A true friend never gets in your way unless you happen to be going down - Arnold H.Glasgow
Ini hari Sabtu...week end .... dan libur minggu kali ini menjadi long weekend karena ditambah lagi bonus dua hari libur
Idul Adha.Saat
yang tepat untuk dolan dan happy-happy
dengan keluarga. Tapi tidak untukku. Himpitan tugas memaksaku untuk “istirahat”
di depan komputer... merampungkan laporan penelitian dan segala macam tuntutan outputnya yang di-deadline
harus sudah dikumpulkan tanggal 25 Oktober 2013.
Untuk refreshing, aku harus cukup puas dengan hiburan
di seputaran rumah. Nonton TV misalnya. Begitu klik channel TV ..eh.... beritanya nggak ada yang good news yang bisa buat
kepala jadi enteng, bikin hati jadi mak nyes, bibir jadi tersenyum. Yang ada malah berita yang bikintambah
stress dan pusing. Mulai soal
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang marah dikait-kaitkan dengan Bunda Putri (siapa lagi ini ?!) oleh
tersangka korupsi impor daging sapi , kasus Ketua MK tertangkap tangan KPK
menerima sogokan kasus Pilkada, kasus pembunuhan dengan modus yang semakin aneh-aneh,
dan banyak lagi berita yang bikin perut jadi mules, mulut jadi judes.
Udah ah …matikan TV aja. Lebih enak dengerin musik. Dari
selancar di internet aku ketemu lagu Count
On Me yang dinyanyikan Bruno Mars. Begitu denger musik dan syair lagu ini…stress
hilang yang ada perasaan tenang dan teringat kenangan indah dengan orang-orang
terdekat …khususnya sahabat. Lirik lagu ini berkisah tentang persahabatan. Tentang
orang yang saling menopang, saling mendukung khususnya saat dalam pencobaan,
dalam kesulitan dan kesedihan.
If
you ever find yourself stuck in the middle of the sea,
I'll sail the world to find you
If you ever find yourself lost in the dark and you can't see,
I'll be the light to guide you
Wow …betapa bahagianya kalau kita punya banyak orang
yang siap berkata seperti petikan syair di atas di saat kita dalam masalah. Ya demikian
itulah sahabat. Seorang sahabat tidak hanya menerima, tapi juga memberi. Sahabat tidak hanya butuh dihibur, tapi juga
menghibur. Sahabat bukan hanya teman saat suka, tapi lebih lagi teman saat
duka. A friend in need is a friend in deed.
Sahabat tidak akan berkhianat, seperti Brutus
mengkhianati Julius Cesar, Yudas mengkhinati Yesus atau Delilah mengkhianati
Samson. Betapa banyaknya kita jumpai Brutus dan Yudas di panggung politik . Terlebih
lagi di Indonesia yang sebentar lagi di tahun
2014 akan menghadapi Pemilu. Tunggu saja Brutus dan Yudas-Yudas akan banyak bermunculan.
Benar sekali kalau dikatakan sulit menemukan sahabat atau pertemanan yang
sejati dan abadi di dunia politik, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Hari
ini teman, besok bisa jadi musuh. Hari ini bagian dari koalisi, besok oposisi.
Aku jadi bertanya-tanya persahabatan macam apa yang
terjalin di antara para pejabat dan politisi kita. Bagaimana pertemanan antara
Megawati dengan mantan menterinya , SBY,
yang sekarang menjadi Presiden? Bagaimana pertemanan antara SBY dengan mantan
wakil presidennya, Yusuf Kalla? Ahmad
Heryawan, Gubernur Jawa Barat, dengan mantan wagubnya Dede Yusuf? Atau pertemanan antara Gubernur
Banten Ratu Atut dengan Wagubnya Rano Karno?
Di lingkup terdekat, di tempat kerja dan di tempat
tinggal kita, adakah kita mudah menemukan persahabatan yang sejati?
Jangan-jangan selama ini energi dan waktu kita habis terfokus untuk urusan
kerja dan kerja, kompetisi dan kompetisi, sehingga lingkungan kerja dan tempat
tinggal tidak menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya pertemanan. Kita melihat
rekan kerja atau tetangga dari sisi apa yang mereka miliki dan apa yang kita
miliki. Bukan apa yang bisa bersama-sama kita miliki dan bersama-sama bisa kita
raih dan bersama-sama pula kita nikmati dan kita bagi. Jangan-jangan….kita ….kamu….aku…saling
menjadi Brutus dan Yudas bagi yang lain. Kalau benar seperti ini, sulit
tercipta surga di lingkungan kita. Semoga saja tidak demikian.
Oh ya…ngomong-ngomong, ini libur panjang kan? Santai saja
yuk, daripada mikir politik dan orang-orang yang pada rebutan kekuasaan yang
bikin hati jadi tambah panas, mending kita nyanyi…
You
can count on me like one two three
I'll be there
And I know when I need it I can count on you like four three two
And you'll be there
'Cause that's what friends are supposed to do, oh yeah
Jika ingin tahu lirik lengkapnya, bisa diklik DISINI:
Catatan : Lagu
ini aku persembahkan untuk : my hubby yang kemarin tanggal 11 Oktober baru aja ultah. Buat my best friend bu lili, makasih telah
bantu aku menyelesaikan tugas penelitian dll dan untuk semua rekan kerja mari kita jadikan tempat kerja kita sebagai
tempat yang nyaman tidak hanya untuk kerja, tapi juga tempat untuk mendapatkan
teman berbagi dalam suka dan duka.
Selamat menikmati
liburan dan tak lupa selamat menyambut Idul Adha buat teman-teman muslim semua. Gambar : juliefisipuns
Ajang kompetisi kecantikan
sejagad Miss World 2013 yang berlangsung
di Indonesia tengah menjadi isu panas.
Sebelumnya saya tidak begitu
tertarik dengan kontes kecantikan ini, karena paling-paling tidak jauh berbeda
dengan Miss Universe atau ajang
miss-miss lainnya termasuk produk dalam negeri seperti Miss Indonesia,
Putra-Putri , Abang-None, Cak-Ning, dll...dll. Intinya, kecantikan dan ketampanan dilombakan dengan
dibumbui dengan kecerdasan dan kepribadian atau istilah kerennya “inner beauty”. Dibungkus dengan alasan
apapun kontes-kontes semacam ini tetaplah, substansinya, lomba kecantikan fisik dan wajah bukan lomba
kecerdasan atau intelektualitas. Syarat utama tentu saja tubuh (body) yang proporsional dan wajah yang
sedap dilihat, baru kemudian inner beauty.
Saya mulai tertarik mengikuti
perkembangan Miss World 2013 saat kontes
kecantikan ini menyulut perdebatan sengit antara mereka yang pro dan kontra
terhadap penyelenggaraan kontes ini di Indonesia. Perang wacana tidak hanya di media massa tapi
juga merebak ke demo-demo penolakan di beberapa kota di Indonesia.
Ada beberapa point penolakan tapi intinya Miss World
ditolak karena ada sesi perempuan pamer kemolekan tubuh dengan pakai
bikini. Tidak disangkal lagi Miss World dan kembarannya Miss Universe ( dan juga American Idol dan X Factor ) adalah produk
industri entertainment Barat. Miss World dan Miss Universe menjadi bukti pintarnya pelaku bisnis memanfaatkan kecantikan dan keindahan fisik perempuan
sebagai pertunjukan yang dapat mendatangkan keuntungan (profit). Di kedua kontes ini perempuan diadu bukan hanya kecantikan
parasnya tapi juga proporsi tubuhnya. Darimana bisa tahu tubuh kontestan itu
proporsional? Ya dilihat lekuk liku
tubuhnya. Bagaimana caranya? Ya disuruh pakai baju renang model two pieces alias bikini.
Lenggak lenggok pamer tubuh
dengan pakai bikini ... membuat kontes Miss World sangat Barat banget. Menurut pandangan feminis dan gender, Miss World dituduh terlalu mengeksploitasi tubuh perempuan.
Tubuh perempuan dilombakan, dipamerkan, dan dipertontonkan sebagai hiburan atau
pertunjukkan yang dipelototi mata jutaan pemirsa TV di berbagai belahan dunia. Dari pespektif nilai agama dan budaya, pamer
tubuh ke publik bertentangan dengan ajaran
agama dan budaya Indonesia yang menganggap tubuh perempuan sebagai
wilayah privat yang saru (memalukan)
kalau diekspos ke publik. Tidak heran pabila tiap kali Indonesia mengirim wakilnya untuk mengikuti kontes kecantikan
dunia selalu saja mengundang polemik panas seputar harkat tubuh perempuan. Siapa
pun perempuan yang berangkat mewakili Indonesia di kontes kecantikan dunia
harus siap di-bully secara verbal
oleh massa yang kontra dengan kontes ini.
Pertanyaannya, kenapa kontes
kecantikan yang kontroversial ini akhirnya bisa diselenggarakan di Indonesia? Tentunya
panitia Miss World telah
mempersiapkan acara ini dengan matang, termasuk perijinannya. Tak mungkin
kontes bertaraf internasional diadakan tanpa mengantongi ijin pemerintah. Dan
tentu saja semua proses perijinan ini butuh persiapan waktu yang lama.
Pertanyaannya lagi, kalau sudah
tahu akan banyak penolakan terhadap kontes pamer tubuh perempuan kok akhirnya
pemerintah memberikan ijin? Pemerintah jelas tidak akan membiarkan setiap
pertunjukkan atau hiburan yang mengundang keramaian dan pengumpulan massa di
suatu tempat, apabila tahu acara itu dapat mengundang kerusuhan. Dengan kata
lain, pemerintah tidak akan mengeluarkan ijin kalau dirasa pemerintah tidak
mampu memberikan jaminan terhadap keamanan
acara
tersebut.
Kemudian, mengapa akhirnya
pemerintah merubah ijin yang telah dikeluarkannya justru pada saat acara itu
sudah dipersiapkan dan tidak mungkin dibatalkan lagi ?
Kasus Miss World sama dengan kasus Lady Gaga yang gagal konser tahun
lalu. Jika konser Lady Gaga berhasil dibatalkan, maka kalau kasus yang sama
terjadi pada Miss World tak terbayangkan bagaimana opini publik internasional
terhadap integritas pemerintah Indonesia. Mengingat kontes ini diikuti oleh
wakil dari 130-an negara dan acaranya disiarkan ke ratusan negara. Mestinya
kalau menolak dengan alasan bertentangan dengan budaya Indonesia, penolakan itu
sudah dengan tegas disampaikan pemerintah jauh sebelumnya. Bukan setelah ijin terlanjur
dikeluarkan... kemudian menghadapi
tekanan sekelompok massa... terus berubah pendirian. Saya yakin pemerintah jelas tahu ada kelompok yang akan terlukai keyakinannya oleh terselenggaranya kontes kecantikan semacam ini.
Terlepas dari sisi negatifnya, harus diakui Miss World
sebagai event internasional yang dikenal dan ditonton oleh banyak Negara menawarkan beberapa sisi positif, utamanya untuk
mengenalkan daya tarik wisata dan budaya Indonesia ke dunia. Miss World adalah
pintu masuk yang mengintegrasikan Indonesia ke dalam gaya hidup dan budaya
global dan sekaligus menjadi bagian dari industri hiburan internasional. Mengijinkan
Indonesia sebagai lokasi Miss World bisa menjadi promosi pariwisata
gratis ke pasar global.Adakah
motif ini yang membuat pemerintah mengijinkan Indonesia sebagai Negara
penyelenggara kontes Miss World? Entahlah ….tauk…gelap…
Yang membuat saya heran kalau sudah setuju, ijin
sudah diberikan, mengapa pada akhirnya
pemerintah berubah pendirian pada saat
sudah terlanjur sulit untuk mundur? Dan kalau penolakan Miss World karena ada bikininya,
mengapa acara ini tetap ditolak meskipun sesi ini telah ditiadakan? Anehnya
lagi, mengapa pemerintah terkesan tunduk patuh pada tekanan sekelompok massa?
Lagi dan lagi, Pemerintah
Indonesia plin plan. Pemerintah yang berintegritas yakin bahwa setiap kebijakan
dan keputusan yang diambil telah didasarkan pada pertimbangan yang matang
berlandaskan pada kepentingan publik, bangsa dan negara. Kebijakan publik bukan kebijakan yang bisa
diubah-ubah semaunya seturut selera dan kepentingan penguasa apalagi karena takut pada tekanan kepentingan sekelompok massa.
Semoga saja pertimbangan pemerintah untuk tetap menyelenggarakan Miss World tapi dengan memindahkan
lokasinya ke
Bali, dilandaskan pada pertimbangan keamanan dan
kebaikan bersama bangsa Indonesia. Bukan karena takut pada ancaman ormas ,
tidak juga karena faktor siapa dibalik
panitia penyelenggara Miss World yang kebetulan telah memproklamirkan sebagai
calon Wakil Presiden dari partai tertentu.
Kepentingan politik tak dapat
dipungkiri telah merambah ke dunia hiburan. Raja TV yang ikut kontes Pemilu
2014 telah nyata-nyata menjadikan acara andalan TV-nya, seperti X Factor dan
kini Miss World, sebagai media untuk mejeng dan kampanye politik. Jangan-jangan malahan ada motif kepentingan politik dibalik
kontes Miss World 2013 ? Pokoknya jangan sampai Miss World 2013 di Indonesia
dijadikan ajang untuk mendongkrak popularitas pemegang lisensi acara tersebut. Kalau
benar ada kepentingan politik dibalik kontroversi Miss World 2013, sungguh
kasihan bangsa Indonesia ...dipermainkan emosi dan energinya untuk memikirkan
hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Miss World 2013 yang telah dimodifikasi untuk
disesuaikan dengan kultur Indonesia sesungguhnya merupakan kesempatan emas
untuk mempertontonkan kekayaan dan keindahan alam dan budaya Indonesia ke dunia
internasional , tapi sayang momen ini menjadi mubasir karena direcoki motivasi
politik baik dari panitia penyelenggara maupun rezim penguasa. Huh cuapek
deh !!
Gambar : twitter.com dan Sonny Tumbelaka- Kompas.com
Waste no more time
arguing what a good man should be. Be one. — Marcus Aurelius
Pemilihan Presiden Indonesia
masih tahun 2014. Tapi rasa-rasanya saat ini seperti sudah berada dalam masa
kampanye. Satu persatu muncul figur-figur publik yang mengkampanyekan dirinya
sebagai calon Presiden Indonesia. Ada yang terang-terangan mencalonkan diri
seperti penyanyi dangdut Rhoma Irama,
pengacara Farhat Abas, dan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakri. Ada pula yang
menunjukkan sinyal atau diprediksi hendak mencalonkan diri seperti Prabowo
Subianto, Surya Paloh, Yusuf Kalla, Mahfud MD, atauDahlan Iskan.
Bahkanbaru saja partai Hanura secara
resmi mencalonkan Wiranto dan Hary Tanoesudibyo sebagai Calon Presiden dan
Wakil Presiden.
Ajang pencarian calon kontestan
Presiden Indonesia semakin hangat dengan dipublikasikannya hasil polling beberapa
lembaga survei. Yang
bikin tambah ramai, berbagai polling tersebut memunculkan figur baru sebagai
peraih suara terbanyak yakni Jokowi (Joko Widodo) mantan Walikota Solo yang
saat ini menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Paska lengsernya Presiden
Soeharto, figur calon presiden Indonesia orangnya itu lagi itu lagi. Sekali
muncul figur baru ternyata....eh Jokowi, orang dari daerah saya sendiri...dan
lagi-lagi orang Jawa. Dengan tidak bermaksud merendahkan kapasitas dan
kapabilitas Jokowi sebagai calon presiden, saya jadi bertanya-tanya mengapa dari sekitar
240-an juta
lebih penduduk Indonesia hanya memunculkan satu figur alternatif.
Ada apa ini?
Kenapa sampai terjadi justru
para artis dan selebritis yangmeramaikan bursa calon pemimpin negara dan daerah? Apakah keberanian Rhoma
Irama atau Farhat Abbas memproklamirkan diri sebagai calon presiden hanyalah
guyonan semata ataukah ini sinyal terjadinya
kelangkaan atau krisis pemimpin ideal bangsa?
Kenapa Jokowi unggul di
berbagai versi polling calon presiden? Apakah Jokowi itu sudah menggambarkan
pemimpin negara yang ideal ? Presiden Indonesia yang ideal itu yang seperti
apa?
Untuk menjawab rentetan
pertanyaan ini saya mencoba flashback untuk menengok figur-figur
presiden yang pernah kita miliki.
Presiden pertama RI , Ir.
Soekarno. Siapa yang meragukan karisma presiden kita yang terkenal ganteng dan
flamboyan ini. Dari sisi fisik, Soekarno benar-benar memenuhi kriteria pemimpin
menurut teori great man yang
berpendapat seorang pemimpin itu sudah diprogram dari sononya. Pemimpin itu
bakat yang dibawa sejak lahir. Seorang pemimpin secara fisik menunjukkan sosok
yang menonjol : tinggi, besar, dan berparas tampan.Secara intelektual cerdas dan pandai
berorasi sehingga pintar mempengaruhi banyak orang. Soekarno adalah presiden paling cuuakep dan macho. Lihat saja foto-fotonya saat masih muda, kelihatan sekali
aura pesona maskulinitasnya. Presiden pertama kita ini juga sangat
cerdas...nggak percaya? Coba baca tulisan-tulisannya di buku “ Di Bawah Bendera Revolusi”. Di buku ini Soekarno menuangkanpemikiran
dan ide-ide cerdas dan bernas yang ditulisdalam
beberapa bahasa asing. Lagi, yang
tidak bisa dilepaskan dari Soekarno adalah kehebatannya dalam berpidato. Suara
baritonSoekarno dan gaya orasinya yang
menggelegar penuh semangat sungguh cocok sekali untuk memompa semangat
nasionalisme yang memang dibutuhkan saat awal Indonesia merdeka. Soekarno
dengan segala kelebihannya akan selalu dikenang sebagai figur ideal presiden
Indonesia.Soekarno adalah sosok
presiden yang membanggakan untuk dipamerkan di lingkup internasional. Namun,
ada harapan rakyat Indonesia yang belum mampu dipenuhi Soekarno....membawa
Indonesia menjadi negara maju , makmur , aman, damai, adil dan sejahtera.
Berikutnya Soeharto. Kenangan
apa yang tertanam di benak kita tentang presiden kedua Indonesia ini? Soeharto akan selalu dikenang karena wibawa dan ketegasannya. Di era Soeharto, kondisi ekonomi politik
Indonesia benar-benar stabil. Stabilitas terbangun karena Soeharto tidak
mentoleril setiap
kritik , gerakan, bahkan sekedar wacana yang dianggap mengganggu kebijakan dan kelangsungan
pemerintahannya. Soehartoberhasil membangun kondisi ekonomi politik
yang tenang-tenang saja, tapi ternyata stabilitas ini semu. Secara politik ,
publik merasa terkekang. Soeharto belum bisa memuaskan dahaga kita akan
Indonesia yang adil, demokratis, terbuka,manusiawi, dan bebas dari rasa takut.
Di era setelah Soeharto atau
Era Reformasi, kita mempunyai beberapa Presiden yang terpilih karena kecelakaan
politik yaitu Habibie, Gus Dur dan Megawati. Habibie merupakan pemimpin yang cerdas dan berpandangan modern. Gus Dur
pemimpin yang berwawasan terbuka, pluralis dan humoris. Megawati satu-satunya
presiden perempuan, dikenal berprinsip kuat dan tidak plin-plan.
Bagaimana dengan Presiden kita
saat ini ? Susilo Bambang Yudoyono (SBY)
dikenal cerdas, pintar pidato, penguasaan konseptual dan bahasa Inggrisnyabagus, banyak mendapatkan penghargaan
nasional maupun internasional, dan sosok fisiknya gagah tinggi besar. SBY merupakan
gambaran pemimpin yang ideal dan pantas untuk dipamerkan di forum internasional. Berbeda dengan era Soeharto, di pemerintahan SBY keran kebebasan berpendapat dan mengemukakan pikiran
dibuka lebar, bahkan orang bisa semaunya mengkritik presiden tanpa takut akan diciduk
aparat keamanan negara. Namun,masyarakat nampaknya masih kurang puas memiliki sosok Presiden seperti ini.SBY dianggap
sangat
hati-hati dalam mengambil keputusan, saking hati-hatinya sehingga dianggap lamban
dan kurang tegas. SBY juga sangat menjaga sekali penampilannya di depan publik
ataujaim
( jaga image), saking jaim-nya masyarakat menuduh presiden kita ini suka
“pencitraan”.
========================================
Masa pemerintahan Presiden SBY sebentar lagi berakhir
dan kembali kita akan menyaksikan ajang Presiden Idol di Pemilu 2014. Siapa ya kira-kira calon presiden yang menarik untuk dipilih ? Sudah banyak calon kontestan yang secara terbuka
berani mencalonkan diri. Tapi bagi
saya pribadi , sepertinya belum ada calon yang cocok di hati. Kenapa kok calonnya itu itu melulu?
Indonesia sudah merdeka hampir 68 tahun. Saat ini , saya ingin punya
presiden yang mampu membawa Indonesia menjadi negara demokratis, maju dan
sejahtera seperti negara-negara tetangga terdekat Singapura, Malaysia, atau Korea Selatan. Impian ini tidak bisa diwujudkan oleh presiden
dengan integritas dan kapabilitas mediocre.
Saya butuh “Presiden Baru” yang
benar-benar “Baru” bukan hasil daur ulang. Bukan muka lama, bukan model atau gaya lama .
Menjelang pemilu tahun depan, gencar kampanye untuk
mengajak kita setback ke masa lalu, mengajak
kita membandingkan kondisi saat ini
dengan era Soeharto. Di mobil
dan truk banyak ditempel stiker gambarSoeharto dengan tulisan: “Piye kabare? Enak jamanku to?” atau ini “Gimana
kabarmu, nak? Masih enak zamanku, tho? Kami tidak tahu politik, kami hanya
ingin hidup makmur”.
Mengapa kepemimpinan Soeharto yang menyumbat akses
masyarakat untuk mengkontrol kekuasaan Negara menjadi nostalgia indah
yangdirindukan justru saat kini semua
orang diberi keleluasaan untuk mengkritisi pemerintah? Sebagai rakyat, saya ingin kebutuhan perut (ekonomi)
terpenuhi. Tapi itu saja tidak cukup, saya juga menginginkan situasi politik
yang demokratis dan terbuka dimana saya tahu apa yang dilakukan pemerintah
dengan uang Negara dan bisa menuntut pemerintah untuk mempertanggungjawabkan
kekuasaannya. Manusia tidak hidup dari “roti” saja, mereka butuh sosialisasi
dan aktualisasi diri. Di abad
digital dan internet saat ini, saya tidak menginginkanPresiden dengan gaya kepemimpinan
sentralistis dan tertutup ala Soeharto.
Saya ingin Presiden Baru nanti sosok yang berintegritas tinggi, visioner dan sangat mencintai negara dan bangsa Indonesia.
Siapa ya
kandidat yang memenuhi kriteria ini ?
Saya coba menemukan kriteria ini pada tokoh masyarakat,
aktivis, akademisi, pejabat publik,
politisi atau pengusaha yang sering mejeng di layar TV. Mungkin ada yang
memenuhi kriteria presiden idola versi saya ini. Tapi saya harus kecewa. Kebanyakan
pejabat publik, politisi, aktivis, akademisi dan tokoh masyarakat lainnya ternyata
banyak yang pintar ngomong dan berargumentasi semau sendiri dan menurut perspektif kepentingannya
sendiri-sendiri. Para penentu masa depan bangsa ini malahan
membuat ruang publik politik jadi gaduh, berisik tanpa makna dan arah
yang jelas.
Media elektronik visual –
televisi -menjadi panggung terbuka yang
mempertontonkan akrobat politikpara tokoh dan pejabat publik.
Banyak akademisi, aktivis, politisi, pejabat , bahkan tokoh agama yang hanya pintar orasi,
debat, dan kotbah tanpa disertai tindakan yang selaras dengan yang diucapkan
alias ngomong doang. Melalui layar TV
kita bisa melihat bagaimana merekaberdebat sampai berbusa-busa tanpa arah.
Opini dan pandangan mereka cenderung emosional, sektarian-partisan dan bahkan
yang menyedihkan dalam berdebat tidak berpijak
pada etika debat ilmiah yang semestinya, sehingga forum diskusi berubah jadi
debat kusir, eyel-eyelan, ad-hominem
atau saling menyindir danmenjelek-jelekkan pribadi lawan debat. Bahkan ada yang saking emosinya sampai
adu fisik atau menyiram muka lawan debat dengan air. Benar-benar bikin mual.
Melihat figur-figur publik yang
seperti ini, jangan
disalahkan kalau masyarakat menjatuhkan pilihannya pada Jokowi yang
berpenampilan paradoksal dengan gambaran atau citra pejabat pemerintah selama
ini. Jokowi bilang pejabat itu jangan hanya banyak ngomong yang penting kerja. Jokowi tidak pandai pidato
jadi tidak banyak ngomong yang canggih-canggih. Bahasa yang digunakan Jokowi
dalam berkomunikasi juga bahasa yang sederhana dan mampu dipahami masyarakat
kebanyakan, tidak sok intelek atau sok pintar bahkan cenderung ndeso. Penampilan wajah dan fisiknya
mewakili kebanyakan sosokrakyat awam,
bukan sosok yang gagah dan berwibawa seperti Soekarno dan SBY, bukan sosok yang tegas
dan militeristik seperti Soeharto, bukan sosok intelektual seperti Habibie dan
juga bukan sosok yang suka kotbah dan menghamburkan ujaran-ujaran yang penuh
muatan ayat-ayat kitab suci.
Sebagai rakyat, saya sudah kenyang melihat figur-figur tokoh yang
tampilannya selalu menjaga wibawa, intelektual, sok religius tapi semangat
korupsinya luar biasa. Saya sudah kenyang dibohongi dengan banyak
janji-janji pemimpin semacam itu. Ibaratnya ke restoran, sekarang saya pengin menu lain yang enggak bikin eneg.
Ibaratnya kekasih, saya sudah
enggak mau kekasih yang cakep tapi suka bohong dan bikin sakit hati, sekarang
pengin dapat pacar yang tidak perlu tampan yang penting setia dan bisa membuat
bahagia. Saya butuh pemimpin yang sederhana, apa adanya,
dekat dengan rakyat, tidak menjaga jarak dan sok jaim, tidak suka pencitraan, pokoknya
yang penting sayang dengan rakyat dan mau memikirkan bagaimana membahagiakan
rakyat Indonesia dan punya komitmen mempertahankan keutuhan Indonesia.
Setelah memiliki enam orang
presiden, baru sadar ternyata presiden ideal yang diinginkan Indonesia itu yang penting punya integritas, setia dan bisa memegang
janjinya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia dan menjaga keutuhan NKRI. Untuk
saat ini, ada enggak ya pemimpin yang seperti ini selain Jokowi? Mosok cuma satu Jokowi. Kalau
Indonesia tidak sedang mengalami krisis kepemimpinan tentunya ada banyak sosok
pemimpin yang berkarakter, cinta pada
bangsa dan negaranya dan tentu saja tidak ditakuti tapi justru dekat
di hati rakyat. ============= Bagi siapa pun bakal Presiden Baru Indonesia , jika ingin tahu apa harapan rakyat Indonesia silahkan dengar apa kata Iwan Fals dalam lagunya "Manusia Setengah Dewa"
Sejarah mencatat perempuan selama bertahun-tahun selalu di luar politik, bahkan di wilayah tertentu perempuan masih belum diberi hak untuk memberikan suaranya dalam Pemilu. Namun meski diasingkan dari ranah politik, tidak berarti perempuan tidak punya kuasa politik. Perempuan si makhluk lemah dan lembut, dengan segala keterbatasannya ternyata punya invisiblepower.Perempuan tetaplah Hawa yang pesona keindahan feminitasnya sulit untuk ditolak kaum Adam. Banyak skandal politik yang dilatarbelakangi oleh tergodanya laki-laki penguasa oleh daya tarik perempuan. Raja Edward VIIIdari Inggris , misalnya, rela turun tahta demi bisa menikahi wanita pujaannya, seorang janda dari AS –Wallis Simpson. Bahkan kasus perkosaan wanita bangsawan Lucretia oleh anak raja Roma di tahun 509 SM menjadi pemicu perubahan sistem monarki Roma menjadi republik.
Laki-laki boleh jadi mendominasi ranah politik, tapi hati-hati bangunan kekuasaan yang sekokoh apapun bisa runtuh kalau mereka tidak mampu membentengi diri dari godaan wanita. Tahta dan wanita….bak gula dan semut. Kekuasaan akan menarik banyak orang untuk mendekat guna mendapatkan keuntungan, dan perempuan bisa menjadikan tubuhnya sebagai umpan atau kail yang mempermudah transaksi politik. Kasus gratifikasi seksual yang menyeret mantan Komandan Angkatan Pertahanan Sipil Singapura adalah contoh nyata dari berkelindannya kepentingan kekuasaan dengan tubuh perempuan. Semasa menjabat, pejabat ini mendapatkan pelayanan seks dari 3 wanita rekanannya sebagai imbalan atas kontrak proyek teknologi informasi yang didapatkan oleh perusahaan wanita-wanita tersebut (detik.com). Penggunaan (tubuh) perempuan dalam transaksi politik bukan gejala yang baru, namun di negara modern yang berlandaskan hukum dan tatanan demokratis ini bisa dikategorikan sebagai korupsi. Kontrak proyek ditukar dengan pelayanan seksual…woow…
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengatakan kasus gratifikasi seksual juga terjadi di Indonesia , banyak orang yang lebih tahan terhadap gratifikasi uang, dibandingkan gratifikasi seksual. “Itu fakta, gratifikasi seksual itu kadangkala lebih dahsyat daripada gratifikasi uang, itu ada banyak” (inilah.com). Namun Juru Bicara KPK Johan Budi SP mengatakan, jenis gratifikasi pemberian layanan seksual sangat sulit dibuktikan. KPK juga menghadapi kendala dalam pelaporan gratifikasi jenis ini karena kalaupun kemungkinan ditawari layanan seksual, penyelenggara atau pejabat negara kecil peluangnya melaporkan gratifikasi tersebut. ”Gratifikasi itu effort-nya kan ada pada penerima, apa ada yang mau lapor,” ujar Johan (Kompas.com).
Kasus lain yang lagi heboh adalah Bupati Garut Aceng Fikri yang dipaksa lengser gara-gara nikah siri selama 4 hari dan diakhiri cerai lewat sms. Alasan Aceng Fikri menceraikan istri sirinya benar-benar sangat biologis dan seksual banget… karena diduga istrinya sudah tidak perawan lagi. Tindakan sang bupati ini selain dianggap melecehkan perempuan juga melanggar etika jabatan publik. Bicara soal nikah lagi tanpa dicatatkan secara hukum atau istilahnya nikah siri, sebenarnya banyak pejabat publik yang melakukannya tidak hanya Aceng Fikri. Komnas Perempuan melaporkan setiap sebulan ada 4 kasus laporan nikah siri pejabat.
Belum mereda kasus Aceng Fikri, disusul dengan kasus baru yang tak kalah kontroversial : tersingkirnya Calon Hakim Agung Daming Sanusi karena kepleset lidah memberi komentar tentang perkosaan yang lagi-lagi ….merendahkan perempuan. Hakim Daming Sanusi dalam menanggapi pertanyaantentang apakah hukuman mati harus diterapkan dalam kasus pemerkosaan mengatakan, “Pertimbangan harus diambil secara menyeluruh untuk pengenaan hukuman mati bagi pemerkosa karena dalam kasus perkosaan baik pemerkosa dan korban menikmatinya.” (Tempo.co). Suatu pandangan yang luar biasa dari seorang pejabat publik , meskipun itu dimaksudkan untuk candaan, tapi jelas tidak pantas pabila dilontarkan di forum resmi sekelas seleksi calon hakim agung. Terlebih lagi pertanyaan tentang perkosaan ini dilontarkan saat kasus perkosaan sadis tengah menggemparkan India dan disusul dengan kekerasan seksual terhadap anak perempuan usia 11 tahun di Indonesia. Kedua korban ini pada akhirnya sama-sama meninggal dunia di rumah sakit. Korban gadis di India meninggal karena luka-luka serius akibat perkosaan dengan tindak kekerasan yang luar biasa kejam, sedang si anak kecil di Indonesia meninggal karena sakit kelamin yang ditularkan oleh pemerkosanya, yang tak lain ayah kandungnya sendiri. Sebagai pejabat publik, terlebih penegak hukum, Daming Sanusi harusnya menunjukkan kepekaan nurani dan empati pada korban perkosaan bukan malahan menjadikannya sebagai bahan guyonan.
Bupati Aceng Fikri pada akhirnya dilengserkan dari jabatannya. Daming Sanusi juga gagal meraih posisi Hakim Agung yang sangat diidam-idamkannya. Kesimpulan apa yang bisa diambil dari kedua kasus ini?
CNN saat memberitakan soal Daming Sanusi mengawali dengan kalimat : If you’re running for office, it’s best not to make incendiary comments about rape (Jika Anda tengah mencalonkan diri dalam jabatan publik, sebaiknya jangan membuat komentar panas tentang pemerkosaan). Menyangkut soal ini, penyikapan publik di Indonesia maupun di AS nampaknya sama. Kasus Daming juga dialami oleh politikus Partai Republik Richard Mourdock dan Todd Akin. Keduanya kehilangan peluang menjadi senator setelah komentar mereka mengenai kehamilan dan pemerkosaan beredar luas (CNN.com dan Tempo.co)
Jadi kesimpulannya,
dimana pun dan kapan pun, isu seputar (tubuh) perempuan tetap menjadi salah
satu ukuran utama moralitas pejabat publik. Dengan kata lain, bagaimana seorang
pejabat atau calon pejabat memperlakukan (tubuh) perempuan menjadi indikator
yang menentukan moralitas politik atau norma dan etika perilaku berpolitik suatu
bangsa.
Jika demikian halnya, siapa bilang wanita itu makhluk lemah dan tak punya kuasa politik? Hati-hati para laki-laki pejabat atau calon pejabat publik, jangan sekali-kali tergoda perempuan apalagi melecehkan perempuan…jika ini dilakukan siap-siap saja nasibnya berakhir seperti eks Komandan Pertahanan Sipil Singapura, Bupati Garut Aceng Fikri dan Hakim Daming Sanusi. Memangnya mau ?