Apa yang menjadi identitas Indonesia ? Apa saja yang ‘sesuatu banget’ yang unik dan khas sehingga akan selalu dilekatkan pada Indonesia ?
Apakah Indonesia itu hanya dikenal sebagai pengekspor tenaga kerja dengan skill rendah (maaf tidak bermaksud menafikan kontribusi para TKI dan TKW yang telah menjadi pahlawan devisa)? Apakah Indonesia hanya dikenal dengan perilaku yang kacau balau, semrawut, mudah ribut dan ngamuk? Indonesia itu identik dengan korupsi ? Jawabnya jelas banget OOOOH….TIDAK !!!
Indonesia is still my beautiful country. Meskipun kekacauan sosial, politik dan ekonomi mendera Negara ini tak putus-putusnya, sehingga terkadang suka bikin gemes, geregetan dan jengkel setengah mati, namun semua itu tidak dapat mengurangi rasa cinta saya pada Indonesia. Indonesia memang mempunyai banyak kelemahan, tapi bagaimana pun masih terdapat banyak hal yang bisa ditemukan di Indonesia yang menjadi sumber kekaguman yang tidak ada habisnya : keindahan dan kekayaan alamnya, keunikan etnis yang tinggal di dalamnya, keramahan dan selera humornya, keragaman budayanya, sense of art-nya, dan masih banyak lagi. Pokoknya , Indonesia I love you full !!!
Ya, budaya adalah kekayaan tak ternilai Indonesia. Tidak ada Negara yang bisa menandingi keragaman dan keunikan budaya beragam suku bangsa yang tersebar di wilayah georafis Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Coba bayangkan berapa banyak jumlah bahasa daerah di Indonesia ? Berapa jumlah etnis atau suku bangsa yang diam di dalamnya? Berapa banyak tarian, lagu, alat musik, dan baju adat daerah di Indonesia ? Berapa tradisi atau ritual adat yang diwariskan turun temurun oleh berbagai etnis tersebut? Sayangnya kekayaan ini belum mampu diolah menjadi sumber kekuatan dan jati diri bangsa, justru yang terjadi kita lebih berkiblat pada budaya milik bangsa lain dan menelantarkan nilai-nilai kekayaan budaya ‘indigenous’ Indonesia. Kita cenderung memandang rendah dan primitive budaya kita sendiri dan mengunggulkan budaya bangsa lain yang kita pandang lebih modern, beradab dan bermartabat.
Selama ini kita terbius oleh gaya hidup modern dan perilaku kita lebih dikontrol oleh standard nilai budaya bangsa lain. Kita selama ini telah mengabaikan kelestarian seni budaya warisan nenek moyang kita. Bahkan tidak hanya menyia-nyiakan, tapi mungkin ada yang memandang rendah dan beranggapan tidak perlu lagi untuk diwariskan ke generasi muda Indonesia.
Untuk itu ada baiknya kalau kita menengok sejenak untuk mengenali kembali keindonesiaan kita. Apa-apa saja yang merepresentasikan identitas Indonesia? Budaya yang unik dan identik dengan Indonesia. Budaya yang bisa kita klaim sebagai “Indonesia banget”. Saat kita jauh mengembara di belahan bumi lain, apabila ditanya apa ciri khas Indonesia, dengan bangga kita akan menjawab : tari Saman, tari Jaipong, tari Gambyong, tari Bali, batik, wayang, keris, patung Asmat, Borobudur, dan masih banyak lagi. Ini semua tidak mungkin akan diakui sebagai karya budaya Negara lain selain Indonesia, soalnya ya itu tadi sangat sangat Indonesia buuanget. Tentu saja sungguh menggelikan kalau tari Jaipong atau tari Saman diaku sebagai seni budayanya orang Pilipina, atau tari Gambyong dan punakawan wayang diaku sebagai seni tradisi Negara Malaysia.
Ingin lihat yang sesuatu banget, pokoknya Indonesia buuanget ? Ini dia :
Gambar : menteridesainindonesia.blogspot.com
ovostagephotography.blogspot.com
tari gambyong-wasrindaka.blogspot.com
Yang unik dan Indonesia banget juga bisa dijumpai di Solo Wayang Carnaval 2012 yang diselenggarakan pada hari Sabtu tanggal 18 Februari. Dan ini wajah-wajah penuh ekspresi keceriaan dan kegembiraan para warga Kota Solo di event Solo Wayang Carnaval 2012.
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Kalau yang ini kostum kebaya badut ala anak muda Kota Solo. Lihat ekspresi wajah dan gaya mereka yang lucu dan kostum kebaya jadul yang sudah langka kita temukan dikenakan ibu-ibu Jawa saat ini. Woow sungguh nostalgia banget.
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Kalau ini wajah-wajah manis khas putri Solo yang memang terkenal cantik, anggun dan luwes.
Foto : Jojo (koleksi pribadi)
Melihat foto-foto ini siapa yang tidak jatuh cinta pada Indonesia, ini Jowo dan Solo banget. Ayo daerah-daerah lain tunjukkan keunikanmu dan kita tunjukkan pada dunia ini lho kekayaan budaya Indonesia ...inilah Truly Indonesia.
Immature love says: 'I love you because I need you.' Mature love says 'I need you because I love you.' (Erich Fromm).
In love the paradox occurs that two beings become one and yet remain two.(Erich Fromm)
Love is the only sane and satisfactory answer to the problem of human existence. (Erich Fromm)
Bulan Februari menjadi bulan cinta, karena di bulan ini ada Hari Valentine yang identik sebagai harinya anak muda. Gelora cinta yang mengharubiru memang pas kalau disematkan di hati anak muda : hati yang masih mencari siapa pasangannya, hati yang masih merdeka untuk memilih siapa yang akan dijatuhi cinta. Tapi apakah cinta itu dimaknai sebatas cinta asmara? ataukah cinta itu lebih dari sekedar ketertarikan fisik semata?
Di bulancintaini paling pas kalaungomongsoalcinta. Apa itu cinta dan bagaimana kita seharusnya memaknai dan mengekspresikannya?
ArtiCinta
Apaitucinta? Mungkinbanyak orang akanmenjawab mengapa susah-susah merumuskan apa itu cinta. Cinta itu suatu yang perasaan menyenangkan yang dialami oleh semua orang. Cinta itu rasa suka atau sayang pada seseorang yang membuat hati jadi berbahagia. Pokoknya cinta itu untuk dirasakan dan diresapi keindahannya. Cinta itu sesuatu yang bersifat alami jadi tidak perlu didefinisikan atau dimaknai secara filosofis. Cinta itu butuh aksi, bukan teori.
Benarkah demikian?
Cinta memang begitu riil, hadir nyata dalam kehidupan semua anak manusia. Cinta sesuatu yang taken for granted…ada tanpa kita sadari kehadirannya. Karena sudah dianggap taken for granted, sudah demikian adanya , manusia cenderung menjadi lupa akan makna dan arti penting cinta.
Pembahasan tentang articinta secara logis dimulai dengan pertanyaan tentang hakekatcinta. PencariantentangmaknaatauhakekatcintasecarafilosofissudahdilakukansejakjamanRomawikuno(www.iep.utm.edu/love/).Beragam teoritelahdirumuskan.Pandanganumumtentanghakekatcinta merumuskanbahwacintaitu bersifat emosional sehingga tidak bisa dijelaskan dengan logika rasional. Ada lagi yang mengartikancintasebagaimurnifenomenafisikyaitusuatudorongan nafsu kebinatangan atau genetik yang mendikte perilaku manusia. Ada pula yang memaknaicintasebagaisuatuperasaan yang sangat spiritual sehinggamembuatkitaserasamenyentuhdimensikeilahian.Plato, misalnya, merumuskankonsepcintalebihsebagaisuatu yang luhurdanmuliabukansekedarnafsuhewani yang didorongolehhasratbirahi, cintadilihatdarivisi teologis yang melampaui daya tarik sensual. Pemaknaancintasemacamini yang kemudianmelahirkanistilahcintaPlatonis (Platonic love).
Rumusan ideal dari cinta memang tidak sekedar cinta asmara atau cinta erotis . Secara umum cinta diartikan sebagai sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut (Wikipedia).
Untuk mempermudah memahami makna cinta , maka cinta kemudian dibedakan menjadi : eros, agape dan philia. Eros adalah cinta asmara atau cinta yang didalamnya ada unsur hasrat seksual. Dorongan seksual atau hasrat birahi manusia secara naluri tak beda jauh dengan hasrat seksual pada binatang. Sedangkan agape adalah cinta kasih Tuhan pada manusia atau sebaliknya cinta manusia pada Tuhannya , bisa juga cinta pada kemanusiaan. Adapun philia adalah rasa cinta atau sayang pada teman atau sahabat, pada orangtua, saudara dan keluarga(http://www.iep.utm.edu/love/)
Dalam bahasan Inggris kata “love” dipakai untuk menyatakan ketiga bentuk cinta : eros, agape, dan philia. Penggunaan istilah “cinta” dalam bahasa Indonesia lebih cenderung untuk menyebut jenis cinta eros atau cinta asmara, sedangkan untuk mengungkapkan rasa cinta pada Tuhan , keluarga dan sahabat biasa menggunakan kata kasih atau sayang.
Oke , setelah kita tahu cinta itu ada cinta pada Tuhan (agape) dan sesama manusia baik itu cinta asmara (eros) maupun cinta pada orang tua , teman dan kemanusiaan (philia), terus pertanyaan selanjutnya adalah apa makna atau hakekat cinta dan bagaimanakah seharusnya kita mengekspresikan rasa cinta itu?
Karena saya bukan filsuf maka untuk menjawab pertanyaan ini saya pinjam pemikirannya ahli psikologi sosial , psikoanalis, sosiolog dan filsuf yang humanistis - ERICH FROMMyang menjelaskan dengan indah sekali tentang makna cinta dan seni mencintai dalam tulisannya “The Art of Loving”. Pendapat Fromm yang saya jadikan sumber tulisan ini sebagian besar saya kutip dari resensi Armand F. Baker DISINI .
Kedalaman cinta Erich Fromm
Fromm memberi pernyataan yang mengejutkan, mencintai itu sesuatu yang harus kita pelajari. Ia tidak datang dengan sendirinya, bukan kita lakukan secara naluriah. Mencintai adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktekkan secara aktif. Agar cinta itu tumbuh, seseorang harus aktif bertindak, harus menunjukkan cintanya (However, in order for love to exist, someone must act; someone must do the loving).
Menyangkut soal cinta selama ini kita memposisikan diri sebagai obyek, artinya pikiran kita terfokus pada bagaimana agar dicintai. Berbagai cara ditempuh untuk membuat diri dicintai orang. Dan kemudian apa yang dilakukan untuk mendapatkan cinta? Yang perempuan ingin tampil cantik dan menarik dan yang laki-laki ingin tampil gagah dan keren. Pokoknya manusia ingin tampil semenarik dan semenonjol mungkin agar perhatian, kekaguman dan cinta terpusat kepadanya. Pikiran dan usaha terpusat pada bagaimana agar dicintai, sehingga lupa bahwa untuk dicintai, harus mencintai terlebih dulu. Hanya orang yang egois yang ingin dirinya dikagumi dan dicintai, tapi tidak ada keinginan untuk mengagumi dan mencintai orang lain.
Fromm mengatakan cinta itu tidak pasif, tapi harus aktif. Jika kita berharap untuk menerima cinta (dicintai), maka kita terlebih dulu harus siap untuk memberi cinta (mencintai). Cinta bukan jalan satu arah ( nah, ini artinya cinta itu tidak hanya pasif ditunggu kehadirannya. Untuk mendapatkan cinta, orang harus memberi cinta terlebih dahulu) . Dengan kata lain, inti cinta adalah memberi, bukan menerima. Memberi artinya memberikan apa yang dimiliki untuk kebahagiaan orang yang cicintai. Makna ini yang sering disalahartikan sebagai cinta itu suatu pengorbanan. Menurut Fromm ini tidak benar karena dua alasan :
Pertama, cinta tidak terbatas pada pemberian dalam arti materi. Aspek yang paling penting dari memberi adalah bahwa kita memberikan diri kita, hidup kita, sukacita dan dukacita kita, minat dan pengetahuan kita, pemahaman dan perhatian kita.Kedua, memberikan diri untuk cinta bukan berarti mengorbankan kemerdekaan kita sebagai individu. Saat seseorang memberi untuk cinta, yang hilang dari dirinya hanyalah keegoisan. Mencintai adalah tindakan memberi yang justru memperkaya si pemberi (secara batin) karena dapat menumbuhkan rasa sebagai individu yang bebas dan aktif , yang memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada orang lain.Cinta adalah aktif, cinta itu memberi, dan cinta menghasilkan kesatuan yang memperkuat individualitas kita yang sebenarnya.
Intinya, menurut penafsiran saya, dalam cinta itu tidak ada yang dikorbankan. Karena hakekat cinta adalah memberikan apa yang kita punya demi kebahagiaan orang yang dicinta. Demi kebahagiaan orang yang dicinta semata, tanpa pamrih. Kalau kita memberi semata-mata karena ingin memberi dan kalau dengan apa yang kita berikan itu, si penerima menjadi bahagia, itu sudah cukup bagi kita. Kalau seperti itu apa ada yang kita korbankan? Berkorban konotasinya ada sesuatu yang harus kita relakan untuk diberikan atau ada yang hilang dari diri kita, entah itu materi atau nonmateri. Selama kita mencintai semata-mata karena cinta, maka itulah cinta sejati atau cinta tanpa syarat – unconditional love.
Selain mengulas tentang hakekat cinta, Fromm juga membahas elemen lain dari cinta yakni peduli, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan.Peduli artinya menaruh perhatian secara aktif terhadap hidup dan kesejahteraan orang yang dicintai. Tanggung jawab adalah upaya untuk merespon kebutuhan orang lain, rasa keterbukaan kepada orang yang kita cintai. Menghormati berarti bahwa kita menghormati orang lain sebagai individu, kita menerima dia sebagai dia apa adanya dan tidak mencoba untuk mengubahnya menjadi sebuah objek untuk kebutuhan kita sendiri. Pengetahuan berarti kita harus mencoba untuk mengenal orang lain, baik secara rasional maupun intuitif atau emosional.
Unsur terakhir dari cinta adalah keyakinan atau kepercayaan. Untuk bisa memberikan cinta kita harus percaya sepenuhnya pada orang yang kita cintai. Mencintai artinya membuka diri kita, dan menjadi terbuka berarti menjadi peka atau rapuh.Orang kadang ragu untuk melakukan hal ini karena di masa lalu telah terluka atau kecewa karena cinta. Namun tanpa keterbukaan, yang dilandasi atas kepercayaan, tidak akan ada cinta. Dengan begitu, cinta adalah tindakan yang dilandasi atas rasa percaya. Dan siapa pun yang kepercayaannya (pada orang yang dicintai) hanya sedikit berarti juga memiliki cinta yang sedikit.
Setelah tahu bahwa hakekat cinta itu adalah bla..bla..bla… dan elemen cinta itu adalah a….b….c….d...Pertanyaan selanjutnya adalah : bagaimana caranya mencintai itu? ( cara mencintai saya batasi pada sesama manusia (eros dan philia) , adapun tentang cinta pada Tuhan (agape) tidak saya bahas karena takut tulisannya jadi puaaanjang buanget).
Tentang cinta pada sesama, Fromm berpendapat selama kita tidak bisa mencintai semua orang, maka kita tidak bisa mencintai seorang pun. Inti cinta sejati didasarkan pada sikap, cara berpikir atau perasaan, yang diarahkan untuk seluruh dunia dan segala isinya.
(Iya benar sekali. Kalau orang mencintai sesamanya dengan pilih-pilih atau selektif …Ooh yang akan aku beri cinta itu mereka yang seide atau sealiran pemikiran dengan aku, yang mendukung aku, yang bisa mendatangkan manfaat atau bisa aku manfaatkan untuk kepentinganku.. orang mencintai dengan bersyarat semacam ini apakah dapat disebut orang yang mencintai?).
Karena itu, mengutip ajaran Yesus , Fromm mengatakan “ kita jangan hanya mencintai orang-orang yang cinta sama kita, tapi juga harus mencintai musuh kita”. Mencintai musuh (menurut penafsiran Armand F. Baker) tidak berarti kita menerima atau setuju dengan perbuatannya, tapi kita harus bisa memisahkan manusia dari perbuatannya (jadi yang dibenci atau tidak bisa ditoleransi adalah perbuatannya, bukan orangnya. Jadi mengasihi musuh dalam arti memaafkan orangnya dan tidak menaruh dendam dengan melampiaskan balasan yang setimpal. Contoh nyata dari cinta musuh mungkin bisa dilihat pada diri Nelson Mandela yang memaafkan rezim penguasa kulit putih yang menindas kulit hitam. Tentu saja tidak mudah untuk bisa bertindak seperti Mandela, tapi bukankah cinta itu sendiri bukan suatu tindakan yang mudah dipraktekkan. Butuh usaha keras untuk bisa benar-benar mencintai. Lebih mudah membenci atau tidak peduli, karena tidak dibutuhkan usaha keras untuk bisa membenci seseorang. Karena itulah, Fromm menyimpulkan bahwa hanya orang yang kapasitas kepribadiannya telah berkembang matang yang memiliki kapasitas untuk mencintai sesamanya dengan kerendahan hati yang sejati, mencintai secara total tanpa pamrih. Orang semacam ini yang mampu memaknai arti cinta yang sejati).
Jadi resep untuk mencintai sesama adalah cintailah semua orang jangan hanya mereka-mereka yang suka sama kamu, yang mengagumimu, yang suka memujimu. Cintailah juga mereka yang memusuhimu, yang iri sama kamu, yang benci sama kamu. Kalau kita bisa mencintai semua orang, bahkan juga musuh kita maka kita akan mudah memaafkan dan melupakan kesalahan dan sakit hati.
Tentang cinta pada diri sendiri, Fromm menyatakan, cinta pada diri sendiri disini sepertinya kontradiktif dengan makna cinta yang memberi, inklusif atau terbuka bagi semua orang. Cinta pada diri sendiri (self-love) harus dibedakan dengan mengutamakan kepentingan sendiri (selfishness) atau egois. Mencintai diri sendiri berarti peduli tentang diri sendiri, mengambil tanggung jawab untuk diri sendiri, menghormati diri sendiri, dan mengetahui diri sendiri (misalnya bersikap realistis dan jujur tentang kekuatan dan kelemahannya).Egois tidak ada hubungannya sama sekali dengan cinta. Orang yang hanya cinta dirinya sendiri tidak kenal apa itu cinta. Orang egois jelas merugikan dirinya sendiri, sebab dengan mengutamakan kepentingan sendiri pintu hatinya menjadi tertutup bagi cinta dari sesamanya. Orang yang hidup untuk dirinya sendiri adalah orang yang kesepian. Orang yang mengasihi dirinya tidak akan mau menderita seperti ini. Karena itulah Fromm mengatakan seorang yang mengasihi semua orang juga mengasihi dirinya sendiri. Inilah makna dari mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri.
Kesimpulannya, untuk bisa mencintai sesama kita harus mencintai diri sendiri terlebih dahulu yakni menghargai diri sendiri, tidak merendahkan diri sendiri, menjaga martabat diri sendiri, tahu kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Orang mencintai dirinya adalah orang yang menerima dirinya apa adanya, sehingga dia juga mudah menerima dan mencintai sesamanya sebagaimana apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka.
Selanjutnya tentang cinta asmara, menurut Fromm cinta asmara atau cinta erotis atau cinta fisik sering disalahartikan. Jika seseorang tertarik dengan orang lain karena daya tarik fisik, belum tentu itu bisa disebut cinta. Jika relasi itu hanya bersifat badaniah (fisikal) maka tidak akan bisa memuaskan kebutuhan dasar akan kebersamaan, karena daya tarik fisik tidak akan kekal. Sebaliknya, apabila cinta yang fisikal itu disertai dengan perilaku penuh cinta –berlandaskan kasih sayang kemanusiaan - maka itu akan tumbuh menjadi cinta yang dewasa yang matang. Cinta atas dasar kebutuhan kebersamaan , untuk mengarungi hidup dalam suka dan duka akan bersifat lebih langgeng. Kata bijak yang saya kutip di awal tulisan ini menyimpulkan pendapat Fromm tentang cinta asmara : Cinta yang tidak dewasa mengatakan : “Aku cinta kamu karena aku membutuhkanmu”. Cinta yang dewasa berkata : “Aku butuh kamu karena aku mencintaimu” ( Immature love says: 'I love you because I need you.' Mature love says 'I need you because I love you.').
Jadi cinta asmara meskipun ada unsur ketertarikan fisik atau nafsu seksual semestinya jalinan itu “beyond physical” , lebih dari sekedar kebutuhan atau daya tarik fisik semata. Cinta asmara akan langgeng apabila dibangun di atas fondasi kebutuhan akan cinta dan kebersamaan : kebutuhan adanya pasangan jiwa tempat mencurahkan rasa sayang, teman berbagi rasa dalam mengarungi dinamika pasang surut kehidupan. Cinta asmara yang fisikal semata tidak akan langgeng, karena tubuh manusia itu tetap akan terpisah, hanya jiwa yang bisa menyatu. Dua manusia yang menyatu dalam satu cinta menjadi “two bodies and one soul” atau Fromm menyebutnya (ada di kutipan kata bijak di awal tulisan ini) “two beings become one and yet remain two” (dua makhluk menjadi satu namun tetap dua). Inilah yang disebut Fromm sebagai mature love, cinta yang matang. Cinta asmara yang matang itu apabila kita membutuhkan pasangan kita karena kita mencintainya, kita menghormati dan menghargai tubuh dan jiwa pasangan kita. Sedangkan cinta asmara yang belum matang adalah apabila kita mencintai pasangan kita karena kita membutuhkannya. Artinya selama kita masih membutuhkannya, rasa cinta itu akan tetap ada, tapi jika tidak lagi membutuhkannya (mungkin karena sudah ada yang lain yang bisa memuaskan kebutuhan itu) maka cinta itu akan mudah berpindah ke lain hati.
Kesimpulannya, cinta asmara akan langgeng apabila kita mencintai pasangan kita apa adanya. Mencintai apa adanya artinya kita membutuhkan keberadaannya di sisi kita semata-mata karena cinta, bukan karena membutuhkan apa-apa yang bisa diberikannya untuk membuat diri kita bahagia. I need you because I love you.
Inti dari "The Art of Loving" -nya Fromm adalah mencintai itu adalah memberi, bukan menuntut. Yang menarik untuk kita renungkan adalah kesimpulan Fromm tentang posisi cinta di dunia kita sekarang ini. Menurut Fromm kondisi dunia saat ini bukan merupakan tempat yang subur bagi kehadiran cinta. Prinsip-prinsip dasar yang melandasi keberadaan masyarakat saat ini tidak lagi sejalan dengan prinsip-prinsip cinta . Dalam masyarakat modern, sistem perdagangan bebas yang berbasis kompetisi menuntut orang agar selalu di posisi terdepan. Dorongan atau nafsu untuk unggul memicu hasrat manusia untuk memandang sesama sebagai pesaing yang harus dikalahkan bahkan kalau perlu dikorbankan demi ambisinya menuju nomor satu. Manusia saat ini cenderung semakin egois dan pengutamaan pada materialism membuat manusia menomorduakan atau bisa jadi melupakan sama sekali nilai-nilai cinta kasih, nilai-nilai spiritual. Fromm tidak mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mencintai di dunia saat ini, tapi dia merasa bahwa untuk bisa mencintai sesama itu sangatlah sulit, dan bahwa cepat atau lambat beberapa perubahan radikal harus dilakukan agar cinta masih bisa bertahan dan tetap bersemayam di hati manusia.
Setelah menyelami kedalaman pemikiran Fromm tentang cinta, apakah kita tetap berpendapat bahwa cinta itu sangat sederhana dan mudah untuk diterapkan? Cinta itu tidak usah direnungkan maknanya secara filosofis karena yang penting itu prakteknya? Memangnya kita selama ini sudah bisa mempraktekkan prinsip-prinsip cinta ? Kalau jawabnya belum mari bersama-sama kita sebarkan benih-benih cinta di sekeliling kita, dan tentunya kita tidak perlu menunggu Hari Valentine untuk bisa menebar benih cinta. Karena cinta butuh aksi, tidak sekedar seremoni dan selebrasi.
Lirik lagu WHEN GOD MADE YOU berikut ini dengan cantik sekali melukiskan betapa indahnya cinta sehingga sangat pas untuk didengarkan di Hari Valentine.
A sense of humor... is needed armor. Joy in one's heart and some laughter on one's lips is a sign that the person down deep has a pretty good grasp of life.(Hugh Sidey)
A person without a sense of humor is like a wagon without springs. It's jolted by every pebble on the road (Henry Ward Beecher)
Setelah seminggu penuh otak saya diperas untuk mikir yang berat-berat, akhir pekan ini saya ingin cari hiburan. Iseng-iseng saya browsing tulisan-tulisan ringan yang bisa membuat senyum. Akhirnya saya dapat banyak tulisan humor yang tidak saja bisa membuat senyum dikulum tapi bahkan tertawa ngakak. Selera humor orang Indonesia memang luar biasa. Ini yang membuat saya makin I love you full sama bangsa Indonesia. Meskipun dibombardir bertubi-tubi oleh carut marut politik dan tekanan ekonomi, orang Indonesia masih bisa meresponnya dengan cerdik melalui banyolan yang sangat kreatif. Bahkan kondisi sosial politik yang kacau balau itu bisa dimanfaatkan menjadi sumber ide membuat joke atau banyolan yang tak ada habisnya.
Humor yang dilontarkan sebagai bentuk kritik terhadap kondisi sosial, ekonomi dan politik yang menekan merupakan bentuk respon yang dewasa (mature) dan sehat secara kejiwaan. Orang yang bisa meng”humor”kan situasi yang tidak menyenangkan, menjengkelkan dan membuat sakit hati adalah tanda bahwa orang itu mampu menyalurkan emosinya melalui jalan keluar yang tidak merugikan diri sendiri (dan orang lain) dengan tidak melakukan tindakan yang emosional dan merusak.
Masha Mishkinsky dalam tulisannya berjudul “Humour as a "courage mechanism"(http://psycnet.apa.org/) berpendapat humor merupakan alat yang digunakan untuk menanggapi realitas yang tidak menyenangkan dengan cara memodifikasi makna konsep, keyakinan, situasi, dan obyek (yang dianggap tidak menyenangkan atau menjengkelkan) menjadi lebih dari satu dimensi (pemaknaan). Mishkinsky menyebut humor sebagai “courage mechanism” atau bagian dari “defense mechanisms” karena humor digunakan sebagai senjata (alat atau mekanisme) dalam konflik sehari-hari.
Humor menurut kategorisasi defense mechanism Valliant termasuk bentuk mekanisme bertahan level dewasa atau mature (wikipedia.org/wiki/Defence_mechanism). Artinya hanya orang yang sehat dan dewasa secara emosional yang mampu menyikapi situasi yang tidak menyenangkan dan menimbulkan sakit hati dengan cara melontarkan humor atau joke-joke. Penggunaan humor sebagai defense mechanism bisa merubah rasa jengkel dan sakit hati menjadi senyum kecut karena bisa memodifikasi atau bahkan merusak suatu konsep , jargon atau situasi menjadi bermakna sama sekali lain dengan yang dimaksudkan. Jadi dengan menghumorkan atau memparodikan suatu keadaan yang menjengkelkan orang bisa mendapatkan kesenangan sekaligus mampu mengontrol emosinya. Karena itulah , orang yang mempunyai sense of humour tinggi biasanya adalah orang-orang yang bijak (virtuous). Mau tahu buktinya? Siapa tidak kenal Gus Dur. Selain mempunyai gelar KH (Kyai Haji) di depan namanya, beliau juga dikenal dengan guyonannya. Dalam kesempatan apa pun Gus Dur selalu menyelipkan humor-humor yang cerdas dan kritis. Para sufi juga dikenal akan cita rasa seni sastra yang tinggi yang disitu terselip kata-kata bijak yang terkadang ditulis dengan gaya satire yang bisa bikin orang yang baca tersenyum kecut dan introspeksi diri.
Bukti kedewasaan dan kearifan tinggi juga saya temukan dalam tulisan Magnis Suseno saat dengan santai menanggapi kontroversi soal pemutaran film Da Vinci Code yang dianggap melecehkan iman Kristiani. Berikut kutipan dari tulisannya di majalah Tempo 22 Mei 2006 :
Tetapi di lain tempat umat dan uskup-uskup tenang-tenang saja. Termasuk di Indonesia. Bahkan Opus Dei, daripada mengamuk, memanfaatkan The Da Vinci Code untuk memperkenalkan cita-cita mereka yang sebenarnya. Gereja kiranya tidak akan runtuh karena kekurangajaran seorang Dan Brown.
Saya sendiri jelas mau nonton The Da Vinci Code. Bukan hanya supaya dapat menjawab kalau orang tanya, melainkan karena saya mengantisipasi nikmatnya menonton thriller itu. Saya kira, umat saya juga sudah keluar dari masa puber (atau dari masa badak: begitu ada sesuatu yang membuat marah, tanduk turun, buntut naik, mata kecil tapi tajam mengambil fokus, lalu tanpa terganggu oleh pikiran, menyerang lurus ke depan). Mereka bisa menikmati film yang bagus, sambil sedikit misuh-misuh (sehat bagi jiwa, lho!).Have a pleasant evening at your cinema!
Misuh-misuh atau mengumpat dengan kata-kata kotor konotasinya tidak elegan dan intelek. Namun ternyata itu bisa menyehatkan jiwa kalau itu dilakukan dengan tanpa muatan emosi kebencian tapi dengan sense of humour dengan senyum-senyum getir. Jadi misuh-misuh itu jika dilakukan sebagai bentuk mentertawakan realita yang tidak menyenangkan dan menimbulkan sakit hati tanpa diikuti tindakan merusak atau menyerang pihak yang merendahkan menjadi sarana eskapis agar orang tidak jadi sakit jiwa. Bicara misuh-misuh siapa yang bisa menyaingi orang Jawa Timur yang dalam ucapan sehari-hari biasa melontarkan kata da..uk dengan mudah sambil haha hihi tanpa ada sakit hati. Orang Jawa Timur memang terkenal egaliter dan apa adanya dalam berbahasa.
Bicara soal humor orang Indonesia, tidak akan lengkap tanpa mengulas tentang plesetan. Orang Indonesia sangat kreatif kalau memplesetkan singkatan. Definisi Mishkinsky yang mengartikan humor sebagai bentuk memodifikasi (atau merusak) makna suatu konsep atau jargon sungguh tepat sekali untuk menjelaskan fenomena plesetan. Riset Melanie Barnes yang berjudul “ Bahasa dan Politik : Wacana Politik dan Plesetan”mengartikan plesetan pada dasarnya adalah candaan dengan mengubah arti singkatan-singkatan (akronim). Orang Indonesia suka memplesetkan apa saja tapi mereka paling suka plesetan politik karena tidak suka dengan politisi dan pemerintah. Dengan membuat plesetan orang Indonesia bebas menjungkirbalikan singkatan, sehingga mengundang tawa dan maknanya menjadi konyol. Yang sering menjadi sasaran korban plesetan adalah slogan atau jargon yang menjadi ungkapan pejabat Negara. Barnes mengkoleksi beberapa plesetan seperti nama mantan Menteri Penerangan jaman Orde Baru – Harmoko (yang sering muncul di TVRI menginformasikan seputar kebijakan mantan Presiden Soeharto) diplesetkan menjadi Hari-hari Omong Kosong. Program pengentasan kemiskinan Inpres Desa Tertinggal (IDT) yang jatuhnya menjadi sekedar bagi-bagi uang menjadikan singkatan IDT diartikan sebagai Ikilo Duwite Teko (bahasa Jawa artinya Ini Duitnya Datang).
Jean-Luc Maureryang menulis tentang lelucon dan permainan kata-kata sebagai bentuk protes politik di Indonesia memberi contoh tentang guyonan masyarakat yang dibuat dengan memplesetkan slogan-slogan rezim Orba atau gosip seputar keluarga Presiden , istilah SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret) diplesetkan menjadi Sudah Persis Seperti Marcos atau Suharto Persis Seperti Marcos (dalam Frans Husken dan hub de Jonge (eds).2002 .Orde Zonder Order ; Kekerasan dan dendam di Indonesia 1965-1998. Lkis Yogyakarta)
Plesetan jargon-jargon politik juga sudah banyak bermunculan sejak era Orde Lama. Di era ini Presiden Soekarno sangat bersemangat membangkitkan nasionalisme melalui slogan-slogan seperti NASAKOM, USDEK, GANEFO dsb , namun karena rakyat masih dibebani dengan kebutuhan perut atau pangan maka muncul plesetan kreatif misalnya indoktrinasi menjadi endog, teri, nasi. USDEK menjadi Udane Soyo Deres Enake Kemulan (bahasa Jawa artinya Hujannya Semakin Deras Enaknya Selimutan) suatu plesetan yang sungguh cerdas sekali menggambarkan betapa jengkelnya rakyat melihat pemimpin yang menghujani mereka dengan jargon-jargon yang tidak membuat perut kenyang sehingga daripada mendengar retorika pemimpin lebih baik ditinggal tidur dan telinga ditutup saja dengan selimut).
Tentang plesetan GANEFO (Games of the New Emerging Forces), dalam Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad menulis tentang Gareng wayang orang Sriwedari yang ditangkap petugas keamanan setelah di pentas dia memplesetkan singkatan GANEFO menjadi Ganewul (bahasa Jawa segane tiwul artinya nasinya tiwul). Pada jaman Soekarno gencar mengkampanyekan proyek GANEFO , harga beras sangat mahal sehingga tiwul (makanan pengganti nasi dari bahan singkong) menjadi makanan sehari-hari rakyat kecil. Lelucon ini menyangkut sesuatu yang peka secara politik karena dianggap menyindir ketidakmampuan pemerintah menyediakan kebutuhan pangan rakyatnya ( Mohamad Sobary. Kang Sejo Melihat Tuhan. 1993 )
Di era Reformasi ini, hobi mengkritik pemerintah semakin tersalurkan dengan adanya kemerdekaan mengekspresikan pikiran dan pendapat yang ditopang oleh bantuan tehnologi komunikasi yang canggih. Humor-humor politik semakin banyak berkeliaran di internet. Pemerintahan Presiden SBY tidak bebas dari sasaran humor politik. Partai Politik dan perilaku politisinya yang “notorious” di mata rakyat membuat politikus diplesetkan asal katanya dari gabungan kata poli dan tikus (artinya menjadi banyak tikus). Koalisi Kebangsaan (PDI-P + Golkar) = Koalisi Kebangsatan.
Jadi, selama pemerintah maupun politisi belum bisa menunjukkan kinerja yang memenuhi kepentingan publik, maka selama itu pula hobi orang Indonesia untuk melontarkan kritik melalui banyolan atau humor-humor politik tidak akan pernah mati. Sepanjang orang Indonesia merespon kondisi politik yang tidak menyenangkan dan menjengkelkan dengan membanyol dan berbagi cerita lucu, itu tandanya secara psikologis orang Indonesia itu sudah mature. Ketimbang stress dan kemudian bunuh diri dengan membakar diri, lebih baik kita membenahi bangsa dan Negara tercinta ini dengan menghasilkan karya terbaik melalui tugas kita masing-masing. Kalau pas kebetulan lihat berita yang bikin jengkel dan emosi, maka kita lihat saja sambil –seperti kata Magnis Suseno : sedikit misuh-misuh (sehat bagi jiwa, lho)
"What's in a name! that which we call a rose by any other name would smell as sweet” (William Shakespeare)
Media online saat ini tengah hangat memperbincangkan perang mulut lewat twitter (twit-war) antara selebritis cantik nan anggun santun Marissa Haque vs Addie MS dan anaknya Kevin Aprillio yang kemudian direspon oleh banyak selebriti termasuk Tifatul Sembiring, Effendi Gazhali, Anita Wahid,dll. Twit-war ini - bermula dari tuduhan terhadap gelar Doktor Marissa Haque yang diduga dibuatkan oleh orang lain (tribunnews.com dan tempo.co/) - telah mendorong saya untuk menulis soal makna gelar akademik.
Gelar akademik , menurut Wikipedia, adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademikbidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar akademik kadangkala disebut dengan istilahnya dalam bahasa Belanda yaitu titel (dari bahasa Latin titulus). Gelar akademik terdiri dari sarjana (bachelor), magister (master), dan doktor (doctor).Pemberian gelar akademik terkait erat dengan intelektualitas dan keahlian professional yang diharapkan akan ditekuni oleh si pemegang gelar. Sarjana merupakan gelar kesarjanaan Strata 1 (S1). Menurut saya, Strata 1 bukan berarti tingkat keahliannya lebih rendah dari S2 atau S3, namun bidang kerja yang akan dijalani memang membutuhkan tingkat keahlian yang sudah bisa dilaksanakan dengan baik oleh orang dengan pendidikan S1. Adapun Master dan Doktor umumnya disyaratkan minimal dimiliki oleh mereka yang berkarier sebagai dosen atau pengajar di perguruan tinggi. Karena dosen mengemban tugas utama selain mengajar juga harus meneliti untuk mengembangkan ilmu dengan menghasilkan karya-karya ilmiah, sehingga penguasaan ilmu dan kaidah-kaidah ilmiah akademis benar-benar harus dikuasai.
Sebagai fenomena sosial, gelar akademik dapat dikatakan merupakan bentuk simbol status baru yang diciptakan seiring tumbuhnya lembaga pendidikan tinggi. Bicara tentang simbol status akan menarik sekali kalau itu dikaitkan dengan orang Indonesia. Saya tidak tahu bagaimana orang luar negeri memaknai gelar kesarjanaan, namun sebagai orang Indonesia ,khususnya orang Jawa, saya mencoba memahami apa makna penting gelar kesarjanaan berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama ini. Dulu sebelum ada perguruan tinggi, simbol status yang dianggap bergengsi adalah gelar kebangsawanan, misalnya di Jawa ada Raden Mas dan Raden Ayu dan banyak lagi gelar kebangsawanan lainnya yang saya tidak begitu paham tingkatannya. Orang begitu bangga kalau di depan namanya ada gelar kebangsawanan karena itu menandakan asal usul silsilah, status sosial ekonomi, dan (mestinya) keluhuran budi pekerti yang tinggi yang semuanya ini akan mendatangkan privilege dan penghormatan dari masyarakat. Semua orang tentu menginginkan dihormati dan dipandang dengan kagum dan segan oleh manusia lainnya. Ini manusiawi. Siapa tidak ingin berada di pusat perhatian dan penghormatan banyak orang?
Bagi orang Indonesia yang sangat gengsi dan status minded, gelar kesarjanaan dapat disamakan dengan gelar kebangsawanan versi baru yang menggantikan gelar kebangsawanan tradisional yang mulai ditinggalkan banyak orang. Gelar kesarjanaan yang seharusnya menjadi sertifikat keahlian yang diperlukan untuk terjun mengabdi dan berkarya bagi pembangunan bangsa dan Negara , akan mudah disalahgunakan begitu mengalami deviasi pemaknaan menjadi sekedar simbol status dan gengsi. Orang merasa belum percaya diri kalau di depan namanya tidak ada gelar kesarjanaan. Yang belum punya titel sarjana, ingin kuliah untuk mendapat gelar sarjana (S1). Yang sudah punya titel S1 belum puas kalau belum punya S2. Dan yang S2 belum merasa PD kalau belum S3. Orang mengejar titel akademik seringkali tidak memahami apa makna titel itu. Titel sarjana jatuh menjadi sekedar bungkus, bagian dari kemasan dan citra diri seseorang. Titel sekedar pendongkrak status sosial di masyarakat. Akibatnya banyak orang yang mampu secara ekonomis ingin mengoleksi gelar kesarjanaan demi motif memuaskan ego akan kebanggaan diri. Dengan menjejerkan banyak gelar kesarjanaan di depan dan dibelakang namanya, seolah otomatis orang akan segan dan mengakui kepakaran dan tingkat intelektualitasnya. Saya kira orang sekarang sudah semakin cerdas, gelar Doktor atau Profesor mungkin akan menimbulkan kesan penghargaan pada jumpa pertama, namun selanjutnya penghargaan akan dinilai dari kinerjanya. Orang yang telah menunjukkan hasil kerja yang riil dan teruji akan membuat orang menjadi segan dan mengakui hasil karyanya, bukan di embel-embel titel sarjananya. Apakah orang Solo selama ini menghargai Walikotanya – Pak Jokowi – dari gelar Ir. di depan namanya atau karena kinerjanya? Kita semua bisa menjawab pertanyaan ini.
Karena itu dalam hal pemberian gelar kesarjanaan, Perguruan Tinggi mengemban tugas moral yang berat. Pemberian gelar kesarjanaan dan predikat status kelulusan benar-benar diberikan atas dasar pertimbangan atau kriteria yang ketat dan tepat sehingga gelar dan status kelulusan yang diberikan itu sungguh-sungguh merepresentasikan penguasaan ilmu, keahlian, dan profesionalitas yang dimiliki. Persoalannya, penilaian standard penguasaan ilmu selama ini lebih dititikberatkan pada penguasaan hard skill , yang ini saja belum tentu valid. Padahal gelar kesarjanaan mestinya tidak hanya merepresentasikan tingkat kepakaran, tapi juga kecerdasan emosional dan budi pekerti. Semestinya gelar kesarjanaan itu menggambarkan isi, bukan sekedar kemasan atau bungkus. Seorang dengan gelar kesarjanaan, terlebih dengan strata tertinggi Doktor atau S3 mestinya menunjukkan kemampuan berkomunikasi , berdebat atau cara berbahasa yang elegant, bijaksana dan santun. Jangan sampai perguruan tinggi hanya mencetak tukang atau ahli-ahli atau pakar yang begitu dia ngomong atau berdiskusi di forum publik yang muncul adalah pribadi-pribadi yang narsis yang hanya bicara seputar keunggulan diri sendiri dengan merendahkan orang lain dan kalau terpojok dalam berdebat terus melancarkan strategi ad hominem. Penguasaan soft skill harus menjadi komponen utama dalam standard penilaian kelulusan kesarjanaan dan ini menjadi pekerjaan rumah yang harus serius dipikirkan oleh lembaga pendidikan tinggi.
Jangan sampai liberalisasi dan privatisasi Perguruan Tinggi membawa kepada McDonalisasi Perguruan Tinggi yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi banyak orang yang mampu membayar untuk mendapatkan gelar kesarjanaan dengan cara mudah, terlebih kalau pembeli itu adalah public figure. Semoga saja tidak demikian.
“He has made everything beautiful in its time. Also he has put eternity in their hearts, except that no one can find out the work that God does from beginning to end.” - Ecclesiastes 3:11
Desember adalah bulan terakhir dalam rentang waktu satu tahun. Akhir bulan Desember adalah saat yang pas untuk merenungkan tentang makna waktu dalam perjalanan hidup seorang manusia.
Perjalanan hidup manusia adalah persinggahan dari suatu waktu atau momen ke suatu waktu atau momen lainnya. Waktu selalu berganti. Waktu selalu bergerak, tidak tinggal tetap. Suka- duka, gagal- sukses, sehat- sakit, cinta- benci, konflik- rekonsiliasi, perang- damai adalah dinamika perjalanan hidup manusia.
Tahun hanyalah durasi waktu. Waktu satu tahun terbagi dalam bulan. Bulan terbagi dalam minggu dan minggu ke dalam hari. Satu hari adalah durasi waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berputar pada porosnya. Satu tahun adalah durasi waktu bagi Bumi untuk berotasi mengelilingi matahari.
Jika dipahami sebagai fenomena alam sesungguhnya memperingati pergantian tahun sama saja dengan memperingati Bumi yang telah berhasil berotasi mengelilingi matahari dengan selamat tidak ada gangguan sekecil apa pun – (amit-amit jangan sampai terjadi deh, kalau terjadi gangguan sekecil apa pun itu sudah dapat dikatakan kiamat)
Kalau tahun hanyalah masalah durasi waktu yang merupakan suksesi dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan ke tahun, mengapa pergantian durasi waktu satu tahun menuju tahun berikutnya menjadi begitu penting bagi manusia sehingga perlu dirayakan sedemikian hebohnya?
Bagi manusia perubahan durasi waktu ke durasi waktu bukanlah sekedar hitungan pergantian dari hari ke bulan, bulan ke tahun. Waktu satu tahun dalam hitungan usia hidup manusia adalah jangka waktu yang cukup lama. Pergantian tahun berarti bertambah satu tahun usia perjalanan hidup manusia di bumi dimana selama itu banyak peristiwa yang terjadi dan mewarnai perjalanan hidupnya. Manusia adalah makhluk selebrasi– segala sesuatu yang dianggap penting dan menentukan jalan hidupnya akan dijadikan momen peringatan yang dikenang dalam bentuk ritual perayaan.
Sejarah perayaanTahun Barupada dasarnyaberasal dariberbagai carakuno yang digunakanmasyarakatuntuk menyambutmusimpanen baru. Asal-usul adat istiadat yang terkait dengan perayaan Tahun Baru, mengambil akar dalam cara-cara masyarakat kuno memaknai Tahun Baru yang diamati tidak jauh dari kegiatan pertanian. Untuk orang Indian Creek,misalnya, pematangan jagung pada bulan Juli atau Agustus menandai berakhirnya satu tahun dan awal datangnya tahun yang baru (theholidayspot.com/).
Suku Indian asli, Iroquois, memulaitahun barupada bulan Januari, Februari atauMaret denganmelakukanupacarapengusiranroh jahat.Untuk mengusir roh-roh jahat yang berbondong-bondong datang pada bulan-bulan pergantian tahun, mereka membuat membuatbunyi-bunyian yang memekakkan telinga seperti meniup terompet dan memukul drum. Cara ini nampaknya menjadi ide yang melandasi mengapa di tengah malam pergantian tahun kita mendengar suarahiruk-pikuk yang memekakkan telinga seperti sirene, klakson mobil, peluit kapal, terompet, lonceng gereja, drum, panci - dan apa saja yang dibunyikan bareng-bareng saat puncak pergantian tahun. (theholidayspot.com/).
Sejak tahun 1900an mulai berkembang kebiasaan menghabiskan malam akhir tahun dengan berkumpul bareng-bareng di satu tempat (umumnya di hotel, tempat wisata atau turun ke jalan). Atribut dan pernak-pernik pesta seperti membunyikan terompet atau bunyi-bunyian lainnya, pesta kembang api dan begadang semalam suntuk menghabiskan sisa hari di akhir tahun menjadi penanda perayaan penutup tahun sekaligus menyambut tahun yang baru. (wikipedia.org/). Budaya yang semula hanya dipraktekkan di Negara-negara Amerika dan Eropa , di abad globalisasi dan tehnologi komunikasi saat ini telah menyebar dan diadopsi sebagai budaya masyarakat global. Pesta perayaan akhir tahun untuk menyambut pergantian kalender Masehi menjadi ritual tahunan yang rutin dijalani oleh manusia di hampir semua Negara di dunia, khususnya mereka yang tinggal di wilayah perkotaan.
Para warga kaya di kota-kota besar yang terintegrasi dalam budaya atau gaya hidup global akan merayakan malam tahun baru dengan berpesta pora menghabiskan anggaran jutaan hingga milyaran. Hura-hura pesta akhir tahun ,khususnya yang dirayakan di hotel-hotel dan resort-resort mewah di seluruh kota besar dan destinasi wisata di dunia merupakan bagian dari gaya hidup hedonistis manusia kaya yang memang telah cukup bahkan berlimpah secara finansial, sehingga mengeluarkan uang puluhan atau ratusan juta hingga milyaran untuk membiayai gaya hidup yang konsumtif merupakan hal yang enteng. Selebrasi akhir tahun adalah saatnya membahagiakan diri, saatnya bersenang-senang menikmati hidup , melepaskan diri dari kejenuhan dan kepenatan fisik dan psikis akibat tekanan pekerjaan selama satu tahun bekerja.
Jika dulu biasanya orang menyambut tahun baru dengan tirakatan, perenungan, dzikir, atau dengan melakukan puasa. Sekarang ini orang yang memilih cara bersunyi sepi dalam meditasi dan kontemplasi tidak lah banyak. Sebagian besar kita memilih larut dalam suasana selebrasi penuh kegembiraan. Setiap orang bebas untuk memilih cara apapun untuk memaknai pergantian tahun. Ada yang sudah jenuh dengan kebisingan hiruk pikuk dan carut marut kehidupan yang semakin materialistis-konsumtif dan merindukan suasana yang tenang, sunyi sepi untuk mendapatkan kembali ketenangan dan kepuasan batin melalui jalan meditasi dan refleksi. Ada yang sudah lelah dengan tuntutan dunia kerja yang semakin keras dan sangat kompetitif, dan membutuhkan suasana bebas, lepas, dan penuh keceriaan. Kelompok terbesar adalah mereka yang merayakan tahun baru karena terseret eforia massa yakni hasrat berkumpul dan bergembira bersama memperingati suatu yang sungguh abstrak -pergantian satu durasi waktu : satu tahun. Ada lagi kelompok yang tak tahu atau tak mau tahu atau tak perduli dengan waktu. Manusia yang tidak sadar waktu adalah mereka yang menjalani hidupnya mengalir apa adanya, jauh dari jamahan tehnologi dan gaya hidup modern. Tantangan dan problem kehidupan hanya seputar diri, keluarga dan komunitasnya. Mereka bahkan mungkin tidak mengenal apa itu detik, menit, jam, minggu, bulan dan tahun. Tidak ada jam dan kalender di dinding rumahnya. Apa itu tahun baru dengan segala eforianya, tidak pernah terlintas di benak mereka.
Setiap manusia mempunyai beban persoalan sendiri-sendiri yang butuh pelepasan sesuai dengan cara yang diinginkannya . Cara apapun yang dipilih tentunya itu yang dianggap paling memuaskan dan paling bisa memberi kebahagiaan batin. Setelah sepanjang tahun menjalani kehidupan yang keras dan kejam, manusia butuh keseimbangan. Selebrasi tahun baru – dengan cara apapun – adalah media untuk mencapai keseimbangan.
Menurut saya, yang paling bahagia adalah manusia yang tidak mengenal jangka waktu dan dibelenggu oleh waktu dan tenggat waktu. Setiap saat, setiap momen, setiap hari adalah hari-hari baru dengan semangat baru. Hidup adalah persinggahan sementara manusia ke bumi. Bagaimana kita mau mengisi kunjungan itu tergantung pada diri kita masing-masing. Waktu adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan. Kita tidak bisa memperpanjang waktu yang diberikan pada kita, tetapi kita dapat menggunakannya dengan bijaksana atau sebaliknya mengisinya dengan hal-hal yang sia-sia. Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita.
Apa pun cara yang dipilih untuk menghabiskan akhir tahun 2011 saya berharap semoga itu bisa mendatangkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup bagi anda semua. Akhirnya saya ucapkan : Selamat Tahun Baru 2012 ! God Bless Us !
Untuk menyambut Tahun Baru 2012, lagu Enya "ONLY TIME " saya rasa cocok untuk menemani perenungan soal waktu dan perjalanan hidup manusia.