Ketika Anda menemukan kecukupan hati dalam kekinian, Anda akan menyadari bahwa Anda “sudah sampai” – Ajahn Brahm (prakata dalam Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3)
Hari ini – Kamis 22 Maret 2012 – saya mengikuti talk show Ajahn Brahm di Solo Paragon Hotel. Lawatan Ajahn Brahm ke Kota Solo merupakan bagian dari acara Ajahn Brahm Tour d’Indonesia 2012. Yah , akhirnya saya bisa melihat langsung dan mendengarkan biksu bijak ini menuturkan anekdot-anekdot lucu sarat makna kehidupan.
Siapa Ajahn Brahm ? Saya mengenal Ajahn Brahm melalui buku karyanya yang sangat inspirasional Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya seri 1 dan 2 ( seri 3 terbit Maret 2012 dan saya baru saja membelinya di acara talk show ini). Ini riwayat hidup yang bisa dibaca dibaca di buku Si Cacing : Ajahn Brahm lahir di London 1951 dan meraih gelar Sarjana Fisika Teori di Cambridge University. Pada usia 23 tahun ia menjadi petapa di hutan Thailand dan sejak 1983 pindah ke Perth. Ia mendapat medali John Curtin dari Curtin University Australia atas pelayanannya mengunjungi penjara, rumah sakit, dan rumah duka. Ia berkeliling dunia untuk berbagi kasih dan kebahagiaan dalam ceramah dan retret. Saat ini Ajahn Brahm adalah Biksu Kepala Wihara Bodhinyana di Serpentine dan Direktur Spiritual Budhist Society of Western Australia.
Setelah melihat langsung Ajahn Brahm saya menyimpulkan bahwa beliau menggambarkan sosok yang tidak jauh dari figur yang selama ini saya lihat di buku Si Cacing: wajah penuh senyum gambaran dari orang yang humoris, dengan tampilan kepala plontos dan baju sederhana seorang biksu. Cerita atau anekdot yang dituturkan sebenarnya merupakan pengulangan dari yang kita baca di buku Si Cacing, namun memang menjadi berbeda saat apa yang selama ini kita baca di buku dituturkan secara langsung oleh penulisnya. Cerita itu menjadi lebih hidup dan yang jelas saya bisa melihat mimik lucu, intonasi, gaya tutur , senyum dan ketawa geli Ajahn Brahm. Dari sosok Ajahn Brahm ini saya bisa mendapatkan contoh orang yang telah bisa mengosongkan diri dari pernak pernik, keruwetan dan kompleksitas kehidupan. Orang yang sepertinya telah bisa melepaskan diri dari sandera hasrat duniawi sehingga bisa melihat kehidupan dari sisi yang menyenangkan, ringan, lucu dan bahagia. Ya , maklum aja , seorang biksu gitu lho!
Contohnya saat beliau cerita tentang hidupnya yang banyak dihabiskan keliling dunia sehingga hampir semua waktunya dilalui di pesawat terbang. Ketika ditanyakan apa dia tidak takut kalau-kalau suatu saat pesawatnya meledak, dengan enteng Ajahn Brahm menjawab kalau benar saya mati dengan cara itu What a wonderful way to die ! Ada tiga alasan mengapa beliau menjawab demikian : pertama, mati di pesawat yang meledak adalah cara yang paling cepat (versi pemeluk agama Budha) karena langsung bisa dikremasi. Kedua , tidak direpotkan dengan proses pemakaman yang mahal dan yang jelas tidak perlu beli kapling tempat pemakaman (di pemakaman mewah San Diego Hills Bogor harga per kaplingnya bisa puluhan hingga ratusan juta), ketiga, mati di atas langit di ketinggian ribuan kilometer berarti mati di tempat yang sudah semakin dekat dengan surga. Artinya ya bener cara mati yang efisien dan efektif – paling cepat dan hemat lagi.
Masih banyak lagi cerita lucu sarat pesan bijaksana yang disampaikan Ajahn Brahm, namun intisari atau makna pesan yang ingin disampaikan adalah All is well. Apapun yang terjadi dan yang kita hadapi dalam hidup ini kita maknai dari sisinya yang baik dan positif, bahkan peristiwa yang menyakitkan sekali pun. Kalau kita sakit, misalnya, maknai saja sisi positifnya yakni kita bisa istirahat, bisa tidur sepuas mungkin, ditengok kerabat dan teman, dan jadi tahu ternyata banyak orang yang menyayangi kita. Pesan ini sebenarnya tidak jauh maknanya dengan filsafat “untung” orang Jawa. Sudah tersandung, masih untung tidak luka. Kalau luka, masih untung masih bisa jalan. Kalau patah tulang, masih untung bisa disambungkan. Pokoknya untung terus. Peristiwa pahit sekali pun, dicari untungnya atau sisi positifnya. All is well. Segala sesuatu itu baik adanya.
Jadi, memang benar sekali kalau sampul depan buku ini menyatakan “ cerita dalam buku Si Cacing ini menginspirasi kita untuk menjadi lebih peka, mawas, tidak serius-serius amat dalam menghadapi ketidakpastian kehidupan dan kematian. Adanya masalah adalah tak masalah, jika kita bisa menyikapi hidup dengan penuh ketulusan, penerimaan, dan kewelasan”.
Sebagai penutup mari kita baca cerita pembuka dalam buku Si Cacing 3 berikut ini :
Perangkap Tikus
Suatu ketika ada seekor tikus yang hidup di rumah seorang petani. Ia adalah seekor tikus kecil yang bahagia, sebab ia mendapat cukup banyak makanan. Sungguh bagus punya tikus di rumah, karena itu artinya kita tidak memerlukan penyedot debu. Biar si tikus yang memunguti remah-remah kecil dan mungil…,tapi itu kalau kita bisa melatih si tikus untuk mengambil remah di tempat yang benar. Ha ha ha.
Masalahnya, petani pemilik rumah tak pernah menyukai tikus itu. Suatu hari, ketika si tikus mengintip melalui retakan di tembok, ia melihat petani itu tengah membuka sebuah bungkusan. Saat ia melihat benda dalam bungkusan itu, ia ketakutan. Petani itu ternyata membeli sebuah perangkap tikus !
Begitu gegernya tikus itu sampai-sampai ia langsung menemui sahabatnya, Si Ayam, dan berseru, “Pak Tani beli perangkap tikus! Ini mengerikan! Ini bencana!”
Namun Si Ayam malah berkata,”Bukan masalahku. Tak ada hubungannya denganku, itu urusanmu, Tikus! Pergi sana!”
Tikus itu tidak mendapat simpati dari ayam, jadi ia pergi menemui sahabatnya yang lain, Tuan Babi. “Tuan Babi, Tuan Babi! Pak Tani beli perangkap tikus. Ini berita mengerikan, aku tidak tahu apa aku bisa tidur nyenyak malam ini! Aku dalam bahaya!”
Tuan Babi berkata ,”Gak ada urusannya denganku. Urusanmu! Perangkap tikus gak bisa menangkap babi. Kamu lagi sial saja, sana pergi!”
Tikus itu begitu kecewa dengan Tuan Babi, maka ia menemui sahabatnya yang lain , Nyonya Sapi.
“Nyonya Sapi! Tolonglah aku! Pak Tani sudah beli perangkap tikus! Aku begitu paranoid sekarang! Kamu tahu kan tikus biasanya lari kesana kemari dan tidak tahu lari menginjak apa. Aku bisa menginjak perangkap itu dan aku akan terbunuh…!”
Nyonya Sapi berkata,”Wah, wah…Itu pasti karma dari kehidupan lampaumu…Tapi sayangnya, tidak ada hubungannya denganku.”
Tikus itu tidak mendapatkan simpati dari satu pun sahabatnya. Dengan muram, ia pulang ke liangnya. Malam itu, seekor ular menyusup ke rumah petani itu dan ekornya terkena perangkap tikus itu.
Ketika istri petani datang untuk memeriksa apakah perangkap itu sudah menangkap tikus, ular itu mematuk istri petani itu. Akibatnya, istri petani itu menderita sakit berat. Karena beratnya sakit sang istri, petani itu berpikir , “Apa ya yang bagus untuk orang sakit? Aah … sup ayam!”
Maka petani itu mengambil ayam, memotong kepalanya, membuluinya, dan merebusnya menjadi sup untuk istrinya. Si ayam kehilangan nyawanya.
Istri petani tak kunjung sembuh. Sanak saudara berdatangan untuk memastikan apakah istri petani itu baik-baik saja. Karena banyak tamu berkunjung, petani tidak tahu harus menyediakan makanan dari mana buat mereka. Jadi ia menangkap si babi, menjagalnya, lalu menyajikan sosis dan ham untuk tamu-tamunya. Si babi pun kehilangan nyawanya.
Sekali pun telah melakukan segala upaya, istri petani malang itu meninggal jua. Karena ia meninggal – Anda tahu betapa mahalnya upacara pemakaman, maka petani harus memotong sapi dan menjual dagingnya untuk membayar biaya upacara. Jadi pada akhirnya, si ayam mati, si babi kehilangan nyawa, dan si sapi dijagal…. Semua ini karena perangkap tikus.
Jadi, itu bukan hanya masalah si tikus, tapi masalah semuanya.
Kita sering berpikir, “Ini tidak akan mempengaruhiku, tak ada urusannya denganku. Ini masalah orang lain.” Tapi kisah ini memberitahu kita :”Bukan! Ini bisa jadi masalahku juga.”
Itulah sebabnya mengapa kita harus saling menolong satu sama lain, walau kita tidak tahu bagaimana hal itu berakibat pada kita. Jika ada masalah dalam hidup Anda, mohon jangan berpikir bahwa ini masalah Anda, atau masalah dia. Alih-alih, pikirkan itu sebagai masalah kita, sebab kita semua berada di dalamnya bersama-sama, dan bagian yang indah dalam proses ini adalah berbagi dengan orang lain.
Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama. Jika upaya kita berhasil dan mencapai akhir yang baik, luar biasa. Tapi meskipun tidak berhasil, hal yang penting adalah : kita bekerja bersama-sama. Pokok masalahnya bukanlah dalam menyelesaikan semua masalah kita, namun ada pada kenyataan bahwa kita tidak bekerja sama. Di situlah masalahnya.
Jika kita belajar untuk saling bekerja sama, kita akan memiliki kehidupan spiritual yang menakjubkan ini, dan kita tidak akan merasa begitu kesepian. Lalu, kita pun makin dekat dengan realitas bahwa kita semua ada dalam perahu ini bersama-sama.
8 Maret kemarin dunia memperingati Hari Perempuan Internasional yang ditujukan untuk mengapresiasi kiprah perempuan di ranah publik. Ada banyak hari peringatan untuk perempuan, selain Hari Perempuan Internasional ada Hari Ibu, di Indonesia ada Hari Kartini. Kenapa perempuan begitu diistimewakan? Mengapa tidak ada Hari Bapak atau Hari Laki-laki ?
Jawabnya karena dunia ini milik laki-laki…it’s a man’s world. Laki-laki sudah sejak lahir diberi hak istimewa untuk menguasai dunia. Segala kemudahan, akses, dan fasilitas disediakan keluarga, masyarakat dan Negara untuk mempersiapkan para lelaki mengisi posisi-posisi penting di ranah publik. Dunia perempuan adalah ranah domestik, ranah keluarga. Pembagian peran ini sudah berlangsung berabad-abad, sudah tradisi bahkan diinternalisasikan sebagai suatu yang kodrati. Tapi ternyata pembagian peran gender ini bukan sesuatu yang kodrati, karena tidak semua perempuan bisa atau mau menerima dikerangkeng dalam kotak peran yang rigid. Perempuan adalah manusia yang mempunyai potensi dan keinginan yang sama dengan manusia laki-laki.
Ketika dunia luar (sektor publik–politik dan dunia kerja), berkembang semakin beragam, dinamis dan kompleks dan akses pendidikan dibuka luas bagi perempuan, perempuan menjadi tidak lagi puas selamanya dibatasi dalam peran domestik, pada urusan seputar dapur, sumur dan kasur. Banyak perempuan sarjana yang ingin mengabdikan ilmunya, maka dimulailah eksodus besar-besaran perempuan ke ranah publik. Dunia yang semula hanya diperuntukkan bagi laki-laki.
Kartini dijadikan hari khusus untuk diperingati di Indonesia, karena dia lah sosok perempuan yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi kaumnya. Kartini adalah pelopor yang mendobrak pintu dunia pendidikan yang saat itu tertutup rapat bagi perempuan. Hari Perempuan Internasional adalah hari untuk menghormati para perempuan seperti Kartini, para perempuan yang berjuang bagi kesetaraan, keadilan dan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mengabdikan segenap potensi dan kapabilitasnya demi kebaikan dan kesejahteraan umat manusia. Tidak ada ruginya membuka keran emansipasi bagi kaum perempuan. Bagi saya Kartini adalah perempuan inspirasional, karena ide-ide dan pemikirannya yang cemerlang maka saya saat ini bisa mengabdi sebagai pendidik dan mampu menuangkan ide di blog ini.
Di abad internet ini, masih banyak perempuan yang belum sepenuhnya lepas dari belenggu diskriminasi dan ketertindasan. Banyak Negara yang bertekad kuat mempertahankan system sosial budaya yang membatasi perempuan untuk berkontribusi di ranah publik. Namun ternyata kendala apapun tidak bisa membunuh semangat perempuan untuk maju. Berikut ini sosok-sosok perempuan yang dengan gagah berani meneriakkan tuntutan akan kesetaraan dan keadilan gender.
Aung San Suu Kyi
Pemimpin perempuan pro-demokrasi Birma atau Myanmar yang memberi contoh pada dunia tentang gaya politik yang berwajah perempuan : sabar, pelan, tabah , tidak gampang putus asa dan anti kekerasan. Itulah strategi politik yang ditempuh Suu Kyi dalam menghadapi rezim diktator yang brutal.
Kisah hidup Aung San Suu Kyi memberi pelajaran hidup yang berharga : orang tidak harus menjadi keras dan kejam untuk menjadi kuat …You don’t need to be fierce to be strong. Puluhan tahun dipenjara , diperlakukan tidak manusiawi, dipisahkan dari anak dan suami, tidak mampu memupus semangat perempuan ini untuk melawan pemerintahan otoriter. Keberanian untuk merobohkan rezim militer tumbuh dari keyakinan Suu Kyi bahwa , pada akhirnya, tidak ada junta yang bisa melebihi kekuatan atau semangat rakyat untuk meraih kebebasan. … no junta is stronger than a people's yearning to be free.Suu Kyi terjun ke dunia politik tidak didorong motif meraih kekuasaan pribadi, tidak juga karena memperjuangkan suatu ideologi. Hanya satu misinya yaitu mewujudkan hak rakyat untuk memerintah sendiri dan yakin bahwa demokrasi adalah sarana bagi masyarakat yang bebas untuk mewujudkan masa depan bersama (guardian.co.uk ).
Sosok Aung Sang Suu Kyi menjadi bukti nyata bahwa perempuan bukanlah makhluk lemah, yang harus dilindungi dan dibatasi geraknya di seputar urusan rumah tangga. Perempuan punya kekuatan dan daya tahan yang luar biasa serta kemampuan politik yang tidak kalah dengan laki-laki.
Shirin Ebadi
Shirin Ebadi adalah seorang hakim perempuan di Iran. Dia menjadi hakim perempuan pertama di Iran saat berusia 23 tahun dan juga perempuan Muslim pertama yang menerima Nobel Perdamaian. Penghargaan Nobel diberikan karena perjuangannya membela hak-hak asasi manusia, khususnya kaum perempuan di Iran (guardian.co.uk). Pada awalnya, Ebadi adalah pendukung revolusi Iran, tapi dalam perkembangannya dia beralih haluan menjadi penentang rezim setelah melihat ketidakadilan yang dialami perempuan, termasuk pengalamannya pribadi. Ebadi dipindahkan ke bagian administrasi, karena rezim yang berkuasa berpandangan perempuan tidak pantas menjadi hakim. Diadministrasikan justru membuka peluang Ebadi untuk membuka bantuan hukum khusus mendampingi kasus hukum mereka yang mengkritisi pemerintah atau anak korban kekerasan. Karena aktivitasnya ini, Ebadi masuk ke dalam daftar orang yang harus dimusnahkan. Ancaman keamanan yang bertubi-tubi akhirnya memaksanya mengasingkan diri ke luar negeri. Di usia 63, Ebadi tetap memperjuangkan hak kaum perempuan lewat tulisan dan kuliah yang dia lakukan dari Inggris
Malalai Joya
Malalai Joya adalah politisi dan pejuang hak asasi manusia dari Afghanistan (guardian.co.uk ). Saya mengagumi perempuan ini karena keberaniannya mengemukan pikiran dan pendapat dalam upaya memperjuangkan perbaikan nasib perempuan, sesuatu yang menjadi perjuangan klasik kaum perempuan sejak jaman Kartini hingga jaman internet sekarang ini. Kebebasan berpikir, berpendapat atau pun kebebasan mimbar menjadi hal yang given di Negara demokratis maju, namun jelas tidak bagi Negara seperti Afghanistan. Hanya perempuan dengan keberanian luar biasa yang nekat menyuarakan emansipasi perempuan di mimbar parlemen Afghanistan yang jelas-jelas didominasi laki-laki. Karena keberaniannya menyuarakan ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum perempuan, Malalai Joya mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan dan hingga saat ini harus hidup berpindah-pindah dari satu safe house (rumah perlindungan) ke safe house lainnya . Namun semua itu tidak menyurutkan semangatnya untuk memperbaiki nasib kaumnya. Tidak salah memang kalau perempuan satu ini dijuluki sebagai “perempuan paling berani di Afghanistan”.
Zaha Hadid
Zaha Hadid adalah contoh nyata dari sisi positif emansipasi : perempuan bila diberi kesempatan yang luas untuk mengembangkan potensinya, dia bisa menghasilkan karya yang luar biasa dan mendatangkan manfaat bagi kemajuan peradaban manusia. Zaha Hadid adalah ratu arsitektur dari Irak yang membangun bangunan-bangunan fenomenal di berbagai belahan dunia. Hadid (60 tahun) lahir dan dibesarkan di Irak, pada tahun 1971 pindah ke Britain. Di Negara barunya ini dia bisa dengan maksimal mengembangkan potensinya yang brilian. Berbagai penghargaan bidang arsitektur berhasil digondol Hadid , diantaranya, dia adalah perempuan pertama yang mendapatkan penghargaan arsitektur bergengsi Pritzker Prize di tahun 2004. Tahun 2010 karyanya Maxxi museum di Roma berhasil memenangkan Stirling Prize. Arsitektur bangunan karya Hadid bercirikan modern, futuristik dan sekaligus indah. Jika ingin tahu bagaimana karyanya bisa klik http://www.zaha-hadid.com/archive/.
Setelah membaca kisah hidup para perempuan di atas, saya berkesimpulan emansipasi kaum perempuan seharusnya tidak harus direspon secara negative thinking. Tuntutan untuk memberi kesempatan berkarya di ranah publik bagi perempuan jangan dipandang sebagai ancaman bagi eksistensi dan kuasa di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi domain kekuasaan laki-laki. Perubahan tuntutan hidup yang semakin kompleks tidak memungkinkan laki-laki untuk berperan sebagai aktor utama dalam dunia kerja. Perempuan adalah partner yang bisa melengkapi dan memperkuat posisi laki-laki. Laki-laki dan perempuan yang kerja bareng bahu membahu akan mampu membangun peradaban yang lebih baik. Emansipasi sendiri hendaknya lebih dipahami sebagai kehendak bebas (free will) yang disodorkan ke perempuan. Intinya, perempuan diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup mana yang akan dijalaninya. Mau menjadi apa dan siapa, keputusan sepenuhnya diserahkan perempuan. Apakah menjadi ratu rumah tangga atau berkiprah di dunia kerja ataupun kedua-duanya …it’s okey , sepanjang itu mendatangkan kenyamanan dan kebahagiaan.
Tapi ada satu hal yang perlu juga diingat oleh kaum perempuan, bahwa mereka mengemban tugas mulia : melestarikan keberadaan manusia di bumi. Artinya setinggi-tingginya mereka terbang menggapai cita-cita , ada tanggungjawab dan peran mereka yang tidak bisa dilimpahkan kepada kaum laki-laki yakni hamil dan melahirkan. Kalau semua perempuan mengejar karier dan membuat pilihan bebas untuk hidup untuk kenyamanan dan kebahagiaan dirinya sendiri, terus gimana dong masa depan spesies manusia ?
Jadi gapailah cita-citamu setinggi langit, wahai perempuan. Tapi ingat ada SabdaNya yang itu menjadi tanggungjawab kodrati yang diletakkan di pundakmu : penuhilah bumi ini dengan keturunanmu. Tidak berarti perintah ini harus dimaknai sebagai semangat untuk memproduksi anak sebanyak-banyaknya demi melipatgandakan jumlah umatNya dan menjadikan peran perempuan sebatas seperti ayam petelur. Tidak seperti itu. Sabda ini saya kutip untuk mengingatkan bahwa emansipasi tidak harus diartikan sebagai penghapusan fungsi reproduksi dan domestik dari daftar peran perempuan. Sebab kalau ini yang terjadi, maka musnah pula misi keberadaan manusia di bumi. Dampak negatif emansipasi yang seperti ini yang seharusnya dicegah agar tidak terjadi.
Gambar :
Aung San Suu Kyi - Time
Shirin Ebadi - guardian.co.uk
Malalai Joya - peacealliancewinnipeg ca Zaha Hadid - mattersoftaste.wordpress.com
Apa yang menjadi identitas Indonesia ? Apa saja yang ‘sesuatu banget’ yang unik dan khas sehingga akan selalu dilekatkan pada Indonesia ?
Apakah Indonesia itu hanya dikenal sebagai pengekspor tenaga kerja dengan skill rendah (maaf tidak bermaksud menafikan kontribusi para TKI dan TKW yang telah menjadi pahlawan devisa)? Apakah Indonesia hanya dikenal dengan perilaku yang kacau balau, semrawut, mudah ribut dan ngamuk? Indonesia itu identik dengan korupsi ? Jawabnya jelas banget OOOOH….TIDAK !!!
Indonesia is still my beautiful country. Meskipun kekacauan sosial, politik dan ekonomi mendera Negara ini tak putus-putusnya, sehingga terkadang suka bikin gemes, geregetan dan jengkel setengah mati, namun semua itu tidak dapat mengurangi rasa cinta saya pada Indonesia. Indonesia memang mempunyai banyak kelemahan, tapi bagaimana pun masih terdapat banyak hal yang bisa ditemukan di Indonesia yang menjadi sumber kekaguman yang tidak ada habisnya : keindahan dan kekayaan alamnya, keunikan etnis yang tinggal di dalamnya, keramahan dan selera humornya, keragaman budayanya, sense of art-nya, dan masih banyak lagi. Pokoknya , Indonesia I love you full !!!
Ya, budaya adalah kekayaan tak ternilai Indonesia. Tidak ada Negara yang bisa menandingi keragaman dan keunikan budaya beragam suku bangsa yang tersebar di wilayah georafis Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Coba bayangkan berapa banyak jumlah bahasa daerah di Indonesia ? Berapa jumlah etnis atau suku bangsa yang diam di dalamnya? Berapa banyak tarian, lagu, alat musik, dan baju adat daerah di Indonesia ? Berapa tradisi atau ritual adat yang diwariskan turun temurun oleh berbagai etnis tersebut? Sayangnya kekayaan ini belum mampu diolah menjadi sumber kekuatan dan jati diri bangsa, justru yang terjadi kita lebih berkiblat pada budaya milik bangsa lain dan menelantarkan nilai-nilai kekayaan budaya ‘indigenous’ Indonesia. Kita cenderung memandang rendah dan primitive budaya kita sendiri dan mengunggulkan budaya bangsa lain yang kita pandang lebih modern, beradab dan bermartabat.
Selama ini kita terbius oleh gaya hidup modern dan perilaku kita lebih dikontrol oleh standard nilai budaya bangsa lain. Kita selama ini telah mengabaikan kelestarian seni budaya warisan nenek moyang kita. Bahkan tidak hanya menyia-nyiakan, tapi mungkin ada yang memandang rendah dan beranggapan tidak perlu lagi untuk diwariskan ke generasi muda Indonesia.
Untuk itu ada baiknya kalau kita menengok sejenak untuk mengenali kembali keindonesiaan kita. Apa-apa saja yang merepresentasikan identitas Indonesia? Budaya yang unik dan identik dengan Indonesia. Budaya yang bisa kita klaim sebagai “Indonesia banget”. Saat kita jauh mengembara di belahan bumi lain, apabila ditanya apa ciri khas Indonesia, dengan bangga kita akan menjawab : tari Saman, tari Jaipong, tari Gambyong, tari Bali, batik, wayang, keris, patung Asmat, Borobudur, dan masih banyak lagi. Ini semua tidak mungkin akan diakui sebagai karya budaya Negara lain selain Indonesia, soalnya ya itu tadi sangat sangat Indonesia buuanget. Tentu saja sungguh menggelikan kalau tari Jaipong atau tari Saman diaku sebagai seni budayanya orang Pilipina, atau tari Gambyong dan punakawan wayang diaku sebagai seni tradisi Negara Malaysia.
Ingin lihat yang sesuatu banget, pokoknya Indonesia buuanget ? Ini dia :
Gambar : menteridesainindonesia.blogspot.com
ovostagephotography.blogspot.com
tari gambyong-wasrindaka.blogspot.com
Yang unik dan Indonesia banget juga bisa dijumpai di Solo Wayang Carnaval 2012 yang diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 18 Februari. Dan ini wajah-wajah penuh ekspresi keceriaan dan kegembiraan para warga Kota Solo di event Solo Wayang Carnaval 2012.
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Kalau yang ini kostum kebaya badut ala anak muda Kota Solo. Lihat ekspresi wajah dan gaya mereka yang lucu dan kostum kebaya jadul yang sudah langka kita temukan dikenakan ibu-ibu Jawa saat ini. Woow sungguh nostalgia banget.
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Kalau ini wajah-wajah manis khas putri Solo yang memang terkenal cantik, anggun dan luwes.
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Melihat foto-foto ini siapa yang tidak jatuh cinta pada Indonesia, ini Jowo dan Solo banget. Ayo daerah-daerah lain tunjukkan keunikanmu dan kita tunjukkan pada dunia ini lho kekayaan budaya Indonesia ...inilah Truly Indonesia.
Immature love says: 'I love you because I need you.' Mature love says 'I need you because I love you.' (Erich Fromm).
In love the paradox occurs that two beings become one and yet remain two.(Erich Fromm)
Love is the only sane and satisfactory answer to the problem of human existence. (Erich Fromm)
Bulan Februari menjadi bulan cinta, karena di bulan ini ada Hari Valentine yang identik sebagai harinya anak muda. Gelora cinta yang mengharubiru memang pas kalau disematkan di hati anak muda : hati yang masih mencari siapa pasangannya, hati yang masih merdeka untuk memilih siapa yang akan dijatuhi cinta. Tapi apakah cinta itu dimaknai sebatas cinta asmara? ataukah cinta itu lebih dari sekedar ketertarikan fisik semata?
Di bulancintaini paling pas kalaungomongsoalcinta. Apa itu cinta dan bagaimana kita seharusnya memaknai dan mengekspresikannya?
ArtiCinta
Apaitucinta? Mungkinbanyak orang akanmenjawab mengapa susah-susah merumuskan apa itu cinta. Cinta itu suatu yang perasaan menyenangkan yang dialami oleh semua orang. Cinta itu rasa suka atau sayang pada seseorang yang membuat hati jadi berbahagia. Pokoknya cinta itu untuk dirasakan dan diresapi keindahannya. Cinta itu sesuatu yang bersifat alami jadi tidak perlu didefinisikan atau dimaknai secara filosofis. Cinta itu butuh aksi, bukan teori.
Benarkah demikian?
Cinta memang begitu riil, hadir nyata dalam kehidupan semua anak manusia. Cinta sesuatu yang taken for granted…ada tanpa kita sadari kehadirannya. Karena sudah dianggap taken for granted, sudah demikian adanya , manusia cenderung menjadi lupa akan makna dan arti penting cinta.
Pembahasan tentang articinta secara logis dimulai dengan pertanyaan tentang hakekatcinta. PencariantentangmaknaatauhakekatcintasecarafilosofissudahdilakukansejakjamanRomawikuno(www.iep.utm.edu/love/).Beragam teoritelahdirumuskan.Pandanganumumtentanghakekatcinta merumuskanbahwacintaitu bersifat emosional sehingga tidak bisa dijelaskan dengan logika rasional. Ada lagi yang mengartikancintasebagaimurnifenomenafisikyaitusuatudorongan nafsu kebinatangan atau genetik yang mendikte perilaku manusia. Ada pula yang memaknaicintasebagaisuatuperasaan yang sangat spiritual sehinggamembuatkitaserasamenyentuhdimensikeilahian.Plato, misalnya, merumuskankonsepcintalebihsebagaisuatu yang luhurdanmuliabukansekedarnafsuhewani yang didorongolehhasratbirahi, cintadilihatdarivisi teologis yang melampaui daya tarik sensual. Pemaknaancintasemacamini yang kemudianmelahirkanistilahcintaPlatonis (Platonic love).
Rumusan ideal dari cinta memang tidak sekedar cinta asmara atau cinta erotis . Secara umum cinta diartikan sebagai sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut (Wikipedia).
Untuk mempermudah memahami makna cinta , maka cinta kemudian dibedakan menjadi : eros, agape dan philia. Eros adalah cinta asmara atau cinta yang didalamnya ada unsur hasrat seksual. Dorongan seksual atau hasrat birahi manusia secara naluri tak beda jauh dengan hasrat seksual pada binatang. Sedangkan agape adalah cinta kasih Tuhan pada manusia atau sebaliknya cinta manusia pada Tuhannya , bisa juga cinta pada kemanusiaan. Adapun philia adalah rasa cinta atau sayang pada teman atau sahabat, pada orangtua, saudara dan keluarga(http://www.iep.utm.edu/love/)
Dalam bahasan Inggris kata “love” dipakai untuk menyatakan ketiga bentuk cinta : eros, agape, dan philia. Penggunaan istilah “cinta” dalam bahasa Indonesia lebih cenderung untuk menyebut jenis cinta eros atau cinta asmara, sedangkan untuk mengungkapkan rasa cinta pada Tuhan , keluarga dan sahabat biasa menggunakan kata kasih atau sayang.
Oke , setelah kita tahu cinta itu ada cinta pada Tuhan (agape) dan sesama manusia baik itu cinta asmara (eros) maupun cinta pada orang tua , teman dan kemanusiaan (philia), terus pertanyaan selanjutnya adalah apa makna atau hakekat cinta dan bagaimanakah seharusnya kita mengekspresikan rasa cinta itu?
Karena saya bukan filsuf maka untuk menjawab pertanyaan ini saya pinjam pemikirannya ahli psikologi sosial , psikoanalis, sosiolog dan filsuf yang humanistis - ERICH FROMMyang menjelaskan dengan indah sekali tentang makna cinta dan seni mencintai dalam tulisannya “The Art of Loving”. Pendapat Fromm yang saya jadikan sumber tulisan ini sebagian besar saya kutip dari resensi Armand F. Baker DISINI .
Kedalaman cinta Erich Fromm
Fromm memberi pernyataan yang mengejutkan, mencintai itu sesuatu yang harus kita pelajari. Ia tidak datang dengan sendirinya, bukan kita lakukan secara naluriah. Mencintai adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktekkan secara aktif. Agar cinta itu tumbuh, seseorang harus aktif bertindak, harus menunjukkan cintanya (However, in order for love to exist, someone must act; someone must do the loving).
Menyangkut soal cinta selama ini kita memposisikan diri sebagai obyek, artinya pikiran kita terfokus pada bagaimana agar dicintai. Berbagai cara ditempuh untuk membuat diri dicintai orang. Dan kemudian apa yang dilakukan untuk mendapatkan cinta? Yang perempuan ingin tampil cantik dan menarik dan yang laki-laki ingin tampil gagah dan keren. Pokoknya manusia ingin tampil semenarik dan semenonjol mungkin agar perhatian, kekaguman dan cinta terpusat kepadanya. Pikiran dan usaha terpusat pada bagaimana agar dicintai, sehingga lupa bahwa untuk dicintai, harus mencintai terlebih dulu. Hanya orang yang egois yang ingin dirinya dikagumi dan dicintai, tapi tidak ada keinginan untuk mengagumi dan mencintai orang lain.
Fromm mengatakan cinta itu tidak pasif, tapi harus aktif. Jika kita berharap untuk menerima cinta (dicintai), maka kita terlebih dulu harus siap untuk memberi cinta (mencintai). Cinta bukan jalan satu arah ( nah, ini artinya cinta itu tidak hanya pasif ditunggu kehadirannya. Untuk mendapatkan cinta, orang harus memberi cinta terlebih dahulu) . Dengan kata lain, inti cinta adalah memberi, bukan menerima. Memberi artinya memberikan apa yang dimiliki untuk kebahagiaan orang yang cicintai. Makna ini yang sering disalahartikan sebagai cinta itu suatu pengorbanan. Menurut Fromm ini tidak benar karena dua alasan :
Pertama, cinta tidak terbatas pada pemberian dalam arti materi. Aspek yang paling penting dari memberi adalah bahwa kita memberikan diri kita, hidup kita, sukacita dan dukacita kita, minat dan pengetahuan kita, pemahaman dan perhatian kita.Kedua, memberikan diri untuk cinta bukan berarti mengorbankan kemerdekaan kita sebagai individu. Saat seseorang memberi untuk cinta, yang hilang dari dirinya hanyalah keegoisan. Mencintai adalah tindakan memberi yang justru memperkaya si pemberi (secara batin) karena dapat menumbuhkan rasa sebagai individu yang bebas dan aktif , yang memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada orang lain.Cinta adalah aktif, cinta itu memberi, dan cinta menghasilkan kesatuan yang memperkuat individualitas kita yang sebenarnya.
Intinya, menurut penafsiran saya, dalam cinta itu tidak ada yang dikorbankan. Karena hakekat cinta adalah memberikan apa yang kita punya demi kebahagiaan orang yang dicinta. Demi kebahagiaan orang yang dicinta semata, tanpa pamrih. Kalau kita memberi semata-mata karena ingin memberi dan kalau dengan apa yang kita berikan itu, si penerima menjadi bahagia, itu sudah cukup bagi kita. Kalau seperti itu apa ada yang kita korbankan? Berkorban konotasinya ada sesuatu yang harus kita relakan untuk diberikan atau ada yang hilang dari diri kita, entah itu materi atau nonmateri. Selama kita mencintai semata-mata karena cinta, maka itulah cinta sejati atau cinta tanpa syarat – unconditional love.
Selain mengulas tentang hakekat cinta, Fromm juga membahas elemen lain dari cinta yakni peduli, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan.Peduli artinya menaruh perhatian secara aktif terhadap hidup dan kesejahteraan orang yang dicintai. Tanggung jawab adalah upaya untuk merespon kebutuhan orang lain, rasa keterbukaan kepada orang yang kita cintai. Menghormati berarti bahwa kita menghormati orang lain sebagai individu, kita menerima dia sebagai dia apa adanya dan tidak mencoba untuk mengubahnya menjadi sebuah objek untuk kebutuhan kita sendiri. Pengetahuan berarti kita harus mencoba untuk mengenal orang lain, baik secara rasional maupun intuitif atau emosional.
Unsur terakhir dari cinta adalah keyakinan atau kepercayaan. Untuk bisa memberikan cinta kita harus percaya sepenuhnya pada orang yang kita cintai. Mencintai artinya membuka diri kita, dan menjadi terbuka berarti menjadi peka atau rapuh.Orang kadang ragu untuk melakukan hal ini karena di masa lalu telah terluka atau kecewa karena cinta. Namun tanpa keterbukaan, yang dilandasi atas kepercayaan, tidak akan ada cinta. Dengan begitu, cinta adalah tindakan yang dilandasi atas rasa percaya. Dan siapa pun yang kepercayaannya (pada orang yang dicintai) hanya sedikit berarti juga memiliki cinta yang sedikit.
Setelah tahu bahwa hakekat cinta itu adalah bla..bla..bla… dan elemen cinta itu adalah a….b….c….d...Pertanyaan selanjutnya adalah : bagaimana caranya mencintai itu? ( cara mencintai saya batasi pada sesama manusia (eros dan philia) , adapun tentang cinta pada Tuhan (agape) tidak saya bahas karena takut tulisannya jadi puaaanjang buanget).
Tentang cinta pada sesama, Fromm berpendapat selama kita tidak bisa mencintai semua orang, maka kita tidak bisa mencintai seorang pun. Inti cinta sejati didasarkan pada sikap, cara berpikir atau perasaan, yang diarahkan untuk seluruh dunia dan segala isinya.
(Iya benar sekali. Kalau orang mencintai sesamanya dengan pilih-pilih atau selektif …Ooh yang akan aku beri cinta itu mereka yang seide atau sealiran pemikiran dengan aku, yang mendukung aku, yang bisa mendatangkan manfaat atau bisa aku manfaatkan untuk kepentinganku.. orang mencintai dengan bersyarat semacam ini apakah dapat disebut orang yang mencintai?).
Karena itu, mengutip ajaran Yesus , Fromm mengatakan “ kita jangan hanya mencintai orang-orang yang cinta sama kita, tapi juga harus mencintai musuh kita”. Mencintai musuh (menurut penafsiran Armand F. Baker) tidak berarti kita menerima atau setuju dengan perbuatannya, tapi kita harus bisa memisahkan manusia dari perbuatannya (jadi yang dibenci atau tidak bisa ditoleransi adalah perbuatannya, bukan orangnya. Jadi mengasihi musuh dalam arti memaafkan orangnya dan tidak menaruh dendam dengan melampiaskan balasan yang setimpal. Contoh nyata dari cinta musuh mungkin bisa dilihat pada diri Nelson Mandela yang memaafkan rezim penguasa kulit putih yang menindas kulit hitam. Tentu saja tidak mudah untuk bisa bertindak seperti Mandela, tapi bukankah cinta itu sendiri bukan suatu tindakan yang mudah dipraktekkan. Butuh usaha keras untuk bisa benar-benar mencintai. Lebih mudah membenci atau tidak peduli, karena tidak dibutuhkan usaha keras untuk bisa membenci seseorang. Karena itulah, Fromm menyimpulkan bahwa hanya orang yang kapasitas kepribadiannya telah berkembang matang yang memiliki kapasitas untuk mencintai sesamanya dengan kerendahan hati yang sejati, mencintai secara total tanpa pamrih. Orang semacam ini yang mampu memaknai arti cinta yang sejati).
Jadi resep untuk mencintai sesama adalah cintailah semua orang jangan hanya mereka-mereka yang suka sama kamu, yang mengagumimu, yang suka memujimu. Cintailah juga mereka yang memusuhimu, yang iri sama kamu, yang benci sama kamu. Kalau kita bisa mencintai semua orang, bahkan juga musuh kita maka kita akan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan dan sakit hati.
Tentang cinta pada diri sendiri, Fromm menyatakan, cinta pada diri sendiri disini sepertinya kontradiktif dengan makna cinta yang memberi, inklusif atau terbuka bagi semua orang. Cinta pada diri sendiri (self-love) harus dibedakan dengan mengutamakan kepentingan sendiri (selfishness) atau egois. Mencintai diri sendiri berarti peduli tentang diri sendiri, mengambil tanggung jawab untuk diri sendiri, menghormati diri sendiri, dan mengetahui diri sendiri (misalnya bersikap realistis dan jujur tentang kekuatan dan kelemahannya).Egois tidak ada hubungannya sama sekali dengan cinta. Orang yang hanya cinta dirinya sendiri tidak kenal apa itu cinta. Orang egois jelas merugikan dirinya sendiri, sebab dengan mengutamakan kepentingan sendiri pintu hatinya menjadi tertutup bagi cinta dari sesamanya. Orang yang hidup untuk dirinya sendiri adalah orang yang kesepian. Orang yang mengasihi dirinya tidak akan mau menderita seperti ini. Karena itulah Fromm mengatakan seorang yang mengasihi semua orang juga mengasihi dirinya sendiri. Inilah makna dari mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri.
Kesimpulannya, untuk bisa mencintai sesama kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu yakni menghargai diri sendiri, tidak merendahkan diri sendiri, menjaga martabat diri sendiri, tahu kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Orang mencintai dirinya adalah orang yang menerima dirinya apa adanya, sehingga dia juga mudah menerima dan mencintai sesamanya sebagaimana apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka.
Selanjutnya tentang cinta asmara, menurut Fromm cinta asmara atau cinta erotis atau cinta fisik sering disalahartikan. Jika seseorang tertarik dengan orang lain karena daya tarik fisik, belum tentu itu bisa disebut cinta. Jika relasi itu hanya bersifat badaniah (fisikal) maka tidak akan bisa memuaskan kebutuhan dasar akan kebersamaan, karena daya tarik fisik tidak akan kekal. Sebaliknya, apabila cinta yang fisikal itu disertai dengan perilaku penuh cinta –berlandaskan kasih sayang kemanusiaan - maka itu akan tumbuh menjadi cinta yang dewasa yang matang. Cinta atas dasar kebutuhan kebersamaan , untuk mengarungi hidup dalam suka dan duka akan bersifat lebih langgeng. Kata bijak yang saya kutip di awal tulisan ini menyimpulkan pendapat Fromm tentang cinta asmara : Cinta yang tidak dewasa mengatakan : “Aku cinta kamu karena aku membutuhkanmu”. Cinta yang dewasa berkata : “Aku butuh kamu karena aku mencintaimu” ( Immature love says: 'I love you because I need you.' Mature love says 'I need you because I love you.').
Jadi cinta asmara meskipun ada unsur ketertarikan fisik atau nafsu seksual semestinya jalinan itu “beyond physical” , lebih dari sekedar kebutuhan atau daya tarik fisik semata. Cinta asmara akan langgeng apabila dibangun di atas fondasi kebutuhan akan cinta dan kebersamaan : kebutuhan adanya pasangan jiwa tempat mencurahkan rasa sayang, teman berbagi rasa dalam mengarungi dinamika pasang surut kehidupan. Cinta asmara yang fisikal semata tidak akan langgeng, karena tubuh manusia itu tetap akan terpisah, hanya jiwa yang bisa menyatu. Dua manusia yang menyatu dalam satu cinta menjadi “two bodies and one soul” atau Fromm menyebutnya (ada di kutipan kata bijak di awal tulisan ini) “two beings become one and yet remain two” (dua makhluk menjadi satu namun tetap dua). Inilah yang disebut Fromm sebagai mature love, cinta yang matang. Cinta asmara yang matang itu apabila kita membutuhkan pasangan kita karena kita mencintainya, kita menghormati dan menghargai tubuh dan jiwa pasangan kita. Sedangkan cinta asmara yang belum matang adalah apabila kita mencintai pasangan kita karena kita membutuhkannya. Artinya selama kita masih membutuhkannya, rasa cinta itu akan tetap ada, tapi jika tidak lagi membutuhkannya (mungkin karena sudah ada yang lain yang bisa memuaskan kebutuhan itu) maka cinta itu akan mudah berpindah ke lain hati.
Kesimpulannya, cinta asmara akan langgeng apabila kita mencintai pasangan kita apa adanya. Mencintai apa adanya artinya kita membutuhkan keberadaannya di sisi kita semata-mata karena cinta, bukan karena membutuhkan apa-apa yang bisa diberikannya untuk membuat diri kita bahagia. I need you because I love you.
Inti dari "The Art of Loving" -nya Fromm adalah mencintai itu adalah memberi, bukan menuntut. Yang menarik untuk kita renungkan adalah kesimpulan Fromm tentang posisi cinta di dunia kita sekarang ini. Menurut Fromm kondisi dunia saat ini bukan merupakan tempat yang subur bagi kehadiran cinta. Prinsip-prinsip dasar yang melandasi keberadaan masyarakat saat ini tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip cinta . Dalam masyarakat modern, sistem perdagangan bebas yang berbasis kompetisi menuntut orang agar selalu di posisi terdepan. Dorongan atau nafsu untuk unggul memicu hasrat manusia untuk memandang sesama sebagai pesaing yang harus dikalahkan bahkan kalau perlu dikorbankan demi ambisinya menuju nomor satu. Manusia saat ini cenderung semakin egois dan pengutamaan pada materialism membuat manusia menomorduakan atau bisa jadi melupakan sama sekali nilai-nilai cinta kasih, nilai-nilai spiritual. Fromm tidak mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mencintai di dunia saat ini, tapi dia merasa bahwa untuk bisa mencintai sesama itu sangatlah sulit, dan bahwa cepat atau lambat beberapa perubahan radikal harus dilakukan agar cinta masih bisa bertahan dan tetap bersemayam di hati manusia.
Setelah menyelami kedalaman pemikiran Fromm tentang cinta, apakah kita tetap berpendapat bahwa cinta itu sangat sederhana dan mudah untuk diterapkan? Cinta itu tidak usah direnungkan maknanya secara filosofis karena yang penting itu prakteknya? Memangnya kita selama ini sudah bisa mempraktekkan prinsip-prinsip cinta ? Kalau jawabnya belum mari bersama-sama kita sebarkan benih-benih cinta di sekeliling kita, dan tentunya kita tidak perlu menunggu Hari Valentine untuk bisa menebar benih cinta. Karena cinta butuh aksi, tidak sekedar seremoni dan selebrasi.
Lirik lagu WHEN GOD MADE YOU berikut ini dengan cantik sekali melukiskan betapa indahnya cinta sehingga sangat pas untuk didengarkan di Hari Valentine.