting untuk sekedar  memberi komentar atau berkotbah soal moralitas? Bagaimana performance dan lirik lagunya sehingga dia  dituduh sebagai pembawa ajaran setan dan ditolak oleh banyak ormas keagamaan di Indonesia?

Dari jalan-jalan di internet saya menemukan berita tentang kiprah bermusik Lady Gaga. Menurut Dailymail.co.uk Lady yang satu ini dalam performance-nya memang sengaja menggunakan shock tactics dan melecehkan simbol-simbol agama Kristen demi untuk mendongkrak popularitasnya. Meski dibesarkan dalam keluarga dengan iman Katolik Roma dan saat kecil bersekolah di biara, tapi saat ini –seperti dikatakan Bill Donahue, Pemimpin umat Katolik di New York – dia sepertinya sengaja mengusik umat Katolik dan Kristen pada umumnya, seperti dalam pentas memakai gaun biarawati atau menelan rosario. Yang paling mengundang kemarahan adalah lagunya yang berjudul Judas. Judul ini diambil dari nama Judas Iskariot – murid Yesus yang berkhianat dengan menyerahkan Yesus ke musuhnya. Dalam lirik lagu Judas, ada beberapa lirik yang  bagi umat Kristen akan dikenali sebagai bagian dari kisah dalam Alkitab yang menggambarkan penghormatan Maria Magdalena kepada Yesus. Namun dalam lagu Judas, kisah di Alkitab diplesetkan oleh Lady Gaga menjadi kesetiaan  bukan pada Yesus tapi pada Yudas. Contohnya bisa disimak bait-bait ini :

When he comes to me, I am ready
I'll wash his feet with my hair if he needs
Forgive him when his tongue lies through his brain
Even after three times, he betrays me
..........
I wanna love you,
But something's pulling me away from you
Jesus is my virtue,
And Judas is the demon I cling to
I cling to

Sebenarnya, lirik lagu sebagai karya seni tak beda jauh dengan deretan kata dalam kalimat karya sastra – bersifat sangat multi interpretasi. Akibatnya, belum tentu makna dari si pembuat lirik akan dipahami secara sama oleh pendengar atau pembacanya. Dalam kasus Lady Gaga, lirik lagu yang identik dengan ayat di Alkitab ditambah lagi dengan visualisasi panggung atau  videoklip yang terkesan melecehkan simbol-simbol agama Kristen menjadikan kesan langsung yang tertangkap mata adalah pelecehan agama.

Namun dari kacamata rasa seni yang saya  miliki, terlepas dari keimanan saya, saya bisa saja menafsirkan lagu Judas ini sebagai ungkapan ketidakberdayaan perempuan yang terjerat dalam cinta buta pada laki-laki yang salah. Jika lihat videoklip Judas di youtube, disitu ada gerombolan laki-laki naik Harley Davidson pakai jaket kulit hitam yang di punggungnya tertulis Judas dan si Gaga membonceng dengan pakai kalung salib gede. Ini saya maknai sebagai Si Gaga jatuh cinta pada laki-laki bertipe Judas - dengan tampilan sangar pakai jaket kulit hitam bergambar tengkorak bertuliskan Judas. Si perempuan tahu bahwa laki-laki itu tipe yang tidak setia, tipe pengkhianat dan dia seharusnya memilih setia pada imannya – pada Yesus, tapi cinta yang buta membuatnya nggak bisa lepas dari si Judas. Ini jelas diungkap di kutipan bait yang kedua di atas yang terjemahan bebasnya kurang lebih begini :

Aku ingin mencintaimu,
Tapi ada sesuatu yang menarikku menjauh darimu
Yesus adalah kebajikanku,
Tapi  Yudas adalah setan saya pegang teguh...saya pegang teguh

Bisa juga saya menarik lirik ini untuk makna yang lebih luas dan mendalam, misalnya ini menggambarkan kondisi umat Kristen saat ini yang seharusnya setia berpegang pada ajaran mulia Yesus, tapi justru mengkhianati  perintah Yesus dengan menggadaikan iman demi materi, korupsi atau kekuasaan. Nggak salah kan , kalau saya menafsirkan lirik Judas seperti ini? Jika kita terbiasa membaca karya sastra, kita tidak akan mengartikan kalimat atau bahasa secara harfiah atau  tersurat tapi lebih secara tersirat- atau menggali makna dibalik kata.

Bicara soal tafsir lirik lagu akan menjadi semakin menarik kalau dikaitkan dengan pornografi. Dalam UU No 44 Th. 2008 tentang Pornografi disebutkan tulisan atau syair dikatakan porno kalau mengeksploitasi daya tarik atau bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa (pasal 4). Pasal ini hanya bisa menjerat tulisan yang bermakna harfiah, tapi tidak bisa menjerat tulisan, syair atau lirik yang tersirat. Lagu Cucak Rowo-nya Didik Kempot, misalnya, tidak ada liriknya yang berbau eksploitasi seksual, wong hanya bicara soal gadis yang takut dengan burung , yang dideskripsikan seperti ini :

Manuke manuke cucak rowo,
Cucak rowo dowo buntute
Buntute sing akeh wulune,
Yen digoyang ser-ser aduh enake
(Burungnya, burung cucak rowo...Cucak rowo panjang ekornya...Ekornya banyak bulunya...Kalau digoyang ser ser aduh enaknya)

Hal yang sama juga berlaku untuk lagu Julia Perez (Jupe) Belah Duren yang bicara tentang enaknya makan duren malam-malam dengan kekasih :


Makan duren dimalam hari
Paling enak dengan kekasih
Dibelah bang dibelah
Enak bang silahkan dibelah

Jangan lupa mengunci pintu
Nanti ada orang yang tau
Pelan-pelan dibelah
Enak bang silahkan dibelah

Tidak ada bau pornografi dalam kata per kata di lirik lagu Cucak Rowo dan Belah Duren. Kalau itu berbau atau berkonotasi mesum , itu karena daya interpretasi otak manusia atau cara memaknai pesan dibalik kata-kata.  Lha kalau bicara soal otak atau pikiran manusia, pasal hukum mana yang bisa untuk menjerat liarnya daya imajinasi manusia?  Menurut saya, mimik wajah Jupe saat menyanyikan Belah Duren jauh lebih mesum ketimbang Lady Gaga.  Belum lagi kalau dinilai dari kualitas liriknya.  Lirik lagu Cucak Rowo dan Belah Duren  sungguh dangkal dan tak jelas pesan apa yang mau disampaikan, selain hanya menyeret otak kita untuk berimajinasi jorok, punya Lady Gaga – secara sastra - jauh lebih berkelas. Entah mengapa, kalau mendengar lirik lagu Cucak Rowo dinyanyikan oleh anak-anak , saya jadi sebel dan geregetan. Meskipun lagu itu ceria seperti lagu anak-anak dan tidak ada kata-kata vulgar berbau seksual disitu, tapi kok rasanya jengah atau enggak nyaman banget dengar lagu itu keluar dari mulut anak-anak .

Saya  hanyalah seorang ibu yang berusia menjelang setengah abad, saya merasa tidak pantas menjadi fans Lady Gaga. Penampilan Lady Gaga yang vulgar , cara berbusana yang aneh,  serta videoklip yang terlalu mengumbar tubuh perempuan tidak connect dengan selera musik saya yang jadul. Meskipun demikian, saya mencoba memahami gerak jaman dengan segala dinamikanya. Mengapa anak muda lebih suka mengambil idola atau role model dari ikon dunia hiburan semacam Lady Gaga? Nampaknya anak muda jaman sekarang semakin realistis dan terbuka dalam menanggapi perbedaan. Standard moralitas tidak lagi diukur dari bagaimana seseorang memperlakukan tubuhnya atau identitas seksualnya, tapi lebih ke hal yang substansial seperti kejujuran, integritas, kesetiakawanan, dan kasih sayang. Prinsip mereka adalah  jadilah diri sendiri, siapa pun kamu, apa pun identitasmu. It’s okey,  sepanjang kamu tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti orang lain. Gejolak jiwa muda adalah  pencarian jati diri dan pemberontakan pada tatanan yang dianggap mapan dan penuh kepalsuan.

Menurut saya,  Lady Gaga adalah gambaran ikon musik pop yang merepresentasikan anak muda abad internet : straight to the point, lugas, semua hal bebas diekspresikan dan diungkapkan, bahkan semua rambu tabu ditabrak tanpa rasa takut. Dari sisi penampilan, Lady Gaga terkesan pokoknya tampil eksentrik dan aneh. Pokoknya tidak umum , lihat saja sepatu-sepatunya atau kostum dan aksesoris panggungnya.  Lagu-lagu Lady Gaga mengungkapkan hal apa saja yang bisa mengguncang nilai-nilai sosial yang mapan. Misalnya,  Born This Way menyuarakan keberanian untuk mengungkapkan jati diri  dan menerima serta menghargai identitas kultural apa pun, termasuk identitas seksual yang berbeda atau dianggap menyimpang dari nilai moralitas dan agama. Lady Gaga kebetulan datang ke Indonesia di saat yang bersamaan dengan Irshad Manji – perempuan warga Kanada (mengaku sebagai lesbian) yang juga dituduh mengusik nilai-nilai keagamaan melalui tulisan di buku-buku karyanya.

Terkait dengan isu moralitas dan identitas seksual,  abad ini adalah abad galau dan gamang karena sepertinya moralitas tidak lagi bisa hitam putih, ada banyak wilayah abu-abu. Ajaran agama apa pun dan masyarakat mana pun tidak bisa menerima pelecehan terhadap ajaran atau kesakralan simbol agama, ekspresi tubuh yang bebas, terlebih lagi  perilaku seksual “menyimpang” . Isu-isu tabu ini yang nampaknya coba disuarakan oleh Lady Gaga dan Irshad Manji. Jadi bisa dimaklumi kalau kedatangan kedua perempuan ini menyinggung sensitivitas religius kelompok ormas keagamaan yang harus menjalankan peran penjaga moralitas masyarakat.  Di satu sisi, sebagai orang yang mengaku beragama saya bisa memahami kekhawatiran ormas keagamaan menghadapi gempuran ikon-ikon budaya pop global yang banyak mengabaikan nilai moralitas demi mengeruk keuntungan ekonomis sebanyak-banyaknya.   Namun di sisi lain, dalam hidup bermasyarakat dan bernegara yang menjunjung tinggi hak dan martabat manusia, kita tidak dibenarkan untuk menggunakan kekerasan atau paksaan untuk menolak segala sesuatu yang dianggap bertentangan dengan nilai agama dan budaya. Pendekatan agama adalah pendekatan persuasif, pendekatan yang bermartabat dan beradab.

Dalam perspektif administrasi negara, persoalan moralitas agama menjadi wilayah otoritas kelembagaan agama yang merupakan institusi sipil. Tidak dibenarkan kalau ormas keagamaan sebagai institusi sipil mendesakkan prinsip dan nilai yang diyakininya  secara paksa dengan melakukan kekerasan ke kelompok sipil lainnya. Jika setiap kelompok masyarakat berdasarkan pemahaman akan prinsip dan nilai yang dianggapnya benar berpandangan dibenarkan bagi mereka untuk melakukan paksaan atau kekerasan pada pihak lain yang dianggapnya bertentangan atau melanggar nilai yang diyakininya, tak terbayangkan betapa kacaunya kehidupan sosial. Untuk itulah dibutuhkan kehadiran  administrasi negara sebagai mediator konflik  yang adil dan berdiri di atas semua golongan. Lembaga Negara  yang beradab mampu menjadi representasi kepentingan publik dan menjamin agar tiap-tiap individu dan kelompok dapat hidup berdampingan secara damai.  Apabila yang terjadi adalah institusi negara justru tunduk ,  memihak atau berkolaborasi  dengan yang kuat untuk  menindas yang lemah, maka inilah tanda dari kegagalan administrasi negara.


Gambar : 
musica.tuttogratis.it dan 123rf.com

Selasa, 08 Mei 2012

Ikatan Primordial, Identitas Sosial dan Konflik Komunal


Lagi-lagi kekerasan. Kali ini giliran terjadi (lagi) di Kota Solo. Rasanya capek ngomong soal kekerasan yang  hampir setiap saat terjadi di Indonesia, terutama Paska Orde Baru. Di blog ini, tema tentang kekerasan telah berkali-kali saya tulis. Sudah males banget mau nulis lagi tema yang sama, apa lagi yang mau diulas. Dan untuk apa? Apa gejala kekerasan cukup hanya dengan dianalisis dan didiskusikan saja? Apa dengan menuliskan ide atau pendapat akan bisa merubah cara pandang banyak orang tentang permasalahan sosial yang dihadapi bangsa Indonesia ini?

Namun, melihat gejala konflik sosial yang tidak sehat seperti terjadi di Solo beberapa hari yang lalu, saya tidak bisa acuh tak acuh lagi. Isu-isu liar  bertebaran di internet  dan bahkan di salah satu situs besar di Indonesia ada tulisan yang mengaitkan kekerasan antar kelompok preman dan sebuah ormas itu ke isu agama. Membaca debat panas dan cara penyikapi perbedaan yang terlontar membuat saya miris. Pikiran saya tidak bisa diam, bermacam-macam pertanyaan berkecamuk di benak saya. Mengapa konflik sosial antar  kelompok masyarakat , bahkan konflik antar individu yang bersumber pada persoalan yang sepele sekali pun , kalau itu melibatkan dua pihak yang berbeda identitas primordial (suku, ras, agama, dan antar golongan) mudah meletup menjadi bara konflik komunal atau konflik antar kelompok? Dan mengapa perbedaan identitas keagamaan dari pihak-pihak yang bertikai akan mudah membentuk solidaritas kelompok dan menyeret pada “aroma”  saling mengkambinghitamkan satu sama lain dan cenderung mengarah pada generalisasi yang stigmatis  pada pihak yang sudah diberi label buruk, bahkan sekali pun pihak itu tidak terlibat langsung di dalam konflik?

Agama nampaknya menjadi sense of identity paling kuat pada seseorang. Nilai religi yang ditanamkan secara intens dan terus menerus sejak kecil  hingga dewasa akan membentuk cara pandang yang baku dan rigid dalam memandang dunia sekitar : individu, kelompok, masyarakat , dan lingkungan atau sistem sosial, budaya, politik dan ekonomi. Ajaran dan nilai agama membentuk pola pikir atau perspektif yang seragam.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa proses penanaman nilai religi tidak sekedar berisi tuntunan menuju kebaikan, kriteria apa yang benar dan salah, yang boleh dan tidak boleh, pahala dan dosa, tapi disitu terdapat proses penguatan sense of identity – yang menegaskan siapa “kita”  dan “mereka”. Jalan agama adalah jalan menuju kepadaNya yang diklaim  paling benar oleh masing-masing penganutnya. Dan karena di dunia ini tidak hanya ada satu agama, maka akan ada pihak-pihak lain yang dianggap berbeda jalan,  yang akan dicap sebagai “sesat”. Dan misi penganut agama adalah mengajak atau membawa pihak-pihak yang dianggap “sesat” ini kepada jalan yang benar. Celakanya, ada "sebagian" kelompok beragama yang mempunyai pemahaman bahwa ,  jika mereka yang dianggap menyimpang atau melanggar ketentuan ajaran agama  tidak lagi bisa diluruskan dengan himbauan atau pengajaran maka dibenarkan kalau kelompok ini ditangani dengan cara kekerasan.Kekerasan akan pecah ketika kelompok yang dianggap sesat melakukan perlawanan.  Inilah akar konflik antara  “ sebagian pemeluk “ agama dengan mereka yang dicap non agamis atau “kafir”.Kasus kekerasan antara kelompok ormas beragama dengan kelompok  keagamaan yang dianggap sesat dan bentrok antara preman dengan ormas di Solo adalah contoh  konflik komunal  yang tahun-tahun terakhir ini sering  terjadi di banyak kota di Indonesia.

Konflik sosial berlatar belakang isu agama juga terjadi antar kelompok umat beragama. Hal ini bisa terjadi  karena ada ayat-ayat dalam kitab suci yang diyakini atau diinterpretasikan para penganutnya sebagai  firman   Tuhan yang mengharuskan pengikut suatu agama untuk menyebarkan ajarannya atau istilahnya mengajak kepada jalan yang benar dimana definisi jalan yang benar itu tergantung pada masing-masing penganut. Akibatnya, semua pemeluk agama yang “ekspansif” semacam ini akan mengklaim jalan agamanya yang paling benar dan berusaha menyebarkan misinya ke banyak orang.  Bisa dibayangkan kalau dua kelompok agama dengan pemahaman seperti ini sama-sama bersaing meraih “massa” sebanyak-banyaknya. Massa atau jumlah umat yang banyak – tak beda jauh dengan politik – adalah simbol pengaruh dan punya kekuatan riil. Sebagaimana partai politik dengan massa banyak akan berkontribusi dalam pemenangan kompetisi politik, terlebih lagi massa umat beragama dimana  ikatan dibangun  atas dasar loyalitas dan militansi agama yang relatif konstan.  Perebutan dan persaingan pengaruh dan massa umat  seringkali menimbulkan gesekan   di antara “pemeluk” agama. Konflik ini sekali pun tak selalu  tampak sebagai konflik terbuka tapi bak bara dalam sekam yang  setiap saat bisa terbakar jika ada pemantiknya.

Belajar dari berbagai kasus konflik dan kekerasan komunal seperti di Ambon dan Kalimantan ternyata pemicu konflik adalah persoalan pertikaian antara individu yang berkembang menjadi bentrok antar kelompok dan membesar menjadi konflik komunal karena menyeret identitas agama. Identitas agama menyeret identitas suku dan ras. Mengapa ini terjadi? Mengapa orang mudah bangkit emosinya apabila disinggung identitas primordialnya, lebih khusus lagi identitas agamanya? Mengapa agama merupakan identitas sosial yang kuat bagi seseorang?

Dalam upaya  memperkuat ikatan umat pada agamanya, terkadang tidak cukup dengan internalisasi kesalehan sosial atau manifestasi pada relasi kemanusiaan, tapi juga upaya menjadikan agama sebagai identitas sosial seseorang. Identitas sosial adalah pemaknaan seseorang tentang siapa dirinya (self-concept) sesuai dengan keanggotaannya dalam suatu kelompok. Menurut Jacobson ( dari blog.uin-suska.ac.id/ivan/teori identitas sosial fokus  terhadap individu dalam mempersepsikan dan menggolongkan diri mereka berdasarkan identitas personal dan sosial mereka. Lebih lanjut teori identitas sosial menyatakan ketika individu bergabung dengan kelompok, dan kelompok itu memiliki status yang superior dibandingkan kelompok lain, maka hal ini akan meningkatkan self -image mereka sendiri.

Apabila agama menjadi identititas sosial seseorang, maka dia akan mengidentifikasi dirinya dengan segala sesuatu yang menjadi ajaran dan identitas agamanya. Agama adalah identitas diri atau self –image , citra diri seseorang dimana disitu ada nilai-nilai yang menjadi miliknya, ada kelompok yang bisa diakui sebagai komunitasnya.  Agama sebagai identitas sosial cenderung bersifat tertutup atau eksklusif, karena itu mudah dijadikan sarana untuk menggalang solidaritas kelompok. Sayangnya, tidak jarang ditemui adanya upaya menumbuhkan solidaritas dan soliditas kelompok keagamaan dengan menanamkan pemahaman tentang adanya “musuh bersama” yang mengancam eksistensi dan kemurnian agamanya. Apabila dua kelompok keagamaan dengan cara pandang semacam ini berkompetisi, maka yang ada hanya kecurigaan dan ketidak percayaan satu sama lain. 

Dalam suatu masyarakat apabila kecurigaan, syak wasangka, dan ketidakpercayaan di antara kelompok masyarakat yang berbeda itu sudah membatu, ini menunjukkan gejala masyarakat yang tidak sehat. Ini sinyal bahwa segregasi sosial itu sudah sedemikian akut.  Sedikit saja terjadi gesekan di antara mereka akan gampang membangkitkan solidaritas kelompok. Inilah yang memicu konflik komunal.



Konflik komunal akan mudah tersulut ketika di masing-masing pihak sudah tercetak mind set pokoknya “yang lain” itu ya seperti itu, dan selamanya akan seperti itu. Kalau “yang lain” itu menunjukkan kebaikan, itu karena terpaksa atau pasti punya pamrih atau punya agenda tersembunyi. Paranoia atau ketakutan akan “yang lain” akan membawa pada segregasi sehingga orang tidak mau membaur  atau bergaul dengan mereka yang berbeda. Gejala paranoia ini bisa dikenali apabila orang mulai membuat kantong atau wilayah yang terkotak-kotak berdasarkan identitas primordial.  Saya yakin, masyarakat Kota Solo atau Indonesia umumnya belum sampai ke tahap paranoid semacam ini. Namun, kalau konflik berlatar belakang atau dibumbui isu SARA dibiarkan terjadi terus menerus dan tidak segera dilakukan upaya untuk rekonsiliasi, untuk membuka komunikasi, untuk saling memahami satu sama lain , saya tidak bisa menjamin bahwa kita tidak akan  menuju masyarakat yang “sakit”. Kalau ini terjadi, kita semua punya andil di dalamnya, karena selama ini kita sibuk dengan identitas kelompok kita sendiri-sendiri sehingga  abai dan tidak mau merawat identitas kebangsaan Indonesia.

Indonesia adalah negara multikultur. Ini fakta yang tak dapat diingkari. Karena itu sejak awal lahirnya, negara ini telah sadar betul akan pentingnya nation building. Simbol negara, semboyan Bhineka Tunggal Ika, Pancasila, Negara Kesatuan adalah lem perekat identitas kebangsaan. Tapi kini, baru menjelang 67 tahun, nampaknya upaya nation building itu sepertinya tidak ada pengaruhnya. Terbukti masyarakat akar rumput dan mungkin juga kita semua, masih menyimpan kecurigaan dan tidakpercayaan pada sesama anak bangsa sendiri, sehingga konflik sekecil atau sepele apapun apabila dibumbui “aroma” SARA,  akan dengan mudah membakar emosi kelompok yang bernuansa sentimen primordial. Penanaman rasa nasionalisme yang ditanamkan sejak kecil melalui pendidikan kewarganegaraan dan Pancasila sepertinya  sudah terlupakan dan tidak ada lagi bekasnya. Ikatan kebersamaan sebagai satu bangsa mestinya menjadi identitas sosial yang lebih kuat ketimbang identitas kelompok primordial.  Bagaimana kita mau menghadapi globalisasi, jika soliditas internal antar sesama bangsa saja sedemikian rapuh? Kalau negara lain sibuk membangun sumber daya manusianya dan bahkan ada yang merintis riset untuk menemukan kehidupan di planet lain, kita disini sibuk berkelahi sendiri merebutkan sesuatu yang tidak jelas dan para elitnya berebut kuasa politik yang orientasinya jangka pendek dan tidak visioner.

Uhh, cuaapek deh. Mau dibawa kemana Indonesia kita ini? Quo vadis, Indonesia?

(Pertanyaan ini bisa menjadi perenungan bersama menjelang Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei)


Gambar  : 

Rabu, 02 Mei 2012

Perempuan, Politik dan Korupsi

Akhir-akhir ini media massa -cetak maupun elektronik- banyak memberitakan tentang kasus korupsi yang melibatkan para perempuan yang terjun ke politik atau dekat dengan kekuasaan politik. Ada Miranda Gultom, Nunun Nurbaeti, dan -  yang tengah hangat diberitakan saat ini  anggota DPR yang juga mantan Miss Indonesia - Angelina Sondakh, dan masih  banyak lagi yang lainnya.

Semakin banyaknya kasus korupsi yang menyeret para perempuan, menggelitik keingintahuan saya tentang apa dan bagaimana perempuan dalam kekuasaan politik?  Faktor apa yang menyebabkan perempuan terseret dalam pusaran arus korupsi yang selama ini pelakunya identik dengan kaum laki-laki ?

Perempuan dan Politik : mewarnai atau terkooptasi?

Dulu, politik adalah wilayah yang relatif steril dari perempuan. Politik adalah dunia dan permainan para laki-laki.  Kalau ada perempuan yang bisa menduduki kursi kekuasaan politik – itu karena tradisi atau keturunan  misalnya Ratu Elizabeth 1 dan 2 dari Inggris , Ratu Mesir Kuno – Cleopatra, Ratu Majapahit – Tribuana Tunggadewi, dan lain-lain.

Bertahun-tahun secara tradisi, politik diwariskan, diperebutkan dan dipertahankan di antara kaum laki-laki. Mengapa  politik hanya diperuntukkan bagi laki-laki? Apakah perempuan tidak pantas untuk terjun di dunia politik?

Perebutan dan perluasan kekuasaan dulu seringkali dilakukan dengan jalan peperangan. Hal ini menjadikan politik lebih pantas kalau dibebankan ke pundak para lelaki. Tugas perempuan adalah memenuhi kebutuhan domestik atau konsumsi. Berabad-abad pembagian peran ini dijalankan tanpa ada gugatan dari kaum perempuan. 

Sekarang, sebagian besar negara memilih jalan demokrasi dalam meraih kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi diperebutkan melalui peperangan tetapi melalui proses pemilihan politik secara damai dimana faktor yang menentukan adalah popularitas dari si kandidat. Kalau seperti ini, tidakkah alasan dunia politik adalah wilayah yang pantas bagi laki-laki tidak berlaku lagi? Dalam tatanan demokrasi semua orang memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Nilai-nilai fraternity, egality dan equality menjadi prinsip utama. 

Namun, sistem demokrasi tidak serta merta menjadi pintu pembuka bagi perempuan untuk masuk ke kancah politik. Butuh perjuangan keras untuk bisa menerima agar perempuan diberi hak politik paling dasar yakni ikut memberikan suara dalam pemilihan umum. Di Inggris, hak ini baru disahkan dalam undang-undang pada tahun 1928.  Di Amerika Serikat hak ini baru diberikan kepada kaum perempuan pada sekitar tahun 1920. Saat ini, semakin banyak perempuan yang terjun dalam politik bahkan menjadi pemimpin tertinggi suatu negara lewat proses demokrasi.

Pertanyaannya, apakah perempuan yang terjun ke politik dapat melembutkan atau melunakkan wajah politik yang keras dan kejam ataukah sebaliknya justru integrasi ke politik melahirkan perempuan-perempuan yang maskulin? Dengan kata lain, apakah terintegrasikannya perempuan ke dunia politik mampu mendorong terjadinya feminisasi politik ataukah justru yang terjadi sebaliknya maskulinasi para perempuan yang terjun ke politik  akibat mereka terkooptasi oleh dunia dan permainan politik ala laki-laki? 

Saya kira politik tidak mengenal jenis kelamin. Tapi politik yang identik dengan perebutan kekuasaan atau power struggle jelas tidak merepresentasikan sifat-sifat yang feminin. Intrik-intrik permainan politik, manipulasi dan kecenderungan memilih jalan kekerasan jelas lebih menggambarkan maskulinitas. Karena itu, mereka yang terlibat langsung dalam power struggle adalah orang-orang yang keras, ulet dan tangguh, bukan orang yang lembek. Siapa pun mereka, entah laki atau perempuan. 

Margaret Thatcher karena menunjukkan kepemimpinan politik yang tangguh maka mendapat julukan Si Wanita Besi. Aung San Suu Kyi meskipun penampilannya lembut, tapi ketegaran dan sikapnya yang pantang menyerah dan konsisten memperjuangkan demokrasi di Myanmar membuatnya pantas disebut sebagai wanita baja. Hillary Clinton, Condoleezza  Rice, Christina Fernandez  Presiden Argentina  , dan Sri Mulyani tentunya paling tidak juga memiliki ketangguhan yang sama.

Ada banyak perempuan yang mampu menduduki puncak kekuasaan politik suatu negara atau jabatan strategis lainnya. Tapi dari sekian banyak perempuan itu, berapa yang benar-benar mampu merubah wajah politik dan tercatat dalam sejarah sebagai perempuan yang menginspirasi dunia?

Mengapa justru banyak perempuan yang terjun ke politik malahan terseret arus dan ikut andil dalam proses “pembusukan” kolektif yang disebut korupsi?

Perempuan dan Korupsi : feminisasi atau maskulinisasi?

Bicara korupsi tidak bisa lepas dari kekuasaan. Power tends to corrupt but absolute power corrupt absolutely, kata Lord Acton. Kekuasaan adalah salah satu godaan yang sulit ditaklukkan. Siapa pun yang diberi kekuasaan, pasti tergoda untuk memanfaatkannya untuk keuntungan diri dan orang-orang terdekatnya. Kuasa akan melahirkan godaan untuk menyalahgunakannya, apalagi kalau itu kekuasaan yang mutlak- jelas akan diselewengkan. 

Kalau semakin banyak  perempuan yamg  terjebak dalam korupsi, itu tidak berarti terjadi feminisasi korupsi. Perempuan korupsi karena ia diberi kekuasaan atau menjadi bagian dari jaringan penguasa. Bukan karena gendernya. Siapa pun yang terjun dalam politik, kalau sistem politik itu tidak bersih, maka kemungkinan besar dia akan terkontaminasi oleh sistem itu. Saya kira, hanya perempuan luar biasa yang bisa imun dari godaan korupsi apabila ia menjadi bagian dari lembaga politik di Indonesia.  

Selain kuasa, akar korupsi adalah keserakahan. Jika seseorang pejabat eksekutif atau anggota legislatif tergoda korupsi, penyebabnya tentu bukan karena gaji yang kurang tapi karena keserakahan. Korupsi kerah putih atau state corruption jelas karena didorong oleh faktor keserakahan, tidak mesti serakah materi tapi bisa juga serakah kuasa atau haus kekuasaan.

Kalau bicara soal keserakahan, ini sifat manusiawi. Tidak ada hubungannya dengan laki dan perempuan. Perempuan yang menjadi pejabat atau politisi, kemudian korupsi bukan berarti mereka ketularan oleh sifat para laki-laki, tapi karena sebagai manusia, perempuan pada dasarnya mempunyai sifat dasar yang sama dengan laki-laki – naluri untuk tergoda kekuasaan dan meraih kekayaan sebanyak-banyaknya. Feminitas perempuan, naluri sebagai ibu yang suka memelihara atau melindungi tidak jaminan akan bisa mengalahkan naluri dasar manusia lainnya : keserakahan. Jadi dalam hal korupsi, tidak ada feminisasi atau maskulinisasi. Laki perempuan sama saja. 

Gambar :
makesthree.org dan ygoy.com

Sabtu, 14 April 2012

Kartini, Bukan Perempuan Biasa


Beberapa hari lagi kita akan menyambut hari Kartini. Masih ingat lirik lagu ciptaan W.R. Supratman ini?
Ibu kita Kartini putri sejati, Putri Indonesia harum namanya
Ibu kita Kartini pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini, putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya, bagi Indonesia
Beberapa tahun ini, saya merasa sepertinya perayaan Hari Kartini  tidak semeriah masa kecil dan remaja saya. Saya jadi bertanya-tanya, apakah Kartini tetap diakui sebagai pahlawan yang layak dijadikan idola , panutan dan  pendekar bagi kaum perempuan Indonesia sebagaimana bunyi lirik lagu Ibu Kartini? Apakah pemikiran dan perjuangan Kartini yang menuntut emansipasi perempuan juga menjadi cita-cita semua perempuan Indonesia? 

Meskipun secara khusus diperingati dalam suatu hari perayaan, saya yakin tidak semua orang Indonesia mengenal betul siapa sosok Kartini sehingga bisa mengapresiasi perjuangannya bagi perempuan Indonesia.
Kartini saya kenal melalui perayaan Hari Kartini ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) dan berlanjut sampai di bangku SMA. Perayaan Hari Kartini jaman saya kecil tidak jauh berbeda dengan jaman ini : diarak berjalan berkeliling dekat sekolah dengan memakai baju adat atau pakai kebaya model Kartini dan yang anak laki-laki pakai blangkon atau lomba masak dan berdandan untuk yang  ibu-ibu. Perayaan Hari Kartini dan lagu Ibu kita Kartini, itu saja yang saya ingat dari Kartini – sampai akhirnya  saya membaca sendiri buku Surat-Surat Kartini (kalau nggak salah diterbitkan Penerbit Djambatan) saat di SMA.  
Begitu  membaca Surat-Surat Kartini, mata dan pikiran saya terbuka lebar . Ternyata Kartini sungguh bukan perempuan biasa. Membaca surat-suratnya tak ubahnya membaca gagasan perempuan lulusan S3, bahkan belum tentu semua perempuan dengan jenjang pendidikan tertinggi sekali pun bisa mempunyai pemikiran semaju dan secerdas Kartini. Bagaimana mungkin perempuan yang hanya lulusan ELS ( sekolah dasar zaman Belanda)  bisa menulis gagasan dan ide-ide yang jauh melampaui jamannya?  Bagaimana mungkin perempuan yang tidak mempunyai ijazah sarjana strata apa pun bisa membuat tulisan-tulisan bernas tentang nasionalisme, politik, humanisme dan feminisme? Saya yakin  tidak banyak perempuan sarjana sekarang ini yang mempunyai cara berpikir dan  kemampuan menuangkan dalam tulisan sekaliber Kartini.
Mungkin ada yang heran mengapa Kartini yang duduk manis dipingit di dalam rumah dan hanya  menuliskan wawasannya melalui surat kepada teman-temannya yang orang Belanda kok dipilih jadi simbol pahlawan perempuan Indonesia? Kartini hanyalah seorang perempuan yang merintis pendidikan bagi Bumiputera, dia bukan perempuan heroik seperti pahlawan perang Aceh Tjut Nyak Dien atau Christina Martha Tiahahu yang pada umur 17 tahun telah mengangkat senjata untuk berperang melawan penjajah Belanda. Bukankah pahlawan itu identik dengan mereka yang membela negara di medan perang ? Mestinya simbol pahlawan perempuan itu lebih pantas disematkan kepada perempuan yang benar-benar berjuang keras mengorbankan jiwa dan raga mengusir penjajah bukan sosok intelektual semacam Kartini ?
Ada banyak asumsi, praduga dan kontroversi seputar pengangkatan Kartini sebagai pahlawan kaumnya. Saya memilih berpikir positif saja : Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai simbol pahlawan perempuan dari begitu banyak pahlawan perempuan di Indonesia, karena Kartini memilih jalan mencerdaskan manusia Indonesia sebagai strategi untuk membangun bangsa dan negara. Jalur pendidikan –mungkin menurut pemikiran Soekarno yang juga  seorang intelektual – dianggap sebagai strategi paling tepat bagi gerakan perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan.
Untuk lebih mengenal siapa Kartini bisa dibaca pemikirannya yang saya cuplik dari surat-suratnya  kepada Stella Zeehandelaar berikut ini (dalam  Aku Mau...Feminisme dan Nasionalisme , surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903 alih bahasa Vissia Ita Yulianto. Penerbit Buku Kompas. 2004)
Tentang korupsi dan administrasi negara
Jepara,13 Januari 1900
“Tidak Stella, para penguasa daerah tidak lagi dengan sengaja merampas hak rakyat, dan kalaupun hal ini sesekali masih saja terjadi, orang yang bersalah itu akan dipecat dari kantor, atau diturunkan jabatannya. Tapi apa yang terjadi sekarang , atau yang sedang berkembang sama saja jeleknya : aksi suap, yang saya rasa sama memalukannya dengan pencurian derma bagi rakyat kecil yang ditulis dalam buku Max Havelaar.  
Tetapi aku tidak boleh gegabah, hanya menilai dari fakta yang kelihatan saja tapi aku harus melihat lebih jauh bagaimana sesungguhnya kejahatan ini bisa terjadi. Pada awalnya, orang-orang bumiputera memang memberi persembahan kepada junjungan mereka sebagai ungkapan rasa hormat dan juga untuk menjalin rasa kekeluargaan. Sebenarnya menerima hadiah-hadiah semacam ini dilarang pemerintah. Tapi selama gaji pegawai pamong praja masih sangat rendah, sulit rasanya mempercayai bagaimana mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. ..................
Di sini gaji pegawai sangat rendah. Seorang asisten wedana kelas dua hanya mendapat 85 gulden. Dari gaji itu ia masih harus membayar seorang juru tulis (pemerintah tidak bertanggung jawab untuk menggaji seorang juru tulis asisten wedana, meskipun beban pekerjaannya tidak kalah berat dibanding para wedana , jaksa, atau lainnya) bila ada pengawas, bupati atau asisten residen yang berkunjung ke daerah untuk acara tertentu, dia jugalah yang bertanggung jawab menyediakan bendi untuk perjalanan inspeksi ke hutan-hutan, membayar penginapan, membayar semua pengeluaran selama inspeksi dan juga untuk menjamu mereka. .............
 Aku tahu permasalahan-permasalahan para pemimpin Bumiputera; ....aku tahu suka duka yang dialami rakyat...Dan apa yang akan dilakukan Pemerintah? Pemerintah akan mengorganisir kembali urusan pamong praja. Jumlah pegawai Bumiputera akan dikurangi demi keuntungan pegawai-pegawai Belanda. Dengan jumlah pengurangan ini pemerintah menghemat 164.800 gulden untuk tiap tahunnya dan tentu saja akan disalurkan untuk para pegawai Belanda di Departemen Administrasi Negara. Dibanding yang lainnya, gaji pegawai ini sangat rendah. Tapi seharusnyakah Pemerintah mengorbankan kesatuan pegawai Bumiputera? Memang benar bahwa dalam tindakan pengalihan ini tidak sedikit pegawai yang dulu gajinya sedikit akan dinaikkan dan juru tulis asisten wedana akan digaji oleh pemerintah, tapi bagaimana bisa hal ini dibandingkan dengan penghapusan banyak pos-pos yang lebih tinggi. Di mana-mana banyak orang menyayangkan kebijakan pemerintah ini. Proposal untuk reorganisasi ini sudah disetujui dewan Perwakilan Rakyat dan pada bulan Juli nanti reorganisasi di Departemen Administrasi Negara akan mulai berlaku.”
Tentang agama
Jepara, 6 November 1899
“Agama dimaksudkan sebagai rahmat bagi semua umat manusia, untuk bisa menjadi tali penghubung antara semua ciptaanNya. Kita semua bersaudara bukan karena satu keturunan tapi karena satu Tuhan yang berkuasa di atas sana. Oh Tuhan, kadang aku berpikir bahwa agama lebih baik tidak ada saja. Karena justru agamalah penyebab perselisihan, perpecahan dan pertumpahan darah dan bukan menjadi tali pemersatu umat manusia. Saudara kandung saling berselisih hanya karena berlainan keyakinan. Perbedaan antara Gereja juga mengakibatkan dinding pemisah bagi dua hati yang berkasih-kasihan.
Aku sering bertanya pada diriku sendiri ; apakah agama merupakan sebuah rahmat kalau prakteknya malah seperti ini? Kata orang, agama akan menjaga kita dari perbuatan dosa, namun berapa banyak dosa yang telah diperbuat atas nama agama?”
Apa yang dibaca Kartini ?
Jepara, 13 Januari 1900
"...sebenarnya aku ingin bertanya padamu tentang hal yang kubaca belakangan ini. Tentang sebuah karangan terjemahan bahasa Inggris yang berjudul ‘The purpose of the Women’s Movement ‘, tapi aku tidak ingat lagi apakah karangan itu terdapat di De Gids atau di jurnal-jurnal ilmiah. Dan apa yang harus kau baca jika kamu belum mengetahuinya adalah ‘Wayang Orang’ yang ditulis oleh Martine Tonnet dalam De Gids edisi November. Buku ini bercerita tentang orang-orang Jawa dan keseniannya dan kraton Yogyakarta, amat menarik. Kau akan menyukainya, benar. Hari lalu aku membaca Minnenbrieven oleh Multatuli untuk kedua kalinya. Betapa pandainya orang itu! Baguslah karena tak lama lagi akan diterbitkan karya-karyanya dengan harga murah. Aku akan merayu ayah untuk membeli. Ayah asisten residen kami dulu adalah teman Multatuli dan dari dialah kami tahu beberapa anekdot kehidupan orang pintar itu..."
Catatan penutup :
Kartini lahir 21 April 1879 dan surat-suratnya kepada Stella ditulis antara tahun 1899-1903 berarti saat usianya 20-23 tahun. Di usia dua puluh satu (21) tahun seorang perempuan Indonesia di tahun 1900 telah melahap berbagai jurnal ilmiah berbahasa asing dan menuliskan pikiran seperti yang saya kutip di atas. Saya tidak berlebihan bukan, kalau mengatakan Kartini bukan perempuan biasa?
Foto : R.A. Kartini - wikipedia
Kartun : clekit April 2109 - wahyukokkang.wordpress.com

Tulisan terkait :
Tentang Authenticity : Renungan di Hari Kartini