Minggu, 28 Agustus 2011

Tentang Manusia dan Kerja : Don’t Give Up


“I don't like work – no man does – but I like what is in work – the chance to find yourself. Your own reality – for yourself, not for others – what no other man can ever know.” 
(Joseph Conrad - quotes-motivational-inspirational.blogspot.com)

Don’t Give Up (jangan menyerah) adalah lagu yang ditulis oleh Peter Gabriel dan dinyanyikan duet dengan Kate Bush. Lagu yang terkenal pada tahun 1986 ini berkisah tentang seorang laki-laki yang menjadi korban krisis ekonomi di Inggris era tahun 1980an sebagai akibat dari kebijakan privatisasi besar-besaran pada pemerintahan Margareth Thatcher (Wikipedia). Lirik lagu ini dimaksudkan untuk memberi dukungan kepada para korban PHK….jangan menyerah dan putus asa karena selalu ada sahabat yang mendampingi. Dan kamu tidak sendirian. Tidak perlu malu. Masih ada kami – teman dan keluarga – yang siap menopangmu
Don't give up
'Cause you have friends
Don't give up
You're not the only one
Don't give up
No reason to be ashamed
Don't give up
You still have us
Don't give up now
Don't Give Up sangat pas  diperdengarkan di saat krisis ekonomi kembali melanda dunia, khususnya di Amerika dan  Eropa . Krisis ekonomi berarti penghematan. Penghematan di dunia kerja identik dengan pengurangan tenaga kerja yang berarti akan banyak orang yang semula memiliki pekerjaan berubah status menjadi  pengangguran. Tidak mempunyai pekerjaan sama dengan ketidakpastian….masa depan yang suram dan kabur.  Pengangguran adalah  momok yang sungguh menakutkan mengingat begitu berharganya suatu pekerjaan bagi manusia, terlebih di jaman yang sangat kompetitif dan materialistis sekarang ini.
Lagu Don’t Give Up ini mendorong kita untuk merenungkan tentang makna kerja dan pekerjaan bagi manusia. Mengapa bekerja dan pekerjaan  mempunyai nilai yang tinggi bagi manusia ?  
Bagi manusia modern, pekerjaan bukan sekedar sarana untuk memenuhi kebutuhan subsisten- kebutuhan pangan, papan dan sandang atau kebutuhan untuk bertahan hidup. Pekerjaan adalah status, bukan hanya ekonomi tapi juga status sosial. Bekerja bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tapi juga kebutuhan psikologis dan sosial.
Peter Drucker menyatakan manusia adalah mahluk yang bekerja. Kerja adalah tanda dari kemanusiaannya. Dengan demikian manusia yang kehilangan pekerjaan akan merasa kehilangan nilai kemanusiaannya. Bagaimana pendapat Drucker tentang makna bekerja dan pekerjaan bagi manusia dapat disimak dari kutipan di bawah ini  :
Bekerja bukan hanya bermakna fisik, tapi juga psikologis. Dalam arti ini kerja bisa berarti berkat sekaligus kutuk. Orang perlu untuk bekerja. Namun seringkali kerja juga menjadi beban yang sangat berat. Dari sisi psikologis, fenomena pengangguran yang disebabkan oleh kemiskinan tidak hanya merusak situasi ekonomi seseorang, tetapi juga harga dirinya. Hegel seorang filsuf Jerman pernah berpendapat, bahwa kerja adalah aktualisasi diri seseorang. Drucker sendiri berpendapat bahwa kerja merupakan perpanjangan dari kepribadian manusia. Kerja adalah suatu pencapaian mimpi dan perwujudan prestasi. Kerja adalah adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan kemanusiaannya.
Banyak orang benci untuk bekerja. Mereka bermimpi untuk memiliki uang banyak, sehingga tidak lagi perlu bekerja. Namun pandangan itu tidak sepenuhnya tepat. Orang yang tidak bekerja, walaupun memiliki uang banyak, juga sulit untuk merasa puas dengan hidupnya. Mereka akan mengalami krisis identitas, karena pekerjaan membantu orang merumuskan identitasnya, walaupun tidak secara keseluruhan. Dalam arti ini dapatlah dikatakan, bahwa kerja memiliki dimensi psikologis yang mendalam, yang membantu orang untuk menentukan siapa dirinya.
Bekerja juga berdimensi sosial. Setiap orang butuh untuk bekerja, karena ia memiliki kebutuhan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok, dan menjalin relasi yang bermakna dengan orang-orang yang ada di sana. Aristoteles pernah mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berpolis. Artinya manusia adalah mahluk yang membutuhkan kelompok untuk menegaskan jati dirinya. Bekerja adalah cara terbaik untuk menjadi bagian dari suatu kelompok (sumber dari SINI).
Dari pendapat di atas dapat dipahami mengapa pekerjaan bernilai tinggi di mata manusia. Dengan bekerja, orang mempunyai akses atau sarana untuk menumpuk kekayaan material yang saat ini menjadi kriteria utama untuk mengukur kesuksesan hidup seseorang. Mempunyai pekerjaan atau profesi yang bergengsi dan menjadi kaya serta mampu mengikuti tuntutan gaya hidup modern itulah tanda eksistensi diri dan lebih jauh lagi akan memperoleh penghormatan atau dihargai dan diakui oleh masyarakat atau komunitasnya.
Dengan bekerja, orang bisa mengaktualisasikan diri, bisa mengembangkan keahlian dan profesionalitasnya. Orang yang mampu bekerja dengan baik akan diapresiasi oleh atasan dan rekan kerjanya. Semua orang tentu ingin menunjukkan prestasi kerja. Kondisi sebaliknya, dianggap tidak mampu bekerja atau gagal memenuhi prestasi jelas akan membuat orang merasa tidak berharga sehingga merasa malu dan kehilangan muka. Terlebih lagi kalau itu semua berujung pada pemutusan hubungan kerja.  
Bekerja , dengan demikian, adalah persoalan harga diri. Terlebih bagi laki-laki. Konstruksi sosial budaya yang memposisikan laki-laki sebagai kepala keluarga dan penopang nafkah keluarga menjadikan laki-laki yang merasa paling down apabila menyandang status pengangguran. Sehingga apabila laki-laki yang menganggur tidak segera mendapatkan pekerjaan pengganti ditakutkan akan mengalami stress atau depresi. Dalam hal ini, dibutuhkan orang-orang terdekat baik keluarga, rekan kerja dan lingkungan kerja yang bisa menumbuhkan semangat juang dan harga diri, bukan justru memojokkan dan  membuat menjadi semakin terpuruk.
Untuk itulah, lirik lagu Don’t Give Up ini memberi pelajaran bagaimana menumbuhkan semangat keluarga, teman atau siapa pun yang tengah merasa breakdown karena tengah kehilangan pekerjaan atau mengalami kegagalan kerja. Seperti pepatah mengatakan kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tentu saja dengan catatan kalau kita mau belajar dari suatu kegagalan dan bangkit untuk meraih kesuksesan yang tertunda itu, bukannya malahan tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan. Dan ini lah yang bisa kita katakan pada mereka yang tengah mengalami kegagalan kerja :
We're proud of who you are
Don't give up
You know it's never been easy
Don't give up
'Cause I believe there's the a place
There's a place where we belong
Gambar : putushubungankerja.blog.com

 Link : http://www.youtube.com/watch?v=dduZbDFCG_E&feature=related




Dan ini lirik SELENGKAPNYA  lagu Don't Give Up 





Sabtu, 20 Agustus 2011

Hallelujah : Tentang Kesetiaan


Kali ini saya mau merenung tentang makna kesetiaan , khususnya menyangkut keteguhan untuk memelihara keutuhan rumah tangga. Isu ini menarik untuk diangkat mengingat kecenderungan tingginya angka perceraian di Indonesia sebagaimana nampak dari  DATA INI dan  INI.

Ada banyak faktor yang penjadi penyebab hancurnya mahligai rumah tangga, salah satunya adalah hadirnya orang ketiga.  Lirik lagu Hallelujah  (ciptaan penyanyi Kanada Leonard Cohen  dirilis tahun 1984) dengan pas menggambarkan godaan atau cobaan terbesar yang dihadapi dalam  menjaga keutuhan keluarga tersebut.   Melihat sepintas dari judulnya orang akan mengira ini lagu rohani Kristen. Meskipun mengambil judul istilah religius , lagu ini tidak menyanyikan tentang puja puji bagi Tuhan melainkan bicara seputar hubungan percintaan antara laki dan perempuan, pengkhianatan, perselingkuhan dan perzinahan. Jadi meskipun warna musiknya merupakan gabungan waltz dan gospel (lagu gereja) lagu ini lebih sebagai lagu cinta ketimbang lagu rohani.

Hallelujah biasa diucapkan di kalangan umat Nasrani yang berarti Puji Tuhan – Praise Yah sesuai dengan asal katanya bahasa Ibrani - hallelu dan Yah (dari YHWH). Hallelujah mempunyai makna yang sama dengan bahasa Arab Alhamdulillah – segala puji bagi Allah …All praise is due to Allah (Wikipedia).

Inilah lirik Hallelujah selengkapnya :

I've heard there was a secret chord
That David played and it pleased the Lord
But you don't really care for music, do you?
It goes like this: the fourth, the fifth
The minor fall, the major lift
The baffled king composing Hallelujah

Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah

Your faith was strong but you needed proof
You saw her bathing on the roof
Her beauty and the moonlight overthrew you
She tied you to a kitchen chair
She broke your throne, she cut your hair
And from your lips she drew the Hallelujah

Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah

Maybe I've been here before
I know this room, I've walked this floor
I used to live alone before I knew you
I've seen your flag on the marble arch
Love is not a victory march
It's a cold and it's a broken Hallelujah

Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah

There was a time you let me know
What's real and going on below
But now you never show it to me, do you?
And remember when I moved in you
The holy dark was moving too
And every breath we drew was Hallelujah

Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah

Maybe there's a god above
And all I ever learned from love
Was how to shoot at someone who outdrew you
It's not a cry you can hear at night
It's not somebody who's seen the light
It's a cold and it's a broken Hallelujah

Hallelujah, Hallelujah
Hallelujah, Hallelujah
Istilah Hallelujah dalam lagu ini untuk menyatakan bahwa rasa dan hubungan cinta antara laki dan perempuan merupakan suatu anugrah Tuhan yang indah dan agung,  namun kalau rasa dan relasi cinta itu tidak dipelihara bisa berubah menjadi suatu yang menyakitkan yang pada akhirnya bisa berkembang menghancurkan hidup manusia … cinta bukan parade kemenangan …cinta yang dikhianati bisa berubah  menjadi hubungan yang dingin …penuh kebencian …it’s a broken hallelujah.
Love is not a victory march
It's a cold and it's a broken Hallelujah
Ada ayat dalam Injil yang biasa dikutip dalam undangan pernikahan umat Nasrani yang intinya menyatakan …apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan hendaknya tidak dipisahkan oleh manusia.  Ikatan cinta antara laki dan perempuan adalah ikatan suci yang diikrarkan di depan altar dipimpin oleh pendeta atau pastor sebagai wakil Tuhan.  Pernikahan adalah relasi yang dijalin atas nama Tuhan dan untuk keagungan Tuhan. Ini berarti pernikahan adalah ikatan yang harus dipelihara dan dipertahankan seumur hidup.  Pernikahan adalah suatu bentuk dari ungkapan Hallelujah …demi nama Tuhan.
Namun untuk mempertahankan ikatan suci pernikahan adalah perjuangan yang tidak mudah bagi manusia…terlebih di jaman sekarang ini. Berapa banyak dari laki dan perempuan yang telah terikat tali pernikahan yang mampu mempertahankan keutuhan cintanya, Tidak pernah dipikirannya terlintas sedikit pun bayangan orang lain di tengah ikatan cintanya. Setia sepenuhnya…tidak pernah ada ketertarikan sedikitpun pada siapa pun selain istri atau suaminya.
Your faith was strong but you needed proof
You saw her bathing on the roof
Her beauty and the moonlight overthrew you
She tied you to a kitchen chair
She broke your throne, she cut your hair
And from your lips she drew the Hallelujah
Salah satu bait lirik lagu Hallelujah di atas menyatakan seseorang bisa saja mengaku mempunyai iman yang kuat , tapi itu perlu diuji …perlu dibuktikan.  Daud atau David saja kalah dalam memerangi nafsunya. Raja Daud terjebak dalam perzinahan karena tergoda Betseba istri prajuritnya Uria saat dia melalui balkon istananya melihat perempuan itu mandi. Kecantikan dan kemolekan tubuh Betseba membuat Daud melupakan imannya. Lupa akan Tuhannya…it’s a broken hallelujah.  Demikian pula Samson akhirnya dikalahkan musuhnya setelah rahasia kekuatannya yang terletak pada rambutnya yang tidak boleh dipotong itu diketahui musuh melalui kekasihnya Delilah.  Ternyata kekuatan dan kekuasaan laki-laki terkadang dengan mudah  takhluk  oleh  daya tarik  wanita, persis seperti bunyi lirik lagu Sabda Alamnya Ismail Marzuki .... namun adakala pria tak berdaya tekuk lutut di sudut kerling wanita.  
Memang benar  pernyataan bahwa perang terbesar itu adalah perang manusia menaklukkan hawa nafsunya.
Karena itu , menurut saya, laki-laki yang hebat adalah laki-laki yang bisa memegang janjinya  mempertahankan komitmennya untuk setia pada istrinya yang juga setia. Lebih hebat lagi kalau laki-laki itu adalah laki-laki yang berkuasa seperti Raja Daud. Berkuasa tanpa tergoda tahta, cinta dan wanita. Kalau laki-laki bisa menakhlukkan perang melawan nafsunya sendiri, saya kira dia akan bisa menghadapi peperangan melawan apa pun, termasuk melawan godaan kekuasaan terhebat di Indonesia…perang melawan korupsi.
Gambar : David and Bathseba - Wolfgang Krodel (www.lessing.photo.com)



 Untuk lirik lagu versi lengkapnya bisa dengarkan video INI

Senin, 15 Agustus 2011

Fragile : Manusia dan Tindak Kekerasan

An eye for eye only ends up making the whole world blind.
~ Mohandas Gandhi

"Fragile" merupakan lagu yang dinyanyikan oleh musisi Inggris Sting pada tahun 1987. Lagu ini dipersembahkan bagi Ben Lindler seorang insinyur sipil Amerika yang dibunuh oleh Contras (kelompok penentang pemerintahan Sandinista) pada tahun 1987 ketika tengah bekerja di proyek hidrolik di Nicaragua. Lagu ini juga banyak diperdengarkan di beberapa iklan setelah terjadi peristiwa tragedi 11 September (Wikipedia).
                                                                                   
Inilah lirik selengkapnya :

If blood will flow
when flesh and steel are one
Drying in the color
of the evening sun
Tomorrow's rain
will wash the stains away
But something in our minds
will always stay

Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime's argument
That nothing comes from violence
and nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are

On and on the rain will fall
Like tears from a star
like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are
How fragile we are

On and on the rain will fall
Like tears from a star
like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are
How fragile we are

Lirik Fragile bicara tentang tindak kekerasan yang sudah menjadi bagian dari perjalanan sejarah manusia. Ancaman konflik dan kekerasan dari  dahulu, kemarin, hingga  kini dan sampai kapan pun akan selalu menghantui hidup manusia.   Peristiwa demi peristiwa, waktu demi waktu yang datang silih berganti mungkin akan membuat orang melupakan suatu  tindakan kekerasan, namun ada luka trauma batin di ingatan manusia , terlebih para korban, yang tidak akan bisa terhapus oleh waktu dan akan menjadi bagian sejarah kelam dalam kehidupan seseorang.
If blood will flow
when flesh and steel are one
Drying in the color
of the evening sun
Tomorrow's rain
will wash the stains away
But something in our minds
will always stay
Hidup itu begitu berharga, sayangnya orang kadang baru menyadarinya saat terjadi tindak kekerasan yang merenggut nyawa manusia. Sungguh betapa rawan dan rapuhnya hidup seorang manusia. Begitu mudah dan murahnya nyawa seorang manusia…how fragile we are. Dan sejarah mencatat betapa naluri manusia untuk melakukan kekerasan bisa timbul setiap saat ada pemicunya. Bisa itu sentimen primordial berupa ikatan pada identitas ras, suku, agama, atau wilayah atau desakan ekonomi atau kebutuhan untuk survive atau bertahan hidup, bisa juga kepentingan politik atau perebutan kekuasaan. Dalam hal tindak kekerasan, nampaknya manusia tidak pernah mau belajar dari sejarah. Terbukti kekerasan  ,dengan dalih apa pun, tetap berulang-ulang terjadi - hingga saat ini.
Karena itu, lagu Fragile ini akan abadi dan relevan diperdengarkan untuk mengiringi renungan tentang berbagai tindak kekerasan, juga yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita sendiri dan di berbagai belahan dunia lainnya :  Afganistan, Timur Tengah, Irak, Norwegia dan baru saja di London.  Suatu utopia kalau berharap kekerasan itu akan berakhir sampai disini dan tidak bakal terjadi di masa datang. Tapi sungguh saya berharap khayalan ini bisa benar-benar terwujud sebab …nothing comes from violenceand nothing ever could

Link : http://www.youtube.com/watch?v=EmDQFWNjHpA&feature=related

Gambar : cacpeaceday. wikispaces. com

Kamis, 11 Agustus 2011

Antara Keberagaman dan Keseragaman : Refleksi di Hari Kemerdekaan

Gambar : monang245.wordpress.com

Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!
( Soekarno, Pidato di Surabaya, 24 September 1955 )
Keberagaman atau kebhinekaan adalah kodrat Ilahi. Segala makhluk dan alam ciptaan Tuhan adalah unik dan otentik.  Keragaman dan  keunikan alam semesta dan isinya menandakan bahwa Tuhan menyukai perbedaan atau kebhinekaan. Tuhan adalah Seniman Agung. Salah satu manifestasi keindahan dan keagungan karya Sang Seniman Agung itu dapat ditemukan di satu Negara yang  bernama Indonesia.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau yang di dalamnya hidup aneka macam flora dan fauna serta ratusan etnis dengan beragam budaya . Hanya Indonesia yang mempunyai ratusan macam bahasa , tarian, dan lagu daerah, cerita rakyat, pakaian dan ritual adat. Indonesia adalah multikultur dan multikultur itulah Indonesia. Multikultural adalah identitas yang melekat pada Negara Indonesia. Identitas ini akan tetap kuat dan akan tetap ada selama yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila tetap eksis. Dengan begitu merusak atau meniadakan identitas multikultural sama saja dengan membuka jalan bagi hancurnya NKRI.
Keberagaman adalah realitas yang harus diterima oleh rakyat Indonesia. Negara ini dibangun oleh ratusan etnis dari Sabang sampai Merauke yang bersepakat bersama-sama berjuang melepaskan diri dari belenggu kolonialisme dan bercita-cita  mewujudkan sebuah Negara yang merdeka dan membangun kehidupan bersama yang damai, adil dan sejahtera. Kebersamaan nasib dan cita-cita adalah lem kuat yang merekatkan berbagai macam etnis ke dalam satu Negara yang diberi nama Indonesia.
Adapun paham kebangsaan yang tumbuh karena adanya persamaan nasib dan sejarah serta kepentingan untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis dan maju dalam satu kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara dan mengabdi identitas, persatuan, kemakmuran, dan kekuatan atau kekuasaan negara bangsa yang bersangkutan disebut dengan Nasionalisme (Ensiklopedi Nasional Indonesia)
Indonesia bukan Negara homogen atau monokultur seperti Jepang atau Korea. Sebagai Negara berlatar belakang heterogen, upaya penanaman nasionalisme  atau rasa cinta bangsa ( national  building)  menjadi fungsi yang wajib dijalankan terus menerus. Karena manusia sebagai makhluk yang unik , secara naluri mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan segala sesuatu yang menjadi symbol identitas dirinya yang membuatnya berbeda dengan manusia lainnya. Identitas ini biasanya terkait dengan tanda-tanda yang terberi atau kodrati atau pun tanda-tanda primordial  seperti suku, ras, adat istiadat budaya, agama dan daerah atau teritori.  Tantangan bagi Negara multikultur adalah bagaimana agar identitas bangsa tidak dikaitkan dengan identitas primordial tapi ke identitas nation atau bangsa.
Bangsa dan negara merupakan kesatuan komunitas masyarakat pluralis yang di dalamnya terdapat berbagai macam unsur yang saling melengkapi yang diatur dalam sebuah sistem dalam rangka mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Nasionalisme tidak dibatasi oleh suku, bahasa, agama, daerah dan strata sosial. Nasionalisme memberi tempat segenap sesuatu yang perlu untuk hidupnya segala hal yang hidup (Sukarno, “Di Bawah Bendera Revolusi. Jilid 1.1964.hal.76)
Penanaman nilai nasionalisme merupakan upaya menyatukan berbagai suku bangsa ke dalam satu ikatan yang sama: ikatan kebangsaan Indonesia. Identitas baru ini dimaksudkan agar banyak suku bangsa yang sepakat untuk menyatu dalam wadah NKRI memiliki identitas yang seragam. Namun, keseragaman identitas dalam bingkai semangat nasionalisme ini tidak membunuh keberagaman. Berbeda-beda namun disatukan oleh kesamaan cita-cita. Perwujudan cita-cita bersama lebih penting dan berada di atas kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan. Inilah prinsip Bhineka Tunggal Ika atau Unity in Diversity. Prinsip ini menolak segala bentuk dominasi dan diskriminasi. Semua unsur komponen bangsa berkedudukan sederajat, tidak ada mayoritas dan minoritas.
Upaya menumbuhkan semangat nasionalisme  dapat dilakukan dengan pembentukan identitas simbolik seperti symbol Negara, bendera, lagu kebangsaan atau melalui penetapan bahasa persatuan serta penanaman nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan. Keberadaan Negara memang tidak dapat lepas dari simbol-simbol Negara. Simbol fisik menjadi media yang ampuh untuk alat identifikasi diri.. Orang begitu bangga dengan bendera, simbol Negara dan lagu-lagu nasional atau perjuangan. Pada awal kemerdekaan, kebanggaan terhadap segala sesuatu yang menjadi tanda keberadaan Negara Indonesia yang baru terbentuk itu begitu kuat.   
Kini, 66 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan – belum genap satu abad- apakah emosi dan sentiment kebangsaan di jiwa bangsa Indonesia masih semenggelora era tahun 40-50an. Penghormatan dan kebanggaan pada simbol dan identitas Negara apakah masih sekuat dulu? Apakah lagu-lagu kebangsaan atau lagu yang membangkitkan kebanggaan akan keragaman Indonesia masih dinyanyikan dengan semangat yang sama? Saya ingat betapa waktu SD dulu selama jam pelajaran bapak dan ibu guru pasti mengajak menyanyi lagu-lagu seperti “Dari Sabang Sampai Merauke”, “Garuda Pancasila”, “Berkibarlah Benderaku”, “Indonesia Pusaka”, dsb. Sepertinya sekarang ini saya jarang mendengar anak-anak yang menyanyikan lagu-lagu itu. Di Radio dan TV hampir tidak ada acara yang dirancang untuk menumbuhkan rasa cinta bangsa, acara TV didominasi talk show politik dan sinetron dan hiburan yang dangkal. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi adalah adanya pandangan seorang tokoh agama yang berpendapat menghormati bendera dan lagu kebangsaan sebagai perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Sudah sedemikian parahkah erosi semangat nasionalisme di hati anak bangsa? Masihkah cita-cita Proklamasi Kemerdekaan yang berlandaskan Pancasila menjadi inspirasi bersama segenap komponen bangsa? Adakah semangat Bhineka Tunggal Ika atau Unity in Diversity telah luntur dan hanya tinggal sebagai  cerita masa lalu?
Mengapa semua ini terjadi?
Saya berpendapat semua peristiwa dan gejolak politik internal Indonesia tidak lepas dari perubahan lingkungan ekonomi politik global. Berakhirnya era Perang Dingin antara kekuatan blok sosialis komunis (Uni Soviet) dan blok demokrasi liberal (AS) melahirkan kekuatan ekonomi kapitalis yang menggerakkan liberalisasi dan globalisasi ekonomi. Arus globalisasi menyebabkan penyebaran proses dan hasil produksi secara global. Proses produksi suatu komoditas melibatkan sumber daya material dan manusia dari banyak Negara sehingga globalisasi membawa serta internasionalisasi pasar tenaga kerja.  Produk kapitalis global dikonsumsi oleh penduduk di banyak Negara , ini yang kemudian memunculkan apa yang disebut sebagai gaya hidup global. Global lifestyles merupakan bentuk penyeragaman budaya utamanya di kalangan anak muda melalui konsumsi foods, fashion, dan entertainment. Globalisasi telah mengancam Negara bangsa maupun komunitas-komunitas yang terbentuk atas dasar kesamaan identitas primordial.
Bumi yang satu ini pada mulanya dihuni oleh ribuan manusia yang membagi bumi menjadi wilayah-wilayah berdasarkan kesamaan identitas primordialnya. Tiap-tiap kelompok manusia merasa mempunyai ikatan sejarah keberadaannya dengan suatu wilayah bagian tertentu bumi Kelompok manusia – suku, ras, bangsa – akan mempertahankan segala tanda identitas tersebut bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan eksistensi identitasnya. Berapa banyak konflik dan peperangan yang terjadi demi memperjuangkan kelestarian identitas primordial.   Sejarah peradaban manusia adalah sejarah perjuangan mempertahankan ikatan-ikatan dan identitas primordial. Konflik Israel (Yahudi) dengan Palestina hanyalah salah satu contoh nyata dari beribu konflik berlatar belakang ikatan primordial.
Dalam perkembangannya, adanya migrasi dan kolonisasi telah mendorong interaksi antara manusia dari berbagai latar belakang ras, suku dan agama. Globalisasi dan perkembangan tehnologi informasi semakin membuka jalan lebar bagi pertemuan berbagai macam suku bangsa. Di era globalisasi hampir tidak ada suatu wilayah Negara yang didiami oleh satu suku bangsa. Tidak ada Negara yang berlatarbelakang monokultur.
Globalisasi menjadi pintu pembuka terjadinya interaksi manusia lintas suku, ras, agama, dan budaya. Interaksi antar manusia atau kelompok manusia tidak sekedar kontak fisik tapi juga kontak budaya dan nilai-nilai yang diyakininya. Disinilah benturan budaya mudah terjadi.
Dominasi dan hegemoni kekuasaan ekonomi, politik dan budaya Barat melalui globalisasi mengundang gerakan perlawanan terhadap kapitalisme dan globalisasi. Sentimen anti ideologi dan budaya Barat menguat dan memperoleh momentumnya di era globalisasi. Penyeragaman budaya justru melahirkan gerakan untuk kembali ke nilai-nilai lokal dan gerakan pemurnian praktek-praktek keagamaan. Berakhirnya kompetisi politik Negara super power ternyata tidak membawa ke kondisi yang damai, justru memicu gerakan perlawanan atas dasar perbedaan budaya dan keyakinan.
Posisi geopolitik Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di antara dua benua dan dua samudra dan ditambah lagi Indonesia adalah Negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia membuat Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh gejolak politik internasional. Indonesia karena jumlah penduduknya yang besar telah menjadi pasar potensial bagi pemasaran produk ekonomi global. Namun mayoritas penduduk Indonesia adalah  umat Islam yang mempunyai prinsip dan nilai-nilai yang terkadang tidak sejalan dengan nilai-nilai budaya Barat yang cenderung sekuler dan liberal. Akibatnya, Indonesia menjadi ajang kontestasi antara kepentingan ekonomi politik Barat dan kepentingan agama.
Menguatnya keinginan untuk kembali ke nilai-nilai murni agama  sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi Barat menguat sejak tahun 1980an dan semakin mengeras di tahun 2000an. Gerakan ini juga memperoleh dukungan kuat di Indonesia. Apabila globalisasi membawa bentuk penyeragaman budaya Barat, maka gerakan pemurnian agama juga membawa warna budaya  dimana agama itu dilahirkan. Budaya-budaya asing tersebut cenderung mengancam keberagaman Indonesia karena menanamkan pemahamn yang meposisikan budaya luar sebagai lebih superior dibandingkan nilai dan identitas lokal Indonesia.

Dalam menghadapi pengaruh budaya asing, langkah tepat yang menurut saya perlu dilakukan adalah dengan mengadopsi nilai-nilai positif dari budaya manapun sepanjang budaya tersebut dapat memperkuat eksistensi dan kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jangan sampai kekuatan ekonomi, politik dan budaya asing justru menjadi kekuatan yang digunakan untuk memecah-belah soliditas kebangsaan di Indonesia. Sungguh saya tidak berharap nasib NKRI berakhir seperti Uni Soviet, Yugoslavia, Cekoslovakia, dll.
Indonesia akan tetap ada selama berdiri di atas prinsip keseragaman yang menghargai perbedaan atau Bhineka Tunggal Ika, Unity in Diversity.
Jika James T. Ellison mengatakan :”The real death of America will come when everyone is alike”, maka pernyataan sama berlaku untuk Indonesia : :”The real death of Indonesia will come when everyone is alike

Untuk membangkitkan kecintaan pada Indonesia mari kita lihat  V I D E O  I N I

Sabtu, 30 Juli 2011

OLD and WISE


To be seventy years young is sometimes far more cheerful and hopeful than to be forty years old (Oliver Wendell Holmes, Jr- wisdomquotes.com)

It is easier to be wise for others than for ourselves (Francois De La Rochefoucauld -  inspirationalquates.com)
Hari ini – 30 Juli 2011- bertambah satu tahun umurku. Yah waktu berjalan merambat pelan. Hampir 50 tahun tak terasa perjalanan hidupku. Bertambah umur di  usia akhir 40 an membuatku merasa gamang. Ternyata tanpa disadari aku sudah tua  bin tuwir. Gimana mau  sadar, perasaan selama ini  serasa masih di usia 20 an.  
Di ultahku ini aku mau melakukan refleksi dan sekaligus evaluasi atas perjalanan hidupku dan apa yang telah kudapatkan selama ini? Bukan dari sisi materi ,  karena kalau ukurannya materi sepertinya tidak ada yang bisa kupamerkan. Maka aku coba mengukur dari sisi nonmateri yakni kebijaksanaan. Orang bilang tambah umur tambah bijaksana atau orang Jawa bilang tambah sumeleh. Apa aku tambah bijaksana ya? Ukuran bijaksana itu apa  dan bagaimana cara untuk menjadi bijaksana?

WIKIHOW memberikan jawaban semua pertanyaan itu. Kebijaksanaan tidak bisa diperoleh hanya dari membaca buku atau didapatkan lewat proses instan melainkan melalui proses pembelajaran yang butuh waktu, pengalaman, dan keinginan untuk berpikir terbuka tentang dunia dan manusia penghuninya. Untuk bisa berpikir terbuka orang harus membersihkan pikirannya dari segala prasangka dan terus menerus merefleksi dan mempertanyakan ide dan nilai-nilai yang diyakininya. Inti dari kebijaksanaan adalah kondisi dimana seseorang bersikap dan berperilaku tenang dan berpikir sebelum bertindak atau bahasa Jawanya "ora grusa grusu". Seiring berjalannya waktu, orang yang bijaksana akan semakin tinggi dan dalam ilmu  pengetahuannya namun dia tidak akan menyimpan ilmunya sebagai milik pribadi; sebaliknya dengan senang hati dia akan membagikan ilmunya agar orang lain juga bertumbuh pemikiran dan wawasannya.

Wikihow menunjukkan jalan atau cara menjadi bijaksana,  di antaranya adalah:
1. Kenalilah diri sendiri (know yourself)
Lebih mudah mengenali segala sesuatu dan orang lain dibanding mengenali diri sendiri. Untuk tahu siapa dirinya, seseorang harus menjelajahi ke dalam dirinya untuk merenungkan  apa yang menjadi ide, keyakinan, opini, bias-bias, dan prasangka yang ada di pikiran dan hatinya. Tanpa mengetahui dan menerima apa kekuatan dan kelemahannya, seseorang sulit untuk menjadi bijaksana. Dengan mengenali diri sendiri, orang akan bisa menerima kelemahan dan kesalahannya, dapat bertumbuh dan  memaafkan dirinya sendiri.

2. Sadar kalau hanya memiliki pengetahuan sedikit (realize that you know nothing)
Orang yang paling bijaksana adalah orang yang menyadari kalau sesungguhnya mereka hanya mempunyai sedikit pengetahuan meskipun telah belajar dan melakukan refleksi bertahun-tahun. Semakin orang berpikir tentang orang, segala hal, dan peristiwa, semakin dia paham bahwa masih  ada banyak hal yang perlu dipelajari. Penerimaan akan keterbatasan pengetahuan menjadi kunci menuju kebijaksanaan. Orang yang bijaksana berbeda dengan pakar atau expert. Pakar adalah orang yang pandai (dibuktikan dengan sertifikat) atau memiliki keahlian di bidang tertentu. Pakar belum tentu orang yang bijaksana. Orang bijaksana mempunyai kemampuan melihat gambaran kehidupan secara lebih luas dan dengan responsif menanggapi segala hal yang terjadi di diri dan lingkungannya. Menjalani kehidupan dengan tenang karena tahu dan sadar tujuan hidupnya, bisa menerima dan berdamai serta merasa nyaman dengan realitas apa pun yang dialaminya.

3. Tidak ada akhir dalam proses pembelajaran (accept that there will never be an end to learning)
Proses belajar tidak berhenti saat meraih gelar sarjana. Ide pembelajaran lebih luas ketimbang teksbook dan apa yang diajarkan guru dan dosen. Belajar adalah proses terus menerus  mempertanyakan segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Proses belajar akan berhenti kalau otak kita memutuskan untuk berhenti atau menolak untuk bertumbuh dengan menutup perspektif atau wawasan apa pun selain ide-ide yang kita miliki dan yakini. Ide dan pemikiran sendiri yang paling benar, ide dan pemikiran orang lain salah.

4. Luangkan waktu untuk kontemplasi (take time to contemplate)
Kebijaksanaan tidak bisa diperoleh secara cepat dan tidak bisa tumbuh dari pikiran yang dipenuhi budaya pop dan cara hidup serba cepat dan instant. Perlu waktu khusus untuk lepas dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari agar dapat berpikir dan merefleksikan apa saja yang telah dilakukan dan terjadi dalam hidup seseorang dan  dunia sekelilingnya. Jika tidak dibiasakan berkontemplasi, orang akan cenderung bertindak reaktif bukan proaktif, malas berpikir kontemplatif dan tidak mau tahu dunia sekitar dan memilih bersenang-senang mengikuti arus kehidupan.

Setelah membaca tulisan  Wikihow ini aku menyimpulkan ternyata aku tahu sedikit sekali tentang ilmu kehidupan. Untuk menjadi bijaksana bukan hal yang mudah dan sederhana. Tidak ada tujuan akhir bernama kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah proses menjadi dan menjadi secara terus menerus, proses pembelajaran sepanjang kehidupan manusia. Dan otak manusia ternyata merupakan space yang sangat luaaas sekali.  Diisi dengan ilmu, buku-buku, ide dan ajaran apa pun tidak akan pernah menjadi penuh. Untuk menjadi bijaksana dan bisa melihat cakrawala kehidupan yang sangat luas dan indah, kita tidak bisa menutup pintu ide dan pikiran. Sekali orang puas dengan hanya satu visi dan satu perspektif sulit baginya  untuk menuju bijaksana. Kehidupan yang multidimensi apabila dilihat  dari kaca mata satu dimensi akan kehilangan kekayaan warna dan maknanya.

Akhirnya, dengan bertambahnya usia satu tahun di hari ini bertambah lagi pemahamanku akan ilmu kehidupan.   Menjadi tua tidak harus otak atau cara berpikir ikut menjadi jaman dulu atau 'jadul'. Hidup di usia berapa pun tidak menjadi masalah sepanjang kita mengisi kehidupan dengan pandangan terbuka dan mencintai kehidupan. Hidup dan kehidupan nampak indah dan warna-warni kalau kita melihatnya dengan mata dan hati penuh ceria dan bahagia. Bertambah tua itu pasti, tapi menjadi bijaksana adalah suatu pilihan. Dan aku memilih menjadi bijaksana. Ini harapan dan doaku. Semoga Tuhan mengabulkan. Amin.
Lagu "Old and Wise" dari band rock progresif Inggris di tahun 1975-1990 - The Alan Parsons Project -cocok sekali untuk mengiringi perenungan tentang menjadi  tua. Saat semakin tua namun semakin bijaksana, segala hal akan diterima dan dijalani tanpa beban, ringan dan nyaman. 

And oh, when I'm old and wise
Bitter words mean little to me
Autumn winds will blow right through me
And someday in the midst of time
When they asked me if I knew you
I'd smile and say you were a friend of mine
And the sadness would be lifted from my eyes
Oh, when I'm old and wise

Link : http://www.youtube.com/watch?v=NLtFsiOFn-4


Gambar : thechronicleofdianathetruth. blogspot. com


Selasa, 26 Juli 2011

Fashion : Membebaskan atau Menindas Perempuan ?

Your clothes conceal much of your beauty, yet they hide not the unbeautiful (Kahlil Gibran)
 

Fashion menunjuk pada  gaya berbusana yang meliputi pakaian, alas kaki, dan aksesoris yang menjadi mode atau trend atau cara berbusana dan berdandan yang dianggap indah menurut cita rasa suatu kelompok atau komunitas.
Bagi manusia, pakaian tidak hanya mempunyai nilai fungsional (untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin dan panas atau ancaman binatang buas).  Pakaian dan aksesoris yang dikenakan manusia merupakan simbol identitas gender, agama,  dan status sosial.  Pakaian bisa juga menjadi alat ekspresi diri. Baju  hitam , misalnya, biasa dikenakan orang yang sedang kesusahan. Model dan cara berpakaian juga bisa dijadikan media untuk mengekspresikan pemberontakan pada kemapanan atau semangat untuk lepas dari keseragaman . Ini biasa dilakukan oleh kelompok yang anti kemapanan seperti komunitas punk dan para seniman . Bagi masyarakat adat atau kelompok religius, pakaian mempunyai nilai sakral dan suci karena menjadi bagian dari ritual adat atau ibadah agama. Misalnya, baju hitam orang Badui, kain kotak-kotak putih dan hitam orang Bali, atau jilbab wanita muslimah dan kerudung biarawati.
Ternyata pakaian itu di tangan manusia bisa menjadi sangat rumit dan politis.
Pakaian dan aksesorisnya menjadi semakin kompleks  pabila dilekatkan ke tubuh perempuan. Busana bagi perempuan tidak akan pernah hanya sebagai selembar kain penutup tubuh. Pakaian perempuan sarat dengan berbagai simbol yang disitu melekat banyak sekali nilai.  Pakaian yang menempel di tubuh perempuan merupakan representasi banyak kepentingan : status sosial, ekonomi, politik, norma, etika dan estetika. Banyaknya simbol dan nilai yang dilekatkan pada busana perempuan menjadikan fashion dan tubuh perempuan menjadi perdebatan yang tidak ada matinya.
Sejarah mencatat betapa tubuh perempuan menanggung beban berat karena simbol-simbol yang dilekatkan kepadanya. Penggunaan korset pada zaman Victoria di Inggris, pengecilan kaki (foot binding) di Cina atau gelang-gelang leher perempuan suku Karen di Thailand menjadi bukti nyata sejarah penindasan fashion kepada kaum perempuan atas nama kepentingan identitas , status sosial ataupun kecantikan (Wikipedia).
Mode pakaian perempuan pada zaman Victoria memaksa perempuan menyiksa tubuhnya dengan mengenakan korset  agar pinggangnya kelihatan ramping sehingga mode baju yang trend saat itu semakin kelihatan indah. 


Foot binding di Cina mulai dipraktekkan sejak abad 10 hingga tahun 1900an. Pengecilan telapak kaki perempuan dilakukan dengan mengikat kuat telapak kaki hingga menekuk ke tumit yang dilakukan sejak anak berumur sekitar 5 tahun. Proses ini sangat menyakitkan dan berlangsung hampir sepanjang hidup seorang perempuan. Foot binding  diberlakukan bagi perempuan dari keluarga kaya dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa mereka nantinya tidak akan melakukan pekerjaan kasar (manual). Kaki yang kecil dianggap indah dan membuat gerakan perempuan menjadi lebih feminin serta anggun , terlebih lagi apabila kaki kecil itu mengenakan sepatu sutera yang sangat indah.
Lain lagi ukuran kecantikan perempuan suku Karen di Thailand. Perempuan Karen yang cantik adalah perempuan dengan leher yang panjang seperti jerapah dan untuk membentuk leher yang panjang pada leher perempuan dilekatkan gelang-gelang besi yang jumlahnya semakin lama semakin bertambah banyak. 


Yang lebih ekstrim lagi adalah ukuran kecantikan suku Mursi di Sudan Afrika. Cantik bagi orang Mursi dicirikan oleh mulut yang lebar sehingga bisa untuk tempat meletakkan piring. Proses untuk membentuk mulut yang lebar itu sama menyakitkannya dengan proses membentuk kaki yang kecil di Cina. Perempuan dengan mulut yang lebar akan dihargai tinggi oleh laki-laki yang akan melamarnya sehingga menguntungkan orang tuanya (Wikipedia)
Benar sekali ungkapan yang menyatakan “Beauty is in the eye of the beholder”, ukuran cantik itu bisa sangat subyektif tergantung pada selera mata dan hati orang yang melihatnya. Bagaimana bisa kaki yang dibuat cacat justru menandakan status sosial yang tinggi, leher yang seperti jerapah dan mulut yang tidak “umum” justru dibilang cantik. Manusia memang makhluk yang unik dan aneh !
Mungkin ada yang berpendapat bahwa praktek menyiksa diri untuk memperoleh sebutan cantik itu hanya dipraktekkan oleh masyarakat suku primitif. Ternyata perkiraan ini tidak benar. Praktek yang sama ternyata juga ditempuh oleh para perempuan modern dan berpendidikan tinggi. Operasi plastik atau suntik silicon untuk mendapatkan wajah dan tubuh yang cantik dan indah adalah bagian dari gaya hidup wanita kaya zaman sekarang. Bahkan manipulasi untuk mempermak bagian-bagian tubuh agar menjadi “cantik” di zaman ini semakin canggih. Banyak perempuan yang rela kesakitan demi mendapatkan “kecantikan” yang diidamkan. Tentang aksesoris bahkan bisa lebih gila lagi. Coba lihat koleksi sepatu Lady Gaga ini.


Ternyata dalam hal fashion sesungguhnya pada dasarnya semua perempuan itu sama nalurinya, tidak ada banyak perubahan pada perempuan zaman Victoria hingga zaman Lady Gaga. Yang membedakan hanya di bentuk simbol-simbol kecantikannya saja. Kalau demikian halnya, apakah fashion itu menjadi symbol ekspresi kebebasan atau justru sebaliknya malahan membelenggu dan menindas perempuan ?


Sabtu, 16 Juli 2011

Tentang Niat Baik

If you are honest and frank, people may cheat you
Be honest and frank anyway
(The Final Analysis - Mother Teresa)

Baru saja kemarin – Jum’at  15 Juli 2011- aku mendapatkan pelajaran berharga dari dinamika kehidupan sosial bertetangga.  Kejadiannya  saat aku habis pulang kerja, ada seorang laki-laki dewasa usia akhir 30-an hilir mudik di depan jalan rumahku. Ternyata orang itu kakaknya tetangga depan rumah persis,   yang kebetulan saat itu sedang ke rumah mertuanya yang punya hajatan menikahkan adiknya. Karena orang itu jauh-jauh datang dari Semarang maka kupersilahkan masuk rumahku dan kuajak bicara.
Dari ngobrol basa-basi sebentar, dia kemudian minta tolong untuk meneleponkan adiknya itu. Saat itu sebenarnya aku agak curiga kenapa di jaman semua orang punya HP dia tidak punya nomor HP adiknya. Tapi karena kasihan ya aku keluar cari tahu ke tetangga karena kebetulan aku juga tidak punya nomor HPnya. Saat aku keluar, aku minta  ibuku menemaninya ngobrol, karena saat itu anak-anakku sibuk di kamarnya masing-masing. Setelah kesana kemari mencari tahu ternyata tidak ada yang punya nomor  HP adiknya, yang diketahui hanya alamat rumah mertuanya yang sedang punya hajatan itu.
Tak lama kemudian aku lihat ibuku menyusulku keluar dan bilang kalau orang itu mau ke tempat saudaranya , tapi kehabisan uang dan minta pinjam. Langsung saja aku kembali ke rumah dan kuberi Rp50 ribu dan kutawarkan bantuan untuk memanggilkan taksi. Tapi buru-buru dia jawab tidak usah, mau naik bis saja dan buru-buru minta pamit sepertinya tergesa-gesa banget. Ya sudah,  uangnya aku berikan. Orang itu langsung saja jalan dengan cepat sekali.
Habis orang itu pergi, aku menjadi merasa tidak  enak. Dan benar saja ada sesuatu yang terjadi dan  hal itu baru kuketahui saat suamiku pulang kerja dan menanyakan HPnya yang hari itu ketinggalan di rumah . Aku jawab tadi pagi ada di tempat biasanya yaitu dekat telepon rumah. Ternyata HP itu tidak ada. Aku jadi curiga orang itu pasti mengambilnya saat ibuku meninggalkannya sendirian di ruangan. Karena orang itu satu-satunya yang bertamu ke rumahku hari itu.
Aku tidak menyalahkan ibuku yang tidak menaruh curiga dan berprasangka baik pada orang itu.  Aku sendiri pun juga yakin kalau dia saudaranya tetanggaku, karena fisiknya dengan jelas menunjukkan ciri etnis yang sama dengan tetangga depan rumahku. Etnis apa itu, saya kira tidak etis untuk menyebutkannya disini. Aku juga tidak  mau berpikiran rasialis dan men-judge orang secara stereotip. Selain itu, selama ini hubunganku dengan tetangga depan rumahku itu juga baik-baik saja. Orangnya bukan orang yang sulit atau orang yang suka ribut dengan tetangga.
Malam harinya,  langsung saja aku dan suamiku  mencari rumah orang tua tetanggaku yang beralamat di kampung di kotaku yang dikenal sebagai kantung komunitas etnis tertentu.  Di sana aku hanya menemui kerabat yang menunggu rumah, karena semua keluarga ada di gedung resepsi. Setelah memperkenalkan diri aku menyampaikan maksud kedatanganku yaitu  memberitahukan dan sekaligus meminta konfirmasi apakah benar orang bernama A dengan ciri-ciri fisik tertentu adalah kakak tetanggaku. Disitu akhirnya aku memperoleh informasi yang kuinginkan. Orang itu benar kakaknya tetanggaku, tapi namanya bukan A tapi B. Dia itu biang kerok di keluarganya. Dulunya pernah menjadi pecandu narkoba dan orang tuanya telah menghabiskan banyak uang untuk mengobatinya. Dia juga pernah tinggal di kampung situ, tapi karena sering menipu akhirnya pernah mau dikeroyok oleh orang sekampung. Jadi orang di kampung itu sudah tahu track record buruk tamuku tersebut.
Akhirnya, aku bilang ke suamiku untuk merelakan HPnya. HP tersedia banyak di toko  dan bisa dibeli. Tapi dia tidak berhenti menyesali HPnya itu. Aku tidak menyalahkannya. Memang nilai sebuah HP bukan diHPnya , tapi pada file dan nomor-nomor telepon  di dalamnya dan itu yang membuat suamiku ‘gelo’ bukan main.
Yah, ternyata untuk berbuat lumrah menurut etika bermasyarakat sekarang ini orang harus berpikir keras. Spontanitas bertindak menurut kata hati yang ingin sekedar menolong tetangga justru dimanfaatkan orang yang punya niat jahat. Pepatah Jawa yang pas untuk kejadian  ini adalah ‘ditulung menthung’  - ditolong malahan memukul (menyakiti atau mencelakakan yang menolong).
Dengan adanya kejadian semacam ini, apakah kita harus berpikir ulang untuk berbuat baik? Apakah kita harus meninggalkan hidup bertetangga yang guyup saling tolong menolong dalam kebersamaan  yang  semua itu sudah diajarkan dan dipraktekkan nenek moyang kita sejak dulu? Apakah kehidupan modern harus memaksa kita membangun tembok keamanan dan sekat-sekat berdasarkan kesamaan kepentingan atau kesamaan identitas?  Haruskah kita membentengi diri dengan senantiasa memelihara kecurigaan? Betapa paranoidnya orang semacam ini.
Tindakan yang sebaiknya diambil menurutku adalah seperti yang dinasehatkan oleh Bunda Teresa dalam puisinya yang berjudul  The Final Analysis yang intinya menyatakan perbuatan baik yang kita lakukan belum tentu  membawa akibat  yang baik pula. Niat baik terkadang masih dicurigai ketulusannya atau dianggap mempunyai motif terselubung. Bahkan apabila kita berusaha bertindak baik , jujur dan terus terang mungkin orang akan menipu daya kita. Meskipun begitu janganlah kita berhenti untuk berbuat baik, jujur dan berterus terang. Karena perihal ketulusan dan niat baik manusia yang paling tahu adalah Tuhan sendiri. Penilaian terakhir (final analysis) ada padaNya, bukan antara kita dengan mereka (manusia).  Inilah terjemahan The Final Analysis  selengkapnya :
“PADA AKHIRNYA” (The Final Analysis)

People are often unreasonable,illogical,and self-centered
Forgive them anyway
Orang seringkali kurang bijaksana, tak bisa berpikir jernih, bahkan cenderung egois
Tetaplah ampuni mereka

If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives
Be kind anyway
Jika engkau berupaya menjadi orang yang baik, engkau mungkin dituduh egois dan punya motif terselubung
Tetaplah berusaha menjadi baik

If you are successful, you win some false friends and some true enemies
Succeed anyway
Jika engkau sukses, banyak orang akan berusaha memanfaatkan bahkan memusuhimu
Tetaplah berupaya meraih sukses

If you are honest and frank, people may cheat you
Be honest and frank anyway
Jika engkau jujur dan berterus terang, engkau mungkin akan sering ditipu
Tetaplah jujur dan berterus terang

What you spend years building, someone could destroy overnight
Build anyway
Apa yang kaubangun dengan kerja keras selama bertahun-tahun mungkin bisa hancur dalam semalam
Tetaplah berusaha membangunnya

If you find serenity and happiness, they may be jeolous
Be happy anyway
Jika engkau hidup bahagia dan sejahtera, mereka mungkin akan cemburu
Tetaplah berbahagia

The good you do today people will often forget tommorrow
Do good anyway
Perbuatan baik yang kaulakukan hari ini seringkali sudah akan terlupakan besok
Tetaplah berbuat baik

Give the world the best you have, and it may never be enough
Give the world the best you've got anyway
Berikan yang terbaik kepada dunia, sekalipun mungkin takkan pernah cukup
Tetaplah berupaya memberi yang terbaik

You see, in the final analysis, it is between you and GOD
It was never between you and them anyway
Pada akhirnya, yang tinggal hanyalah antara engkau dan TUHAN
Bukan antara engkau dan mereka

Antara Kita dan ‘DIA’, Bukan ‘Mereka’


(terjemahan bahasa Indonesia dikutip dari SINI )