Minggu, 16 Oktober 2011

Tentang Hilangnya Privasi

Inside myself is a place where I live all alone, and that's where I renew my springs that never dry up.  ~Pearl Buck

Nowhere can man find a quieter or more untroubled retreat than in his own soul.  ~Marcus Aurelius

Privasi atau kondisi yang bebas dari pengamatan dan gangguan orang lain merupakan salah satu keadaan yang dijamin dalam perlindungan Hak Asasi Manusia. Privasi adalah kemampuan seorang individu atau kelompok untuk mengasingkan diri mereka atau melindungi informasi tentang diri mereka agar tidak dikonsumsi public. Privasi kadang-kadang terkait dengan anonimitas, keinginan untuk tak dikenal di ranah publik. Privasi biasanya menyangkut sesuatu yang bersifat sangat pribadi atau hal yang sensitif.  Sedangkan privasi fisik dapat didefinisikan sebagai mencegah penyusupan ke dalam ruang fisik seseorang atau kesendirian atau mencegah akses tidak sah ke rumah seseorang.  (Wikipedia).

Privasi terkesan sangat individualis karena erat berkaitan dengan hak-hak pribadi individu yang tidak boleh diganggu orang lain sehingga privasi dianggap konsep yang sangat Barat. Meskipun makna atau hal-hal apa saja yang masuk dalam privasi bisa berbeda-beda di tiap-tiap budaya, namun ada hal-hal substansial yang universal misalnya menyangkut privasi fisik. Setiap orang ingin dirinya secara fisik terlindungi dari gangguan  orang-orang yang tidak dikenal, ingin agar wilayah tempat tinggal pribadinya tidak dimasuki sembarang orang, ingin aktivitas pribadinya tidak diganggu orang yang tidak dikenal.

Di masyarakat tradisional  dimana atas nama kebersamaan orang merasa berhak dan wajib tahu apa dan bagaimana orang lain , bukan sekedar karena keusilan atau ingin tahu urusan orang lain namun lebih karena keperdulian dan ketertiban sosial,  privasi akan dilihat sebagai bentuk perilaku sombong. Orang yang menutup keingintahuan tetangga akan apa yang berlangsung di dalam rumahnya, siapa orang yang datang ke rumahnya, siapa kekasihnya, dan membatasi akses tetangga untuk dolan ke rumahnya akan dipandang aneh, asosial sehingga dikucilkan dari interaksi sosial warga. Menuntut privasi di komunitas pedesaan yang bertahun-tahun hidup dalam interaksi yang guyup, yang orang-orangnya lahir, tumbuh dewasa sampai tua disitu sehingga mengenal dengan jelas satu sama lain , wajar kalau dianggap aneh.

Berbeda halnya dengan masyarakat urban atau pinggiran kota, seperti saya yang tinggal di perumahan yang terbuka bebas untuk dimasuki siapa pun,  privasi itu menjadi sangat penting. Orang-orang tidak diundang yang biasa mengganggu sangat banyak mulai dari pengamen dan pengemis yang di hari-hari tertentu jumlahnya bisa sampai 10 orang per hari. Yang bikin jengkel bukan jumlah uang yang diminta, tapi bolak-balik ngasih receh itu yang bikin senewen, yah terpaksa cari aman tutup pintu. Pengganggu lainnya adalah sales yang sekarang ini kurang ajarnya minta ampun, nawarkan produk secara memaksa. Apakah memang mereka ini dilatih teknik pemasaran yang coersive dan manipulatif semacam itu oleh trainernya. Yang bikin emosi pintu sudah ditutup rapat , mereka berani mengetuk pintu atau pencet bel. Penganggu lainnya lagi adalah para penjual makanan yang sekarang ini pada keliling naik sepeda motor mulai dari jual yakult, susu segar, sayuran, lauk pauk dll. Sekali saya beli barang jualan mereka terus dicatat sebagai pelanggan alias harus siap setiap saat ditawari dan kalau pintu tertutup siap membukakan pintu karena mereka tak segan untuk mengetuk pintu atau kalau pagar tertutup mereka siap dengan mulutnya teriak kencang-kencang memanggil nama yang punya rumah : “ Bu Polan….Bu Polan…ya***tnya bu”. “ Bu Joko….Bu Joko.susu segarnya bu” . Yang bikin panas hati , terkadang mereka ini datang tak tahu waktu seperti saat jam tidur siang. Huh…benar-benar bikin suueebel ! Kalau sudah begini kadang pengin pindah di perumahan model cluster yang dipagari dan ada satpamnya itu. Tapi kalau tinggal di kompleks semacam itu ,  kalau sore  bisa ngrumpi dan ketawi-ketiwi bareng ibu-ibu seperti yang selama ini kadang aku lakukan nggak ya?   Apa bisa kalau  pas kehabisan bumbu dapur langsung minta ke tetangga? Kalau tiap orang tersekat-sekat dan sibuk di cangkang (rumah)nya masing-masing terus tidak bisa sekedar duduk-duduk ngobrol dan ketawa bareng-bareng , bisa-bisa saya disitu jadi cepat linglung. Selain itu, apa ya  mereka yang tinggal di rumah dengan pengamanan canggih : ada satpam, CCTV, pagar tembok seperti benteng terus dijamin keamanan dan privasinya?

Saya jamin jawabnya pasti tidak. Karena ancaman terhadap privasi saat ini tidak hanya secara fisik yang nyata dan riil tapi juga bisa lewat dunia maya lewat tehnologi komunikasi. Rumah yang kayak benteng mungkin susah diakses sales atau pedagang keliling atau pengamen dan pengemis, namun jelas tidak bagi sales yang menawarkan produknya lewat telepon, sms, atau internet. Berita yang hangat di media massa tentang penipuan dan penyedotan pulsa lewat telepon dan HP membuktikan betapa privasi di abad digital, abad internet menjadi  sesuatu yang susah didapatkan. Ancaman terhadap privasi di era internet tidak sekedar menyangkut privasi fisik tapi juga terhadap  kerahasiaan informasi atau data pribadi.  Sekarang ini data pribadi apa yang tidak bisa dicari lewat internet. Setiap orang pasti memiliki paling tidak satu kartu identitas, kalau informasi tentang identitas itu disimpan dan dipublikasikan lewat internet jelas siapa saja akan bisa memanfaatkan data pribadi itu untuk tujuan apa saja. Terlebih lagi saat ini banyak  orang yang demam facebook, coba kita lihat apa yang ditampilkan disitu – mereka tidak  segan-segan menampilkan identitas pribadi dan  koleksi fotonya.

Masyarakat Barat dikenal sangat memandang tinggi perlunya perlindungan privasi. Mereka sadar betul akan hak-hak menyangkut perlindungan privasinya karena itu mereka juga menyadari kewajiban untuk menghargai privasi orang lain. Penghargaan pada privasi orang lain inilah yang nampaknya belum menjadi etika perilaku kita. Secara teknologi kita tidak ketinggalan dengan masyarakat maju, tapi aplikasi tehnologi ini tidak diikuti dengan perubahan mind set atau cara berpikir dan perilaku. Akibatnya, tehnologi apa pun yang diaplikasikan  tidak akan dapat lepas dari warna kultur Indonesia. Orang Indonesia yang senang bergaul, bersosialisasi, dan ngobrol dengan adanya facebook, twitter, dll - dalam bahasa Jawa -  seperti  “tumbu oleh tutup” atau panci ketemu tutupnya alias pas dan klop banget. Segala macam tetek bengek dicurhatkan di dunia maya. Mereka tidak menyadari ada wilayah privasi yang tidak patut untuk dipublikasikan. Tidak adanya pemahaman akan apa itu privasi nampak nyata dari apa yang dicurhatkan orang di facebook atau blog. 

Di sisi lain kesadaran akan penghargaan pada privasi orang lain juga kurang. Akibatnya, mereka tak ubahnya orang yang usil melanggar privasi orang seenaknya dengan memanfaatkan tehnologi. Seperti waktunya jam istirahat siang  nelpon rumah orang  untuk nawarkan dagangan atau meraup keuntungan dengan melakukan penipuan lewat HP. Kejadian lucu yang baru saja aku alami pas siang-siang telepon rumah berdering pas diangkat ada suara laki-laki yang mengaku dulu tetanggaku yang sekarang katanya  tinggal di Papua Barat, tapi dari nada suaranya aku nggak yakin kalau tidak kenal orang ini. Pertama-tama penelepon ini tanya kabar keluargaku setelah basi basi sebentar akhirnya dia cerita kalau sekarang dia sudah sukses sudah lulus S2 dan kerja di Dinas Kesehatan, tapi di usia 30an dia itu bingung karena masih jomblo dan dia minta tolong saya untuk mencarikan jodoh. Dia tanya apa saya punya saudara, keponakan atau kenalan yang masih usia 30an yang bisa dijadikan istri. Aku nerima telpon itu sambil nahan ketawa. Ada-ada saja  opo tumon (bahasa Indonesianya apa ya?) kenal aja nggak eh jauh-jauh dari Papua ada orang yang curhat bingung masih jomblo dan pengin cepat punya istri. Memangnya saya buka biro jodoh?. Aya-aya wae. Kejadian ini  menimbulkan pertanyaan di benak saya : darimana orang itu tahu nama, alamat dan nomor telepon saya? Jawabnya darimana lagi kalau bukan dari internet. Saya tidak punya facebook yang bisa untuk melacak data pribadi, demikian juga blog saya tidak secara detail menampilkan identitas saya. Satu-satunya web yang  biasa menampilkan data pribadi secara  detail adalah kantor atau tempat kerja. Jadi dapat dipastikan dari situlah orang bisa tahu apa dan siapa seseorang. Menampilkan profil sumber daya manusia untuk kepentingan pencitraan lembaga saat ini sudah menjadi hal yang lazim dan  sepanjang data profil itu dimanfaatkan untuk tujuan positif  nggak jadi masalah , yang ditakutkan kalau dari data itu ada orang yang berniat tidak baik atau paling tidak timbul niat usil contohnya menelepon sekedar untuk curhat minta tolong dicarikan istri. 

Berbagai problem yang muncul terkait persoalan privasi di era internet membuktikan kebenaran teori Karl Marx yang menyatakan bahwa infrastruktur berkembang lebih cepat ketimbang suprastrukturnya. Tehnologi berkembang lebih cepat tanpa diiringi perkembangan cara pikir, nilai dan perilaku yang kompatibel dengan kemajuan tehnologi tersebut. Melihat begitu kompleksnya dampak sosial dari interaksi manusia lewat tehnolgi internet hal yang mendesak untuk dipikirkan bersama adalah menetapkan aturan atau hukum yang dapat menekan peluang kejahatan virtual dan juga membangun nilai dan kelembagaan yang bisa menopang bentuk interaksi manusia di dunia maya.

Dari ulasan ngalor ngidul tentang privasi ini, akhirnya saya menyimpulkan di abad virtual  tempat atau wilayah pribadi yang tidak akan terjamah oleh gangguan apa pun adalah  ketenangan di batin atau jiwa manusia sebagaimana bunyi kata-kata bijak yang saya kutip di awal tulisan ini....inside myself  is a place where I live all alone. Dengan membangun privasi di jiwa, membangun batin yang bersih, kita tidak akan pernah merasa terganggu ataupun takut dengan ancaman apa pun. Pikiran dan hati yang bersih adalah pengusir yang ampuh bagi gangguan jiwa, sehingga kita tidak akan terintimidasi oleh bentuk kontrol apa pun . Kontemplasi dan meditasi akan mencegah kita menjadi sebagaimana  tergambar dalam VIDEOKLIP  INI.


Selasa, 04 Oktober 2011

Tentang Rasa Aman

For safety is not a gadget but a state of mind.  ~Eleanor Everet  
                                                                                                  (quotegarden.com)

Akhir-akhir ini saya sering menjumpai polisi yang merazia pengendara mobil dan sepeda motor maupun para penumpang transportasi umum. Tidak seperti biasanya , razia kali ini yang diperiksa bukan sekedar kartu identitas tapi polisi juga menggeledah isi tas pengendara atau penumpang terus pak polisinya yang tugas  bawa senjata lengkap. Wuih …bikin serem saja. Hal-hal seperti ini yang membuat hidup menjadi tidak nyaman.
Selama ini saya terbiasa dengan irama hidup yang slow . alon-alon asal kelakon dan adem ayem khas Solo. Tiba-tiba saja ketenangan itu terganggu. Rutinitas hidup yang relatif aman tanpa banyak gejolak berarti sudah dinikmati bertahun-tahun masyarakat Kota Solo dan sekitarnya paska kerusuhan Mei 1998.  Nampaknya peristiwa bom bunuh diri Minggu, 25 September 2011 lalu berimbas juga pada stabilitas kenyamanan dan rasa aman warga.
Ternyata benar ‘sesuatu’ yang sudah dianggap sudah ada dengan sendirinya,  begitu itu terganggu atau hilang baru dirasakan betapa  ‘sesuatu’ itu sungguh berarti. Sesuatu yang sudah dianggap taken for granted  namun saat ini menjadi sangat mahal adalah keamanan.  Karena gangguan atau ancaman terhadap rasa aman tidak hanya dirasakan oleh mereka yang tinggal di wilayah konflik atau perang tapi juga mengancam mereka yang berdiam di daerah yang tidak sedang berperang– seperti kejadian bom bunuh diri di Solo. Biasanya orang yang terbiasa tinggal di wilayah dengan kondisi keamanan yang stabil begitu diguncang dengan teror akan mengalami shock dan trauma, karena fenomena kekerasan bukan merupakan hal yang biasa dilihat dan dialami. Tentang bagaimana rasanya kehilangan rasa aman bisa dibaca DISINI
Apapun motivasi di balik  kekerasan dan teror - entah itu ideologi, identitas,  politik atau apa saja -  yang jelas  tindakan itu telah mengganggu rasa nyaman dan aman masyarakat. Khusus untuk Kota Solo, saya berharap semoga saja ini hanya sementara dan keadaan cepat pulih seperti biasanya. Dan saya yakin gejolak ini tidak sampai menular ke masyarakat di bawah atau istilahnya akar rumput. Sekalipun beban hidup semakin menghimpit, kehidupan sosial masyarakat tetap  berjalan seperti biasanya, mereka   tetap rukun dan happy-happy menjalani hidupnya.  
Sebagai bagian dari rakyat biasa, saya juga bersikap enjoy-enjoy saja menjalani hidup ini. Saya tidak mau hidup yang sudah berat ini ditambah lagi dengan membayangkan hal-hal yang bisa membuat orang jadi parno alias paranoid. Bersikap dan bertindak hati-hati tetap perlu, tapi saya tidak mau situasi dan kondisi pengamanan oleh aparat Negara itu mengganggu kenikmatan dan kebahagiaan saya menjalani rutinitas kegiatan sehari-hari. 


Tentang rasa aman, pada akhirnya semua itu kembali pada bagaimana manusia mampu mengontrol pikirannya…for safety is not a gadget is a state of mind. State of mind atau kondisi pikiran disini yang dimaksud adalah  cara berpikir yang positif. Namun Budha mengatakan berpikir positif perlu diikuti dengan perasaan dan tindakan yang positif ( Positive thought is not enough. There have to be positive feelings and positive actions). Jadi dalam hal mengatasi kecemasan atau hilangnya rasa aman cara paling efektif adalah dengan berpikiran positif atau optimis bahwa semua itu akan segera berlalu. Pikiran positif semacam ini akan menumbuhkan perasaan yang positif sehingga rasa takut dan cemas akan terusir dan pada akhirnya ini semua akan mendorong orang untuk bertindak positif pula. Untuk bisa berpikir positif, berperasaan positif dan bertindak positif orang harus bisa  mengosongkan pikirannya dari segala bentuk dendam dan rasa sakit hati. Benar kalau dikatakan cara memutus siklus kekerasan adalah dengan memutus rantai kekerasan itu yakni membunuh pikiran yang bisa menumbuhkan perasaan dendam dan keinginan menuntut pembalasan. Jadi kata kuncinya adalah memaafkan.  Ajaran agung tentang pentingnya memaafkan juga ditemukan pada kata bijak Mahatma Gandhi yang mengatakan "Mata ganti mata akan membuat seluruh dunia menjadi buta" atau perintah Yesus untuk memaafkan dan mengasihi musuh. Kalau orang sudah bisa mengosongkan pikirannya dari rasa dendam, maka yang diam di hati hanya rasa aman dan lepas dari kekhawatiran. Inilah yang dimaksud rasa aman yang sejati itu ada di keadaan pikiran manusia, bukan di perangkat atau sistem keamanan.  Tidak mudah memang. untuk melakukannya. Tapi harus dicoba jika manusia ingin bebas dari kecemasan dan ketakutan. Jadi...be happy,enjoy life, no matter how hard it may seem! When life gives you a thousand reasons to cry, show the world that...You have million reasons to smile (kata-kata ini saya dapat di internet tapi lupa sumbernya dari mana).
Untuk  melupakan segala carut marut kehidupan bangsa,  saya mau menikmati lagu barunya Jason Mraz “ The World as I See It” yang bercerita soal optimisme anak muda yang berkhayal tentang keluarga yang dicita-citakannya dan memandang dunia masih sebagai tempat yang nyaman untuk ditinggali. Hidup didampingi dan dikelilingi dengan orang-orang saling mengasihi akan membuat dunia ini menjadi indah. Saya ingin melihat Kota Solo dan dinamika kehidupan warganya sebagaimana Jason Mraz berdendang dalam lagunya ini :
The world as I see it, is a remarkable place
A beautiful house in a forest, of stars in outer space
From a bird eye view, I can see it has a well-rounded personality
From a bird eye view, I can see we are family
Ini lagu “THE WORLD AS  I  SEE  IT ”.   Semoga lagu ini bisa menyuntikkan semangat untuk melihat dunia sekeliling kita dengan penuh rasa optimis. Yah, apapun yang terjadi …. life must go on and  God be with us.



Senin, 26 September 2011

Where is The Love?

Seringnya terjadi tindak kekerasan pada tahun-tahun terakhir ini , khususnya pasca-Orde Baru,  membuat saya tidak mengenali Indonesia. Benarkah ini Indonesiaku yang dulu ? Rasanya kok asing ya? Kenapa sekarang ini kerusuhan komunal jadi sering terjadi? Perbedaan dan keberagaman yang menjadi realitas dan karunia Indonesia sekarang ini seolah berubah menjadi kutukan. Orang mudah tersulut emosinya jika identitas primordialnya disentuh. Orang lebih merasa punya keterikatan yang kuat pada ikatan suku, daerah dan keyakinannya dibanding pada identitas kebangsaan Indonesia. Konflik antar kelompok dan golongan semakin sering terjadi. Tawuran, kekerasan dan perusakan bahkan pembunuhan mudah dilakukan hanya karena tidak bisa memanajemen perbedaan.
Yang lebih memprihatinkan bom semakin sering meledak di berbagai daerah di Indonesia. Dan yang lebih menyeramkan adalah semakin seringnya terjadi bom bunuh diri. Ya , bom bunuh diri. Seringnya terjadi bom-bom bunuh diri membuat saya merasa asing. Masihkah ini wajah  Indonesiaku tercinta? Indonesia tidak sedang perang kan? Sepertinya Indonesia bukan tanah Palestina , bukan Afganistan  atau Negara yang sedang perang lainnya. Tapi kenapa kok bom-bom bunuh diri meledak di beberapa kota yang tidak ada ceritanya sedang konflik apa pun. Bahkan bom bunuh diri terakhir terjadi di sebuah gereja di kotaku sendiri, Solo. Rasanya seperti mimpi. Solo yang selama ini adem ayem. Solo yang sangat multikultur yang sebagian besar masyarakatnya masih memegang kuat nilai budaya Jawa yang terbuka dan toleran.
Mengapa di tengah tatanan sosial yang damai kok bisa tumbuh pemikiran untuk mau bunuh diri dengan menyerang sesama anak bangsa? Apa sudah sedemikian frustasi dan bencinya sehingga tidak ada cara lain yang lebih beradab untuk mengekspresikan emosinya?
Apa yang salah dengan bangsa Indonesia?
Jika rasa cinta dan kebersamaan itu tidak lagi ada, yang tinggal hanya kecurigaan, kebencian dan permusuhan. Tapi atas nama apa, segala kebencian dan permusuhan di Negara atau wilayah yang tidak sedang berperang ini? Siapa melawan siapa kok tidak jelas? Apakah kita sedang berperang melawan bangsa kita sendiri? Kita saling berkelahi dan saling bunuh demi memperjuangkan suatu bayangan yang tidak jelas.
Kenapa di Negara yang penduduknya mengaku sangat religius dan mempunyai semangat beribadah yang luar biasa, justru disitu terjadi berbagai macam bentuk perilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai agama?  Korupsi, tindak kejahatan dan kekerasan meraja lela. Ada ribuan asumsi, ribuan teori, dan jutaan khotbah untuk  menjelaskan ini. Tapi untuk saat ini,  itu semua seolah tanpa arti. Sebab selama masih ada orang yang berpikiran bahwa dunia ini adalah medan perjuangan untuk menegakkan kepentingan dan nilai-nilai yang diyakininya dan memerangi apa pun yang dianggap menghalangi kepentingan mereka , siapa pun dan apa pun nilai dan kepentingan itu, maka selama itu pula cinta dan perdamaian  tidak akan tumbuh dan berkembang subur di dunia.

Saya tidak ingin apatis. Saya masih memelihara harapan. Saya harap demikian juga  berjuta-juta rakyat Indonesia . Mari kita  memotivasi diri , memompakan semangat agar  tetap sabar,  tetap tegar dan berpikiran jernih menyikapi semua ini. God Bless Us ! !
Mungkin lirik lagu Black Eyed Peas “ WHERE IS THE LOVE?”  bisa mewakili kegundahan kita melihat fenomena kekerasan di Indonesia  dan berbagai belahan dunia akhir-akhir ini. Cuplikan lirik lagu Where is the love? berikut ini dengan tepat menyebutkan akar dari kebencian dan kekerasan  :


But if you only have love for your own race
Then you only leave space to discriminate
And to discriminate only generates hate
And if you hatin you're bound to get irate
Yeah madness is what you demonstrate
And that's exactly how anger works and operates
You gotta have love just to set it straight
Take control of your mind and meditate
Let your soul gravitate to the love y'all





Senin, 19 September 2011

Perempuan, Kecantikan dan Industri Hiburan

Beauty?... To me it is a word without sense because I do not know where its meaning comes from nor where it leads to. ~Pablo Picasso


Perempuan adalah salah satu keindahan dunia,  salah satu manifestasi dari cita rasa seni Penciptanya. Keelokan dan kecantikan tubuh dan wajah perempuan menjadi inspirasi banyak seniman untuk dituangkan ke dalam karya seninya. Tak terhitung berapa banyak lukisan, atau patung perempuan cantik menjadi bukti sejarah peradaban manusia, menjadi karya fenomenal yang dikenal dan diingat banyak orang. Monalisa karya pelukis Leonardo da Vinci , patung Nefertiti dan Cleopatra di Mesir, Ken Dedes atau patung Roro Jonggrang di Candi Prambanan yang bagian tertentu tubuhnya mengkilap karena seringnya disentuh tangan jail manusia.  Patung perempuan saja mengundang niat nakal manusia, terlebih perempuan bukan patung tentu akan memancing lebih dari sekedar keisengan tangan nakal manusia. 


Perempuan adalah makhluk Tuhan paling seksi kata Ahmad Dani. Keseksian, kemolekan dan kecantikan perempuan menjadi berkah dan sekaligus bencana bagi perempuan. Tidak ada tubuh manusia yang sekontroversial dan mengundang perdebatan sebagaimana tubuh perempuan. Begitu indahnya perempuan sehingga dari awal keberadaannya, perempuan dituduh sebagai pihak yang menggoda dan menyeret Adam  ke dalam dosa. Tubuh perempuan adalah sumber godaan dan bencana, pembangkit gairah dan nafsu rendah laki-laki. Pabila mata, hati, pikiran dan nafsu lelaki  tak kuat menanggung godaan itu, maka laki-laki mudah tergelincir menjadi makhluk yang dikatakan lebih rendah dari manusia, menjadi binatang yang tidak bisa mengontrol diri dan syahwatnya sehingga memaksa dan menerkam perempuan untuk memenuhi nafsunya. Berapa banyak kasus pelecehan seksual dan perkosaan yang terjadi di dunia. Tak terhitung. Perempuan rawan terhadap tindak kejahatan bukan hanya karena perhiasan atau benda berharga yang dibawanya, tapi juga karena tubuhnya itu sendiri mengundang niat jahat orang untuk melakukan tindak kekerasan.  Ternyata dikodratkan sebagai manusia ber "tubuh perempuan"  tidaklah mudah, apalagi kalau ditambah lagi dengan  kecantikan , kalau tidak hati-hati bisa-bisa karunia itu  berubah menjadi kutukan, menjadi bencana.

Kecantikan perempuan adalah anugrah Tuhan. Namun apakah anugrah itu akan mendatangkan kebahagiaan atau bencana tergantung pada bagaimana perempuan memanfaatkan karunia itu dan bagaimana laki-laki merespon dan memperlakukannya. Bagi perempuan,  kecantikan itu merupakan modal awal yang membuatnya lebih mudah dalam mengarungi kehidupan ketimbang perempuan yang tidak dikarunia kecantikan. Dengan modal kecantikan paling tidak itu adalah asset tak ternilai untuk memasuki dunia yang menjual keindahan dan khayalan – dunia hiburan, industri entertainment.

Pada jaman dulu keindahan perempuan oleh para seniman dituangkan ke dalam kanvas lukisan atau patung dan  diperjualbelikan sebagai karya seni yang bernilai tinggi. Di jaman tehnologi informasi dan media yang canggih sekarang ini, pemanfaatan atau bahkan eksploitasi keindahan tubuh perempuan sungguh luar biasa dan di luar akal manusia. Adanya internet telah membuat industri yang mengekploitasi seksualitas perempuan semakin marak. Industri film dan musik semakin massif dan menemukan panggungnya dengan adanya televisi dan internet yang bisa disebarkan dan diakses oleh masyarakat seluruh dunia.  Industri  yang menjual citra kecantikan seperti produk fashion : baju, tas, perhiasan, sepatu serta aksesoris perempuan lainnya laris luar biasa. Alat-alat kecantikan seperti kosmetik, cat rambut, pelangsing tubuh dan rekayasa kecantikan seperti suntik silicon, bedah plastik menjadi bagian dari gaya hidup perempuan modern saat ini.

Perempuan menjadi media ampuh untuk membangun image cantik sebagaimana dikonstruksikan atau dibangun oleh kolusi antara industri hiburan dan media yang seringkali dilakukan tak lebih demi kepentingan bisnis semata.

Dalam industri entertainment, perempuan diperlakukan sebagai komoditas yang dipoles sedemikian rupa agar mencitrakan sosok perempuan bak boneka Barbie atau perempuan idaman sehingga laku dijual dan mengeruk uang sebanyak-banyaknya bagi pelaku industri hiburan. Apa dan bagaimana citra perempuan adalah hasil dari imajinasi laki-laki tentang perempuan yang ideal – yang kriterianya jelas sangat fisikal : cantik, seksi, glamour, dengan tubuh yang ramping berisi, kulit putih, rambut lurus dan kemilau. Apa pun profesi keartisannya – bintang film, model atau penyanyi – secara fisikal diprogram agar berpenampilan semacam itu. Apa dan bagaimana perempuan di dunia hiburan kebanyakan diputuskan oleh keputusan orang-orang di sekitar dirinya : manajer, agen , rumah produksi atau produser – yang kebanyakan adalah laki-laki.

Untuk mencapai puncak tangga popularitas, perempuan harus mau dimanipulasi agar tampil sesuai citra dunia industri hiburan dan itu adalah suatu perjuangan keras dan menyakitkan. Perempuan harus membayar mahal harga untuk menjadi bintang idola , diva atau apa pun sebutannya.  Banyak cerita kelam di balik ketenaran seorang bintang. Tak sedikit perempuan yang harus mengorbankan tubuh dan harga dirinya untuk menjadi bintang yang dipuja banyak orang, menjadi pusat  sorotan  lampu kamera dan terpampang wajahnya di majalah dan televisi. Menjadi panutan atau role model dalam bertutur kata, berpenampilan atau sebagai trendsetter dunia mode dan fashion. Perempuan mana yang tidak memimpikan semua ini. Namun, perempuan di dunia industri hiburan bukanlah Cinderella yang hidup bahagia selamanya dengan sang pangeran. Perempuan yang tampil glamor, cantik, seksi dan  kemilau  itu adalah bentukan media dan agensi hiburan. Perempuan dituntut dan dipaksa untuk tampil sebagai perempuan khayalan. Tubuh, wajah dan penampilan adalah rancangan industri hiburan, bukan pribadi si bintang yang sebenarnya. Akibatnya, banyak artis perempuan tak kuat menghadapi tekanan dan akhirnya mengalami stress dan depressi. Contoh tragis tentang perempuan,  kecantikan dan industri hiburan bisa  DIBACA DISINI.

Tentang bagaimana posisi perempuan di dunia hiburan bisa dilihat di videoklip lagu Listen yang dibawakan Beyonce.  Lagu Listen mengilustrasikan relasi artis perempuan dengan agensinya, yang dalam lagu ini diwakili oleh hubungan Beyonce sebagai penyanyi dengan manajernya . Lewat Listen ini Beyonce menyuarakan keinginan perempuan  untuk lepas dan diberi kebebasan untuk mengambil keputusan bagi dirinya. Lagu ini berteriak keras agar para lelaki mau mendengar apa keinginan perempuan …..

Listen
I am alone at a crossroads
I'm not at home in my own home
And I've tried and tried
To say whats on my mind
You should have known
Now I'm done believing you
You don't know what I'm feeling
I'm more than what
You've made of me
I followed the voice, you gave to me
But now I've gotta find my own
You should have listened


Dan inilah video lagu Listen berikut LIRIKNYA

Gambar  : desktopnexus.com dan webpages.scu.edu

Minggu, 18 September 2011

Superwoman : Tentang Perempuan dan Kerja

Superwoman merupakan salah satu lagu dari album penyanyi R&B Amerika Alicia Keys  yang berjudul As I Am yang dirilis tahun 2008. Lagu ini bicara tentang the power of women…khususnya kekuatan seorang ibu rumah tangga. Videoklip ini dengan gamblang (tegas dan nyata) melukiskan peran ganda perempuan – sebagai ibu yang bertanggungjawab pada urusan rumah tangga, urusan pendidikan, perawatan dan tumbuh kembang anak-anaknya dan sekaligus di dunia kerja sebagai perempuan yang mempunyai kekuatan, kekuasaan, potensi dan kapabilitas yang tidak kalah dengan kaum pria.
Meskipun di dunia kerja perempuan terkadang masih diragukan kemampuannya karena keterbatasan-keterbatasannya, namun toh dengan segala hambatan itu perempuan masih bisa menunjukkan prestasi kerja yang mengagumkan. Lirik lagu ini mengajak kaum perempuan di berbagai belahan dunia dan  dengan latar belakang profesi dan status sosial ekonomi berbeda-beda untuk tetap tegar dan menunjukkan kekuatannya. Segala tekanan, hambatan dan keterbatasan, tidak merintangi perempuan untuk memberikan karya terbaik.
Superwoman cocok untuk menyebut para perempuan perkasa yang berprestasi gemilang di bidang-bidang kerja yang maskulin - di dunia politik ada Hillary Clinton, Sri Mulyani atau Angela Merkel , di bidang-bidang kerja yang menuntut kekuatan fisik ada banyak atlit perempuan yang berprestasi gemilang atau di dunia militer ada banyak jendral dan prajurit perempuan. Saat ini bidang kerja apa yang tidak bisa dimasuki perempuan. Memang peluang dan kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan potensinya semakin terbuka, namun untuk bisa memanfaatkan peluang itu guna meraih apa yang sesungguhnya  diinginkan perempuan tidaklah mudah. Ada hambatan-hambatan yang tidak nyata terlihat tapi bisa sebagai sandungan bagi perempuan untuk mewujudkan impiannya. Nilai dan norma yang bersumber dari aturan formal kelembagaan maupun aturan nonformal seperti nilai sosial budaya dan agama dalam suatu masyarakat akan menentukan apakah seorang perempuan bisa meraih posisi strategis di puncak struktur  kepemimpinan sector formal. Persaingan untuk menuju puncak karier di sector formal di  kalangan laki-laki saja sudah sedemikian keras dan kejam, tentunya masuknya perempuan sama saja  memberi kesempatan pada masuknya kompetitor baru yang membuat persaingan menjadi semakin ketat. Nilai-nilai sosial budaya yang bersumber pada norma patriarkis menjadi senjata ampuh untuk menjegal perempuan-perempuan super untuk berkiprah di sector formal .
Namun, tidak bisa berkiprah di sector formal tidak mengurangi potensi perempuan sebagai seorang superwoman. Di sector informal dimana akses untuk masuk ke dalamnya relatif terbuka,  perempuan bisa leluasa mengembangkan kapasitasnya. Usaha-usaha ekonomi kecil banyak yang dikuasai para perempuan. Sekarang ini dengan mudah kita menemukan para perempuan perkasa di antara buruh bangunan , perempuan yang berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk mencari air, memecah batu atau gamping, atau para buruh gendong di pasar-pasar tradisional.
Superwoman ternyata tidak hanya ditemukan di antara perempuan yang berotak cerdas dan mampu menembus posisi puncak di organisasi formal. Superwoman pantas disematkan di dada para perempuan yang berjuang keras untuk bertahan hidup : memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan bekerja keras demi merawat anak dan keluarga.
Menjadi ibu rumah tangga, menjalankan peran domestik dan sekaligus berperan penting di dunia kerja : formal maupun informal. Karena itulah perempuan memang pantas disebut sebagai Superwoman. dan lagu Alicia Keys ini seakan mengajak :
Hai perempuan seluruh dunia tunjukkan kalau kamu kuat.
Cause I am a Superwoman....Yes I am, Yes she is
Gambar : windawulandari.wordpress.com

Dan ini LIRIK SELENGKAPNYA

Ini versi Nowela kontestan Indonesian Idol 2014 yang luar biasa , nggak percaya ? Buktikan ini : 


Jumat, 09 September 2011

Ave Maria : Tentang Manusia, Tuhan, dan Doa


Doa adalah salah satu media bagi manusia untuk berkomunikasi dengan Penciptanya. Apa makna doa bagi manusia? Kapan manusia benar-benar ingat Tuhannya dan dengan segenap hati sujud dalam doa kepadaNya? Temukan jawabnya dalam renungan ini.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius. Walau pun secara formal Indonesia tidak menyebut dirinya sebagai Negara agama, namun penduduk Indonesia harus mencantumkan identitas agama dalam Kartu Tanda Penduduk. Dan agama apa yang harus diisikan di kolom KTP itu sudah disediakan alternatifnya oleh Negara. Tidak sembarang agama atau aliran kepercayaan diperbolehkan dianut oleh Negara. Apalagi orang yang mengaku atheis jelas akan dipandang aneh dan tidak akan diakui sebagai penduduk Indonesia kalau ia berani mengisinya di kolom agama.
Sebagai orang yang beragama, semua penduduk di Indonesia tentu rajin berdoa. Karena itu menarik untuk merenungkan apa makna doa bagi manusia. Apakah setiap kali orang yang beragama berdoa sampai ke dalam hatinya atau menjalankan sebagai ritualitas rutin atau sekedar menjalankan kewajiban ibadah agama? Doa bagaimana yang paling terasa khusyuk sehingga Tuhan itu benar-benar terasa hadir?
Sebagai ilustrasi saya pilih lagu Ave Maria dari Beyonce  yang dirilis pada tahun 2008.  Ave Maria, atau dalam bahasa Indonesia Salam Maria,merupakan doa atau permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa melalui perantaraan  Maria atau Maryam, Bunda Yesus.
Menurut penafsiran saya  pribadi , Ave Maria dalam lirik lagu Beyonce ini merupakan ungkapan rasa syukur yang mendalam yang dirasakan oleh orang telah menemukanNya, setelah melewati berbagai gelombang kehidupan. Ada kalanya manusia harus mengalami berbagai peristiwa pahit dahulu untuk kemudian baru menyadari betapa selama ini  ia telah menjalani hidupnya tanpa makna. Sebagian besar waktu dan pikirannya tersita untuk mengejar kepentingan dan kenikmatan duniawi, mengejar rencana dan target -target untuk menuju kesuksesan hidup , sehingga tak tersisa sedikit waktu untuk sekedar menyapaNya dalam doa, perenungan atau meditasi. Kalau pun itu dilakukan  terkadang tidak sepenuhnya datang dari hati . Ada banyak motivasi di balik ibadah dan doa yang dilakukan manusia . Tak jarang motivasi itu bukan karena ingin bertemu denganNya, tapi demi ego atau kepentingan pribadi manusia. Biasanya manusia baru menyadari keagungan KuasaNya dan lari bersimpuh kehadiratNya dengan sepenuh hati  saat dia terjatuh : dilanda kegagalan, kehilangan atau menderita penyakit.
She was lost in so many different ways...Out in the darkness with no guide
I know the cost of a losing hand...Never thought the grace of God


Namun,  Tuhan itu Maha Kasih. Dia membukakan pintu rumahNya bagi siapa saja yang mau datang kepadaNya. Dan untuk datang kepadaNya cukup dengan masuk ke dalam kamar dan sujud kehadiratNya dalam doa. Doa adalah salah satu jalan spiritual menuju kepadaNya . Dalam doa terkandung rasa hormat, cinta, permohonan ampunan dan iman kepada Tuhan. Melalui doa, manusia mencurahkan segenap ketidakberdayaannya untuk mengontrol kehidupannya. Dengan doa sepenuh iman, manusia akan memperoleh kekuatan baru untuk menghadapi lika-liku kehidupan, yang terpahit sekali pun.
Doa adalah cara manusia melakukan kontak dengan Tuhan.  Doa adalah curahan hati terdalam manusia kepada yang memberinya hidup.  Sesuatu yang menurut saya sangat bersifat pribadi.  Karena itu,  berkomunikasi atau berinteraksi dengan Tuhan paling terasa khusyuk saat tengah malam.  Saat  cahaya menghilang dan kegelapan serta kesunyian menyelimuti bumi…saat situasi sekeliling senyap. Di dalam kamar,  tidak ada orang lain yang melihat, tidak ada suara hiruk pikuk kehidupan …sunyi…senyap….hanya kita dan Dia.  Saat itu lah kita bertemu Tuhan. Saat seperti inilah Dia hadir dalam hidup kita. Surga itu ada di dunia . Dia lah sumber kekuatan dan pelepas   dahaga.  Di saat seperti ini terucap doa :
Aku datang kepadaMu Tuhan. Kiranya Engkau berkenan menerimaku. Ampunilah dosa-dosaku.
You are my heaven on earth
You are my hunger, my thirst
Sungguh benar, ternyata jarak yang memisahkan manusia dengan Tuhan itu tidaklah jauh. Dia hanya sejauh doa. Jarak antara bumi dan "surga"  itu tidaklah jauh.  "Surga"  itu hanya sejauh doa.
Lagu Indonesia yang tak kalah indahnya dengan lagu  Ave Maria dan mengandung makna spiritual mendalam yakni menggambarkan relasi antara hidup manusia, Tuhan dan doa dapat dilihat dari  LAGU BIMBO  INI
Lirik lagu yang ditulis oleh penyair Taufik Ismail ini menganalogikan hidup manusia itu sebagai sajadah - alas bagi umat Muslim saat sholat. Kehidupan manusia itu adalah sajadah panjang yang membentang sejak dari buaian hingga ke tepian kubur, ini artinya sepanjang hidup manusia itu adalah ibadah. Hidup itu sendiri adalah ibadah dan doa. Dan usaha keras manusia untuk mencari rezeki dan mencari ilmu itu hanyalah interupsi atau kalau orang Jawa bilang "urip kuwi mung mampir ngombe" (hidup manusia   itu hanya sekedar numpang minum), artinya yang kekal itu adalah kehidupan sesudah di dunia. 
Kalau hidup manusia itu sendiri adalah ibadah  berarti jalan untuk bertemu dengan Tuhan  itu selain melalui doa juga dengan cara bagaimana membuat hidup kita menjadi bermakna dan seturut dengan kehendakNya. Menurut saya inilah doa yang sesungguhnya.


Ini lagu dan lirik selengkapnya AVE MARIA :

 Gambar : Old Man in Prayer - Rembrandt Harmensz (oceansbridge.com)



Minggu, 28 Agustus 2011

Tentang Manusia dan Kerja : Don’t Give Up


“I don't like work – no man does – but I like what is in work – the chance to find yourself. Your own reality – for yourself, not for others – what no other man can ever know.” 
(Joseph Conrad - quotes-motivational-inspirational.blogspot.com)

Don’t Give Up (jangan menyerah) adalah lagu yang ditulis oleh Peter Gabriel dan dinyanyikan duet dengan Kate Bush. Lagu yang terkenal pada tahun 1986 ini berkisah tentang seorang laki-laki yang menjadi korban krisis ekonomi di Inggris era tahun 1980an sebagai akibat dari kebijakan privatisasi besar-besaran pada pemerintahan Margareth Thatcher (Wikipedia). Lirik lagu ini dimaksudkan untuk memberi dukungan kepada para korban PHK….jangan menyerah dan putus asa karena selalu ada sahabat yang mendampingi. Dan kamu tidak sendirian. Tidak perlu malu. Masih ada kami – teman dan keluarga – yang siap menopangmu
Don't give up
'Cause you have friends
Don't give up
You're not the only one
Don't give up
No reason to be ashamed
Don't give up
You still have us
Don't give up now
Don't Give Up sangat pas  diperdengarkan di saat krisis ekonomi kembali melanda dunia, khususnya di Amerika dan  Eropa . Krisis ekonomi berarti penghematan. Penghematan di dunia kerja identik dengan pengurangan tenaga kerja yang berarti akan banyak orang yang semula memiliki pekerjaan berubah status menjadi  pengangguran. Tidak mempunyai pekerjaan sama dengan ketidakpastian….masa depan yang suram dan kabur.  Pengangguran adalah  momok yang sungguh menakutkan mengingat begitu berharganya suatu pekerjaan bagi manusia, terlebih di jaman yang sangat kompetitif dan materialistis sekarang ini.
Lagu Don’t Give Up ini mendorong kita untuk merenungkan tentang makna kerja dan pekerjaan bagi manusia. Mengapa bekerja dan pekerjaan  mempunyai nilai yang tinggi bagi manusia ?  
Bagi manusia modern, pekerjaan bukan sekedar sarana untuk memenuhi kebutuhan subsisten- kebutuhan pangan, papan dan sandang atau kebutuhan untuk bertahan hidup. Pekerjaan adalah status, bukan hanya ekonomi tapi juga status sosial. Bekerja bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tapi juga kebutuhan psikologis dan sosial.
Peter Drucker menyatakan manusia adalah mahluk yang bekerja. Kerja adalah tanda dari kemanusiaannya. Dengan demikian manusia yang kehilangan pekerjaan akan merasa kehilangan nilai kemanusiaannya. Bagaimana pendapat Drucker tentang makna bekerja dan pekerjaan bagi manusia dapat disimak dari kutipan di bawah ini  :
Bekerja bukan hanya bermakna fisik, tapi juga psikologis. Dalam arti ini kerja bisa berarti berkat sekaligus kutuk. Orang perlu untuk bekerja. Namun seringkali kerja juga menjadi beban yang sangat berat. Dari sisi psikologis, fenomena pengangguran yang disebabkan oleh kemiskinan tidak hanya merusak situasi ekonomi seseorang, tetapi juga harga dirinya. Hegel seorang filsuf Jerman pernah berpendapat, bahwa kerja adalah aktualisasi diri seseorang. Drucker sendiri berpendapat bahwa kerja merupakan perpanjangan dari kepribadian manusia. Kerja adalah suatu pencapaian mimpi dan perwujudan prestasi. Kerja adalah adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan kemanusiaannya.
Banyak orang benci untuk bekerja. Mereka bermimpi untuk memiliki uang banyak, sehingga tidak lagi perlu bekerja. Namun pandangan itu tidak sepenuhnya tepat. Orang yang tidak bekerja, walaupun memiliki uang banyak, juga sulit untuk merasa puas dengan hidupnya. Mereka akan mengalami krisis identitas, karena pekerjaan membantu orang merumuskan identitasnya, walaupun tidak secara keseluruhan. Dalam arti ini dapatlah dikatakan, bahwa kerja memiliki dimensi psikologis yang mendalam, yang membantu orang untuk menentukan siapa dirinya.
Bekerja juga berdimensi sosial. Setiap orang butuh untuk bekerja, karena ia memiliki kebutuhan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok, dan menjalin relasi yang bermakna dengan orang-orang yang ada di sana. Aristoteles pernah mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berpolis. Artinya manusia adalah mahluk yang membutuhkan kelompok untuk menegaskan jati dirinya. Bekerja adalah cara terbaik untuk menjadi bagian dari suatu kelompok (sumber dari SINI).
Dari pendapat di atas dapat dipahami mengapa pekerjaan bernilai tinggi di mata manusia. Dengan bekerja, orang mempunyai akses atau sarana untuk menumpuk kekayaan material yang saat ini menjadi kriteria utama untuk mengukur kesuksesan hidup seseorang. Mempunyai pekerjaan atau profesi yang bergengsi dan menjadi kaya serta mampu mengikuti tuntutan gaya hidup modern itulah tanda eksistensi diri dan lebih jauh lagi akan memperoleh penghormatan atau dihargai dan diakui oleh masyarakat atau komunitasnya.
Dengan bekerja, orang bisa mengaktualisasikan diri, bisa mengembangkan keahlian dan profesionalitasnya. Orang yang mampu bekerja dengan baik akan diapresiasi oleh atasan dan rekan kerjanya. Semua orang tentu ingin menunjukkan prestasi kerja. Kondisi sebaliknya, dianggap tidak mampu bekerja atau gagal memenuhi prestasi jelas akan membuat orang merasa tidak berharga sehingga merasa malu dan kehilangan muka. Terlebih lagi kalau itu semua berujung pada pemutusan hubungan kerja.  
Bekerja , dengan demikian, adalah persoalan harga diri. Terlebih bagi laki-laki. Konstruksi sosial budaya yang memposisikan laki-laki sebagai kepala keluarga dan penopang nafkah keluarga menjadikan laki-laki yang merasa paling down apabila menyandang status pengangguran. Sehingga apabila laki-laki yang menganggur tidak segera mendapatkan pekerjaan pengganti ditakutkan akan mengalami stress atau depresi. Dalam hal ini, dibutuhkan orang-orang terdekat baik keluarga, rekan kerja dan lingkungan kerja yang bisa menumbuhkan semangat juang dan harga diri, bukan justru memojokkan dan  membuat menjadi semakin terpuruk.
Untuk itulah, lirik lagu Don’t Give Up ini memberi pelajaran bagaimana menumbuhkan semangat keluarga, teman atau siapa pun yang tengah merasa breakdown karena tengah kehilangan pekerjaan atau mengalami kegagalan kerja. Seperti pepatah mengatakan kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tentu saja dengan catatan kalau kita mau belajar dari suatu kegagalan dan bangkit untuk meraih kesuksesan yang tertunda itu, bukannya malahan tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan. Dan ini lah yang bisa kita katakan pada mereka yang tengah mengalami kegagalan kerja :
We're proud of who you are
Don't give up
You know it's never been easy
Don't give up
'Cause I believe there's the a place
There's a place where we belong
Gambar : putushubungankerja.blog.com

 Link : http://www.youtube.com/watch?v=dduZbDFCG_E&feature=related




Dan ini lirik SELENGKAPNYA  lagu Don't Give Up